
"Bos, nggak istirahat ? Ini weekend, loh," celetuk Netty bergurau kepada Prawira ketika dirinya memasuki ruang pribadi milik Prawira.
Prawira yang duduk di kursinya pun menjawab, "ini juga lagi istirahat," jawabnya dan lalu meminum secangkir kopi di mejanya.
"Ada perlu apa ?" lanjut Prawira bertanya.
"Saya ingin memberikan kabar baik," jawab Netty dengan ekspresi senang ketika memberikan sebuah laporan ke atas meja.
Prawira pun menerima dan langsung membuka isi laporan yang diberikan oleh sekertarisnya itu.
"Ini baru saja ?" cetus Prawira sedikit terkejut dan lega ketika membaca isi dari laporan tersebut.
"Ya !" sahut Netty sesaat setelah duduk di sebuah sofa pada ruangan tersebut.
.
"Anda pasti tidak menyimak radio, 'kan ?" lanjutnya dengan melirik tajam kepada Prawira.
"Oh, maaf, maaf, aku tidak sedang di frekuensi radio gabungan," jawab Prawira dan lalu tertawa kecil pada dirinya sendiri, "hehehe ...."
Prawira merasa sangat lega dan pekerjaannya mulai sedikit ringan, setelah membaca catatan laporan yang berisikan beberapa kasus yang telah berhasil terselesaikan.
Prawira sendiri merasa sangat beruntung dapat memiliki banyak anggota berpotensi dan dapat diandalkan.
"Hehehe," Netty ikut tertawa ketika melihat Prawira tertawa dan tersenyum. "Apa yang sebenarnya kau sembunyikan, Prawira ?" gumamnya di dalam hati ketika melihat Prawira menunjukkan ekspresi yang terasa palsu itu.
"Ada perlu lagi ?" tanya Prawira yang memotong lamunan Netty ketika memandang kepadanya.
"Eh ?" Netty sedikit terkejut ketika Prawira melirik dan memandang ke arah dirinya. "Tidak ada," jawabnya sembari menggelengkan kepala dan sedikit tertunduk.
"Terima kasih, ya ?" cetus Prawira.
Netty mengangkat kembali kepalanya dan menoleh ke arah Prawira, lalu berkata, "kenapa harus berterima kasih ? Ini sudah menjadi tugas dan kewajiban kita."
"Ya, karena kalian semua ... termasuk dirimu, sudah membantu meringankan tugas kita," jawab Prawira dengan santainya dan lalu kembali meminum secangkir kopinya.
Netty tersenyum kecil melihat ke arah Prawira yang duduk di kursi pribadinya. Dirinya merasa senang bisa melihat Prawira bisa tenang dan sesantai itu.
Namun di sisi lain, Netty merasa masih ada yang mengganjal di pengelihatannya kepada Prawira. Seakan ada sesuatu yang palsu dari semua sikap tenang yang ditunjukkan kepadanya.
Netty pun memberanikan diri untuk langsung bertanya walau dengan sikap yang sedikit kikuk, "Um, apa ada sesuatu ---"
"Tidak !" Belum selesai Netty berbicara, Prawira langsung memotong dan menjawabnya dengan sangat tegas.
"Ba-baik, kalau begitu ... saya izin keluar dari ruangan," ujar Netty sesaat setelah bangkit dari duduknya.
.
"Maaf jika saya lancang," lanjutnya ketika berbalik badan dan lalu berjalan ke arah pintu keluar.
Di tengah Netty berjalan keluar, ia sempat menghentikan langkahnya tepat di depan pintu yang terbuka sebelum melangkah keluar. "Jangan lupa, anda tidak sendirian," ucapnya dengan sedikit menoleh dan lalu tersenyum setelah mengucap.
Prawira hanya tertegun dan terdiam setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Netty, sebelum pintu tersebut tertutup kembali.
.
~
.
Setelah sangat lama menghabiskan waktu untuk bermain bersama dengan anak-anak Panti Asuhan. Tidak terasa hari sudah sore menjelang malam, dan sudah saatnya bagi Berlin dan juga Nadia untuk pulang.
