Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
MENGKHAWATIRKAN


__ADS_3

Ponsel yang berada dalam genggamannya~ jatuh begitu saja, saat kedua tangan itu menahan belati, yang akan menancap padanya. Wajah menegang, dengan barisan gigi yang semakin bertemu, saat dengan sekuat tenaga belati itu~ Rangga jauhkan dari wajahnya. Memutar balik tangan pria bertopeng, dan memukul kuat perutnya dengan siku tanganya, membuat belati dalam genggamannya seketika terhempas ke lantai.


"Buug!" sebuah tinjuan keras Rangga berikan pada perut pria mesterius itu, hingga membuatnya seketika tersungkur ke lantai.


Tangannya yang satunya berlabuh pada perutnya, menahan sakit akibat pukulan dari Rangga Wijaya. Sorot matanya menatap dengan tajam pada Rangga, mengisyaratkan kebencian yang teramat sangat pada pria di depannya. Dengan tertatih-tatih dia berjalan cepat pada seoeda motornya, dan berlaju kencang dari area Company Group.


Lajuan mobil Doni hentikan, dengan segera melepaskan tembakan pada pria misterius itu.


"Door!"


"Door!"


Peluru yang melaju cpat, meleset mengenai pilar-pilar besar, yang berjejer rapi di sana. Wajahnya khawatir, dengan ayunan kaki yang melangkah cepat, menghampiri pada Rangga Wijaya.


.


"Tuan, anda baik-baik saja?" tanya Doni, saat dua matanya menatap dengan dalam pada Tuan mudanya.


"Aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku." jawab Rangga, dengan ******* napas beratnya.


Sepasang matanya Doni mengedar ke segalah arah, dan terhenti pada ponsel Tuannya yang tergelak di lantai, dengan posisi menyala. Tanganya mengulur panjang, menggapai benda pipih itu. Mengkerutkan keningnya, saat dalam layar HP itu dia mendapati wajah gadis yang sangat dia kenal.


"Nona Kiran," gumamnya pelan.


Dan kedua kaki itu segera menghampiri Tuan mudanya, yang masih terlihat gelisah. "Tuan, ini ponsel anda."


Arah pandang itu seketika teralihkan pada sekretarisnya, yang tengah menatapnya dengahn tatapan penuh arti."Tuan, sepertinya anda sedang melakukan panggilan telepone dengan seorang wanita." Dengan melukis senyum tipis, menatap penuh arti pada Rangga Wijaya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?!" Dengan langsung meraih ponselnya dari tangan Doni, dan berlalu begitu saja meninggalkan sekretarisnya. "Hallo, Kiran! Bisakah kita bicaranya nanti saja? Karena aku harus segera pulang."


"Baiklah, Mas Rangga! Dan apakah kau baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja."


"Baiklah Mas, nanti baru aku menelponemu lagi." Dengan langsung mematikan, ponselnya.


Sorot mata Doni menatap penuh arti pada Tuanmudanya, dengan terus menyimpulkan senyuman di wajah.


"Bolehkan aku tahu, siapa wanita itu?"

__ADS_1


Keningnya mengekerut~ sorot mata itu seketika menatap pada sekretarisnya, dengan tatapan penuh selidik.


"Dia Kiran, pasien dari Rani. Wanita yang sudah mendapatkan donor jantung, dari mendiang istriku."


"Benarkah?"


Menautkan alisnya, dengan soro pandang lebih dalam pada sekretarisnya.


"Memang apa yang kau pikirkan?!"


"Sepertinya, anda sangat dekat dengannya, Tuan!" jawabnya tersenyum.


"Itu mungkin hanya pikiranmu saja." Wajah Rangga menampilkan rasa kesalnya, saat sudah tahu apa yang dipikirkan oleh sekretarisnya.


"Saya tidak memikirkan apa-apa, Tuan!" jawabnya mengulum senyum.


Sorot matanya terlihat tajam, saat menatap pada Doni~yang terus menampilkan senyuman padanya. Dengan mengambil langkah panjangnya, lelaki tampan itu segera berlalu begitu saja, tanpa memperdulikan sekretarisnya.


****


Hembusan angin malam, menerbangkan tirai-tirai yang bergelantung. Melebarkan daun pintu, dan menyalahkan lampu, yang seketika menyinari kamar yang sepi. Jas yang membalut tubuhnya, Rangga lepaskan yang semakin menampilkan otot-otot kekar, yang begitu membungkus dari balik kemeja putihnya.


