Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
TIDUR DALAM PELUKAN MAS RANGGA


__ADS_3

Langsung ambruk tubuh itu, setelah pergulatan panasnya dengan Rangga. Lelah yang begitu terasa, dengan sedikit cucuran keringat yang membasahi tubuhnya-hingga untuk bangkit saja dari tempat tidur, Kiran merasa sudah tidak sanggup.


"Kiran..." panggil Rangga-kala mendapati wanita itu terdiam, dengan wajah yang dia sembunyikan dibawa bantal.


"Aku lelah Mas..." lirihnya, dengan memalingkan wajahnya pada Rangga, yang sudah bangkit dari atas tempat tidur.


"Aku akan membersikan diriku dulu. Dan tadi kau terlihat menakutkan, seperti Singa yang kelaparan saja saja."


Senyuman kecil Kiran ukir di wajah, dengan melemparkan pandangannya pada Rangga, yang sudah berlalu menuju arah kamar mandi.


"Tapi Mas menikmatinya kan? Buktinya tadi Mas terus mendesah, dan meminta aku untuk berulang kali melakukannya." Langkah kaki yang sementara Rangga ayunkan, seketika dia hentikan tiba-tiba. Memijak sebentar, dan kembali melanjutkan langkah kaki itu, sebelum berucap pada Kiran.


"Kau terlalu banyak bicara!" serunya kesal.


Usai perginya Rangga menuju kamar mandi-keheningan kembali mengusai kamar itu. Kiran mengedarkan pandangannya kesegalah penjuru arah, dan lagi-lagi rasa sakit kembali menghinggapi diri wanita muda itu, saat dua matanya menatap pada bingkai-bingkai foto, yang berisi kemesraan Rangga, dan Rani istrinya.


"Aku sempat melayang, dan kemudian kembali dihempaskan yang membuatku kembali menyadari pernikahan kami yang sebenarnya, dan apa yang kami lakukan ini, hanya untuk saling menguntungkan."


Tubuh yang berada di tepian ranjang Kiran angkat, dengan menghampiri pada satu persatu pakaiannya, yang berada di lantai.


Kembali berpakaian, dan melabuhkan tubuh itu ditepian ranjang, sembari menunggu Rangga yang masih berada di dalam kamar mandi. Beberapa menit berlalu, kiran dikejutkan dengan suara langkah kaki yang menghampiri padanya, saat diri itu begitu hanyut dalam dunianya sendiri.


"Kau tidak membersikan diri dulu?" tanya Rangga, yang membela suasana hening, yang sedari tadi tercipta di dalam kamar.


"Aku akan membersikan diri, tentu aja di kamarku. Bukankah pakaianku semuanya berada di sana?"


Rangga membungkam. Dua kaki itu dia langkahkan menuju sebuah meja kecil, dan menjangkau ponselnya yang sempat mengeluarkan nada pendek.


"Mas..." panggil Kiran, dengan nada suara yang pelan.


"Yaa.." jawab Rangga, sembari jari-jarinya tetap bermain di layar HPnya, saat akan membalas pesan itu.


Ragu yang kembali menyelimutinya, membuat Kiran tak langsung bersuara. Sedikit lama membungkam, akhirnya wanita berambut hitam itu, memberanikan diri untuk mengatakan keinginannya pada Rangga.


"Bisakah kau, dan aku pergi menemui Papa?"


Kata-kata yang baru saja terucap dari bibir Kiran, berhasil menarik perhatian laki-laki berusia tiga puluh tahun itu. Gawai yang tengah berada dalam genggaman, kembali Rangga simpan di atas meja, dan membalikkan tubuh itu, menghadap pada Kiran.


"Pergi menemui Papamu? Apakah aku tidak salah dengar?" Kata -kata yang terucap dari bibir Rangga, membuat Kiran begitu malu. Wanita itu seperti tengah merendahkan harga dirinya, di depan seorang Rangga Wijaya Tapi kali ini dia merendahkan harga dirinya bukan untuk cintanya pada pria itu, tapi untuk ayahnya.


