
Nyanyian burung kembali terdengar, kala matahari mulai kembali ternyenyum indah, setelah gelapnya malam telah menghilang. Langkah kakinya tergesa-gesa, saat dua kakinya melewati lorong panjang rumah sakit. Ayunan kaki yang sedikit cepat, membuatnya tak memperhatikan jalan. Hingga seketika.
"BUUG!" Tubuh mungilnya terjatuh ke lantai, dan beberapa benda yang berada dalam tote bagnya ikut berserakan.
"Aduuh!: Meringis kesakitan, seraya menyentuh bokongnya yang kesakitan.
"Kamu baik-baik saja?" Sorot matanya menatap dengan dalam pada gadis di depanya. Tatapan itu tersimpan penuh misteri, di balik manik abunya.
Kedua matanya Dian melebar, mendapati sosok Dokter yang sangat tidak asing baginya. Hingga seketika timbul rasa tidak enak hati, pada Dokter muda itu.
"Dokter Devan!" Ia tersipu, akan kekagumannya pada makhlik ciptaannya yang begitu sempurna.
"Apakah kau baik-baik saja, Nona?" Seringai rendah, dengan sorot mata dalam menatap wanita di depannya.
"A..aku baik-baik saja," jawabnya tersenyum kikuk. Dengan masih menahan sakit, saat bangun dari jatuhnya.
"Maafkan aku."
"Tidak apa-apa, Dokter! Dan kalau begitu, aku permisi dulu." Langkah kaki itu kembali mengayun, berlalu pergi dari lelaki tampan itu. Mendapati Dokter muda itu yang terlihat lain dari biasanya, membuat Dian kembali memalingkan wajahnya ke belakang.
"Dokter Devan, terlihat sangat tampan dengan pakaian casualnya."
****
Jari-jari lentiknya berjejer rapi, menyisir i pada barisan rambutnya yang dibiarkan tergereai. Senyum palsu melukis di wajah cantiknya, yang masih memucat. Sebelah tangannya berlabuh dadanya, saat detakan jantungnya berpacu cepat. Menerawangkan tatapannya, menatap indahnya alam pagi hari lewat kaca jendela transparant. Kupu-kupu bertebangan mengelilingi bunga-bunga cantik, yang baru saja merekah di pagi hari.
"Terima kasih, Dokter Rani! berkat jantungmu, aku bisa kembali menikmati hidup baruku." Kiran bergumam pelan, ketika terlintas wajah Rani dalam ingatannya.
"Kiran..." Suara pintu terbuka, dengan melangkah semakin dekat pada sahabatnya.
"Kamu dari mana saja? Kenapa lama sekali?!" Memerah sedikit menyelimuti wajah Kiran, akibat kesal pada Dian yang meninggalkannya cukup lama.
Matanya menyipit, dengan wajah herannya ketika tubuh itu semakin mendekat pada Kiran, Dian mendapati tidak adanya selang infus dalam yang tertancap pada punggung tangan sahabatnya.
"Apakah kau sudah di perbolehkan ke luar, hari ini?"
"Dokter Devan mengatakan, kalau aku sudah bisa pulang hari ini."
Dian mengatupkan ujung-ujung jemarinya, dan melingkarkan sempurna dua tangannya pada tubuh sahabat baiknya itu.
"Apa yang kau lakukan, Dian?! Jangan memelukku?" seru Kiran, dengan senyum terlepas.
"Aku hanya bahagia. Aku bahagia, karena kau sudah diperbolehkan, Kiran! Dan tinggal melewati masa pemulihan."
__ADS_1
"Aku mungkin akan sepanjang waktu berada di rumah sakit ini, kalau Dokter Rani tidak mendonorkan jantungnya," Kiran menerawangkan tatapannya, mengingat Rani yang sudah mendonorkan jantung, untuk kesembuhannya.
Memgang kedua pundak Kiran, sorot matanya menatap dengan dalam pada wajah temannya, yang masih terlihat sendu.
"Sudahlah! Buat apa kau bersedih lagi. Yang harus kau pikirkan sekarang, adalah kesehatanmu. Dan aku akan segera membereskan barang-barang miikmu, agar kita secepatnya pergi dari rumah sakit ini."
"Baiklah," Melukis senyum kecilnya, dengan mengganguk kecil.
****
Cahaya matahari perlahan menghilang, saat bumi mulai tertutup gelap. Bulan, dan bintang kembali memperlihatkan pesonanya, pada awan biru yang sudah tertutup keglapan. Kicauan burung yang terdengar disore hari, tergantikan suara serangga-serangga kecil, ataupun hewan lainnya.
