
Kiran tentu saja mengabaikan keberadaan Rangga, sekalipun wanita itu tahu kalau Rangga pasti menyaksikan apa, tarian dari dia, dan Rian.
Rasa kesal dengan sikapnya Rangga yang menurutnya sudah sangat keterlaluan, membuat wanita muda itu tak takut sama sekali jika Rangga melihatnya. Toh! Dia, dan Rangga hanya menikah selama satu tahun, terus bercerai dan pernikahan itu, hanya pernikahan kontrak. Setidaknya itu yang adalah, di dalam pikiran Kiran, saat wanita itu menerima ajakan Rian untuk berdansa.
Senyuman terus mengukir di wajah Kiran, kala tubuh itu berputar ke sana-kemari, mengikuti alunan musik melow, dengan rangkulan tangan Rangga, yang memenuhi pinggang rampingnya.
"Kau sangat cantik malam ini, Kiran!" ucap Rian disela aktifitas, dansa mereka. Tatapan yang dia beri pada Kiran begitu dalam, menghanyutkan rasa yang dia bendung dalam sepasang iris mata hitam itu.
Kiran hanya tersenyum. Wajah itu sedikit merona. Ntah apa yang terjadi, tapi wanita muda itu nampak hanyut dengan suasana malam ini.
Tepuk tangan menggema di acara pesta itu, kala suasana romantis diciptakan oleh Kiran, dan Rian. Para undangan seperti hanyut, dengan pemandangan indah di depan mata mereka.
"Wahh.. Siapa yaa waniita muda itu? Dia sangat beruntung, sepertinya Tuan Rian sangat mencintainya," seru salah satu tamu undangan. Dan apa yang dibicarakan tamu undangan wanita itu, dapat terdengar oleh Rangga yang berada dengan jarak, dengan wanita itu.
"Iya. Dia sangat beruntung. Kau lihat saja, tatapan yang Tuan Rian berikan padanya, begitu penuh dengan cinta.." timpal tamu undangan, yang lainnya.
Amarah kian membuncah. Tatapan matanya semakin tajam Rangga arahkan pada Rian, dan Kiran yang tengah menari, di lantai dansa.
Emosi yang sudah kian membuncah, membuat Rangga tak berpikir sedang berada di mana dia, dan memikirkan nama baik dirinya sendiri.
Tanpa memikirkan tatapan orang-orang, dan anggapan orang-orang yang tentu saja mengenal dirinya, Rangga langsung mengambil langkah panjang, menuju Kiran dan Rian di arena dansa.
"Tuan...aku mohon jangan pergi!" pinta Doni, dengan setengah teriakan.
"Rangga....Rangga...." teriak Dilla, kala pria yang dia sukai tetap melangkahkan kakinya, menuju arena dansa.
Dilla nampak begitu kesal. Susah payah dia membawa Rangga menjauh dari Istri-nya, tapi justru lelaki itu sekarang, yang kembali terbakar api cemburu.
__ADS_1
"Ciihh! Apa yang bagus dari wanita itu? Sampai dia harus cemburu segala," gerutu Dilla, dengan menampilkan wajah kesalnya.
Doni begitu menampilkan wajah cemasnya. Resah terlihat jelas di wajah pria itu, karena dia yakin Tuannya sudah melakuan tindakannya yang menurutnya sangat bodoh.
Rangga yang sudah berbalut emosi tak memikirkan harga dirinya lagi. Semua mata tertuju pada pria itu, kala dua kakinya melangkah menuju arena dansa, hingga membuat para tamu undangan yang berada di dalam pesta itu, dilanda rasa penasaran, ada apa sebenarnya dengan seorang Rangga Wijaya?
"Paa..Bukankah itu, Rangga Wijaya? Anak dari rekan bisnismu?" tanya Mama Sinta, kala wanita paruh baya itu, mendapati Rangga yang melangkahkan kakinya, menuju arena dansa.
"Iya. Itu Rangga Wijaya, anak dari Tuan Ifan. Dan sepertinya, dia akan menghampiri pada Rian, dan juga temannya itu," timpal Papa Hardi pula, dengan terus melemparkan dua matanya, pada Rangga yang melangkahkan kakinya, pada putranya dan Kiran.
