Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
MENINGGALKAN RUMAH RANGGA


__ADS_3

Mama Dilla tersenyum puas-mengetahui kenyataan sesungguhnya, tentang pernikahan anaknya. Terkejut namun juga bahagia, saat mengetahui kalau Rangga putra semata wayangnya itu, hanya menikah kontrak dengan Kiran, dan selama ini ternyata mereka tidur di kamar yang terpisah.


"Aku sungguh menyayangkan hal ini Paa... Padahal aku sudah mulai menerima Kiran sebagai menantuku," lirih Mama Dilla, dengan menampilkan wajah pura-pura sedihnya, namun kemudian smrik iblisnya, membingkai di wajah tuanya, saat pupil mata itu, , beradu dengan Della, yang tengah tersenyum bahagia.


"Papa sungguh malu. Papa tidak tahu, bagaimana caranya menghadapi sahabatku Andi, nant. Tadi sangat terdengar jelas di telepone, kalau dia begitu kecewa dengan apa yang dilakukan putra kita."


"Tapi bagaimana pun, kita tidak bisa memaksa Rangga. Mama juga tidak menyangkah, kalau para pelayan di rumah putra kita, sangat pandai menutup rahasia ini, dari kita. Kalau Mama tahu dari dulu, pasti Mama sudah sangat marah pada Rangga."


"Papa benar-benar shyok, dan juga sangat malu, mendengar kenyataan sesungguhnya, tentang pernikahan putra kita. Dan Papa ingin ke ruang kerja, untuk menenangkan diri," pamit Papa ifan, dengan segera mengambil langkah lebarnya.


Tawa bahagia membingkai penuh di wajah Mama Dilla, dan juga Della setelah kepergian Papa Ifan dari ruangan itu. Kedua wanita beda usia itu, nampak sangat begitu bahagia, dengan apa yang terjadi.


"Tante..." panggil Della, yang mengalihkan tatapan Mama Dilla, yang sedari tadi terus menatap pada suaminya.


"Ada apa?"


"Bagaimana kalau Rangga tetap menolakku? Sekalipun dia sudah berpisah dari Kiran nanti!"


"Percayalah~Karena Tante yakin, kalau Rangga perlahan pasti akan luluh sama kamu. Bukankah kamu cinta masa SMAnya?"


"Tapi Tante lihat tadi, bahkan dia begitu cuek padaku. Padahal jelas-jelas, dia melihat keberadaanku. Bahkan pergi pun, dia sama sekali tidak pamit padaku."


"Tenang saja Della...Tante yakin, cepat atau lambat Rangga pasti akan menerimamu. Asalkan wanita itu, sudah benar-benar pergi dari kehidupan Rangga."


"Asalkan, Tante tetap membantuku."


"Tenang saja, karena memang kamu yang Tante harapkan menjadi menantu Tante," ujar Mama Dilla, yang berusaha membesarjkan hati Della.


****


Ayunan kaki itu terasa berat bagi Kiran, saat dua kakinya terus dia langkahkan menuju arah pintu utama. Ingin sekali wanita itu menolak keinginan sang Ayah, yang meminta untuk meninggalkan rumah ini. Namun kebenaran pernikahannya yang sudah diketahui Papa Andi, membuat Kiran tak berdaya dan yang hanya bisa dia lakukan, hanya menuruti.

__ADS_1


"Cepat Kiran...Mau sampai kapan kau berada di sini?! Apakah kau sudah tidak punya harga diri lagi sebagai seorang wanita?!" sungut Papa Andi, dengan intonasi suara sudah mulai meninggi, saat Kiran, melangkahkan kakinya dengan lambat.


Para pelayan yang berada di dalam rumah itu, hanya memandang pilu-pada Kiran. Mereka semua terlihat sangat sedih, mendapati rumah tangga Majikan mereka, dan istrinya yang harus berakhir seperti ini. Sebab besar harapan dalam diri mereka, kalau Kiran-lah yang menggantikan posisi Rani.


"Nona..Apakah anda akan benar-benar pergi? Dan berpisah dengan Tuan Rangga?" lirih Iyam, dengan mata yang sudah berkaca-kaca, saat Kiran melangkah melewati dirinya.


Kiran hanya meneteskan air matanya, dengan lontaran pertanyaan dari pelayan muda itu. Saat ini, situasi benar-benar membuatnya tidak berdaya. Dan seandainya saja Rangga mau menyambut cintanya, dia yakin semuanya pasti tidak akan berakhir seperti ini.


"Tuan...Saya mohon, tunggu kedatangan Tuan Rangga," ujar Doni saat Kiran dan Papa Andi, semakin mendekat pada pintu utama.


"Buat apa aku harus menunggunya?! Bukankah dia bukan suami putriku?! Lagi pula, mereka hanya menikah kontrak. Putriku bukan barang mainan, yang bisa dia permainkan seenaknya!" sarkas Papa Andi, yang seketika membuat mulut Doni tak bersuara lagi.


Dan memalingkan wajahnya, menatap pada Kiran yang masih berada di belakangnya, dan tengah berbincang dengan seorang wanita lansia.


"Cepat Kiran! Mau sampai kapan, kau berada di sini?!" bentak Papa Andi, yang membuat wajah Kiran berubah gugup karena takut, dan juga Bibi Ijah yang berubah pias.


"I..Iya Paa.." jawab Kiran terbata.


"Bibi aku pergi dulu, dan titip Mas Rangga," pamit Kiran dengan segera mempercepat langkah kakinya, menyusul sang Ayah-yang sudah mendekat pada pintu utama.


Sebuah mobil mewah memasuki kediaman milik Rangga. Daun pintu itu, segera dia lebarkan, begitu sedan miliknya, sudah terparkir di halaman depan rumahnya.


