Mafioso In Action

Mafioso In Action
Hari yang Sangat Penting #100 (END)


__ADS_3

Pukul 00:00 dini hari.


Pulau.


Terdapat sebuah vila yang mewah nan megah di pinggir pantai pulau tersebut, dan di vila itu terdapat Nico yang tampak sedang berdiri dan bersantai di balkon vila. Di tengah ia bersandar pada pagar balkon, ia dihampiri oleh satu rekan prianya dengan pakaian serba putih seperti biasa.


"Jadi apa rencanamu?" tanya pria tersebut kepada Nico.


"Sebenarnya aku memiliki rencana, namun sepertinya rencana ku ini bisa dibilang gegabah. Di sisi lain, aku belajar dari apa yang ku lakukan sebelumnya, dan aku tidak mau seperti apa yang terjadi pada Mafioso," ucap Nico.


"Apakah kau ada saran? Dan bagaimana cara kalian bermain untuk hal semacam ini?" lanjutnya bertanya.


Pria tersebut sempat diam sejenak untuk memikirkan sesuatu, setelah itu ia menjawab pertanyaan tersebut. "Apakah tujuanmu hanya pada target? Atau sekaligus untuk merusak acara itu?" jawab pria itu yang justru melemparnya dengan pertanyaan untuk Nico.


"Sebenarnya keduanya adalah tujuanku, namun ... sepertinya aku lebih fokus untuk target," jawab Nico menoleh dan menatap yakin rekannya.


"Baik ... begini, kami mau saja untuk mengikuti rencanamu, dan biar ku tebak! Kau pasti berencana untuk menyerang acara itu, bukan?" ucap pria tersebut dan lalu kembali melempar pertanyaan untuk Nico.


"Ya, itu yang ku rencanakan, dan saat di sana aku akan membawa Berlin lalu menyelesaikan dendam ku padanya," jawab Nico dengan pandangan tajam sedikit ke bawah dan kedua tangan mengepal.


"Namun menurutku caramu itu terlalu gila, karena seolah kau mendeklarasikan perang terbuka kepada mereka ... Ashgard sekaligus kepolisian, dan itu hanya akan menyudutkan dirimu sendiri," jawab pria itu.


"Jika aku mengikuti rencanamu itu, maka kerugian serta dampak yang ku dapatkan cukup besar, karena tentunya aku akan kehilangan banyak bawahan setelah serangan itu dilakukan," lanjut pria itu.


"Lalu bagaimana dengan cara bermain kalian?" sahut Nico melirik tajam kepada rekannya yang berdiri tepat di sampingnya itu.


Pria itu menatap dingin Nico dan menjawab, "cara bermain kami ... adalah ... kami memainkan tempo lambat, dan perlahan membunuh secara pasti."


Jawaban tersebut tampaknya cukup untuk membuat Nico tertarik. Jadi seperti apa maksud dari kata-kata itu? Perlahan membunuh secara pasti? Tempo lambat? Pertanyaan-pertanyaan itu sempat terlintas di kepala Nico.


"Baiklah, aku akan mengikuti cara bermain kalian," jawab Nico tanpa basa-basi dan setuju.


.


~


.


Pukul 14:00 siang.


Vila Gates.


"Semua di sini kecuali Asep, ya?" Adam bertanya kepada rekan-rekannya yang berbaris tepat di depannya.


Ashgard tampak mengumpulkan anggotanya dan berbaris tepat di halaman depan vila milik Berlin. Mereka juga tampak siap dengan persenjataan yang mereka simpan di balik masing-masing jas berwarna biru mereka.


"Yup! Lengkap dan dalam keadaan prima semua!" seru Aryo.


"Seperti yang sudah kita ketahui, hari ini adalah hari yang sangat penting bagi salah satu orang terpenting kita Ashgard, yaitu Berlin. Dan ini juga akan menjadi hari yang sangat bahagia baginya yang akan menempuh hidup yang baru." Adam langsung berbicara di depan rekan-rekannya dan lalu menyampaikan rencananya untuk keamanan pada acara yang sangat penting itu.


