Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
TIGER


__ADS_3

Kiran sudah kembali berada di dalam kamarnya. Bukan melakukan hal yang lain-gadis berusia dua puluh enam tahun itu, justru setia menempelkan daun telinganya di badan pintu, untuk memastikan suara langkah kaki yang akan turun dari lantai tiga.


Asyik dengan tindakan konyol yang dia lakukan, membuat gadis muda itu nyaris aja terjatuh ke lantai-kalau Doni tidak dengan cepat menahannya, saat pria itu membuka pintu tiba-tiba, tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


Posisi mereka saling berpelukan, saat Doni menahan tubuh Kiran yang akan terjatuh ke lantai.


Rangga mengayunkan langkah kakinya pelan-menyusuri setiap barisan anak tangga, yang akan membawa pria itu pada lantai bawa. Langkah kaki yang sudah akan memijak pada lantai dua, seketika dia jeda, saat mendapati pemandangan romantis di depan matanya, yang membuat api amarah mencuat tiba-tiba dalam diri pria itu.


"Apa kalian pikir ini tempat mesum?!" Dengan nada yang terdengar kesal, kala dia melontarkan pertanyaan.


Mendengar suara bariton, pelukan itu langsung Doni, dan kiran urai. Dan sangat terkejut, saat mendapati Rangga yang melangkah menuju kearah mereka.


"Mas..."


"Tuan..." gumam Doni pelan.


Smirk iblis melukis di wajah Rangga, dengan memberi tatapan tidak sukanya pada istri, dan juga Sekterisnya itu.


"Jika kalian ingin membuat hal yang tidak senonoh, jangan lakukan di rumah ini."


"Ini tidak seperti yang anda pikirkan, Tuan!" celah Doni cepat.


"Doni ke kamarku, dan dia tidak mengetuk pintu terlebih dahulu. Dan aku yang tengah bersandar pada pintu, langsung terjatuh, saat dia membuka pintu tiba-tiba, tanpa mengetuknya terlebih dahulu."


"Yang dikatakan Nona Kiran itu benar, Tuan! Dan untung saja saya menahannya, kalau tidak mungkin Nona sudah terjatuh ke lantai."


"Benarkah?"


"Tentu saja Mas! Dan Mas mau ke mana? Bukankah Mas sedang sakit?" tanya Kiran pura-pura.


"Apakah semua yang akan aku lakukan, aku harus memberitahukan padamu?"


Wajah Kiran memucat seketika. Perkataan Rangga barusan, membuat wanita itu langsung menyadari status pernikahan dia, dan Rangga sebenarnya.


"Maafkan aku Mas..Maafkan aku," jawabnya tersenyum miris.


"Lanjutkan apa yang akan kalian lakukan, dan Doni setelah itu kau ikut aku!"


"Baik Tuan!"


Rangga kembali melanjutkan langkah kakinya menyusuri setiap barisan anak tangga, yang akan membawanya pria itu pada lantai bawa.


"Dasar pria brengsek!" umpat Kiran kesal, dengan melemparkan tatapan tajamnya pada Rangga.


"Pelankan suara anda, Nona! Kalau Tuan mendengar, anda bisa kena hukuman."


"Hukuman dia akan menceraikan aku! Dan aku sama sekali tidak perduli!"


"Sudahlah, nanti saja marahnya. Aku datang ke sini, untuk memberikan cek ini. Tuan Rangga meminta aku mengantarkan ini pada anda," ucap Doni dengan menyodorkan lembaran kertas, yang langsung dijangkau Kiran.


Bola mata Kiran berubah lebih membulat, setelah gadis bermanik hitam itu, mendapati angka yang tertulis di dalam cek itu. Dan ternyata Rangga benar-benar menepati janjinya, dengan memberi dia satu miliar.


"Anda baik-baik saja, Nona?" tanya Doni, setelah mendapati perubahan raut wajah Kiran.


"A...Aku baik-baik saja," jawabnya terbata.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu, Tuan Rangga pasti sudah menungguku," pamit Doni, dengan langsung melangkahkan dua kakinya, menuju arah tangga.


Tatapan mata Kiran ikut melempar mengikuti arah perginya Doni. Cukup lama Kiran memandang pada pria itu, dan memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Langkah kakinya mengayun pelan, dengan tatapan mata yang terus dia arahkan pada lembaran cek itu. Memijakan dua kakinya, dan kemudian dia tersenyum miris.