Mengambil langkah cepat, dengan setengah berlari. Baru saja dua kaki itu, memijak depan teras rumahnya, ayunan kaki itu terpaksa Rangga hentikan, saat mendapati Kiran, dan Papa Andi sudah melangkah ke luar dari dalam Sepasang matanya menatap Kiran, dari atas hingga bawa. Dan pria itu mendesahkan napasnya yang berat, saat mendapati Kiran membawa tas pakaian


"Mas Rangga..." lirih Kiran, saat sepasang matanya beradu dengan pemilik tatapan elang itu


"Aku bisa menjelaskan semuanya!" sergah Rangga, dengan napa yang naik turun-hingga kekarnya dada pria itu, terlihat semakin nyata.


Seringai membentuk sempurna, dengan tatapan mata bak sebuah belati, saat mendengar ucapan Rangga, yang justru kian memancing emosi Papa Andi.


"Menjelaskan apa?! Menjelaskan kalau kau menikahi putriku, hanya untuk menghindari perjodohan dengan Kakaknya Adisty! Kalau kau hanya menikahi putriku secara kontrak?! Dan kalau kau, hanya memanfaatkan putriku, karena kau tahu dia tidak akan mungkin menolak keinginanmu, karena hutang budinya padamu!" hardik Papa Andi, yang membuat wajah Rangga seketika berubah pias.

__ADS_1


"Jawab!!" teriak Papa Andi, saat Rangga hanya membungkam, dan tak bersuara dengan rentetan ucapannya.


"Iya. Yang Papa katakan semua itu benar, dan aku minta maaf. Tapi aku..."


"Aku akan menggantikan uangmu, yang sudah kau berikan pada putriku. Aku memang tidak sekaya Ayahmu, tapi aku masih punya harga diri. Aku akan segera mengurus surat perceraian kalian!" Dan tangannya langsung menjangkau tangan Kiran, dan melangkah menuju arah mobil.


"Ayo! Buat apa, kau masih berada di rumah pria ini?!"


Kiran memalingkan wajahnya, menatap pada Rangga, yang tengah menatapnya dengan tatapan nanar. Ingin sekali dia memeluk pria itu, mengucapkan salam perpisahan-untuk keduanya. Namun kemarahan Papa Andi saat ini, membuat Kiran benar-benar tak bisa berbuat apa-apa. Hingga dia hanya bisa, memandang dengan kesedihan. "Mas..." gumamnya, dengan air mata menetes.


"Papa...Aku mohon, jangan pisahkan aku dan Kiran," ujar Rangga dengan setengah teriakan, dan tentu saja tidak diindahkan oleh pria lansia itu.


Rangga mendesahan napasnya yang panjang. Dirinya saat ini benar-benar hancur, dengan apa yang terjadi antara dia, dan Kiran. Baru saja Papa Andi akan menjangkau gagang pintu mobilnya, gerakan tangan itu kembali dia urungkan saat mendengar Rangga kembali bersuara.


"Aku mohon, jangan pisahkan aku dan Kiran. Aku mencintai putrimu, Papa.."


Para pelayan semua yang menyaksikan semua kejadian itu, sangat terkejut, setelah mendengarkan apa yang baru saja Tuannya katakan.


"Aku mencintai putrimu..Aku benar-benar mencintai Kiran."


Kiran tentu sangat terkejut, dengan apa yang baru saja Rangga katakan. Bahwa pria itu, ternyata juga mencintainya.


"Mas..."


Dan disaat seperti ini, tentu saja tidak mudah bagi Papa Andi untuk mempercayai ucapan seorang Rangga. Disaat dia akan mengambil putrinya, baru pria itu, mengatakan kalau dia mencintai anaknya. Hingga dia hanya tersenyum sinis, dengan melemparkan tatapan mencemoohnya.


"Dan kamu pikir aku percaya dengan omong kosongmu itu?! Kalau kamu mencintai putriku, kau pasti sudah membatalkan pernikahan kontrak itu. Dan kau sama sekali tidak memikirkan perasaan putriku, sebagai istrimu. Bahkan sepanjang jalan menuju lantai dua kamar anakku, aku mendapati hanya foto mendiang istrimu Rani, dan foto pernikahan kalian. Jadi kau pikir apa Om akan percaya, dengan omong kosongmu itu?! Dan jangan panggil aku Papa, karena sejak aku tahu kau hanya menikahi anakku secara kontrak kau bukan lagi menantuku, dan Kiran juga bukan istrimu!" Dan tatapan matanya beralih pada Kiran, yang hanya bisa menangis.


"Dan ayo masuk Kiran! Buat apa kita berlama-lama di sini!"


Tak mungkin dia menolak keinginan Ayahnya, yang tengah terbakar emosi. Kiran segera melangkahkan kakinya, masuk ke dalam mobil, tepatnya di kursi belakang. Perlahan tangannya menjangkau uung daun pintu, dan menutupnya dengan pelan dengan tatapan mata, yang terus dia arahkan pada Rangga, yang menatapnya dengan nanar. Sebelum akan merapatkan daun pintu itu, Kiran masih menatap pada Rangga, yang juga balik menatapnya, dan dia bisa melihat cairan bening yang sudah membasahi pipi pria itu. Cukup lama memandang, menenggelamkan pada netra mata pria itu.

__ADS_1


"Aku mencintaimu Kiran..." ujarnya sekali lagi, dan itu membuat Kiran hanya bisa menangis. Mengukir senyum hangatnya, dan berucap sebelum kendaraan roda empat itu, meninggalkan area rumah Rangga.


"Jaga dirimu baik-baik Mas..Dan aku sangat mencintaimu.." ujarnya tersenyum, dengan kendaraan yang sudah perlahan melaju ke luar dari dalam area rumah pengusaha tampan itu.


__ADS_2