Di depan teras Panti Asuhan, anak-anak itu mengucapkan, "terima kasih banyak," kepada Berlin dan Nadia dengan ekspresi bahagia mereka.
"Alana, ajak anak-anak makan malam, mereka pasti sudah lapar," ujar Helena kepada Alana.
"Oke !" jawab Alana dengan semangatnya.
.
"Yuk, kita main-main di dalam !" ajak Alana kepada anak-anak.
"Kita makan malam apa ?" tanya salah satu anak laki-laki kepada Alana ketika berjalan menuju ruang tengah.
"Apa, ya ? Kalian mau apa ?" sahut Alana.
"Ayam goreng !"
"Tetapi aku maunya makan ikan."
"Mending makan sayur aja, biar sehat."
"Iya, iya, nanti aku buatin deh buat kalian," ucap Alana menjawab semua permintaan anak-anak.
***
"Sekali lagi, terima kasih banyak, Nak Berlin," ucap Helena dengan ekspresi sangat senang.
Berlin tersenyum dan menjawab, "sama-sama, Bu."
Di tengah mereka sedang berbicara, tiba-tiba seorang anak perempuan yang sebelumnya meminta kepada Berlin untuk membacakan buku dongengnya, menghampiri Berlin dan Nadia.
"Sudah mau pulang, ya ?" tanya anak itu kepada Berlin dan Nadia dengan ekspresi sedihnya.
"Iya, maaf, ya," jawab Berlin tersenyum.
"Kak Nadia juga ?" tanya anak itu kembali dengan menunjuk kepada Nadia.
"Iya, sayang," jawab Nadia dengan mengelus perlahan kepala anak tersebut.
__ADS_1
.
"Lain kali kami main ke sini lagi boleh, 'kan ?" lanjutnya menunduk untuk menatap kedua mata cantik milik anak perempuan itu.
"He'em," jawab anak itu mengangguk dan terlihat senang. "Oh iya, salam kenal, aku Akira !" ucapnya dengan mengulurkan tangan kanan meminta bersalaman dengan Nadia.
"Salam kenal, Akira !" Nadia pun menerima jabatan tangan tersebut dengan senang hati.
"Kakak ?" cetus Akira yang lalu mengalihkan pandangan dan tangannya kepada Berlin.
"Salam kenal juga ya, Akira," jawab Berlin lalu juga bersalaman dengan Akira dan lalu tersenyum kepadanya.
"Um ... Akira m-mau ... berterima kasih ... ka-karena sudah ... membacakan buku dongeng tadi," kata Akira dengan sedikit tertunduk kikuk saat mengatakan itu kepada Berlin.
"Iya, sama-sama," jawab Berlin tersenyum saat menatap wajah imut Akira yang memandang ke arah dirinya.
Hati milik Berlin benar-benar terasa seperti disentuh oleh Akira, dan membuat dirinya merasa sangat senang ketika melihat Akira juga senang.
"Ya sudah, kami pergi dahulu !" Nadia dan Berlin pun tidak lama kemudian pamit kepada Helena dan Akira.
Helena terlihat tersenyum melambaikan tangan kepada Berlin dan Nadia yang sudah bersiap di dalam mobil mereka.
"Dadah !" teriak Akira dengan lantangnya ke arah mobil yang dikendarai Berlin sembari melambaikan tangannya, dan terlihat sangat bahagia.
~
"Terima kasih, ya," cetus Nadia menoleh dan tersenyum kepada Berlin, ketika perjalanan kembali ke rumah.
Nadia tiba-tiba lebih mendekatkan dirinya kepada Berlin, dan langsung memeluk serta bersandar di salah satu lengan milik lelakinya itu.
"Dasar kamu ini ..! Aku sedang menyetir, loh ..!" sahut Berlin memperingatkan namun membiarkan kekasihnya.
"Aku hari ini sangat senang dan tidak menyangka, kalau kamu kelihatannya suka dengan anak-anak," kata Nadia melepaskan sandarannya dan menatap kepada Berlin yang fokus menyetir.