Mengarah pada balkon kamar, dengan kedua kaki mengayun padanya. Kedua matanya menerawang jauh, menatap keindahan alam yang sudah mulai tertutup gelap. Hembusan angin berhembus sem, akin kencang, hingga menerbangkan rambut yang berjejer rapi kebelakang.


Napas yang dia keluarkan terasa sesak, saat hati itu semakin saja memupuk kesedihan. Mengalihkan pandangannya ke depan menatap pada keindahan alam, dari balkon kamarnya. Hembusan angin malam yang sedikit kencang, menerbangkan ranting-ranting yang ikut bergoyang. Sepi yang melanda, membuat kerinduan sang istri seketika mencuat.


"Aku merindukanmu, Rani!" gumamnya pelan, kalah wajah sang istri kembali melintas. Suara deringan telepone kembali terdengar, yang seketika memecahkan kesunyian. Merogoh dalam saku celananya, guna menjangkau benda pipih itu. Menghembukan napas beratnya, saat Rangga mendapati nama Ibunya di sana. Dengan berat hati, akhirnya jemarinya berlabuh pada icon hijau.


"Hallo..."


"Hallo Rangga!"


"Ada apa, Ma?"


"Besok kau datanglah, ke rumah."


"Ke rumah?" Menyipitkan matanya, mendengar apa yang baru saja dia sampaikan, yang membuatnya sedikit pensaran.


"Iya. Mama ingin, besok kau makan malam di sini." Dengan langsung memutuskan sambungan teleponenya, tanpa mendengar persetujuan dari anaknya.

__ADS_1


Menatap heran pada ponsel yang telah mati, dengan rasa penasaran yang semakin menyelimuti.


"Untu apa, Mama meminta aku ke sana? Mungkinkah ada hal yang penting, yang ingin dia bicarakan?"


Arah pandangnya kembali ter~arah pada hutan kecil, yang berada di belakang rumahnya. Membiarkan dirinya semakin tenggelam ke dalam apa yang tengah dia pikirkan, dengan kembali menerawang jauh.


Nada panjang kembali terdengar pada Hpnya, hingga kesunyian itu kembali terpecah akibat suara telepone. Merogoh kembali ponsel yang berada di dalam saku celana, dan mendapati nama Wanita Aneh. Kesal, tapi jemari itu tetap berlabuh pada icon hijau.


"Hallo...." Dengan nada malas.


"Hallo, Mas!" Nada lembut, kala satu kalimat pendek itu dia ucapkan.


"Heemm,"


Menyimpulkan seyuman di wajah, walaupun mendapati wajah jutek dari pengusaha berusia dua puluh delapan tahun itu, "Bagaimana kedaanmu, Mas? Aku sangat mengkhawatirkanmu." Guratan wajahnya, menyimpan rasa khawatir, yang teramat sangat.


"Seperti yag kau lihat, aku sangat baik-baik saja."


Mengedarkan pamdangannya,mendapati suasana gelap di belakang pria itu,"Apakah kau sedang berada di balkon kamarmu, Mas?"


"Ya."


"Saat sendiri seeperti ini, kau pasti sangat merindukan dia~kan, Mas?"


Napas berat dia hembuskan, saat kegundahan kembali terusik dengan apa yang ditanyakan Kiran. "Dia istriku, dan pergi secara mendadak. Pasti aku sangat merindukannya."


"Maafkan aku, Mas! Kalau sudah membuat kamu bersedih, dengan pertanyaanku. Dan aku juga mau mengatakan sesuatu padamu," Wajah yang tadi sendu seketika terlihat ceria, ketika akan menyampaikan sesuatu. "Dua hari lagi, aku sudah diperbolehkan pulang." Bolamata berbinar, menatap pada pria itu.


Sudut mata Rangga berkerut, dengan menatap penuh pada wanita itu. "Memang apa hubungannya denganku? Memangnya aku kekasihmu, atau Suamimu! jadi kau memberitahukan, padaku!"


Wajahnya memucat, dengan menunduk malu mendengar ucapan Rangga, yang begitu menggores hatinya. "Aku hanya menyampaikan saja padamu, Mas!" serunya pelan.


"Ini sudah malam, tidurlah. Bukankah kau sedang sakit?"


"Tentu, Mas! Aku pasti akan istirahat, dan selamat malam mas," Walaupun hanya perhatian kecil, tapi membuat wajah KIran kembali ceria, setelah sesaat muram akan perkataan pria itu.


"Malam." Dengan langsung mematikan teleponenya.


INFO

__ADS_1


Kalau ada salah kata, esok baru aku revisi ya! Soalnya, hari ini banyak kegiatan.


IN


__ADS_2