"Prioritas utama kita adalah keamanan serta kelancaran acara, meskipun akan ada pihak kepolisian yang akan terlibat dalam hal keamanan di sana, namun tetap kita yang akan memiliki posisi tertinggi dalam hal itu." Adam mengkoordinasikan teman-temannya yang berjumlah 10 orang berbaris di depannya, tidak termasuk Kimmy yang berdiri di sampingnya, dan juga Asep yang saat ini sudah berada di lokasi acara pernikahan.


Mereka semua tampak sangat siap, bahkan mungkin raut wajah tidak sabar untuk datang pada acara penting tersebut sangat terukir pada wajah-wajah mereka.


Di tengah Adam sedang memberikan arahan-arahannya untuk rekan-rekannya. Kimmy tiba-tiba menyela dengan memberikan informasi yang ia dapat dari Asep melalui ponselnya.


"Menurut informasi dari Asep, pihak kepolisian akan lebih berjaga di area luar dari lokasi acara, jadi mungkin kita bisa dengan mudah ambil alih area dalamnya," ucap Kimmy.


"Baiklah jika seperti itu, baguslah!" cetus Adam setelah mendengar yang dikatakan Kimmy barusan.

__ADS_1


"Oh iya, peringatan buat kalian semua, jangan mengeluarkan atau bahkan menggunakan senjata kalian di lokasi acara tanpa adanya situasi genting!" lanjut Adam dengan sangat tegas memperingatkan rekan-rekannya, apalagi seperti yang ia ketahui beberapa rekannya sering kali iseng.


"Siap!"


"Tenang saja."


"Lagipula acara itu milik Berlin, mana berani kami melakukan hal seperti itu?"


Teman-temannya tampak mematuhi peraturan serta peringatan tersebut. Di sisi lain mereka sangat menghormati Berlin sebagai pemilik acara penting itu.


"Ya sudah, kalau begitu ... tunggu apa lagi? Acara akan dimulai pukul 15:00, dan sebagai kita sebagai keluarga bukankah seharusnya sudah ada di sana?" ujar Adam.


"Kalau begitu, ayo buruan! Aku tidak sabar mencicipi menu yang ada di acara pernikahan itu seperti apa," celetuk Bobi lalu dengan bersemangat berjalan menuju mobil beroda enam yang terparkir di halaman.


"Dasar!" gumam Kina menghela napas panjang melihat sikap Bobi.


Teman-teman yang lainnya pun berjalan menuju kendaraan mereka masing-masing, dan bersiap untuk segera berangkat menuju ke lokasi pernikahan yang berada di pinggir pantai dan itu cukup jauh dari tempat mereka saat ini berada.


~


30 menit kemudian.


Vila Tepi Pantai.


Vila yang dijadikan lokasi sebagai acara yang sangat penting itu tampak dijaga sangat ketat oleh pihak kepolisian. Tak hanya itu, namun rekan-rekan Ashgard yang baru tiba pun juga ikut serta.


Tamu yang datang tidaklah banyak, dan tamu-tamu yang diundang adalah orang-orang yang Berlin dan Nadia kenal saja. Mereka berdua sengaja tidak mengundang banyak orang, karena menyadari situasi akhir-akhir ini yang masih terbilang cukup rawan bila mengundang banyak orang.


Setiap tamu yang datang menjalani pemeriksaan ketat di gerbang utama, sebelum diperbolehkan masuk ke area acara yang dilaksanakan pada halaman belakang vila tersebut.


"Teman-teman baru saja tiba, aku akan menemui mereka di bawah," ucap Asep lalu berjalan keluar dari kamar vila milik Berlin menuju tangga.


Di saat yang bersamaan, terdapat Prawira yang berjalan memasuki kamar seraya berkata, "merasa gugup?" celetuk Prawira menghampiri Berlin yang berdiri di depan jendela kamar vila tersebut.


"Meskipun aku tidak mengundang banyak tamu, tetapi aku merasa ... sangat gugup ...," ujar Berlin seraya menatap halaman belakang yang sudah dipenuhi oleh tamu yang datang melalui jendela kamar tersebut.


"Ngomong-ngomong, apakah Garwig akan datang?" lanjut Berlin bertanya.


Prawira sedikit kebingungan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Namun dirinya menjawab apa adanya dengan berkata, "saat ini dia sedang sibuk soal kasus Nicolaus, dan mungkin ... dia tidak bisa datang hari ini."


