Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
MENDUGA KALAU HAMIL


__ADS_3

Arah pandang itu terus Rangga arahkan, mengikuti arah perginya mobil, yang sudah membawa istri, dan juga ayah mertuanya, ke luar area rumahnya. Terus memandang-hingga mobil itu, benar-benar menghilang dari penglihatannya. Semakin jelas terlihat kesedihan di wajah Rangga, setelah perginya Kiran dari rumahnya. Teramat menyesal diri itu, saat baru menyadari kalau dia sangat mencintai, istrinya.


"Aku sangat mencintatimu Kiran...Sangat mencintaimu. Maafkan aku, yang selalu memberimu luka, dan membuatmu menangis, selama kau berada bersamaku," gumam Rangga, yang kembali mengenang, cinta, dan sayangnya Kiran yang begitu besar padanya.


Sedikit lama Rangga memijakkam dua kakinya di sana, akhirnya pria berusia tiga puluh tahun itu, memutuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah. Tak ada yang berani bersuara di antara mereka, semuanya benar-benar larut dalam suasana hati Tuannya, yang tentunya sedang tidak baik-baik saja. Mendapati Tuannya yang sudah berlalu kembali ke dalam rumah, Doni pun memutuskan untuk mengikuti langkah kaki itu.


Berbeda dengan Doni yang sudah berlalu ke dalam rumah, pelayan-pelayan yang bekerja di rumah pengusaha tampan itu, justru masih setia memijkkan dua kaki mereka di depan teras.


Iyam mendesahkan napasnya yang panjang, dengan lemparan pandangan, yang tetap mengikuti arah perginya Rangga, yang menghilang ke dalam rumah.


"Tuan Rangga gengsinya kegedean. Sudah cinta, tapi masih tidak mau ngaku juga. Sekarang disaat Nona Kiran sudah pergi, baru dia berani mengatakan kalau dia mencintai istrinya. Seandainya dari kemarin-kemarin dia mengatakan perasaannya, pasti tidak akan seperti ini jadinya. Bahkan selama ini, kita sudah berusaha mati-matian menutupi hal ini, dari Tuan Besar, dan Nyonya Besar Dilla-agar mereka tidak mengetahui bagaimana pernikahan anaknya, yang sebenarnya."


"Ehh, tapi tunggu dulu. Kalian perhatikan tidak, kalau akhir-akhir ini Nona Kiran nampak berbeda," celah salah satu pelayan muda.


"Berbeda bagaimana? Maksud kamu, dia bisa menjadi Spidermen?!" Iyam yang merasa lucu dengan ucapan sahabatnya itu, malah menjawab dengan sebuah candaan, dan tertawa kecil.


"Eh, aku lagi serius tau.." Dengan mimik cemberut, menatap kesal pada Iyam, yang terus menertawakan dirinya.


"Maksud kamu apa Ina?! Coba jelaskan!" tanya Bibi Ijah, dengan nada suara yang terdengar menuntut.


"Aku pernah melihat Nona Kiran muntah-muntah, saat aku mengantarkan pakaian-pakaiannya, yang sudah selesai aku seterika, dan dia juga memintaku, untuk membuatkan seblak, katanya lagi pengen. Bukankah kita semua pun tahu, kalau Tuan dan Nona sering.." ujar Ina, dengan tak melanjutkan ucapannya lagi, karena malu.


"Semoga saja, apa yang kau perkirakan itu benar, Ina! Karena jika Nona Kiran hamil, membuat keduanya sulit untuk berpisah, bahkan mungkin saja Nona Kiran yang awalnya akan mengikuti kemauan Papanya, bisa kembali pada Tuan Rangga, karena tidak mau anaknya terlahir tanpa seorang ayah."


****


Rangga mendesahkan napasnya berat, menatap langit-langit ruang kerjanya, dengan tubuh bersandar malas pada kursi kebesarannya.


" Sekarang apa yang anda lakukan Tuan?"


"Papa Mertuaku begitu sangat marah, dan aku yakin ancamannya itu, benar-benar serius. Aku yakin, setelah ini dia pasti akan mengurung Kiran di rumah, dan tidak membiarkan anaknya untuk bekerja lagi. Bahkan ponselnya juga, kemungkinan akan disita."


"Jadi apa yang akan Tuan lakukan, sekarang?" tanya Doni lagi, saat tak kunjung mendapatkan jawaban, atas pertanyaan darinya.


