Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
MEMINTA MENCERAIKAN KIRAN


__ADS_3

Kaget seketika menyelimuti wajah wanita berusia dua puluh enam tahun itu, setelah mendengar apa yang baru saja Rangga katakan. Kalau pria itu telah mempersiapkan baju-baju untuknya.


Namun baru saja dia akan kembali bersuara pada Rangga, pria itu ternyata sudah berlalu pergi dari dalam kamar. Yakin tak mungikin ada siapa pun yang masuk ke dalam kamar itu, dengan tubuhnya yang masih polos, Kiran memijakkan dua kakinya di lantai, menghampiri pada lemari besar pintu. Karena rasa penasarannya yang ingin memastikan ucapan Rangga, Kiran segera membuka pintu lemari itu. Dan benar saja, di dalam lemari itu, dia mendapati beberapa pakaian yang masih ada lebel yang menggelantung. Bukannya bahagia, Kiran justru mencebik.


"Dasar mesum! Apakah dia sengaga menyiapkan pakaian-pakaian ini, karena dia memang sudah merencanakan untuk mengajakku bercinta di kantornya?!" gumamnya kesal.


****


Melangkah menuju arah pintu ruang kerjanya. " Doni..." Baru saja bibir itu bersuara satu kata, Rangga dibuat kaget dengan mendapati keberadaan Devan, sahabat mendiang istrinya.


"Devan...Sejak kapan kau datang?" tanyanya penasaran.


Mencibir, dengan memberi senyuman mencemoohnya pada Rangga, yang menatapnya dengan heran.


"Apakah kau yakin istrimu baik-baik saja, di dalam sana?"


"Maksudmu?" Dengan sorot mata jauh lebih tajam, sebab tidak mengerti apa yang dimaksud Devan.


"Setidaknya jangan terlalu lama, kalau bercinta, aku takut anak orang, bisa jatuh sakit akibat kelelahan melayani napsumu. Dan sebaiknya, pasangankan alat penyadap suara, agar sekencang kalian berdua berteriak karena nikmat, kami tdak perlu mendengarnya," jawabnya tersenyum.


Raut wajah Rangga bersemu merah, namun berusaha ditepisnya dengan pura-pura mengalihkan pembicaraan.


"Doni kau pesankan makanan, di restorant tempat biasa. Dan Devan apakah kau juga mau?"


Menyeringai rendah, mendengar pengusaha berusia tiga puluh tahun itu, sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Memang sudah harus seperti itu! Karena perutku sudah kelaparan, karena menunggumu bercinta terlalu lama dengan Kiran."


"Sudah jangan banyak bicara! Ayo kita ke dalam, sebab ada hal penting yang ingin ku bicarakan denganmu."


Kini Rangga, dan Devan sudah duduk disebuah sofa set, yang berada di dalam ruang kerja pria itu.


"Katakan sebenarnya ada hal penting apa, yang ingin kau bicarakan denganku? Sampai kau mencariku di rumah sakit."


Mendesahkan napasnya yang dalam, dengan melemparkan tatapan penuh selidik pada pria di depannya.


"Katakan. Apakah kau menjalani kehidupan sebagai dua orang?"


Menautkan kedua alisnya, dengan raut wajah sudah berubah penasaran, saat mendengar pertanyaan Rangga, yang sama sekali tidak dia mengerti.


" Dua orang? Apa maksudmu? Aku tidak mengerti!"

__ADS_1


"Apakah kau menjalani kehidupan sebagai Davin, dan juga dirimu?"


"Davin??" tanya Devan. Raut wajah pria itu jauh berubah lebih penasaran, dengan apa yang baru saja Rangga katakan.


"Iya. Mungkin saja kau ingin membalaskan dendam adikmu-Davin, dan kau selalu menyamar jadi sosoknya, dan berulang kali mencoba membunuhku!"


"Rangga....Rangga..." Dan dia pun tersenyum miris, setelah mendengar tuduhan Rangga padanya.


"Davin memang adikku, tapi aku tidak punya niat untuk mencampuri urusan kalian. Lagi pula, kau adalah suami dari mendiang Rani, sahabatku. Dan kita berdua pun sudah saling mengenal cukup lama, saat kau dan Rani masih berpacaran. Jadi kalau aku mau membalaskan dendam saudaraku padamu, kenapa tidak dari dulu saja aku lakukan?"


"Jadi kau tidak berbohong?" tanya Rangga, dengan tatapan penuh selidik.


"Tentu saja."


"Kalau begitu aku sangat yakin, kalau semua dibalik kejadian ini adalah ulah saudaramu."


"Davin?? Bukankah kau pun tahu, kalau dia sudah meninggal?"


"Dan apakah kau yakin, kalau jenasah yang ada di pemakaman itu adalah jenasah adikmu?"


"Tentu saja. Karena saat itu, hanya dia saja yang berada di dalam mobil itu.


"Tapi aku rasa tidak. Bisa saja Davin memalsukan kematiannya, dan kembali hidup sebagai orang lain, hanya untuk membalaskan demdamnya. Tapi sesekali, dia menampakkan dirinya, dan aku pernah melihat dia, di depan sebuah restorant mewah."


"Tapi aku sangat yakin, kalau kembalinya dia, hanya untuk membalaskan dendamnya padaku. Padahal sudah berapa kali aku bilang, bukan aku yang menyebabkan kematian kekasihnya Arabella."


Saat sedang dalam suasana tegang karena perbincangan mereka tentang Davin-yang masih penuh misteri, kedua pria itu dibuat kaget dengan suara teriakan Kiran, yang membuat Devan seketika tertawa, dan tentu saja hal yang sangat memalukan untuk Rangga.


