Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
KESALNYA KIRAN


__ADS_3

Tangannya yang berada dalam genggaman Rangga, sekuat tenaga berusaha Kiran lepas, saat pasangan suami-istri itu, melangka ke luar dari dalam pesta.


"Lepaskan aku Mas..Lepaskan!"


Tidak memperdulikan. Amarah yang sudah benar-benar mengusai dirinya, membuat Rangga sama sekali tidak memperdulikan permintaan Kiran. Ayunan kaki itu tetap dia langkahkan, menuju area parkir kendaraan.


Kiran nampak semakin kesal saja, dengan sikap suaminya. Mengingat sikap Rangga yang selalu bersikap seenaknya pada pria itu, membuat Kiran dengan berani menginjakkan kakinya yang masih menggunakan heels, di atas kaki Rangga.


Teriakan menggema mengalir begitu saja, dari mulut seorang Rangga Wijaya, dengan apa yang sudah Kiran lakukan padanya. Pria berusia tiga puluh tahun itu, begitu merasakan kesakitan yang teramat sangat pada kakinya, akibat injakan yang Kiran lakukan.


"Kau memang brengsek Kiran!" bentak Rangga, seraya berjingkrak-jingkrak memegang ujung kakinya, yang masih berbalut sepatu.


"Ha..Ha...Ha...Kamu mengatakan aku brengsek! Justru kamu-lah, yang brengsek itu! Mentang-mentang aku berhutang nyawa pada Dokter Rani, kamu memperlakukan aku seperti boneka mainanmu. Dan kamu itu IBILIS!" bentak Kiran, dengan langsung melenggangkan kakinya, berlalu begitu saja meninggalkan Rangga, yang sedang mengadu kesakitan.


"Kiran...Mau ke mana kau??" teriak Rangga.


"Mau pergi! Aku malas setiap hari, kalau harus melihat wajahmu yang menjengkelkan itu!" jawab Kiran. Tak memperdulikan Rangga, yang berstatus Suaminya, Kiran terus mengayunkan langkahnya, menjauh dari pria itu.


"Kenapa kau diam saja, Doni?! Cepat kejar dia!" pinta Rangga pada, Sekretarisnya.


"Kalau saya mengejar Nona Kiran, apa yang harus saya lakukan padanya Tuan? Bisa-bisa saja, saya yang kena damprat darinya." Doni tersenyum kikuk, saat menjawab permintaan Bosnya, yang sulit untuk dia penuhi.


Amarah kian menyeruak dari diri seorang Rangga, saat mendapati jawaban dari Sekretarisnya, yang kian menambah emosi dalam diri pria itu. Dengan berusaha menahan kesakitan pada kakinya, Rangga segera mengambil langkah lebar langkahnya, mengikuiti arah perginya Kiran.


Walaupun sedikit kesusahan, karena masih merasakan kesakitan pada salah satu kakinya, Rangga tetap mengayunkan langkah kaki itu, berharap dirinya mendapati Kiran, yang sudah berlalu jauh.


Dari jauh, dua mata pria itu mendapati sesosok wanita dengan gaun indahnya, dan Rangga sangat meyakini, kalau itu adalah Kiran, istrinya.


Semakin cepat Rangga mengambil langkah itu, hingga tinggal sekitar dua satu meter lagi, pria itu sudah berada dengan posisi yang sama dengan Kiran.


"Kiran tunggu..." teriak Rangga.

__ADS_1


Memalingkan wajahnya, dan sedikit kaget, saat mendapati Rangga yang sudah berada di belakangnya.


"Mas Rangga.." gumam Kiran pelan. Dua kaki yang tengah dia ayunkan, Kiran hentikan seketika, dengan memberi tatapan herannya pada Rangga, karena sama sekali tidak menyangkah Rangga akan menyusulnya.


"Mau apa kamu?! Buat apa kamu menyusulku?!" Akibat kesalnya yang masih dia rasakan pada pria itu, membuat Kiran langsung melontarkan pertanyaan dengan nada yang kasar, pada Rangga.


"Apakah kamu lupa?! Kalau kamu itu Istriku!"


Apa yang Rangga katakan, serasa begitu menggelitik untuk Kiran. Rangga menyebutnya, sebagai Istri dari pria itu. Tapi yang dilakukan Rangga padanya, jauh dari kata Istri.


Hingga membuat tawa lepas lolos begitu saja, dari bibir gadis berusia dua puluh enam tahun itu.