"Kau awasi sekitar rumahnya, atau kau dekati Pelayan rumahnya, yang bernama Surti, dia sangat begitu dekat dengan Kiran. Mungkin saja, dia bisa membantuku."


"Maksu anda, apakah anda akan menyusup masuk ke dalam sana?" tanya Doni yang mencoba untuk menebak, apa yang dimaksud oleh Tuannya.


Rangga terkekeh, mengusap kasar wajahnya kembali meratapi penyesalan saar baru menyadari, kalau dia memang mencintai istrinya.


"Ini gila! Bahkan dengan Rani pun, aku tidak pernah melakukan hal ini, hanya untuk mendapatkan dia."


"Itu berarti anda, sangat mencintai Nona, Tuan! Sayang anda menyadarinya terlambat."


"Dan aku menyesal untuk itu," sambungnya.

__ADS_1


****


Kiran mengedarkan pandangannya menyapu bersih seisi, ruangan-yang sudah bertahun-tahun tidak dia tempati. Memalingkan wajah itu-menatap pada tirai jendela, yang terhempas, akibat tiupan angin malam yang sedikit kencang. Lama larut dalam dunianya, dua kaki itu pun bangkit, menghampiri jendela kamarnya. Berdiri di tepiannya, dengan tatapan mata yang dia lemparkan pada jutaan bintang, dan bulan, yang bersinar indah di atas sana. Memejamkan kelopak matanya, saat kembali terlintas perkataan Rangga, yang juga mencintainya.


"Apakah benar-benar kau sangat mencintaiku, Mas? Atau hanya sebuah bualan, semata" gumam Kiran. Kembali kelabu raut wajahnya, memikirkan cintanya yang bertepuk sebelah tangan.


Cukup lama Kiran menenggelamkan diri dalam dunianya sendiri-hingga suara nada panjang yang menyapa gawainya, memecahkan lamunan wanita berusia dua puluh enam tahun itu. Memalingkan wajahnya, dengan langkah kaki yang dia ambil menghampiri gawai yang dia simpan di atas meja.


Bola matanya membulat lebih penuh, setelah menemukan nama Mas, yang tak lain adalah Rangga.


"Mas Rangga...Mas Rangga menghubungiku?" gumam Kiran tak percaya, dan segera mengklik icon hijau pada layar ponsel itu.


Tak ada yang berbicara, dua-duanya sama bungkam, saat tatapan mata mereka saling beradu, dalam sebuah layar ponsel.


Lama membungkam, akhirnya Rangga pun bersuara terlebih dahulu.


"Maafkan aku..Maaf."


"Kenapa harus minta maaf Mas? Bukankah cepat atau lambat, semuanya akan seperti ini?" lirih Kiran, dengan mata yang kembali sudah kembali berkaca-kaca.


Rangga mendesahkan napasnya yang dalam, menatap nanar pada wanita yang masih berstatus istrinya itu, yang sudah kembali menangis.


"Maafkan aku, dan aku sangat menyesal, dan semoga saja tidak ada kata terlambat, untuk semua ini. Karena aku benar-benar jatuh cinta padamu."


"Jadi..."


"Ya. Semua yang kutakan saat kepulanganmu tadi, itu semua dari hatiku. Aku benar-benar mencintaimu Kiran, dan berilah aku kesempatan, untuk dapat kembali bersamamu."


"Apakah aku bisa mempercayai semua yang kau katakan, Mas?" tanya Kiran, dengan kembali mengusap sudut matanya, yang sudah tergenang dengan air mata.


"Aku tahu, kau pasti tidak akan mempercayainya, tapi aku akan membuktikan semuanya."


"Karena memang itu yang aku butuhkan Mas, kalau memang Mas Rangga, benar-benar mencintaiku."


Kiran tersenyum, begitu pun juga dengan Rangga, yang tersenyum menatap istrinya, yang tersenyum dengan air mata yang menetes.


"Apakah kau tidak menyadari? Kalau kita seperti tengah berpacaran sembunyi-sembunyi saat ini."


"Bukankah semua ini, maunya kamu Mas?!"


"Maafkan aku.." jawabnya pelan, dan membungkam kemudian kembali bersuara. "Aku merindukanmu Kiran, baru berpisah seperti sudah terasa lama buatku."


Kiran hanya bisa menangis, mendengar kata-kata yang tak pernah Rangga ucapkan selama dalam perjalanan hubungan pernikahan mereka.