Wajah yang tadi tak berani dia tatapkan pada Rangga, perlahan Kiran angkat, menatap pada Rangga, yang sepertinya tengah menertawakan dirinya.


"Maafkan aku, memang ini sangat memalukan, sebab tidak pantas aku meminta ini pada Mas, mengingat seperti apa pernikahan kita yang sebenarnya. Tapi hanya dia yang aku punya, bahkan aku sudah mengorbankan sesuatu yang paling berharga dalam diriku, hanya demi kesembuhannya."


Raut wajah serius, menyelimuti wajah tampan Rangga, setelah pria itu mendengar apa yang Kiran katakan padanya.


"Papaku sedang sakit, dan dia sangat ingin bertemu denganmu. Jadi aku mohon..." Dengan langsung mengatupkan kedua tangannya, menatap penuh harap pada pria di depannya.

__ADS_1


"Aku mohon temuilah Papaku sekali ini saja, walaupun harus berpura-pura," pinta Kiran dengan menampilkan, wajah penuh harapnya.


Menautkan kedua alisnya, dengan sorot mata nampak jauh lebih tajam saat memberi tatapannya pada Kiran. Hening...Dan Rangga mulai kembali berpikir, dengan apa yang Kiran lakukan padanya malam ini.


"Jadi semua yang kau lakukan malam ini, demi Papamu?"


Menunduk, dan mengangguk kecil di sana.


"Iya Mas..Sebab aku tidak punya pilihan lain, selain membuatmu senang, agar kau dapat memenuhi keinginan Papaku."


"Bukankah selama ini, kau tidak memiliki hubungan yang baik dengan Papamu, bahkan juga dengan saudara tiri, juga ibu tirimu?"


"Iya Mas. Tapi aku tidak mungkin bisa, membiarkan Papaku begitu saja. Bagaimanapun dia adalah Ayah kandungku.."


Rangga menghembuskan napasnya yang panjang, sebelum mengiyahkan permintaan istrinya.


"Baiklah, aku mau. Dan kapan kita akan ke sana?"


Rona bahagia begitu menyelimuti wajah Kiran, begitu wanita itu mendengar apa yang Rangga katakan. Dan dia begitu bahagia.


"Kau serius Mas?" Bola matanya nampak lebih membulat, saat memastikan apa yang Rangga katakan.


"Apakah aku terlihat seperti berbohong?"


Kiran melepas senyuman manisnya, dengan memberi tatapannya pada Rangga, yang juga tengah tersenyum padanya. Dan karena terlalu bahagia, tubuh itu langsung dia angkat, dan memberi pelukan tiba-tiba pada Rangga.


"Maaf Mas..Maaf...Aku terlalu bahagia, jadi reflek saja," ujar Kiran, dengan memberi senyum kikuknya.


Merasa tidak ada yang perlu dia lakukan di dalam kamar itu, Kiran memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Blaser yang berada di atas meja-dia jangkau, dan kembali membalutkan ke tubuhnya yang mungil. Mengambil sendal berbulu, dan kembali menyelimuti pada dua kakinya. Dan apa yang Kiran lakukan, ternyata tak luput dari pantauan Rangga yang terus menatap pada wanita itu.


"Mas...Aku pergi dulu." Senyum sumringah, dengan langkah kaki yang dia ayunkan menuju arah pintu. Dan baru saja pintu kamar akan Kiran buka, tiba-tiba saja Rangga bersuara.


"Mau ke mana kau?"


Membalikkan tubuh itu pada Rangga, yang tengah menatapnya dari kejahuan.


"Tentu saja kembali ke kamarku Mas...Memangnya mau ke mana lagi?" jawab Kiran, dengan sedikit tersenyum-sebab apa yang Rangga tanyakan sedikit menggelitik untuknya.


"Malam ini, tidurlah di kamar ini."


Kaget, itulah yang terlihat di wajah Kiran saat ini.


"Tidur di kamar ini?" tanya Kiran memastikan, apa yang Rangga katakan.


"Apakah aku perlu berbicara dua kali?"


