Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
KESAL


__ADS_3

Raut wajah Kiran yang tadi biasa, seketika nampak kebingungan-karena gadis muda itu, sama sekali tidak memahami apa yang Rangga tuduhkan pada-nya.


"Kencan??" Dan dia pun bertanya balik, pada pria itu.


Tawa lepas Rangga menuang dari mulut pria itu, mendapati ekspresi wajah Kiran, yang terlihat seperti orang kebingungan, saat menghadapi pertanyaan-nya.


"Kau masih saja menyangkal. Katakan padaku, siapa pria itu Kiran?!" Kali ini nada suara Rangga sudah mulai meninggi dari sebelumnya, saat amarah sudah mulai mengusai.


"Aku sama sekali tidak memiliki kekasih, Mas! Kalau pun ada, aku rasa tidak menjadi masalah, toh! Aku hanya ISTRI SATU TAHUNMU! Bukan-nya begitu?!"


"Kau!!" Emosi Rangga kian memuncak, saat mendengar jawaban yang baru saja Kiran lontarkan padanya.


Kiran terkekeh pelan, melihat kemarahan di wajah tampan Rangga.


"Mas memanfaatkan aku, karena Mas tahu aku begitu mencintai Mas. Ya! Aku memang sangat mencintaimu, bahkan sangat mencintaimu Tuan Rangga Wijaya, hingga membuat aku terlihat bodoh! Tapi sekarang aku sadar, sekeras apa pun aku berusaha mencintaimu, cinta mu hanya untuk Dokter Rani. Bahkan walaupun aku sudah hadir di rumah ini, wajah Dokter Rani tetap menghiasi setiap dinding rumah mu!" Walau pun hanya satu tahun, kau bisa menghadirkan wajah barang satu saja, di dinding rumahmu."


"Apakah kau tidak menyadari?! Kalau kau masih bisa bernapas sampai saat ini, berkat jantung Istriku!" seru Rangga penuh penekanan.


"Aku sangat sadar Mas...Bahkan sangat sadar. Denyut nadi ini, masih bisa berdetak sampai saat ini, berkat jantung ini. Tapi apakah kau tidak bisa, belajar mencintaiku, walau pun itu sulit?!"


"Kau bermimpi Kiran!"


Kiran tersenyum miris, sesak amat terasa di dada wanita itu, mendengar Rangga mengatakan, KAU BERMIMPI.


"Aku terlalu banyak bermimpi, dan sekarang aku ingin bangun dari mimpi itu, mimpi yang indah tapi sayang, membuatku terluka. Jadi aku akan berusaha membunuh mimpi indah itu, dan juga belajar menghapus nama seorang Rangga Wijaya dalam hatiku, dan belajar mencintai yang lain!" ucap Kiran, dengan segera berlalu masuk ke dalam kamarnya.


"Kiran...Buka pintu-nya....Buka pintunya Kiran....Aku belum selesai bicara...." teriak Rangga, yang begitu menggema akibat amarah-nya pada Kiran.


"Aku lelah Mas...Aku ingin istirahat...Dan pergilah ke kamarmu.."


Tubuh itu serasa tak bertenaga-akibat pertengkaran-nya dengan Rangga tadi, hingga langsung Kiran labuhkan di atas ranjang king size-nya. Wajah itu menoleh kesamping, seraya menyapu-nyapu sisi sebelahnya yang kosong.


"Ya Tuhan..Semoga yang aku lakukan ini tidak-lah salah. Seandainya saja, kau bisa mencintaiku-aku pasti akan sangat bahagia, Mas! Dan akan, menjadi istri yang baik buatmu."

__ADS_1


Hanyut...Hanyut....Tenggelam dalam suasana hati sendiri, dengan memberi tatapan kosong, pada langit-langit kamar.


Beberapa menit tenggelam dengan suasana itu, Kiran pun bangkit dari ranjang-nya.


Dua kaki itu-Kiran ayunkan dengan pelan, yang menghantarkan dia pada balkon kamar. Angin malam berhembus begitu kencang, hingga dua tangan itu segera Kiran simpulkan pada tubuh mungil-nya, guna sedikit menghangatkan.


Terus melangkah, dan melangkah yang membawa yang membawa, gadis muda itu pada pinggiran balkon kamar.