"Tetapi dia meninggalkan pesan untukmu," lanjut Prawira menunjukkan sebuah surat berisikan pesan singkat yang tertulis dari Garwig.


Berlin membaca pesan singkat tersebut yang berisikan ucapan selamat serta rasa syukur, dan permintaan maaf karena tidak dapat hadir pada acaranya.


Prawira sedikit merangkul Berlin dan berkata, "ini adalah momen penting untukmu, Berlin. Jangan kau sia-siakan!"


Berlin mengangguk pelan mendengar apa yang dikatakan Prawira, namun sepertinya dirinya tampak menyimpan sedikit kekhawatiran akan suatu hal. Prawira menyadari kekhawatiran tersebut dan mengatakan, "tenang saja, aku menugaskan banyak unit termasuk helikopter untuk terus memantau sekitar."


"Kurasa itu berlebihan," gumam Berlin.


"Berlebihan? Tentu saja tidak! Itu sudah sesuai prosedur pengamanan keluarga besar walikota sebelumnya," sahut Prawira ketika berdiri di samping Berlin dan menoleh padanya.


"Lagipula ... aku yakin semua berjalan lancar selama ada rekan-rekan mu," lanjut Prawira mengalihkan pandangannya ke sekelompok orang berjas biru yang berjalan mondar-mandir di sekitar halaman belakang.


Melalui jendela, Berlin tersenyum tipis seraya memandangi beberapa tamu anak kecil yang tampak sedang bermain-main di halaman belakang vila tersebut.


Tok ... Tok ...!


"Sudah waktunya," ucap Netty membuka pintu lalu berjalan menghampiri Berlin dan Prawira di sana.

__ADS_1


DEG.


Ketika Berlin membalikkan badannya, dirinya langsung dibuat tertegun dan terkesima dengan penampilan Nadia yang tampak sudah sangat siap berdiri menunggunya di depan pintu.


Nadia berpenampilan sangat cantik dengan gaun pengantin berwarna merah muda beserta pernak-pernik perhiasan selayaknya seorang putri kerajaan.


"Ba-bagaimana penampilan ku ...?" tanya Nadia kepada Berlin yang melangkah mendekatinya dengan pandangan yang sedikit tertunduk karena malu.


Berlin menatap lembut gadis di hadapannya itu lalu berkata, "kamu sangat cantik hari ini, dan aku menyukainya," ucapnya seraya mengulas senyumannya.


"Baiklah, kalau begitu kita segera bersiap!" ucap Netty menyela keduanya.


Dengan satu tangan menggandeng lengan milik lelakinya, dan satu lagi memegang buket bunga yang indah berwarna merah. Nadia berjalan perlahan menuruni tangga untuk menuju ke pintu keluar. Tentu dirinya tak bisa tenang, jantungnya terus berdebar-debar sangat kencang tak karuan.


Ketika berdiri di depan pintu keluar vila yang masih tertutup. Berlin menyadari dan bisa merasakan semakin eratnya gandengan dari kekasihnya dan betapa gugupnya. Di sisi lain dirinya pun juga merasakan hal yang sama.


"Kamu siap, 'kan?" ucap Berlin mencoba sedikit mencairkan suasana.


Nadia menoleh mengangguk dan menjawab, "i-iya, a-aku siap," jawabnya meskipun sedikit tergagap karena terlalu gugup.


Tak lama kemudian, pintu di hadapannya pun dibukakan oleh dua orang pria dengan pakaian pelayan. Ketika pintu tersebut dibuka, karpet berwarna merah merona tergelar di antara kursi-kursi yang dipenuhi oleh para tamu, dan di ujung terlihat seorang penghulu yang sudah siap berdiri tepat di atas pelaminan yang berlatar belakang langsung ke arah pesisir pantai.


Berlin pun mulai melangkahkan kakinya berjalan di atas karpet merah tersebut, tentunya diikuti Nadia yang berjalan menyamai langkahnya tepat di sisinya. Tepuk tangan meriah dari para tamu juga riuh menyambut pasangan tersebut. Semua mata para tamu langsung tertuju padanya. Termasuk rekan-rekannya yang memandang senang bercampur haru.


