Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
MAMA DILLA


__ADS_3

Udara dingin kian terasa, saat waktu semakin menghantarkan bumi pada penghujung tengah malam. Tatapan matanya menerawang, menatap keindahan kota yang sudah mulai terlihat sedikit gelap saat sang pemilik mulai memadamkan cahayanya.


Berdiri di tepian balkon, larut dalam suasana hatinya sendiri. Begitu tenggelam, hingga suara hentakan kaki yang begitu menggema, berhasil memecahkan lamunan lansia itu.


"Tuan..." panggil salah satu pria muda, saat sudah berada di belakang tubuh pria tua itu.


"Kau sudah mendapati siapa-siapa yang wanita yang bisa kita manfaatkan untuk menghancur dia?" tanya sang lelaki dengan wajahnya yang masih tampan-diusia yang tentu saja sudah tidak muda lagi. Dan biasa orang memanggilnya, dengan sebutan MR Corisoon.


"Sudah Tuan...Dan ada dua wanita. Salah satunya adalah saudara tiri, dari istri, Rangga sendiri."


"Dan satunya??" tanya Corisoon, yang terlihat sudah tidak sabaran.


"Ini Tuan... Dua foto wanita itu, dan nama mereka ada di belakang masing-masing foto." Dengan menyerahkan dua lembar foto itu, yang langsung di raih oleh Corisoon.


Segera membalikkan lembaran foto itu, yang di mana dari salah satunya, Corisoon menemui nama Dilla di sana.


"Dilla?"


"Iya Tuan...Yang satunya adalah teman sekolah dari Rangga sendiri."


"Jadi menurutmu, wanita yang mana bisa kita manfaatkan? Dan menurutmu gampang membuat Rangga tergoda."


"Kalau Adisty-saudara tiri dari Istrinya Rangga, dengan tegas Rangga menolaknya. Kalau Dilla saya yakin mungkin bisa, sebab sempat terdengar desas-desus, kalau keduanya pernah dekat saat masa sekolah dulu. Bahkan saat di pesta yang diadakan di rumah Tuan Hardi Winata, Rangga bahkan tega membiarkan istrinya sendiri, hanya karena wanita itu."


Seriingai jahat membentuk di wajah Corisoon, setelah pria yang masih terlihat tampan di usianya, mendengar apa yang orang kepercayaannya katakan.


"Dan di mana kita bisa menemui wanita ini?"


"Dia sering menghabiskan waktunya di salah satu klup malam, yang ada di tengah kota. Klup XX. Jadi kita bisa bertemu dengannya di sana."


"Bayar wanita ini, berapa pun yang dia minta, agar dia mau mendekati Rangga. Apalagi yang tadi kau katakan, kalau mereka berdua sempat dekat. Itu membuar aku semakin yakin, kalau wanita ini masih menaruh perasaan pada Rangga. Dan kalau kita memberinya uang yang banyak, aku sangat yakin kalau dia pasti akan semakin bersemangat mendapatkan Rangga."


"Benar Tuan...Saya sangat setuju dengan apa yang anda katakan. Kalau kita memberi uang yang banyak pada wanita ini. saya sangat yakin, kalau dia akan semakin bersemangat, untuk mendapatkan Rangga."


****


Kicauan burung kembali terdengar. Bunga-bunga mengeluarkan kuncupnya, dengan semerbak wangi yang menyeruak-hingga mendatangkan kupu-kupu yang mengelilinginya. Hari baru telah kembali menyapa, saat sang surya sudah kembali tersenyum.


Terdenga suara saling menyahut, dengan bunyi garpu-dan sendo yang berirama menemani seorang Rangga Wijaya melakukan sarapan paginya. Tak tenang, hingga sesekali dua mata itu, dia lirikkan kesebuah kursi, yang sedari tadi masih saja belum terisi. Dan kegelisahan itu semakin bertambah, sebab saat bangun tidur Kiran sudah tidak berada di dalam pelukannya.