"Hahaha," Berlin tiba-tiba tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu terhadap dirinya. "Yah ... lebih tepatnya ... aku tidak terlalu suka anak-anak, karena mereka pasti sangat merepotkan," ujar Berlin dengan sedikit melirik kepada Nadia dan kembali fokus ke jalanan di depannya.
.
"Tetapi, kita tidak bisa membenci hal itu, karena mereka hanyalah anak-anak, dan dahulu waktu kita kecil seperti mereka pun juga sama," lanjutnya
Nadia sedikit tertegun dengan cara berbicara Berlin yang terlihat berbeda dari biasanya mengenai hal itu. Aura positif sangat terpancar dari diri Berlin. Dirinya hanya tersenyum senang kepada lelakinya itu yang menurutnya mulai sedikit berubah.
"Kamu benar-benar misterius bagiku," batin Nadia ketika memandang kagum lelakinya.
"Kenapa ? Ada yang salah dari ku?" tanya Berlin melirik Nadia yang terus memandangi dirinya.
Nadia sedikit terkejut dan menjawab, "enggak ada, kok ...," jawabnya lalu memalingkan wajahnya yang mulai memerah itu ke kaca jendela dengan sedikit tersipu.
.
"Aku hanya senang aja dengan sikapmu hari ini," lanjutnya bergumam di dalam hati.
Sesampainya mereka berdua di rumah. Berlin tiba-tiba mendapatkan panggilan suara masuk dari seseorang yang sangat ia kenal.
"Halo ?" ucap Berlin mengangkat telepon tersebut.
Sembari menunggu Berlin selesai dengan teleponnya. Nadia berjalan menuju kamar untuk berganti pakaian dan membersihkan diri, lalu bersiap untuk menyiapkan makan malam.
"Oh, baik, semua pekerjaan itu sudah ku selesaikan," ujar Berlin yang masih sibuk dengan orang yang menelepon dirinya.
.
"Oke, malam ini," sambung Berlin dan lalu selesai dengan teleponnya.
"Sudah selesai ? Dari siapa ?" tanya Nadia saat menuruni tangga dan menghampiri Berlin yang berdiri di ruang tengah.
Nadia terlihat sangat cantik dengan penampilan yang sangat sederhana hanya memakai dress santai selutut berwarna putih polos itu.
"Ada deh ...," jawab Berlin dengan nada sedikit mengejek dan lalu tersenyum.
"Tuh, 'kan !" gusar Nadia sedikit sebal dan memalingkan muka kesalnya dari pandangan Berlin.
"Bercanda, sayang. Garwig yang meneleponku, bukan siapa-siapa, kok," ucap Berlin dengan meraih dan sedikit mengelus perlahan kepala milik Nadia.
Nadia langsung kembali memandang Berlin dan tersenyum kepada lalu mengatakan, "aku kira siapa."
"Sudahlah, aku ganti baju dahulu," cetus Berlin dan lalu berjalan mengarah tangga.
"Baik, aku tunggu di meja makan, ya !" sahut Nadia dengan cerianya.
.
~
.
"Jadi bagaimana, apa kau yakin ?" tanya Garwig kepada Boni atau lebih dikenal sebagai Walikota.
Sebuah rumah yang sangat mewah dan dengan keamanan teknologi yang super ketat. Garwig mendapatkan tamu yang sangat istimewa malam ini. Tamu itu adalah Boni Jackson, atau perannya yang lebih dikenal oleh semua orang sebagai Walikota.
Setelah selesai menghubungi Berlin beberapa saat yang lalu. Tiba-tiba saja Boni datang bertamu tanpa memiliki janji terlebih dahulu sebelumnya. Ia datang menghadap Garwig dengan membawa wajah yang terlihat sangat lelah dan cukup putus asa.
"Saya sangat yakin, karena ternyata saya sudah merasa sangat tidak cocok lagi berada di kursi jabatan ini," jawab Boni yang duduk di sebuah sofa di hadapan Garwig dan sedikit tertunduk saat mengatakannya.