Kiran, dan Rian yang sedang hanyut dalam suasana, sama sekali tidak menyadari kedatangan Rangga.
Hingga tiba-tiba saja wanita berambut panjang itu, sangat terkejut saat tiba-tiba saja, Rangga menarik tangannya.
"Mas Rangga~" ucap Kiran, yang begitu terkejut. "Apa yang kau lakukan, Mas? Lepaskan tanganku?" pinta Kiran. Wanita itu nampak sangat begitu malu, saat Rangga menghentikan tiba-tiba kegiatan dansa mereka.
"Tuan..Aku mohon, lepaskan tangannya. Dan ini pestaku, jadi aku minta jangan buat masalah di sini."
Seringai rendah membentuk di wajah Rangga, dengan menghunuskan tatapan matanya semakin tajam pada Rian, usai mendengar apa yang pria itu sampaikan.
"Aku tidak perduli dengan pestamu. Dan aku juga tidak perduli dengan apa yang kau katakan. Karena aku berhak, melakukan hal ini, pada Kiran. Dan ayo, kita pulang!" ajak Rangga dengan langsung menarik tangan Kiran, berlalu dari arena dansa itu.
Rian membungkam bibirnya seketika, setelah pria itu mendengar penuturan Rangga, yang membuatnya penasaran kalau dia berhak, melakukan hal itu pada Kiran.
"Tadi pria itu, mengatakan kalau dia berhak melakukan hal itu pada Kiran. Sebenarnya, siapa dia? Aku jadi sangat penasaran," gumam Rian dalam hati, dengan terus mengarahkan tatapan matanya, pada Rangga dan Kiran yang sudah berlalu dari dalam pesta.
"Ayo Doni! Kita pulang!" seru Rangga tegas.
__ADS_1
"Baik Tuan.." jawab Doni cepat, dengan langsung melangangkahan kakinya, menyusul Rangga dan Kiran dari belakang.
Diilla yang berada di sana, ingin sekali mencegah kepulangan Rangga dari pesta itu. Melangkah menghampiri pria itu, tapi malah kecewa yang dia dapat. Rangga sama sekali tidak memperdulikan dirinya.
"Rangga...Rangga..." panggilnya, tapi pria itu terus melangkahkan dua kakinya, berlalu dari dalam pesta.
Rasa penasaran masih membalut diri Rian, terus memandang pada Kiran, dan Rangga yang sudah berlalu dari dalam pestanya.
Langkah kaki itu dia ayunkan, yang membawa tubuh Rian menghampiri pada kedua orang tuanya.
Meyakini kalau kedua orang tuanya mengenal pria yang bersama Kiran tadi, membuat Rian langsung melontarkan pertanyaan.
"Paa..Maa...Apakah kalian mengenal tamu undangan, yang tadi membawa Kiran itu?"
"Tentu saja Papa, dan Mama mengenalnya. Dia itu adalah Rangga Wijaya, anak dari rekan bisnis Papa Om Ifan, dan Tante Dilla."
Rian menyurutkan kedua alisnya seketika, kala mendengar sebuah nama yang begitu menarik perhatiannya.
"Jadi dia itu, yang namanya Rangga Wijaya? Dan kalau tidak salah, Istrinya seorang Dokter bedah."
"Iya Betul. Istri dari Rangga, bernama Rani. Tapi Istri, sudah meninggal dalam sebuah kecelakaan."
"Tapi yang Papa dengar Rangga sudah kembali menikah Rian!"
Mama Sinta yang mendengar percakapan anak, dan putranya seketika langsung ikut menimpali.
"Rian...Mama yakin, kalau kau menyukai Kiran. Dan Mama, dan Papa pun menyetujui kalau kau menjalin hubungan dengannya, bahkan sampai menikah. Tapi yang Mama lihat, sepertinya Tuan Rangga, memiliki kedekatan yang begitu intens dengan sahabatmu Kiran, itu! Jadi Mama harap, kau mencari tahu dulu, sebelum kau menjalin hubungan dengannya."
__ADS_1
"Iya Rian...Karena saat Rangga menikah kembali, Papa dan papa tidak sedang berada di Indonesia, jadi kami tidak tahu, rupa Istrinya. Dan Mama curiga, bisa-bisa saja itu Kiran sahabatmu."