
Mendapatkan teriakan dari sang-suami yang terlihat begitu sangat marah, membuat nyali Kiran menciut seketika. Wanita berusia dua puluh enam tahun itu, sama sekali tidak menyangkah, Rangga sangat akan begitu marah padanya kala dia menyebut nama sahabatnya itu.
Hening melanda seketika dalam ruangan itu, kala tidak ada yang berbicara sama sekali. Tentu saja mereka sangat takut, dengan kemarahan Rangga saat ini.
Kiran mendesahkan napasnya yang panjang, setelah diam. Dengan berani Kiran mengangkat wajahnya, dan melemparkan pada Rangga, yang tengah menatapnya dengan tatapan tajam.
Tak mau kalah, meski nyatanya hati itu sudah kalah, dengan perasaannya sendiri pada Rangga. Tapi mengingat cinta yang tak pernah terbalaskan, dan bagaimana cara Rangga memperlakukan dia, membuat Kiran berani bersuara-untuk menjawab teriakan suaminya itu.
"Aku ingin meminjam mobil pada Mas, dan Mas sama sekali tidak mau memberinya. Apakah aku salah, jika meminta pada sahabatku, Raian?"
"Selama kau tinggal di rumah ini, kau harus mematuhi apa yang aku katakan Kiran!"
Kiran memberi senyumnya. Senyuman yang mengisyaratkan luka, karena nyatanya senyuman itu palsu yang dia ukir di wajah.
"Aku bukan tahananmu, Mas! Jadi aku minta kau tidak, tidak terlalu mengekangku."
"Aku suamimu. Dan aku memiliki hak, untuk mengaturmu sesuka hatiku. Jadi suka, atau tidak suka kau harus menuruti semua kemauanku." Dengan menekan kata-katanya.
Kiran melepas senyumnya. Lagi-lagi Rangga mengatakan kalau dia adalah suaminya, tapi nyatanya yang Rangga lakukan padanya, bukan sebagai istri.
Memory itu kembali Kiran hantarkan pada kejadian semalam, di mana setelah mereka melakukan penyatuan, Rangga kembali ke kamarnya, dan mengatakan hal yang menyakitkan untuknya, kalau mereka hanyalah PARTNER RANJANG, dan bukan suami-istri tentunya. Sangat sakit hati itu, jika kembali mengingatnya.
Tak ingin Rangga melihat air matanya yang sudah akan menetes, Kiran segera beranjak bangkit dari dari duduknya, yang seketika memancing perhatian Rangga. Menjangkau tasnya yang berada di samping kursi yang kosong, dan segera berlalu dari ruang makan itu tanpa berpamitan dengan Rangga. Dan itu semakin memancing, emosi suaminya.
"Kiran....Kiran....Berhenti kataku!" Dengan nada tinggi, kala dia memberi titahnya.
Kiran segera menghentikan langkah kakinya, kala mendengar teriakan Rangga, padanya.
"Aku akan ke rumah orang tuaku Mas," jawab Kira,n dengan kembali melanjutkan langkah kaki itu.
Rangga mendesahkan napasnya yang panjang. Sendok yang sedang berada di dalam genggaman, dia hempaskan begitu saja. Pertengkarannya dengan Kiran pagi ini, berhasil membuat selera makan pria itu hilang seketika.
"Bibi Ijah!" panggil Rangga tiba-tiba, yang ikut mencairkan suasana tegang di dalam ruangan itu.
"I..Iya Tuan," jawab Bibi Ijah terbata.
"Bereskan semua makanan yang ada di atas meja ini! Aku sudah selesai," ujar Rangga dengan bangun dari duduknya, dan berlalu dari ruangan itu, yang diikuti oleh Doni dari belakang.
Iyam menghempaskan napasnya yang panjang, dengan melemparkan pandangannya pada Rangga, yang sudah berlalu pergi dari dalam rumah bersama, Doni.
Langkah kaki pelayan muda itu dia ambil, menghampiri pada Bibi Ani, yang tengah mengangkat sisa-sisa makanan dari atas meja.
"Tuan Rangga sangat egois. Kalau dia tidak mencintai, tapi dia melarang Nona Kiran dekat dengan pria lain."
__ADS_1
Wajah Bibi Ijah langsung dia palingkan pada Iyam, setelah mendengarkan apa yang pelayan muda itu katakan.
"Kamu mau tahu, bagaimana kondisi pernikahan mereka yang sebenarnya?!" tanya Bibi Ani, dengan tatapan seriusnya.
"Cih..Bibi! Tentu saja kami tahu. Aku tahu kalau Bibi berusaha menyembunyikan bagaimana sebenarnya pernikahan Tuan Rangga, dan Nona Kiran. Aku tidak tahu bagaimana sebenarnya pernikahan Tuan Rangga, dan Nona Kiran. Tapi kalau Tuan Rangga mencintai Nona Kiran, pasti mereka akan menempati satu kamar. Ini justru sebaliknya, Tuan Rangga tetap menempati kamarnya yang dia tempati bersama mendiang Dokter Rani, dan Nona Kiran tidur di kamar yang berada di lantai dua."