"Ha..Ha..Ha..,Istri?? Apa tidak salah, kamu menyebut aku sebagai Istrimu? Bukankah kita ini hanya menikah kontak? Dan kamu tidak memperlakukan aku, sebagai istrimu sama sekali. Kamu mengajakku ke pesta, terus meninggalkan aku begitu saja, dengan sahabat-sahabatmu, tanpa memikirkan aku yang tidak mengenal siapapun di sana."


"Kalau begitu, ayo kita pulang!" ajak Rangga. Tangan Kiran segera dia gapai, tapi dihempaskan dengan kasar oleh wanita itu.


"Aku tidak mau pulang!" seru Kiran kesal.


"Jangan terlalu keras kepala, Kiran! Karena aku sedang tidak ingin berdebat denganmu."


Wanita itu tetap kekeh dengan keinginannya, yang ingin pulang sendiri, dan tidak bersama Rangga.


"Aku tidak mau pulang denganmu. Aku akan meminta Dian menjemput, atau mungkin saja sahabatku, yang lain."


"Jangan katakan, kalau kamu ingin pulang diantar pria itu!" seru Rangga. Tatapan pria itu semakin saja tajam, melihat Kiran sudah menjangkau ponsel di dalam tasnya, dan mulai berselancar di layar HP itu.


"Mungkin saja," jawab Kiran enteng. Gadis bermanik hitam itu nampak sama sekali tidak memperdulikan amarah Rangga. Tetap memainkan jarinya, dan menghubungi seseorang di sana.


Dan baru saja gawai itu akan Kiran tempelkan pada daun telinganya, Rangga dengan cepat menggapai benda pipih itu, dan melemparkan dengan kasar ke jalan raya, hingga gawai milik Kiran, hancur berkeping-keping.


"Mas...Apa yang kamu lakukan? Kembalikan ponselku!" seru Kiran dengan setengah teriakan.

__ADS_1


Tak mengindahkan permintaan Kiran, justru Rangga langsung melemparkan benda pipih itu ke jalan raya, hingga menjadi sebuah kepingan.


"Mas...Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu menghancurkan ponselku brengsek!"


"Biaskan saja, toh~aku juga tidak perduli. Biarkan saja, si Rianmu itu, tidak dapat menghubungimu sama sekali."


"Kamu memang laki-laki egois Mas! Dan aku semakin, semakin membencimu!" bentak Kiran. Dua matanya segera dia arahkan pada HP miliknya, yang sudah menjadi beberapa kepingan. Dan itu, membuat hatinya sakit, karena ponsel itu dia beli dengan hasll keringatnya sendiri.


"Kamu memang laki-laki brengsek Mas! Aku sangat membencimu, sangat membencimu.." teriak Kiran dengan nada penuh amarah.


"Aku akan menggantinya dengan yang lebih mahal."


"Egois kamu!" bentak Kiran, yang masih dikuasai oleh emosi.


Rangga hanya melukis senyuman tipis, mendengar segalah cacian Kiran, yang sama sekali tidak berpengaruh untuknya. Dua mata itu terus dia tatapkan pada Kiran, yang masih setia memungut serpihan-serpihan, dari HP miliknya.


Kiran sudah bangkit, dan dua kaki itu dia ayunkan, menuju k Rangga.


Rangga menyimpulkan senyuman di wajah, dan itu kian membuat Kiran semakin saja, terbakar dengan kemarahan.


Senyuman terus yang dia ukir, dan tanpa sengaja wajah itu dia palingkan kerah lain. Dan dari jauh, tatapan mata Rangga mendapati hal yang mencurigakan, dari sebuah mobil yang terparkir sedikit jauh dari mereka.


Terus menatap untuk memastikan, sebenarnya apa itu. Dan betapa kagetnya Rangga! Saat pria itu, melihat seseorang mengarahkan senjata api kearah mereka.


"Kamu kenapa? Kenapa wajahmu nampak seperti orang bodoh begitu?!" Kiran masih melontarkan pertanyaan, tanpa wanita itu sadari ada bahaya di belakangnya.


Segera tubuh Kiran Rangga tarik dalam pelukannya, hingga tembakan mengenai lengan pria itu.


DOOR!


"Maas...." teriak Kiran yang begitu histeris dengan situasi itu. Rangga yang sudah tahu, kalau bahaya selalu saja mengikutinya, segera mengeluarkan senjata api , dan membawa Kiran bersembunyi di balik sebuah mobil yang terparkir.

__ADS_1


"Mas..Aku takut, aku takut Mas.." seru Kiran. Wajah gadis itu begitu pucat, akibat rasa takutnya yang teramat sangat.


"Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja,"


__ADS_2