Sesampainya di atas pelaminan tersebut. Acara pun dimulai. Semua hening seketika. Dan bagian terpenting pun akan dijalankan. Di bagian ini Berlin semakin dibuat berdebar, lantaran dirinya harus mengucapkan janji suci tersebut. Ditambah lagi banyak pasang mata yang tertuju padanya, termasuk tatapan mata cantik dari Nadia yang kini berdiri di hadapannya.


Namun setelah Berlin selesai mengucap semua janji suci dengan lancar tanpa ada kendala sama sekali. Semua kegugupannya sebelumnya serasa sedikit menghilang dan lega. Prosesi tukar cincin pun kemudian dilakukan oleh keduanya. Mereka saling menyematkan cincin tersebut ke masing-masing jari manis mereka.


"Tuan Berlin G Axel, anda bisa mencium mempelai anda," ucap penghulu kemudian.


Berlin menatap kedua mata Nadia dan berkata, "apa aku boleh melakukannya?"


"Tentu, kamu adalah suamiku sekarang, lakukanlah sesukamu, dan di sisi lain aku juga sudah lama menunggunya," jawab Nadia menatap dalam-dalam bola mata hitam milik Berlin di hadapannya.


Berlin lebih mendekatkan dirinya dan meraih satu pipi lembut milik Nadia di hadapannya. Kemudian ia pun membenamkan bibirnya pada bibir merah cantik milik istrinya. Sedangkan tangan Nadia perlahan memeluk Berlin dan perlahan memejamkan matanya merasakan ciuman tersebut yang menjadi ciuman pertamanya.


CUP.


Berlin dapat merasakan betapa lembut dan manisnya bibir seorang perempuan yang sangat ia cintai, terlebih lagi ini adalah pengalaman pertamanya. Sudah sangat lama sekali dirinya sengaja menyimpan ciuman tersebut hanya untuk momen ini.


Sorak riuh beserta tepuk tangan dari para tamu yang hadir kembali terdengar. Di antaranya adalah Kimmy yang melihat semua itu. Ia tampak tersenyum senang dan ikut bahagia, meskipun juga menyimpan kepedihan dan sakit pada hatinya. Bahkan air matanya sempat sedikit menetes menyaksikan momen bahagia itu, yang justru sangat sakit dirasakannya.


"Aku terkejut, aku senang, dan aku sudah sangat lama mengharapkan hal barusan terjadi," ucap Nadia seraya mengulas senyumannya setelah Berlin melepas ciumannya.


"Kak Berlin, apa yang barusan kakak lakukan?!" teriakan polos Akira yang duduk di kursi tamu belakang. Dengan mata yang ditutup-tutupi oleh Alana yang duduk di sampingnya, Akira tampak celingukan penasaran ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi.


"Sialan kau, Bos. Membuatku iri saja!" teriak Aryo menatap Berlin dengan penuh haru dan bahagia.


"Selamat, bos ku!" teriak beberapa rekannya.


"Aku tidak menyangka kau akan mendahului ku untuk berdiri di atas pelaminan," celetuk Adam berdiri di samping Sasha yang sedari tadi menggandeng tangannya.


"Jadi ... kapan kita menyusul?" cetus Sasha menoleh melirik dan menatap Adam di sampingnya seraya mengulas senyum padanya.


Berlin hanya sedikit tertawa dan tersenyum mendengar semua itu, sesekali dirinya melirik kepada Nadia yang berdiri di sampingnya. Dirinya sangat bersyukur dan merasa sangat bahagia karena melihat Nadia juga bahagia di sisinya.


Setelah melewati banyak sekali rintangan, banyak sekali masalah, dan banyak sekali bahaya yang bahkan sampai mengancam nyawa. Akhirnya hari yang penting ini, dan hari yang tentunya ditunggu-tunggu oleh kedua mempelai akhirnya tiba juga. Lokasi ini, vila ini, dan juga pemandangan sore hari di pantai yang indah ini telah menjadi saksi mereka berdua yang tengah berbahagia kala ini.


Kebahagiaan yang sulit atau bahkan tidak dapat dideskripsikan dengan kata-kata, mungkin adalah salah satu dari sekian banyaknya kebahagiaan yang sangat berarti. Tentunya untuk mencapai kebahagian tersebut tidaklah mudah. Dan itulah yang saat ini dirasakan oleh pasutri baru tersebut.

__ADS_1


.


Selesai.


__ADS_2