"Jangan menangis aku mohon..." Mata Rangga nampak berkaca-kaca, hatinya ikut sakit, menyesal sebah sudah menyakiti, dan mengabaikan perasaan Kiran yang teramat dalam padanya.

__ADS_1


"Aku...Aku..." Kiran tak sanggup menyelesaikan ucapannya, saat merasakan perutnya bergejolak.


"Kamu kenapa?" tanya Rangga, yang terlihat sangat begitu khawatir pada istrinya.


Tak dapat menjawab apa yang Rangga tanyakan, Kiran segera melepaskan ponselnya begitu saja di atas ranjang, dan berlari menuju kamar mandi. Di bawa kuncuran air yang terus mengalir Kiran memuntahkan isi perutnya, yang tentunya membuanya sangat tidak nyaman. Wajahnya nampak sayu, menatap dirinya lewat pantulan cermin. Cukup lama dia memandang, meresapi semua yang terjadi antara dia, dan Rangga.


"Mungkinkah aku hamil? Kenapa aku tidak bisa menyadarinya? Bukankah selama melakukan hal itu dengan Mas Rangga, Mas Rangga sama sekali tidak memakai pengaman?" gumam Kiran, seraya menyentuh perutnya, yang masih rata. Cukup lama dia berdiam, dan baru menyadari dirinya yang sudah tidak datang bulan, dalam dua bulan terakhir ini.


"Ya Tuhan...Kenapa aku tidak menyadarinya?" gumamnya kemudian. Mendengar suara yang terdengar dari gawainya, dengan cepat Kiran kembali berlalu dari dalam kamar mandi.


Kedua wajah itu kembali saling bertatapan, saat gawai kembali sudah berada dalam genggaman Kiran.


"Kamu kenapa?! Kamu sakit? Apakah perlu Mas membawa kamu ke Dokter?!" Beruntun pertanyaan yang Rangga lontarkan, dengan raut wajah yang terlihat begitu khawatir.


"Mas..Apakah kamu tidak menyadari Kalau sekarang kita sudah tidak tinggal sama-sama lagi.?"


"Maafkan Mas, Mas janji akan kembali membawamu kembali ke rumah ini," jawabnya pelan.


Saat tengah asyik berbincang bersama sang suami-Kiran dbuat kaget, dengan suara gedoran pintu kamar dari luar kamar.


"Kiran..Kiran..." Dan suara itu ternyata berasal, dariPapa Andi.


"Maaf Mas, aku harus menutup teleponenya, Papa datang," ujar Kiran cepat, dengan langsung memutuskan begitu saja, sambungan teleponenya.


"I..Iya Paa.." jawabnya melangkahkan kaki menuju pintu kamar, dan membukanya.


"Apa yang kamu lakukan?!" tanya Papa Andi, dengan nada tegas.


"A..Aku tidak melakukan apa-apa Paa.." jawab Kiran terbata.


Menyurutkan kedua alisnya, menatap dengan intens pada Kiran, berusaha mencari kejujuran anak semata wayangnya itu.


"Kemarikan ponselmu!"


"Apa?" Kiran sangat terkejut, dengan apa yang baru saja Papa Andi katakan.


"Kamu sudah dibutahkan oleh perasaanmu Kiran! Bahkan kamu tidak memilii harga diri. Sekali lagi Papa tegaskan, kemarikan ponselmu, dan kamu akan memakainya setelah kamu Papa kirim ke Inggris!"


"Inggris??" Kiran begitu terkejut, dengan apa yang baru Papa Andi katakan.


"Iya. Kamu akan tinggal bersama Bibimu di sana. Papa akan meminjam uang sama teman Papa, untuk bekal kamu ke sana, dan buat membeli tiket pesawatmu. Dan untuk uang yang Rangga berikan, Papa akan menjual salah satu mobil Papa dan menggantikan uangnya," ujar Papa Andi. Menjangkau ponsel yang berada dalam genggaman tangan putrinya, dan berlalu dari dalam kamar itu.


Kiran terduduk lemas di atas ranjang. Saat ini dia bukan memikirkan perasaannya lagi pada Rangga, tapi memikirkan bagaimana jika dirinya benar-benar hamil.


"Bagaimana kalau aku hamil?" gumam Kiran dengan wajahnya yang resah.

__ADS_1


__ADS_2