"Kenapa dia belum muncul juga? Apakah dia sudah berangkat kerja?" gumam Rangga dalam hati.

__ADS_1


Samar-samar daun telinganya mendengar suara langkah kaki, yang semakin mendekat pada meja makan. Enggan berbalik, tapi sudut ekor matanya berusaha untuk mencari tahu, siapa yang tengah melangkahkan kaki menuju ruang makan itu.


Senyuman yang nyars tak terlihat Rangga ukir di wajah, setelah mengetahui kalau ternyata itu Kiran.


" Selamat pagi..." sapa Kiran, dengan senyuman lebar di wajahnya.


"Selamat pagi Nona..." sapa Bibi Ijah, dengan tersenyum.


Saat melabuhkan akan tubuhnya di kursi, dua pasang mata itu saling beradu, tapi dengan cepat Kiran mengalihkan kontak mata itu. Masih sangat malu, saat kembali mengingat bagaimana ganasnya dia, tadi malam.


"Ini sangat memalukan, bahkan semalam aku bagai seekor hewan liar," gumam Kiran dalam hati. Lirikan mata kembali dia palingkan, dan mendapati Rangga masih terus menatapnya padanya.


UHUUK...UHUUk..." Rangga berpura-pura batuk, hanya untuk mendapatkan simpati dari Kiran, yang sedari tadi terus mengabaikan kehadirannya.


"Selamat pagi Mas..." sapa Kiran, dengan berusaha memberi senyumnya.


"Apakah pagi ini, kita jadi ke rumah orang tuamu?"


Apa yang baru saja Rangga tanyakan, berhasil mengalihkan perhatian ketiga orang dewasa itu. Yaitu Ijah, Doni, dan juga Iyam. Mengingat bagaimana sebenarnya pernikahan Tuan mereka, dan Kiran.


"Jadi Mas," jawab Kiran tersenyum.


"Iya Mas..." jawab Kiran tersenyum.


Suasana hangat tercipta. Walaupun belum mengungkapkan, tapi dia berusaha menunjukkan sinyalnya.


Hampa, dan hambar yang dia temui selama dua bulan lebih ini, perlahan meredup, walaupun dia belum yakin apa itu? Tapi kenyamanan mulai dia temukan, dengan wanita bernama KIRAN LARASATI, yang Rangga tahu sangat mencintainya.


Saat tatapan mata tak sengaja bertemu, keduanya tersenyum. Tapi untuk Kiran, dia tetap berusaha membendung hatinya, agar jangan semakin dalam mencintai, karena akhirnya pernikahan ini akan berakhir. Hingga suasana hangat itu, membela dengan kedatangan seseorang, yang tidak mereka sangkah.


"Nyonya Besar..." gumam Iyam, saat dua mata pelayan muda itu, mendapati kedatangan Ibu kandung, Tuannya.


Semua mata langsung tertuju pada arah pandang Iyam, dan kaget saat mendapati wanita berusia senja itu, melangkah mendekat pada mereka.


"Mama..." gumam Rangga.


"Bukankah itu Mamanya, Mas Rangga? Bukankah dia sangat membenciku? Dan sama sekali tidak menyukai aku, dan Mas Rangga menikah? Lalu buat apa dia datang kemari? Apakah ingin meminta pada Mas Rangga, agar segera menceraikan aku?" gumam Kiran dalam hati, dengan berbagai banyak tanda tanya di dalamnya.


Mendapati keberadaan sang Bunda yang semakin dekat denganya-membuat Rangga segera melontarkan pertanyaan pada Mama Dilla, karena sepengatuhuannya, kalau Mamanya akan berkunjung ke kediamannya, jika ada hal yang begitu penting, yang harus di bahas dengannya.


"Selamat pagi anakku...." sapa Mama Dilla dengan memberi senyum lebarnya, dan melabuhkan sebuah kecupan di pipi Rangga.

__ADS_1


Bukan membalas sapaan itu, Rangga malah langsung melontarkan pertanyaan pada Ibunya.


"Maa... Ada keperluan apa Mama datang kemari?"


