
Awan biru kembali membentang di atas sana, kala pagi kembali menyapa dengan kembali hadirnya hari yang baru.
Dia bagai seonggok daging. Tubuh polosnya terbentang begitu saja di atas ranjang, dengan selimut yang hanya menutup sebatas pinggangnya-hingga terlihat nyata punggung mulus itu. Walaupun matahari sudah bersinar tinggi di atas sana, tapi dua mata itu masih saja terpejam. Cajaya matahari yang mencuri masuk ke dalam sana, membuat sepasang mata itu hanya mengerjap, tanpa berniat untuk bangun.
Nada panjang menyapa gawai miliknya, dan itu terdengar beberapa kali, namun sang empunya, tetap saja menikmati alam mimpinya. Beberapa kali lagi gawai itu mendendangkan nadanya, hingga membuat sang pemilik merasa terusik dalam tidurnya. Dengan mata yang masih terjpejam, satu tangan Della, menjangkau benda pipih, tersimpan di atas meja samping ranjangnya. Dan tanpa melihat siapa yang menelpone dirinya, wanita itu langsung menjawabnya.
"Hallo.." Suara malas khas orang bangun tidur, saat Della menjawab panggilan telepone, yang dia sendiri tidak tahu dari siapa.
"Hallo Della...Ini aku Mita!" Dan ternyata orang yang menelpone berkali-kali hingga mengusik tidurnya, adalah sahabatnya.
"Iya Mit..Ada apa?" Dengan mata setengah terpejam, Della menjawab sahabatnya.
"Della...Apakah kamu sudah melihat video panasmu? Saat ini, sedang heboh saat ini sosial media!" Dengan nada yang terdengar resah, saat dia menyampaikan hal itu pada sahabatnya.
Seperti ditarik paksa dari dunianya yang indah, Della seketika bangkit dari duduknya, dengan raut wajah yang sangat kaget, , saat mendengar apa yang baru saja dikatakan sahabatnya itu.
"Video pa...nas aku?" tanya-nya memastikan, dengan memelankan.
"Iya. Video panas-mu. Kamu bersama seorang pria bertato, dan wajahnya, blur! Dan kalian melakukanya, di apartemenmu!" Usai mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh sahabatnya, Della segera memutuskan sambungan telepone-nya begitu saja, dan l mengunjungi akun Twiternya. Dan saat sudah masuk ke dalam halaman akun twiter, betapa kagetnya wanita itu, saat mendapati video panasnya yang sudah tersebar.
Memory itu sejenak Della kembali hantarkan pada kejadian semalam, di mana niatnya untuk menjebak Rangga, justru dirinya-lah, yang berakhir dia bersama pria, yang dia sendiri tidak tahu siapa. Della menjambak rambutnya frustasi, saat dirinya merencanakan menghancurkan Rangga, justru sekarang dia lah, yang terkena imbasnya.
"Awas saja kamu Rangga! Aku akan membalasmu!" gerutunya, dengan raut wajah yang begitu memerah, karena amarah yang sudah berkobar dalam dirinya.
Hanyut dengan kobaran api yang tengah membakar dirinya, hingga tiba-tiba saja terdengar nada panjang, yang menyapa gawai miliknya. Satu tangan Della kembali menjangkau benda pipih itu, dan menemukan nama Corisoon di sana. Dengan rasa malas, dan juga kesal, Della menjawab panggilan telepone laki-laki lansia itu.
"Hallo.."Nada suara yang malas, namun Corisoon menyambutnya penuh emosi.
"Kamu wanita yang bodoh, Della! Kenapa justru kamu yang terjebak, dalam permainan ini!" hardik Corisson, dengan nada penuh emosi, saat meluapkan kekesalannya pada Della.
"Tuan..Bisakah anda tidak marah-marah?! Anda begitu egois! Bukankah ini semua saran dari anda, agar saya menjebak Rangga?!" Della sangat tersulut emosi. Bukannya pria itu prihatin dengan apa yang tengah menimpahnya, Corisoon justru menyalahkan dirinya, karena tidak berhasil menjebak Rangga.
"Itu semua terjadi karena kamu memang bodoh! Muda sekali dIkelabuhi oleh Rangga. Dan mulai sekarang, saya tidak akan membutuhkan kamu lagi, untuk menghancurkan Rangga!" sarkasnya, dengan langsung memutuskan sambungan telepone begitu saja.
__ADS_1
Della terlihat semakin frustaasi, setelah mendapatkan panggilan telepone dari Cirisoon. Dalam beberapa jam, dia mengalami hal yang membuat dirinya, seperti ditarik ke dunia yang gelap.
"Dasar laki-laki tua! Dia pikir siapa dia! Justru gara-gara mengikuti permainannya, sekarang aku yang justru, harus menanggung akibatnya!" umpatnya.
****
Kediaman Corisoon
Usai melakukan panggilan teleponenya dengan Della, Corisoon segera menghempaskan tubuhnya begitu saja, ke atas kursi kebesarannya. Raut wajahnya terlihat sangat lelah-yang mewakili suasana laki-laki lansia itu, memang sangat tidak baik-baik saja. Berharap menghancurkan Rangga dengan cara itu, tapi gagal karena kebodohan Della. Mengusap kasar wajahnya, memikirkan apa yang sudah terjadi. Suasana hening menyelimuti, dengan kesunyian yang mengusai saat Corisoon tengah hanyut dalam apa yang dia pikirkan, hingga mengabaikan keberadaan orang kepercayaannya. Sedikit lama Andrew memutuskan untuk dak bersuara, akhirnya dia pun memberanikan dirinya untuk berucap pada Tuannya itu.