"Mas...Mas Rangga...Di mana kau membuang bra ku?" tanya Kiran, dengan setengah teriakan, dan tentu saja wanita itu sama sekali tidak menyadari, kalau adanya Devan di sana.


"Ha...Ha...Ha..Rangga...Rangga..Aku yakin, kau pasti sangat bernapsu, hingga Kiran sampai tidak menemukan branya. Bagaimana cara kau membukanya? Aku yakin kau menarik, dan langsung melemparkan kesembaran tempat!"


"Aku sumbat mulutmu! Dan tunggu sebentar." Dengan langsung bangkit, dari duduknya.


"Ada apa Kiran?! Apakah kau tidak bisa memelankan sedikit suaramu?!"


Memalingkan sekilas wajahnya, dan kembali mengintai keseluruh penjuru arah.


"Maaf, aku hanya mencari braku. Di mana kau melemparnya Mas?"


Rangga ikut mengedarkan pandagannya, mencari bra milik istrinya itu. Mendesahkan napasnya, saat melihat bra itu terlempar hingga kesudut ruangan.

__ADS_1


"Tubuh Kiran memang membuatku candu. Sampai membuka BHnya saja, aku seperti orang yang tengah kesetanan," gumamnya dalam hati.


"Ini!" Dengan memegang bra berwarna hitam itu, mengarahkan pada istrinya.


"Lain kali, kalau membuka pakaianku tidak usah seperti orang yang lagi kesurupan Mas.. Kau membuatku takut saja." ejek Kiran, dengan segera melangkahkan kakinya, menuju kamar mandi.


****


SATU BULAN KEMUDIAN


Satu bulan telah terlewati, hingga menambah usia pernikahan Kiran dan Rangga, yang sudah memasuki usia empat bulan.


Hubungan keduanya kian dekat, walaupun belum menempati satu kamar, tapi aktifitas bercinta tak pernah keduanya lewati, melebihi dari dua hari. Tubuh Kiran serasa candu buat Rangga, hingga membuat pria itu selalu meminta Kiran, melayani hasratnya. Namun, tak ada kepastian yang dia berikan, maupun ungkapan cinta, hingga membuat hubungan itu terasa hambar untuk Kiran.


Begitu menutup rapat-rapat bagaimana sebenarnya pernikahan mereka, tapi akhirnya tercium juga. Dan hal itu telah diketahui oleh Della, wanita yang begitu tergila-gila pada Rangga. Wanita itu begitu sangat bahagia, saat mendapati kebenaran kalau selama ini ternyata Rangga dan Kiran hanya menjalani pernikahan kontrak, dan keduanya tidur di kamar yang terpisah. Della yang tentu saja ingin Rangga, dan Kiran berpisah memberitahukan hal ini pada keluarga besar Kiran, dan juga Rangga. Hingga memancing kemarahan Papa Ifan, dan juga Papa Andi, yang tentunya lebih sangat murka, karena merasa Rangga tega mempermainkan anaknya.


Sebuah mobil mewah memasuki kediaman Ifan Wiyaja. Kedatangan Rangga kali ini ke rumah orang tuanya, tentunya tak membawa serta Kiran istrinya.


Mengambil langkah lebarnya, saat melangkah masuk ke dalam rumah mewah milik kedua orang tuanya.


Sampai di dalam, pria berusia tiga puluh tahun itu mendapati kebaradaan Della, yang tengah berbincang dengan kedua orang tuanya.


" Selamat malam.." sapa Rangga, tanpa memperdulikan keberadaan cinta masa SMAnya itu.


Semua membuang pandangan pada asal suara. Papa Ifan yang sedari tadi sudah menahan amarahnya pada sang putra, seketika bangkit dari duduknya, dan melangkah cepat menghampiri pada Rangga, dengan raut wajah penuh amarah.


Baru saja bibir Rangga akan bersuara, pria lansia itu sudah melayangkan sebuah tamparan yang sangat keras di pipi anaknya.


PLAAK! Sebuah tamparan, yang membuat wajah itu berpaling seketika.


Rangga mengusap sudut bibirnya, saat merasakan sedikit rasa amis akibat bibir yang terluka.


Dan saat Papa Ifan akan kembali melayangkan tamparan, Mama Dilla langung menahan tangan suaminya.


"Cukup Paa....Cukup..." Pinta Mama Dilla, dengan menahan sekuat tenaga tangan suaminya, yang akan kembali mendarat di pipi putranya.


"Ada apa ini?! Kenapa Papa menamparku?!" tanya Rangga, yang merasah tidak terima dengan sikap ayahnya.


"Apakah kamu sengaja mau membuat Papa malu Rangga?! Kiran itu, putri sahabat baik Papa. Tapi kamu tega memanfaatkan wanita itu, hanya karena untuk menghindari perjodohan dengan saudaranya tirinya. Karena kamu tahu dia tidak akan menolak, sebab hutang budi yang dia dapat dengan tranpalasi jantung, dari Rani. Bahkan kamu memberinya, hanya sebuh pernikahan kontrak. Di mana hati nuranimu Rangga?! Kenapa kamu tega memanfaatkan wanita sebaik Kiran?! Papa sangat malu Rangga. Om Andi tadi menelpone, dan dia akan kembali mengambil putrinya, dan meminta kamu untuk segera menceraikan Kiran!"


"Menceraikan Kiran?!" Seolah melupakan rasa sakit itu, kini Rangga sangat dibuat terkejut saat mendengar apa yang Ayahnya katakan.

__ADS_1


"Iya. Bukankah, kamu hanya memanfaatkan dia?!" sinis Papa Ifan.


"Tidak! Aku tidak mau berpisah dari Kiran!" Tanpa banyak bicara, Rangga yang baru saja datang, kembali ke berlalu dari dalam rumah itu.


__ADS_2