Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
MENGOBATI


__ADS_3

Senja perlahan mulai meredupkan sinarnya, saat sang mentari dibalik bukit yang menjulang. Udara dingin menyeruak hadir, saat kegelapan mulai menguasai bumi, dengan munculnya jutaan bintang, dan juga bulan yang bersinar indah di atas sana. Bahagia. Itulah yang terlihat jelas dari raut wajah Kiran saat ini. Senyuman terus membingkai di wajah-wanita berusia dua puluh enam tahun itu, saat menghitung lembardemi lembar uang pecahan seratus ribu, sebanyak lima belas lembar.


"Walaupun tidak seberapa, tapi lumayanlah-hasil kerja sendiri," gumamnya tersenyum, dengan mengibas-ngibaskan uang itu, ke wajahnya. Namun senyuman di wajah langsung memudar, saat teringat akan sosok pria paruh baya, yang begitu baik padanya.


"Tapi..Aku jadi penasaran, kenapa dia begitu baik padaku? Dan saat datang memesan bunga, selalu saja aku yang dia cari. MR. CORISOON." Dan Kiran pun membungkam, saat sosok pria itu, membuatnya sangat begitu penasaran.


Suara pintu terbuka, mengejutkan Kiran dari dunianya sendiri.


"Mas Rangga..." gumamnya, saat mendapati Rangga berdori di depan pintu kamar.


Tak ada senyuman sama sekali di wajah pria itu-saat dua kakinya melangkah, menuju arah Kiran yang sedang duduk di atas ranjang.


"Ada apa Mas?" tanya Kiran, dengan raut wajah penasarannya.


Bukannya menjawab apa yang ditanyakan istrinya? Rangga justru mencekal tangan wanita berambut hitam itu, dengan sangat kuat, yang tentunya terasa sangat sakit untuk wanita itu.


"Kamu sudah sangat keterlaluan Kiran!"


"Lepaskan tangannku! Apa-an kamu Mas! Kenapa datang langsung marah-marah?! Memang apa yang sudah aku lakukan?! Sampai kamu bilang, aku sudah sangat keterlaluan!"


"Apa kamu sudah lupa, status pernikahan kita?! Hingga kamu berbuat kasar pada Mama!"


Saat Rangga sedang lengah, Kiran langsung menghempaskan tangan pria itu. Tak ada rasa takut sedikitpun dalam diri wanita itu, pada Rangga suaminya.


Dia tersenyum, menatap mencemooh pada pria yang berstatus suaminya itu.


"Jadi ibumu mengadu padamu?! Ha...Ha...Ha..Asal kamu tahu ya Mas! Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah lupa pada status pernikahan kita. Tidak mengetahui pernikahan kita yang sebenarnya saja, dia sudah meminta kita berpisah, apa lagi kalau sampai Mamu tahu, kalau kita hanya menikah kontrak? Pasti, dia akan meminta kau meninggalkan aku saat ini juga. Dan katakan pada Mamamu, untuk bisa bersikap lebih sopan, agar aku juga tahu cara menghargainya." Suasana kamar yang temaram, tiba-tiba terang, yang mengalihkan perhatian keduanya.


"Maaf Tuan..Nona... Saya tidak tahu, kalau ada anda berdua. Saya datang mau mengantarkan baju-baju Nona Kiran, yang baru saja diseterika," ucap Bibi Ijah, dengan memberi senyuman kikuknya, sebab merasa tidak enak hati, pada pasangan suami-istri itu.


"Simpan saja di kursi Bibi, biar nanti aku yang memasukkan ke dalam lemari."


"Baik Nona, dan kalau begitu saya permisi dulu," pamit wanita lansia itu, dengan langkan kaki yang segera dia ayunkan ke luar dari dalam kamar.


Cahaya yang sudah menyelimuti, dapat lebih mempertegas tatapan mata itu.Kemarahan di wajah, memudar-berganti dengan rasa penasaran, saat mendapati sudut bibir Kiran terluka, dan sedikit membiru. Ingin menyentuh, namun langsung dicekal oleh wanita itu.


"Apa-an kamu Mas!"


Tangan itu kembali Rangga tarik.


"Kenapa bibirmu? Siapa yang melakukan ini padamu?"


Hanya terseyum, dengan rentetan pertanyaan yang Rangga berikan.


"Apakah jika aku memberitahukan ini padamu, apakah Mas akan mempercayainya? Sementara belum mengetahui kebenaran yang sesungguhnya saja, Mas sudah memarahiku!"


"Mama??"


"Ya. Kalau bukan dia yang melakukan hal ini padaku, terus siapa lagi?"

__ADS_1


Rangga mendesahkan napasnya yang panjang-setelah mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, yang terjadi antara sang Bunda, dan juga Kiran-istrinya.


"Maaf, karena sudah berkata kasar padamu, tanpa mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya. Saat Mama menyampaikan hal ini padaku, aku sedikit tagu untuk memperayainya. Tapi karena Pak Kasim membenarkan apa yang Mama katakan, membuat aku akhirnya meyakini, kalau dia tidak berbohong. Dan apakah masih terasa nyeri?"


"Tidak! Lagi pula, ini hanya luka kecil."


Menatap dalam pada Kiran, dan kemudian memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


"Baiklah, aku akan ke kamar dulu, dan akan segera kembali!" pamit Rangga, dengan segera mengambil langkah lebarnya berlalu dari dalam kamar itu.


"Bisa-bisanya Mak Lampir itu, memperdayai putranya, agar menyakitiku!" gerutu Kiran.