"Aku akan menjadi wanita penghibur bagi Mas Rangga, sampai pernikahan kami berakhir," gumam Kiran. Sesak yang begitu menghimpit dada itu, dia tarik pelan kala kegamangan hati kembali melanda.


Tenggelam dalam suasana hatinya, ingatan itu tiba-tiba teringat akan hunian kecil-yang terdapat di pinggiran hutan. Meyakini Rangga pergi ke rumah itu, Kiran memutuskan untuk pergi ke sana.


Menyambar jacket hoddy yang menggelantung di kursi, dan segera berlalu dari dalam kamar. Ayunan kaki yang dia langkahkan cepat--kala dua kaki itu menuruni setiap barisan anak tangga, menuju lantai bawa. Saat dua kaki itu sudah memijak di lantai dasar, gadis bermanik hitam itu berpapasan dengan Bibi Ani yang kebetulan melintas.


"Anda mau ke mana Nona?" tanyanya tiba-tiba.


Senyum lebar, mengukir indah di wajah Kiran-berusaha untuk menghapus wajah kikuk yang diwajah.


"Aku sedang bosan di kamar, Bibi! Jadi aku memutuskan untuk jalan-jalan, di taman belakang."


"Tapi hati-hati, takutnya ada ular yang datang dari hutan."


"Benarkah?!" tanya Kiran, dengan wajahnya yang sedikit kaget.


"Iya Nona! Jadi hati-hati di sana."


"Baik Bibi! Aku pasti akan hati-hati," jawab Kiran, dengan kembali melanjutkan langkah kaki itu.


Kiran mengayunkan langkahnya panjang, saat menyusuri jalan kecil yang akan membawa wanita berambut panjang hitam itu, menuju arah hutan. Melemparkan pandangan kearah lain, dan tanpa sengaja dua mata itu, menangkap sosok Doni yang berjalan menuju rumah kecil itu, dengan membawa dua ekor ayam yang telah mati.


"Untuk apa Doni membawa ayam-ayam itu ke sana? Tidak mungkinkah, dia dan Mas Rangga akan melakukan pesta barbekyu di rumah kecil itu?" gumam Kiran, yang semakin dilanda rasa ingin tahunya.


Doni mengayunkan langkahnya pelan, menuju hunian kecil dalam suasana yang sedikit gelap. Membuka pintu rumah, dan mendapati Tuannya tengah mengelus-ngelus seekor hewan buas yang tak lain aadalah, HARIMAU peliharaannya.


"Berikan itu padaku!" pinta Rangga cepat.


Doni mengambil langkah panjangnya, yang membawa tubuh pria itu menuju arah Rangga, yang tengah berdiri di tepian kandang. Melihat mata lapar pada hewan kesayangannya, pria berusia tiga puluh tahun itu langsung menjangkau dua ayam itu, dan memberi pada hewan kesayangannya.


"Tuan..." panggil Doni tiba-tiba.


"Ada apa?"


"Apakah Dokter Devan, pernah ke klup malam? Maksud saya, sering menghabiskan waktunya ditempat hiburan?"


Rangga terkekeh pelan, mendengar lontaran pertanyaan yang barusaja Doni berikan.


"Ha...Ha...Ha...Mana mungkin dia ke sana. Hidup pria itu, hanya dia habiskan untuk mengobati orang sakit. Aku takut, kalau nanti dia akan bisa menjadi bujang lapuk."


"Apakah itu mungkin, saudara kembarnya?"


Raut wajah Rangga langsung berubah serius, setelah mendengar apa yang Doni katakan, yang membuatnya sangat terkejut.


"Kau jangan mengada-ngada! Bukankah kau pun tahu kalau Davin sudah meninggal?"


"Saya tidak mengada-ngada Tuan! Saya hanya mengatakan yang sebenarnya. Lagi pula, guna apa saya membohongi anda."


Rangga mendesahkan napasnya yang panjang. Lama membungkam, dan memory pria itu kembali dia hantarkan pada Davin, yang begitu membenci dirinya, karena mengirah Rangga-lah orang, yang sudah menyebabkan kematian kekasihnya.


"Sampai sekarang polisi belum menemukan orang yang sudah berada di balik kematian, Rani. Dan aku minta, kau tetap awasi Kiran jangan sampai gadis bodoh itu kenapa-napa!"


"Saya mengerti Tuan!"


Rangga mengedarkan pandangannya ke segalah arah, menelusuri dengan intens setiap benda-benda yang tertata rapi di dalam rumah kecil itu.


Senjata-senjata, maupun belati yang dia gunakan saat masih menjadi seorang Mafia.