Sebuah mobil mewah melaju cepat, membela jalan di malam hari~ kala menyisir jalan yang masih terlewati banyak kendaraan. Lajuan itu perlahan memelan, ketika kendaraan roda empat itu semakin mendekat pada sebuah hunian mewah.
Bim!, bim!..." Suara klaskon mobil terdengar dari balik pagar besi, memberitahukan kedatangannya pada penghuni rumah.
Pintu gerbang terbuka lebar, ketika sosok laki-laki muda berseragam securiti, melebarkannya.
"Selamat malam, Tuan!" sapanya, saat pengusaha kaya itu sudah berada di luar.
"Malam. Apakah Tuan, dan Nyonya ada?"
"Tuan Besar, dan Nyonya Besar ada, Dan mereka, sudah menunggu anda dari tadi."
Samar-samar Rangga mendengar suara, ketika tubuh itu semakin mendekat pada ruang tamu.
"Sepertinya ada tamu, Tuan!" Doni berucap pelan, pada Tuan mudanya.
Keningnya mengkerut. Sorot matanta begitu menghunus, mendapati keberadaan seorang gadis, dan pasangan suami~istri paruh baya yang tengah berbincang dengan kedua orang tuanya.
"Aku sudah tahu, pasti dia akan mengenalkan aku, pada gadis ini." Ia memberi senyum miring mengejek, saat mata itu menatap dengan pandangan serius.
"Rangga kau, sudah datang?" Ifan segera bangkit dari duduknya, saat mendapati keberadaan anak tunggalnya.
Suasana tenang seketika menyelimuti ruangan itu, ketika kedatangan Rangga Wijaya. Adisty mengulum senyum, dengan wajah sedikit merona, saat sepasang matanya beradu dengan Rangga. Menyisipkan rapi ke belakang daun telinganya, dengan jemari membenahi sebuah dres yang membalut sempurna di tubuh rampingnya.
"Putra Tante sangat tampan, bukan?" Dilla berbisik pelan di telinga Adisty, yangn semakin membuat wajah itu kian merona.
"I..iya Tante," jawabnya dengan sedikit menunduk malu.
"Kami sudah menunggumu, dari tadi." Ifan berbicara pada putranya, ketika sudah berada di samping putranya.
"Siapa mereka?"
__ADS_1
Ifan terkekeh, mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir putra semata wayangnya. "Itu Om Ifan, sahabat Papa. Dan istrinya Tante Rati. Dan gadis muda itu, adalah Adisty. Putra mereka."
Rangga memberi setengah senyumnya, dengan wajah tenangnya, saat sorot mata itu terlempar jauh pada tamu orang tuanya."Begitu,"
Dilla bangun dari duduknya, menghampiri pada sang putra ~yang masih berdiam di tempatnya.
"Kenapa kau masih diam, di situ? Kemarilah. Mama akan mengenalkan kau pada gadis cantik ini." Tangan Dila menarik tangan putranya, membawa pria itu menuju tamunya.
"Nah, Rangga! Kenalkan. Ini Tante Dilla, Om Ifan. an gadis cantik ini, namanya Adisty."
"Hallo, Rangga! Kenalkan aku, Adisty." Wajah gadis itu merona, saat tangannya mengulur panjang pada Rangga Wijaya.
"Rangga. Rangga Wijaya." jawab Rangga, saat membalas uluran tangan gadis itu.
Usai perkenalannya dengan Adisty, Rangga segera melabuhkan tubuhnya pada sebiuh tunggal. Duduk dengan tegak, dengan wajah yang terlihat tenang.
"Katakan. Ada apa? Mama memintaku untuk datang ke mari."
"Kita akan membicarakannya, setelah makan malam."
"Bakklah," jawabnya tenang.
Senyum palsu menyelimuti wajah tampan Rangga, melihat sikap malu-malu Adisty, saat sepasang matanya terus menatap pada gadis muda itu.
Arah pandang itu seketika teralihkan, ketika tiba-tiba terdengar pesan pendek pada ponselnya.
"Mas," Senyum sekilas terlihat di wajah Rangga, setelah membaca pesan dari Wanita Aneh.
"Heemm,"
"Aku sudah diperbolehkan pulang hari ini."
"Bagus."
"Mas! Bolehkah aku menelponemu?"
"Nanti saja, kalau aku sudah berada di rumah."
"Baiklah, Mas! Dan aku hanya mau mengatakan, kalau aku merindukanmu." Mulutnya melengkung membentuk senyuman, setelah membaca pesan itu dari Kiran yang membuat suasana hati yang tadi burukk, seketika terhibur.
"Dasar gadis aneh!" gumamnya dalam hati.
L
__ADS_1