****


Beberapa menit Terlewati, kini Rangga sudah kembali berada di kamar Kiran. Pakaian kerja yang tadi membalut pada tubuh pria itu, kini sudah berganti dengan sebuah kaos oblong, dan juga selana pendek jens-berwarna biru donker. Rambut yang masih basah, dengan aroma mint yang begitu menyeruak, seiring dengan langkah kaki yang kian mendekat. Senyuman kecil membingkai di wajah pria berusia tiga puluh tahun itu, saat dua pasang mata itu saling bertemu.


"Jangan terlalu menatapku, nanti kau akan semakin jatuh cinta padaku!"


Mencebik, dengan langsung memalingkan wajahnya.


Sedikit kaget saat Rangga sudah duduk di depannya, dengan akan mengarahkan sesuatu pada bibirnya.


"A..Apa yang akan kau lakukan Mas?" tanya Kiran, dengan menghindar dari sentuhan, tangan Rangga.


"Yang jelas, aku bukan membunuhmu bodoh! Jadi kemarilah!"


"Iya."


"Aku bisa melakukannya, sendiri!" ujar Kiran cepat.


"Biar aku yang melakukannya."


"Tapi Mas Aku..."


"Sudahlah.." Dengan segera mengoleskan salap, ke sudut bibir Kiran.


Jarak keduanya yang begitu dekat, membuat getaran di dalam dada itu kian bergejolak. Dag..Dig...Dug...Kian terasa, dengan menyentuh dadanya.


"Kenapa akhir-akhir ini dia semakin baik padaku? Ini justru, akan membuatku menderita. Sebentar lagi pernikahan kami akan memasuki usia tiga bulan, berarti tinggal sembilan bulan lagi, kami harus sudah berpisah," bathin Kiran, dengan kesedihan yang kembali melanda hatinya.


"Sudah!" ujar Rangga, dengan kembali menarikkan tangannya.


Melemparkan tatapan pada Kiran, tapi langsung dihindari oleh wanita itu.


"Kenapa? Apakah ada yang salah??"


"Tidak! Tapi..." Dan dia pun terlihat ragu.


"Tapi apa?"

__ADS_1


"Mas..." lirihnya. "Aku mohon.. Tetaplah bersikap seperti dulu padaku," lanjut Kiran kemudian.


"Maksudnya?" tanya Rangga, dengan wajah yang terlihat bingung.


"Sudahlah, lupakan apa yang kutakan tadi!"


Salap yang berada di dalam genggamannya, Rangga letakkan dia atas meja kecil, samping ranjang. Duduk disamping Kiran, dengan bersandar pada kepala ranjang.


"Tadi aku pergi mencari Devan, tapi dia tidak ada!" ujar Rangga tiba-tiba, dengan raut wajah serius.


Kiran seketika memalingkan wajahnya, menatap pada Rangga yang berada disebelahnya.


"Mencari Dokter Devan?"


"Yaa! Devan mempunyai saudara kembar, dia bernama Davin. Dan dia adalah orang, yang paling sangat membenciku. Davin meninggal dalam kecelakaan mobil, dan saat itu mobilnya terbakar. Tapi beberapahari yang lalu, aku sempat melihat sosok pria, dan aku yakin itu bukan Devan."


"Jadi maksud Mas? Saudara kembar Dokter Devan itu, itu masih hidup?"


"Ya Dan itulah teka-teki yang masih belum terpecahkan Kiran~ Karena saat itu, aku Dan Doni mengikuti acara penguburannya. Dan aku ingin menemui Devan, untuk menanyakan yang sesungguhnya, karena aku yakin jika bena-benar Davin masih hidup, berarti dia adalah dalang kematian dari Rani."


"Dokter Rani?" Mata Kiran lebih membulat, setelah mendengar apa yang baru saja Rangga katakan, yang membuatnya dia begitu terkejut.


"Iya. Ada karena ada yang memutuskan tali rem mobilnya."


Kiran mendesahkan napasnya yang panjang. Kaget, dengan kenyataan yang baru saja dia tahu, kalau ternyata kecelakaan yang menimpah mendiang Dokter Rani, sepenuhnya bukan kecelakaan murni. Suasana hening tiba-tiba mengusai kamar itu, saat keduanya sama-sama larut dalam apa yang mereka pikirkan. Dan membela, tak kalah Rangga bersuara.


"Kiran..."


"Yaa.."


"Ayo kita ke rumah kecil!"


"Rumah?" Menatap lebin intens, dengan ajakan Rangga.


"Iya. Aku ingin menemui TIGER, dan ingin mengenalkan kau padanya." Dengan langsung, bangkit dari atas ranjang.


Jujur saja, saat ini Kiran merasa terkejut, seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Rangga mengajaknya, pergi mengunjungi rumah kecil itu, dan berkenalan denga hewan buas peliharaannya. Dan bukankah, saat dia mengetahui kalau Kiran berada di sana, dia sangat begitu marah? Tapi kenapa justru sekarang, dia malah mengajak Kiran ke rumah itu?


"Ayoo!" ajaknya lagi, yang membela dunia lamunan Kiran.


"Kau serius Mas?" tanya Kiran memastikan, dengan melemparkan pandangannya pada Rangga, yang sudah berdiri di tepian ranjang.


"Apakah aku terlihat sedang bercanda?"


Menggeleng pelan kepalanya, sebagai jawaban.


"Kalau begitu ayoo!"


"I..Iya Mas," jawab Kiran, dengan segera turun dari atas ranjang.

__ADS_1


__ADS_2