Melempar jauh mata itu, pada keindahan taman yang tersaji di depan matanya.


Hening....Hening....Dan dia pun begitu hanyut, dalam apa yang tengah dia pikirkan.


"Aku merindukanmu, Paa.. Sangat merindukanmu. Apakah tidak bisa menghubungi putri mu ini, dan menanyakan kabarnya?" gumam Kiran, dengan menampilksn wajah hampa-nya.


Jemari itu Kiran telusupkan ke dalam saku celananya, guna mengambil HP miliknya. Iseng Kiran membuka aplikasi IG-nya, dan mendapati sebuah DM. Membaca, dan ternyata DM itu dikirim oleh Rian-sahabat SMA nya.


Senyum melukis di wajah cantik Kiran, dan dia pun membalas DM itu.


"Aku menyesal karena tidak meminta nomor ponselmu, iseng aku mencari namamu di IG, dan ternyata aku menemukan akun-mu."


"Ya,ini memang akun-ku Kiran L."


"Aku bahagia banget, karena fotoku ada dalam akun IG mu, Kiran!"


"Bukankah, itu foto kita beramai-ramai?"


"Ya.Oh ya, Kiran! Bolehkah aku meminta nomor ponselmu?"


"Untuk apa Rian?"


"Ayolah! Bukankah kita ini, sahabat!"


"Baiklah.."

__ADS_1


"Ini nomor HPku, 081XXXXXXX."


"Terima kasih! Oh iya, bolehkah besok aku menjemputmu?"


"Tidak!"


"Ya sudah, mulai besok aku akan menghubungi kamu lewat WA saja."


"Baiklah.." balas Kiran, dengan kembali memasukkan benda pipih itu, ke dalam saku celana-nya.


Tak sengaja tatapan mata itu Kiran lemparkan pada arah atas, dan wanita itu sedikit kaget, saat mendapati Rangga berada di balkon kamar.


"Jadi kamar Mas Rangga yang ada di atas sana? Kenapa aku bisa tidak menyadari-nya?" Kiran terus melemparkan pandangan-nya, menuju arah balkon di mana Rangga, sedang menikmati udara malam dengan kesendirian-nya.


Hembusan angin bertiup kencang, menyapa tiba-tiba.


Kiran terus melemparkan pandangan pada arah Rangga, yang terlihat begitu tampan, saat angin membuat rambut-nya yang semula tertata rapi, berlari pergi, mengikuti perginya angin.


"Dia sangat tampan!" gumam Kiran, dengan menengelamkan tatapan mata itu, yang hanyut dalam ketampanan seorang Rangga Wijaya.


Tak sengaja tatapan mata Rangga melempar ke arah bawah, hingga membuat dua pasang mata itu saling bertemu.


Kiran nampak kelabakan, karena ketahuan sedang menatap Rangga, padahal baru saja tadi kedua-nya terlibat percecokan. Dengan cepat ponsel yang berada di dalam saku dia gapai kembali, dan berpura-pura menelpone seseorang, dan tentu saja dengan mengeraskan suara-nya, agar Rangga dapat mendengar.


"Oh boleh, tentu saja aku mau kita bertemu besok! Dan kamu bisa menjemputku, di tempat kerjaku?" ucap Kiran dalam pura-pura-nya, dan langsung melangkah masuk ke dalam kamar.


Malam yang dingin, dengan suasana hati yang sepi, membuat lelaki bernama Rangga Wijaya itu, memutuskan menikmati suasana malam itu, di balkon kamar nya.


Tak sengaja dua mata itu dia lemparkan ke arah bawa, dan kaget! Saat mendapati ada-nya Kiran di sana. Menyeringai di wajah, ketika mendapati Kiran tengah menatap pada-nya.


Tapi seketika tubuh itu, bagai di bakar oleh api besar, saat dia mendengar Kiran sedang melakukan panggilan telepone dengan seseorang, dan Rangga meyakini, kalau itu adalah pacarnya.


"Dia berbohong! Aku yakin, pria tadi pagi itu adalah kekasih-nya," gumam Rangga dengan membungkus-kan, genggaman tangan itu.

__ADS_1


__ADS_2