__ADS_1


Menjangkau satu buah senjata, dan menembak ke arah dinding, yang menimbulkan bunyi begitu menggema.


DOOR!" Suara tembakan yang begitu menggelegar, membuat jantung Kiran nyaris berpindah dari tempatnya.


"Ya Tuhan.. Lindungilah aku," Gumam Kiran dengan pucat, dan keringat yang sedikit membasahi dahinya, akibat rasa takutnya yang teramat sangat.


Sedikit lama mereka berada di dalam sana, akhirnya kedua pria itu, memutuskan untuk kembali ke rumah utama.


Kiran yang masih setia berada dipersembunyiannya, langsung lebih menundukkan tubuhnya saat Rangga-suaminya, dan juga Doni melintas di depannya.


Ayunan kaki yang tengah melangkah Rangga jeda, saat mendengar suara berisik dari rimbunan bunga.


"Ada apa Tuan?" tanya Doni, saat Tuannya menghentikan ayunan kakinya.


"Tidak ada apa-apa! Ayoo!" ajaknya kembali.


Memastikan Rangga, dan Doni sudah berlalu jauh, gadis berambut panjang itu, langsung berlalu dari tempat persembunyiannya. Dan sepertinya dewi fortuna tengah berpihak pada Kiran, saat sudah berada didepan rumah kecil itu-diamendapati pintunya tidak terkunci.


Karena rasa penasarannya yang teramat sangat dengan isi di dalam tempat itu, Kiran langsung memutuskan untuk masuk.


Langkah kaki yang dia ambil pelan, menelusuri setiap jejak di dalam rumah itu. Senjata-senjata tajam, belati dan juga penjara dia temui di dalam sana. Begitu pias wajah cantik pemilik manik berwarna hitam itu,, kala mendapati sisi lain dari seorang Rangga, yang selama ini tidak dia ketahui. Melangkah, dan terus dia langkahkan kaki itu-dengan dua mata yang dia edarkan kesegalah arah. Saat terlempar kesamping, betapa kagetnya Kiran, kala mendapati Harimau besar, yang terkurung dalam kadangnya.


Mendapati kedatangan orang asing, membuat TIGER tiba-tiba berubah menjadi agresif. Meraung-raung, dan memukulkan tubuhnya, agar dia dapat terlepas dari kandangnya. Terus memberontak dengan sekuat tenaga, akhirnya pintu itudapat terbuka, dan langsung melangkah menuju arah Kiran.


"Jangan...Jangan dekati aku..."Setengah berteriak, dengan melangkah mundur.


Tentu saja dia tak memperdulikan. Bagi dia, Kiran adalah mangsa yang lezat.


Terus melangkah..Dan melangkah, mendekati Kiran yang terus memundurkan langkahnya.


Semakin pucat wajah itu, dan Kiran hanya bisa menangis di sana, saat tubuh wanita itu sudah terpenjara di dinding rumah. Melangah kian mendekat, dan bersiap untuk menerkam Kiran. Dan saat akan melakukan aksinya, Rangga seketika berteriak.


"TIGER...Hentikan! Jangan melukainya, dia istriku!"


Meraung..Dan meraung. Dan terus melangkah-mendekati pada Kiran, yang menangis ketakutan.


"Mas Rangga tolong aku..Tolong aku Mas..."


"TIGER...Kubilang hentikan! Dia adalah istriku!" Dengan nada tegas.


Memalingkan wajahnya sekilas pada Rangga, akhirnya hewan buas itu kembali ke kandangnya.


Rangga melemparkan tatapan tajamnya pada Kiran, yang masih menangis, tanpa berani menatapnya.


"Siapa yang memintamu untuk datang?!" Dengan nada kasar.


"Ma..Maafkan aku Mas...Maaf.." seru Kiran Kiran menunduk, dengan air mata yang masih mengalir.


Mendesahkan napasnya yang tegas, berusaha meredam emosi yang begitu membuncah pada Kiran istrinya.


"Cepat ke luar kau dari dalam tempat ini! Sebelum kau kujadikan mangsa hewan peliharaanku!"


"Mas...Maafkan aku,"


"Dan malam ini kita akan melakukannya, sesuai perjanjian yang sudah kau, dan aku buat!"


Wajah itu langsung Kiran angkat, setelah mendengar apa yang Rangga katakan yang membuat dia sangat terkejut.


"Apa?? Melakukan malam ini juga?!"

__ADS_1


__ADS_2