Senyum sumringah yang sedari tadi mengukir di wajah Mama Dilla, berganti dengan wajah kesalnya saat pria berusia tiga puluh tahun itu, melontarkan pertanyaan seperti itu. Dan dua mata itu, Mama Dilla lemparkan pada Kiran, yang tetap menikmati sarapan paginya, walaupun adanya dia di sana.


"Memang Mama tidak boleh, datang ke rumah anak Mama sendiri?! Apa yang sudah dilakukan wanita ini pada kamu? Hingga kamu menjadi tidak sopan pada Mama. Bahkan kamu lihat kelakuannya Rangga! Mamamu sudah berada di sini, tapi tetap saja tidak disapa, malah dia terus menikmati sarapan paginya. Apa itu yang dinamakan, menantu yang baik?! Coba hari itu kamu nikahnya sama Adisty, pasti gak akan seperti ini!"


"Sudalah Maa... Jangan diperbesarkan.." pinta Rangga dengan suara paraunya.


"Tentu saja Mama harus perbesarkan. Kamu lihat kelakuannya. Istri kamu ini sangat keras kepala, dan tidak tahu sopan satun. Selama ini dia tidak tinggal dengan keluarganya, karena ingin bebas. Mungkin saja, sudah banyak pria yang tidur denganya, sebelum dia menikah dengan kamu!"


"Maa! " seru Rangga dengan nada membentak, saat mendengar perkataan Ibunya, yang menurutnya sudah sangat keterlaluan.


"Kamu berani membentak Mama?! tanya Mama Dilla. Wanita tua itu, nampak tidak terima dengan nada kasar putranya.


"Mas..." panggil Kiran, yang sudah beranjak dari duduknya.


"Mau ke mana kamu?"


"Aku berangkat dahulu Mas.." jawab Kiran dengan langkah kaki, yang segera dia ayunkan.


"Tunggu aku di dalam mobil!" ucap Rangga tiba-tiba, yang menjeda langkah kaki Kiran.


Mama Dilla ikut melemparkan tatapannya mengikuti arah perginya Kiran, mendapati wanita itu belum terlalu jauh, Mama Dilla sengaja bersuara, dengan mengatakan tentang pertemuannya dengan Dilla-teman jaman SMA Rangga.


"Oh, ya Rangga, baru-baru Mama bertemu dengan Dilla, teman SMA kamu, yang pernah kamu taksir itu," ucap Mama Dilla, dengan sengaja memperbesar volume suaranya, agar Kiran dapat mendengar.


"Aku juga sudah bertemu dengannya, waktu di pesta Tuan Hardi Winata."


"Benarkah?" tanya Mama Dilla, dengan senagaja menyambut ucapan anaknya.


"Iya, kami sempat bertemu, dan berbincang-bincang." Dan apa yang Rangga ucapkan, pria itu sama sekali tidak menyadari, kalau Kiran masih berada di sana.


"Asal kamu tahu Rangga, Dilla itu lulusan salah satu universitas di Amerika serikat."


Kiran tersenyum miris. Buliran bening kembali sudah menetes didua pipinya, mengingat kemesraan mereka semalam.


" Ternyata wanita yang bersama Mas Rangga, di pesta di rumah Rian itu, bernama Dilla. Dan wanita itu, pernah ditaksir Mas Rangga saat jaman sekolah mereka dulu. Pantasan Mas Rangga langsung meninggalkan aku, saat wanita itu datang," gumam Kiran. Tapi seketika air mata itu langsung dia usap, saat mengingat janjinya pada diri sendiri, yang akan berhenti mencintai Rangga.


"Buat apa aku harus menangis? Bukankah kami hanya menikah kontrak? Dan buat apa aku terlena, dengan perlakuan manis Mas Rangga? Karena nyatanya, dia akan tetap menceraikan aku. Ya.Kami akan berpisah, beberapa bulan lagi. Jadi aku tidak mau semakin tenggelam dalam semua ini," gumam Kiran, dan kembali melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


__ADS_2