"Apa yang akan anda lakukan Tuan?" tanya Andrew, yang ikut membela keheningan suasana, dalam ruangan itu.
Wajah yang sedari tadi dia tenggelamkan dalam kedua tangannya, Corisoon angkat setelah mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir Andrew. Tak langsung menjawab-hingga beberapa menit terlewati, akhirnya dia pun bersuara.
"Lakukan, apa yang kita rencanakan kemarin!" ujarnya tegas.
"Baik Tuan!"
****
Papa Andi terlihat kuat saat akan melepaskan putrinya Kiran, yang akan berangkat ke Inggris hari ini. Dua matanya yang sudah bersembunyi dibalik kaca minusnya, hanya memandang dengan diam, saat melihat Adisty, dan Kiran yang masih berbincang.
"Berjanjilah, kalau kau akan sering-sering menghubungiku," pinta Disty, dengan memasang wajah sedihnya, padahal baru saja keduanya merasakan hubungan Kakak adik, namun harus terpisah, karena Kiran harus berangkat ke Inggris.
"Aku pasti akan sering menghungimu, Kak. Namun bila perlu, kau yang harus mendatangiku!" ujar Kiran, dengan wajah penuh semangat.
"Bukankah tiket ke sana sangat mahal? Jadi dari mana aku bisa mendapatkan uangnya, untuk mendatangimu?" sahutnya dengan wajah memelas
Kiran mengukir senyum di wajah mendengar apa yang dikatakan oleh Kakak tirinya itu. Wajah itu kemudian dia dekatkan ke telinga sang kakak, dan berbisik pelan di telinga wanita itu. "Apakah kamu lupa, Kak? Kalau suamiku, memiliki banyak uang? Jadi kamu, tenang saja," bisiknya, kemudian membuat senyuman seketika mengembang di wajah Adisty.
"Baiklah, aku akan menunggu tiket pesawatanya" ujarnya tersenyum.
"Kiran... Cepatlah, taksinya sudah menunggu!" ujar Papa Andi tba-tiba, yang mengalihkan pandangan kedua wanita beda usia itu.
__ADS_1
Kiran menghampiri Ayahnya, dan juga memeluk erat tubuh lelaki tua itu, saat dia harus menanggung rindu yang cukup lama, karena harus berpsah dalam waktu yang lama dengan sang Ayah.
"Sering beri aku kabar, Paa.."
"Pasti!" jawab Papa Andi mencoba untuk tersenyum, walau nyatanya dirinya, sangat tidak kuat harus berpisah dengan anaka tunggalnya.
Dan Kiran menghampiri pada Bibi Surti, yang sesekali menyeka air matanya. .
"Bibi.. Titip Papa, tolong beritahu aku tentang kesehatan Papa."
Bibi Surti menyeka air matanya, berusaha untuk mengukir senyuman di wajah.
"Iya Nona, Bibi pasti akan mengingat pesan Nona,"
Setelah berpamitan pada anggota keluarganya, Kiran segera melangkah menuju taksi yang sedari tadi sudah menunggunya di luar gerbang.
"Jalan Pak!" pintanya pada sopir taksi itu, dan melambai-lambaikan tangannya pada anggota keluarganya, saat taksi yang membawanya mulai melaju.
Tak ada sedikit guaratan kesedihan di wajah Kiran, wanita itu nampak baik-baik saja-sekalipun dia harus melakukan LDR, dengan suaminya. Dan saat ini, Kiran sedang d melakukan panggilan telepone dengan suaminya-Rangga Wijaya. Namun seketika raut wajah Kiran nampak bingung, , saat taksi yang membawanya berbelok ke-arah yang bukan membawanya, menuju bandara.
"Pak..Kita mau ke mana? Ini bukan ke bandara!" ujar Kiran, dan itu terdengar oleh Rangga di sana.
"Kenapa Sayang.."
"Tidak Mas.. Pak ini.." Belum selesai Kiran menyelesaikan kalimatnya, wanita itu sudah pingsan saat sopir taksi itu, membekapnya dengan sebuah sapu tangan, yang di mana sudah tercampur dengan obat bius.
"Hallo Kiran...Hallo Kiran..." Dan sama sekali tidak ada sahutan, dan tentu saja itu membuat Rangga diseberang sana, sangat panik pada istrinya.
****
Rangga yang sudah sedari tadi menunggu kedatangan taksi yang membawa istrinya, sangat dibuat panik saat sambungan teleponenya, dan Kiran terputus.
"Ada apa Tuan?" tanya Doni, yang melihat kepanikan di raut wajah Tuan-nya.
__ADS_1
Melemparkan pandangannya pada Dion, yang duduk di kursi kemudi. "Sepertinya, ada orang yang sudah terlebih dahulu menculik istriku!" sahut Rangga, dengan raut wajah yang terlihat sangat frustasi.