Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
INGIN BERTANYA


__ADS_3

Rasa penasarannya yang teramat sangat, akan rumah kecil yang terdapat di pinggiran hutan itu?! Membuat Kiran dengan berani melangkahkan kakinya, menuju tempat itu.


Baru saja langkah kaki dia ayunkan beberapa langkah, terdengar suara telepone, yang menyapa pada gawai miliknya.


Jemari Kiran dia telusupkan ke dalam saku celananya, dan mendapati nama Rian pada layar ponselnya. Melabuhkan ibu jarinya pada icon hijau, saat memutuskan untuk menjawab telepone dari sahabatnya.


"Hallo Rian!" sapa Kiran, saat benda pipih itu sudah menempel pada daun telinganya.


"Hallo Kiran! Apakah hari ini, kau masuk kerja? Aku ingin menemuimu, sebab ada hal penting yang ingin aku bicarakan."


Kening Kiran mengkerut, dengan sorot mata nampak jauh lebih tajam, setelah mendengar apa yang baru saja pria itu katakan.


"Apakah itu sangat penting?"


"Yaa. Dan apakah kau masuk kerja hari ini?" tanya Rian sekali lagi.


"Aku masuk kerja, tapi mungkin agak sedikit terlambat, sebab ada hal yang masih aku kerjakan di rumah."


"Baiklah, nanti aku akan menjemputmu saat kau pulang kerja."


"Baiklah," jawab Kiran, dengan langsung memutuskan, sambungan telepone itu.


Wajah penasaran, dengan kaki yang terus Kiran ayunkan, menuju rumah utama. Saat sudah berada di dalam rumah, gadis berusia dua puluh enam tahun itu, berpapasan dengan Bibi Ijah yang sedang membawa tumpukan gorden yang aka dia cuci.


"Nona..." sapa wanita tua itu, dengan sebuah senyuman yang dia ukir di wajah.


Diam, dan terus memandang pada Bibi Ijah yang tengah meletakkan gorden-gorden, pada sebuah bak besar. Terus menatap pada wanita tua itu, kala rasa penasaran yang sedari tadi dia pendam tentang rumah kecil yang dia lihat dipinggiran hutan, kembali menghampiri.


"Bibi..." panggil Kiran pelan, yang mengalihkan seketika pandangan wanita berusia lima puluh tujuh tahun itu.


"Ada apa?" Menghentikan kegiatan seketika, dengan tatapan penuh pada Kiran.


"Meemm..." Dan dia pun terlihat ragu, tapi kemudian memberanikan diri untuk bertanya.


"Ada apa Nona?" tanya Bibi Ijah cepat, saat Kiran tak kunjung berbicara.


"Bolehkah aku tahu, rumah apa itu? Yang berada sedikit jauh, dari rumah ini. Sebab yang aku lihat, sangat tertutup."


Raut wajah Bibi Ijah seketika berubah serius, saat dihujani pertanyaan seperti itu oleh Kiran.


"Anda tidak boleh ke sana, Nona! Sebab hanya Tuan saja, dan Sekretaris Doni yang memasuki rumah kecil itu. Dan kami dilarang keras, untuk ke sana."


Bola mata Kiran nampak jauh lebih tajam, setelah mendengar apa yang baru saja, wanita tua itu katakan.


"Jadi Bibi sendiri, sama sekali tidak mengetahui apa isi di dalam rumah itu?"


"Tidak. Sama sekali tidak."

__ADS_1


"Begitu? Dan apakah Nona Rani juga semasa hidupnya pernah ke sana?"


"Pernah, tapi tidak sendirian dia selalu bersama Tuan Rangga."


"Bibi..." panggil Kiran pelan, saat kembali teringat kejadian penembakan itu.


"Ada apa Nona?"


"Apakah Bibi, tahu tentang masa lalu Tuan Rangga?"


"Bibi tidak tahu banyak Nona, tapi coba Nona tanyakan saja, pada Sekeretaris Doni, dia yang paling tahu tentang sisi masa lalu dari Tuan Rangga."


Kiran tersenyum. Nyatanya senyuman yang dia lukis itu palsu, sebab tidak mendapati jawaban akan rasa penasaran, yang sedari semalam tertanam dalam dirinya.


"Mungkinkan, masa lalu Mas Rangga begitu kelam? Mungkinkah tembak menembak, atau mungkin membunuh bukan hal baru baginya?' gumam Kiran dalam hati.


"Nona.." Bibi Ijah menyentuh lembut tangan Kiran, yang membuat wanita muda itu langsung tersentak kaget.


"I..Iya Bibi,"


"Anda baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja," jawab Kiran tersenyum kikuk.