"Ya sudah! Ayo kita bereskan. Tapi ingat, jangan ceritakan ini pada siapapun, kalau tidak! Tuan Rangga bisa marah besar, pada kita!" titah Bibi Ijah, dengan menekan kata-katanya.
"Baiklah, aku tidak akan mengatakan pada siapapun."
"Iya. Terutama Nyonya besar, karena dia sama sekali tidak menyetujui Tuan Rangga menikah dengan Nona Kiran."
"Baik Bibi! Aku mengerti."
****
Rangga mendesahkan napasnya yang panjang. Sesak masih menghimpit dada pria itu, akibat pertengkarannya, dan Kiran pagi tadi. Dasi yang menyimpul di kra bajunya, sedikit dia longgarkan. Menurunkan kaca mobil itu, dengan melemparkan sejauh mungkin menatap keindahan kota dipagi hari. Memandang, dan terus memandang yang membuat pria berusia tiga puluh tahun itu, hanyut dalam dunianya sendiri.
"Kenapa aku bisa semarah itu pada Kiran? Bukannya bagus kalau dia bersama pria lain? Jadi setelah satu tahun pernikhan kami nanti, aku lebih muda menceraikan dirinya-tanpa harus menghadapi tangisnya nanti, karena berpisah dariku. Tapi, apakah tanpa aku sadari kalau aku sudah..." Tak melanjutkan kalimatnya, karena merasa itu tidak mungkin.
"Tidak! Tidak mungkin, aku sudah jatuh cinta pada Kiran. Hingga aku begitu cemburu, saat dia menyebut nama Rian," gumamnya dalam hati.
"Tuan..." panggil Donit tiba-tiba, yang membela lamunan pria itu.
"Anda baik-baik saja?"
"Tentu saja aku akan baik-baik saja. Apakah kau pikir bertengkar dengan wanIta keras kepala itu, akan membuatku stres?!"
"Maafkan saya, Tuan! Maafkan saya," jawab Doni dengan tersenyum kikuk.
Hening kembali melanda dalam mobil, saat keduanya sama-sama tak bersuara. Cukup lama diam akhirnya Rangga kembali membuka mulutnya.
"Doni..."
"Iya Tuan.."
"Kau cari tahu, untuk apa Kiran pergi ke rumah orang tuanya hari ini. Karena setahu aku, dia memiliki hubungan yang tidak baik, dengan keluarganya."
"Baik Tuan,"
****
RUMAH SAKIT
__ADS_1
Di sini-lah Kiran berada. Disalah satu rumah sakit, yang ada di kota itu. Kiran memutuskan untuk menebus obat di apotik yang ada di rumah sakit itu, setelah salah satu Dokter yang memeriksa Ayahnya, memberikan resep.
"Ini obatnya, Nona! Dan nanti bayarnya, di sana!" ucap petugas wanita itu, dengan menunjukkan jari tengahnya pada sebuah loker.
"Baik Mba.." jawab Kiran dengan meraih obat tersebut, dan menghampiri tempat yang dimaksud.
Usai membayar obat itu, Kiran bermaksud untuk kembali menghampiri Ayahnya, dan Bibi Surti yang masih melakukan pemeriksaan. Baru saja beberapa langkah kaki dia ambil, tiba-tiba saja ada yang menyeruhkan namanya.
"Kiran..."
Memalingkan wajahnya pada asal suar, dan mendapati sosok Dokter Devan yang tengah, menghampiri padanya.
"Dokter Devan," gumamnya.
"Hallo Kiran! Bagaimana kabarmu?" tanya Dokter Devan tersenyum, saat sudah berada dekat dengan Kiran.
"Baik. Dokter sendiri bagaimana?"
"Baik. Sangat-sangat baik. Dan bagaimana Rangga, Suamimu?"
"SiBrengsek itu! Tentunya sangat baik!" jawab Kiran, dengan nada suara yang terdengar kesal.
"SiBrengsek?" Dokter Devan mengukir senyuman tipis di wajahnya, mendengar saat Kiran mengatakan SIBRENGSEK pada suaminya sendiri.
"Sudahlahm lupakan saja." Dan kemudian, keduanya melangkah beriringan.
"Dokter.." panggil Kiran pelan.
"Ada apa?"
"Meemm..."Dan kiran pun terlihat ragu.
"Apa yang ingin kau tanyakan, Kiran?!" tanya Dokter Devan, dengan nada yang terdengar menuntut.
"Apakah Dokter mengenal masa lalu suamiku? Dan bagaimana dia, dan Dokter Rani bisa bertemu? Apakah Dokter mengetahuinya?"
"Kita duduk saja di sana. Dan apakah kau sedang terburu-buru?"
"Tidak! Tidak juga, karena Papaku masih menjalani pemeriksaan yang lain."
****
Di sinilah sekarang Kiran, dan Devan berada. Di salah satu kursi panjang, yang terdapat di bawa sebuah pondok yang terletak di tengah taman.
__ADS_1
Cukup lama diam, akhirnya Devan bersuara.