"Apa yang membuatmu merasa seperti itu ?" sahut Garwig dengan tegas dan sikap berbicara yang terasa cukup dingin.
Boni mengangkat kembali kepalanya yang tertunduk itu, dan menatap ke arah Garwig. "Ada beberapa hal yang menurutku sangat berat, dan hal-hal ini menjadikan faktor untuk ku mengambil keputusan ini," jawab Boni.
Boni pun menjelaskan beberapa faktor yang membuat dirinya sangat yakin dan sangat kewalahan dalam menjalani perannya sebagai walikota. Boni juga menjelaskan beberapa hal internal dalam struktur pemerintahannya, dan juga tentang dibatalkannya pemilihan walikota baru.
__ADS_1
Setelah Boni selesai menjelaskannya secara singkat. Garwig langsung menanggapinya dengan berkata, "aku bisa saja dengan mudahnya menggantikan posisimu. Akan tetapi ... itu tidak sah di mata publik, karena rakyat langsung yang memilih dirimu ... bukan diriku."
.
"Jika itu dipaksakan, maka ... takutnya ... rakyat bisa marah mengacaukan semuanya, dan bahkan bisa sampai menggulingkan pemerintahan, karena rakyat memiliki kekuatan untuk itu," lanjutnya.
Boni tertunduk lesu dan terlihat tidak ada semangat serta terlihat sangat suram untuk melanjutkan perannya.
"Namun, aku akan tetap membantumu ..!" cetus Garwig dengan sedikit menepuk bahu milik Boni.
.
"Untuk urusan keamanan dari teror-teror itu, serahkan saja padaku, karena itu sudah menjadi tugasku ...!" lanjutnya.
"Aku sangat percayakan itu padamu, karena ... tim keamanan ku sudah mulai mendapatkan beberapa serangan dari mereka," sahut Boni dengan penuh berharap pada Garwig.
"Kalau boleh aku menyarankan, kau harus lebih waspada terhadap satu orang kepercayaanmu," kata Garwig sangat serius dengan apa yang ia katakan.
Garwig pun memberitahukan orang yang ia maksud kepada Boni, dan orang itu ternyata memiliki peran yang cukup penting bagi Boni pada kedudukannya sebagai walikota.
.
10 menit kemudian.
Setelah selesai berbincang banyak hal dengan walikota, dan Boni juga sudah tidak di rumahnya. Garwig berjalan menuju ke ruang perpustakaan miliknya di rumah, dan meraih sebuah buku tua tentang keluarganya sendiri, yaitu Gates.
"Apa prediksi itu akan benar terjadi, Matrix ?" celetuk Garwig sendiri ketika melihat dan membaca kembali nama-nama yang memiliki marga keluarga yang sama dengan namanya.
.
~
.
Di sebuah rumah yang sangat besar dan dijaga oleh banyak orang berpakaian serba hitam di setiap sudutnya. Carlos dipanggil oleh Sang Bos di ruang pribadi, untuk menghadap dan memberikan laporannya.
"Masuk !" titah sang bos kepada Carlos yang berdiri di depan pintu ruangan pribadinya.
Carlos pun membuka pintu dan berjalan memasuki ruangan yang sangat mewah nan bersuasana sangat dingin. Dirinya pun duduk di sebuah sofa yang sangat empuk dan mulai berbicara empat mata dengan sang bos.
"Bagaimana laporan hari ini, Carlos ?" tanya seseorang dengan nada bicara yang terdengar cukup menyeramkan dan kejam.
"Untuk masalah perdagangan, kita lebih unggul daripada kelompok putih Nostra," Carlos menjawab pertanyaan tersebut dan memberikan lampiran laporan yang ia catat secara rinci kepada Sang Bos.
"Perkembangan kelompok lain bagaimana ?" tanya sang bos kembali.
"Untuk kelompok-kelompok lain, tidak sering begitu terpantau muncul ke permukaan. Sedangkan kelompok yang saat ini sedang memanas dengan kita yaitu Ashgard, hari ini juga tidak terlihat," jawab Carlos.