Apa yang akan tadi Kiran lakukan, kembali dia urungkan setelah mendengar apa yang Rangga katakan. Rangga memintanya untuk tidur di kamar ini, bukan berarti pria itu memintanya tidur seranjang. Sebab keduanya hanya akan menempati satu tempat tidur, saat hanya untuk melakukan hubungan suami-istri saja.

__ADS_1


Dua kakinya menghampiri ranjang, di mana Rangga sudah berbaring di sana. Menjangkau sebuah bantal, dan membawanya ke arah sofa yang pernah dia tiduri.


"Hei...Apa yang akan kau lakukan?"


Lagi-lagi Kiran dibuat bingung, dengan kata-kata yang terucap dari bibir pengusaha tampan itu.


"Bukankah Mas tadi meminta aku untuk tidur di kamar? Jadi aku akan tidur di sini."


Mendesahkan napasnya yang panjang, berusaha menahan rasa kesalnya pada Kiran.


"Aku memang memintamu untuk tidur di kamar ini, tapi bukan kau tidur di sofa itu?"


"Terus aku harus tidur di mana Mas? Jangan bilang, kalau Mas meminta aku untuk tidur di atas karpet itu!"


"Disebelahku. Malam ini temani aku." Dengan memukul sisinya, yang masih kosong.


Kaget! Lagi-lagi Kiran dibuat kaget, dengan permintaan pria itu.


"Tidur seranjang sama Mas?" Memastikan kalau dia tidak salah dengar.


"Kemarilah..."


Tidak langsung melangkah. Kiran terus memberi tatapan matanya pada Rangga, yang sedang tersenyum padanya.


"Bahkan dia tersenyum padaku. Apakah dia salah makan? Atau apa? Aku seperti melihat orang lain, dalam dirinya malam ini," gumam Kiran dalam hati.


"Mau sampai kapan kau berada di sana? Bukankah besok pagi kita harus ke rumah orang tuamu?"


Terkesiap, dan menjawabnya dengan gugup.


"Ba..Baiklah Mas," jawab Kiran terbata, dengan langkah kaki yang dia bawa, menuju ranjang.


Bantal yang berada dalam genggaman, kembali Kiran letakkan di atas ranjang. Masih merasa belum percaya, hingga saat akan melabuhkan tubuh itu di atas tempat tidur, Kiran begitu gugup.


"Selamat malam Mas..." Langsung mengucapkan selamat malam pada Rangga, dan membalikkan tubuh itu menghadap pada tembok.


"Aku tidak boleh terbuai. Lagi pula, tinggal sembilan bulan lagi, kami sudah bercerai. Aku memang mencintainya, tapi aku tidak mau terlalu terluka, dan menangis saat meninggalkan rumah ini. Sebab sampai kapanpun, hatinya Mas Rangga hanya terisi oleh Dokter Rani, ya hanya Dokter Rani, yang Mas Rangga cinta," gumam Kiran dalam hati.


Hanyut dalam hati yang sedang bergejolak, dengan tubuh yang setia mempunggungi. Merasakan pergerakan Rangga-Kiran berpura-pura tidur.


"Kau sudah tidur?"


Tidak menjawab, Kiran setia memejamkan matanya, dengan terus berpura pura tidur. Saat sudah akan melangkah ke alam mimpinya, wanita bermanik hitam itu di buat terkejut, saat ada sebuah tangan yang melingkar di atas tubuhnya.


"Dia memelukku? Apa artinya semua ini? Apakah dia sengaja melakukannya, agar aku semakin mencintainya? Hingga membuat aku sulit melupakannya saat berpisah nanti?" bathin Kiran, dengan setengah memejamkan matanya.


"Mas..." lirih Kiran.

__ADS_1


"Aku lelah Kiran...Jadi tidurlah," ujar Rangga pelan. Walaupun merasa tidak nyaman, tapi Kiran tetap membiarkan tangan Rangga, melingkar di atas tubuhnya. Membiarkan, hingga terdengar dengkuran halus pria itu. Waktu yang kian merangkak, membuat Kiran juga tak sanggup menahan rasa kantuk itu, hingga dia pun tertidur dalam pelukan Rangga malam ini.


__ADS_2