"Saya tahu bagaimana pernikahan anda, dan Tuan Rangga. Kalau Tuan hanya memanfaatkan anda, untuk menghindari perjodohan dengan saudara tiri Nona."


"Ja..Jadi bibi.." Kiran tak mampu menyelesaikan ucapannya, saat wanita berusia senja itu menyela cepat.


"Pemenang apa maksud Bibi?"


"Maksud Bibi, Nona dapat memenangkan hatinya."


Kiran membentuk sebuah senyuman di wajah, setelah mendengar apa yang Bibi Ani katakan barusan.


"Aku tidak mau mengharapkan dia lagi Bibi, karena aku tahu sampai kapanpun, hati Mas Rangga tidak bisa terisi olehku. Sama saja aku selalu mengejarnya, tapi dia justru berlari semakin jauh, mana mungkin aku bisa mendapatkannya,"


"Seiringnya berjalannya waktu Nona, karena satu tahun itu mampu meluluhkan hatinya, dengan seiring kebersamaan kalian."


"Sudahlah Bibi, sebab aku tidak mau mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin," jawab Kiran dengan melangkah menjauh, dari Bibi Ani.


****


Kiran mengayunkan langkahnya pelan, melewati satu persatu anak tangga, yang membawa gadis muda itu kembali ke kamar Rangga. Mengenai rumah kecii, dan juga apa yang dikatakan Bibi Ani, sangat mengusik pikirannya.


Menggapai gagang pintu, dan membukanya. Pintu ruangan yang terbuka tiba-tiba mengalihkan tatapan mata Rangga, dan Doni seketika yang tengah berbincang-bincang.


Dua kaki yang masih memijak di depan pintu, tak Kiran lanjutkan langkah kaki itu. Terus menatap jauh pada Rangga, yang menatap balik padanya dengan tatapan heran.

__ADS_1


"Kenapa kau terus menatapku?" tanya Rangga, yang merasa sangat tidak nyaman, dengan tatapan dari Istrinya.


"Ti..Tidak Mas," jawab Kiran dengan kembali melanjutkan, langkah kaki itu, menuju sofa set, di mana Rangga, dan Doni sedang membahas sesuatu di sana.


Tatapan mata itu sebentar dia arahkan pada Doni, yang membuat pria itu hanya tersenyum kikuk.


"Tadi kau terus menatapku, sekarang kau terus menatap Doni!" Nada itu terdengar kasar, kala Rangga berbicara.


"Aku hanya baru menyadari, kalau ternyata Sekretarismu ini sangat tampan Mas,"


Apa yang Kiran katakan, sontak membuat kedua pria itu, terkejut. Sebab mereka sama sekali tidak menyangkah, Kiran berani berbicara seperti itu.


"Ayolah Mas...Jangan menatapku seperti itu, tatapan mu itu membuatku sangat takut," seru Kiran, saat Rangga Wijaya menatapnya dengan tatapan membunuh.


Doni hanya tersenyum, dengan wajah memucat saat sekilas Tuannya menatapnya dengan tajam.


"Mas..."


" Ada apa?"


"Tugasku sudah selesai, dan aku ingin berangkat bekerja."


"Tapi dalam kamar ini, belum kau sapu," jawab Rangga cepat.


Kiran membentuk wajah memohonnya, dengan menggegam tangan Rangga, berharap pria itu mengijinkan dia untuk segera berangkat kerja.


"Mas...Aku mohon, kan-bisa Mas, meminta pada pelayan untuk membersikan kamar ini,"


Menatap dengan dalam, pada netra mata yang tengah menatapnya penuh harap, hingga merasa ada desiran yang berlalu di dalam sana.


"Mas...." panggil Kiran dengan nada suara yang manja, yang membuat Rangga akhirnya meluluhkan hatinya.


"Baiklah."


"Tapi bisakah Doni mengantarku?"


"Apa?!" Rangga kembali dibuat terkejut, setelah mendengar permintaan dari istri kontraknya itu.


"Mas..Apakah kau sudah lupa pada kejadian semalam? Setidaknya, kalau aku bersama Doni, aku akan jauh lebih aman."


Tak langsung menjawab. Dua mata itu Rangga tatapkan pada Doni, yang melukis sebuah senyuman.


"Baiklah,"


"Terima kasih Mas.. Kalau begitu aku ke kamar dulu," pamit Kiran dengan langsung berlalu dari dalam kamar.


Langkah kaki Kiran kembali melewati satu persatu anak tangga, menuju lantai dua kamarnya.

__ADS_1


Mendesahkan napasnya panjang, saat akan meraih gagang pintu kamar itu.


"Aku akan menanyakan pada Sekretaris Doni, rumah kecil yang dia datangi itu," gumam Kiran.


__ADS_2