"Baik. Sebenarnya aku sangat ingin sekali segera melaksanakan rencana utama kita, tetapi ada beberapa faktor yang masih jadi penghambat," ujar sang bos dengan santainya.
"Berlin ?" sahut Carlos langsung tercetus satu nama yang selalu membayangi dirinya.
Bos langsung menanggapinya dengan menggelengkan kepala dan lalu mengatakan, "lebih tepatnya ... keluargamu sebelumnya, yaitu Gates."
Carlos terlihat bingung ketika mendengar hal tersebut dan melihat sang bos yang sedikit gelisah ketakutan ketika mengucap.
"Mengapa kau memikirkan sebuah keluarga yang sudah mati ?!" gusar Carlos menggebrak meja saat bangkit dari bangkunya.
Sang bos terlihat sangat tenang walau melihat Carlos yang terlihat marah dan kesal terhadap dirinya. Dirinya pun bangkit dari duduknya, dan lalu meraih sebuah buku dari rak buku di sampingnya sembari mengatakan, "janganlah berpikir terlalu pendek di dunia seperti ini, Carlos," ucapnya dengan tenang dan santainya.
Carlos tertegun ketika mendapatkan perkataan seperti itu dan kemudian kembali duduk dengan berusaha tenang.
Dengan membawa sebuah buku, sang bos kembali duduk di kursinya dan meletakkan buku yang ia bawa di atas mejanya sembari berkata, "Gates itu belum mati, Carlos. Hanya saja ... mereka selama ini bersembunyi dari permukaan," ujarnya dengan santai sembari membuka lembar demi lembaran buku tersebut.
"Lihat ..!" titah sang bos dengan menunjukkan halaman akhir pada bukunya kepada Carlos.
Carlos dapat melihat struktur keluarga bernama Matrix dalam buku tersebut, dan persis seperti marga yang ia pakai pada namanya sampai kini.
"Carlos Matrix". Begitulah tertulis namanya pada kolom struktur paling bawah yang tertulis "Keturunan Angkat Akhir".
"Yah ... walaupun sebenarnya ... kau tidak sendirian di kolom nama tersebut, karena seharusnya ada saudaramu yang menemanimu di situ," celetuk sang bos.
"Tetapi tenang saja, Matrix tidak akan bisa mati ... ketika orang-orang penting di dalamnya masih ada dan bertahan, begitu pula dengan Gates," kata sang bos ketika menarik dan menutup kembali buku keluarga miliknya.
.
"Namun ... di saat ini, posisi kita sangat diuntungkan, karena kita hanya harus menyingkirkan tiga orang, dan keluarga itu akan mati sepenuhnya," lanjut sang bos dengan sikap dan nada bicara yang terdengar kejam.
"Tiga orang ?" sahut Carlos bingung.
"Garwig, Prawira, dan yang terakhir adalah ... Sang Anak Emas Berlin. Penghalang kita hanya mereka, jika kita ingin berhasil untuk menguasai tatanan kota," jawab sang bos sembari mengangkat kakinya ke atas meja dan terlihat sangat santai.
.
"Dan aku dengar ... Garwig baru saja kembali ke kota setelah beberapa tahun lalu menghilang," lanjut sang bos mengambil pistol yang tergeletak di atas mejanya, dan lalu menyimpannya di dalam laci.
Carlos mencoba menelaah semua yang ia dengar secara saksama. Dirinya dapat dengan mudah paham dengan maksud dari semua yang diucap oleh bosnya itu.
"Yah ... apapun itu, pokoknya ... aku akan tetap mengurus Berlin ...!" titah Carlos bangkit dari bangkunya dan lalu pergi meninggalkan ruangan.
Sang bos tiba-tiba tersenyum sinis setelah Carlos beranjak dari ruangannya. Ia terlihat tengah merencanakan sesuatu dan bergumam, "aku tidak sabar ... melihat jika kalian bertemu."
.
"Aku harap terjadi sesuatu yang menarik nantinya ...!" lanjutnya sembari memutar balikkan kursi yang ia duduki.
.
Bersambung.
__ADS_1