Mafioso In Action

Mafioso In Action
Bagian Timur Kota #68


__ADS_3

"Perkotaan pinggiran bagian Timur telah kacau disebabkan oleh Mafioso. Banyak warga di sana telah berhasil diungsikan sementara ke tempat yang aman, namun masih ada beberapa yang belum berhasil diungsikan," Prawira mengutarakan demikian sesuai dengan laporan Garwig langsung kepadanya melalui ponsel dan radionya.


Prawira tampak sedang berkoordinasi dengan regu milik Prime untuk segera merapat ke pusat kota setelah kekacauan di wilayah Shandy Shell telah teratasi.


"Prime, tidak ada laporan mengenai penyerangan atau kekacauan di wilayah Paletown, 'kan?" tanya Prawira memastikan.


"Tidak!" sahut Prime. "Saya juga sudah mengirim beberapa tim dari divisi Brimob untuk memperketat penjagaan di perbatasan wilayah," lanjutnya.


Berlin yang ikut menyimak pun dibuat bingung dengan tindakan yang telah dilakukan lelah kelompok Mafioso itu. Tampak juga dirinya sudah mulai muak dengan semua kekacauan itu.


"Daerah timur ... kota ...?" gumam Nadia yang duduk di mobil dan sangat terkejut setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Prawira. Ia tampak muram dan khawatir dengan suatu hal setelah mendengar hal tersebut.


Berlin yang menyadarinya pun berjalan menjauhi Prawira dan kembali mendekati Nadia dengan bertanya, "ada apa?"


Nadia menggelengkan kepala dengan tatapan sedikit kosong. Berlin pun memegang pipi milik Nadia dengan salah satu tangannya seraya menatap tulus wanita yang ada di hadapannya. "Matamu tidak bisa berbohong," ucap Berlin dan lalu tersenyum kecil.


.


"Katakan saja apa yang membuatmu khawatir!" lanjut Berlin melepas pegangannya dan lalu menggenggam tangan milik Nadia.


"Panti asuhan itu ... bukannya ... berada ... di daerah yang disebut Prawira ...?" ucap Nadia sedikit tertunduk.


.


"Aku ... hanya cemas dengan keadaan mereka," lanjutnya dengan nada sungguh pelan.


Berlin memahami rasa cemas yang dialami oleh kekasihnya itu, lantaran orang-orang di panti asuhan adalah orang-orang yang berharga bagi Nadia.


"Tenang saja, mereka pasti sudah berada di tempat yang aman!" sahut Berlin berusaha meyakinkan Nadia dan lalu tersenyum lebar.


"He'em," gumam Nadia mengangguk dan lalu mengatakan, "aku harap begitu."


Setelah mendengar apa yang membuat Nadia khawatir, justru kini Berlin yang menyimpan rasa khawatir tersebut terhadap orang-orang yang ada di panti asuhan. Dirinya kembali berjalan mendekati Prawira yang sedang berkumpul dengan beberapa temannya dan juga regu milik Prime.


"Apakah orang-orang di sana belum sepenuhnya diungsikan?" tanya Berlin sangat serius ketika berjalan mendekati Prawira.


"Tinggal hanya satu tempat saja," jawab Prawira.


"Aku sendiri sangat mengetahui seluk beluk di daerah itu, apakah kau ingin aku membantumu?" sahut Berlin.


"Berlin," gumam Nadia mendengar apa yang dikatakan lelakinya itu yang tampaknya sangat serius.


Teman-teman Berlin tampak senang dan sangat bersemangat ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Berlin. Mereka terlihat sangat setuju, selama itu adalah keputusan mutlak yang dibuat oleh Berlin sendiri.


"Meski kau menolaknya, mungkin ... aku akan tetap ke sana!" lanjut Berlin menekankan keinginannya.


Prawira melihat tatapan yang sangat serius terpancar pada mata milik Berlin. Dirinya sudah lama sekali tidak melihat tatapan mata yang seperti itu. Tatapan seolah ingin melindungi sesuatu.


"Baiklah. Aku akan mengatur strategi untuk kalian jika kalian mau," jawab Prawira menyetujui keinginan Berlin dan kelompoknya.


"Hei, kau siap mengambil peran?" tanya Asep yang berdiri di belakang Berlin kepada Faris di sampingnya secara berbisik.


"Jangan meremehkan ku, ya!" sahut Faris dan lalu tersenyum semangat.


.


~


.


Pukul 19:00 malam.


Daerah Timur Perkotaan.


"Sepertinya ... mereka ingin kita menggunakan cara kotor," gumam Nicolaus yang duduk santai di dalam mobil baja mewah miliknya.


Kibo yang duduk di kursi pengemudi mendengar hal tersebut sedikit terkejut. Dirinya melirik Nicolaus yang duduk di kursi belakang. Tampak wajah-wajah kekejaman yang mengerikan.


"Kibo, di mana lokasi warga yang belum diungsikan?" tanya Nicolaus.


"Oh, tepat di pinggiran kota, wilayah yang belum kita kuasai," jawab Kibo.


.


"Di sana terdapat sebuah Panti Asuhan, yang kemungkinan belum terungsikan. Namun di tempat itu yang ada hanyalah anak-anak, apa kau yakin?" lanjut Kibo menoleh kepada Nicolaus yang duduk di kursi belakang.


"Kenapa tidak?" sahut Nicolaus.


.


"Lagian apa yang dipikirkan para aparat itu? bukannya seharusnya segera mengevakuasi orang-orang di sana?" lanjut Nicolaus sedikit bertanya-tanya.


"Hehehe," Kibo tertawa kecil mendengar hal tersebut. "Karena kau memerintahkan untuk terus memberikan tekanan, jadi itu sangat membuat para aparat itu kewalahan," ucapnya.


"Ya sudah, kita segera selesaikan di wilayah itu!" sela Nicoalus.


.


~


.


Di waktu yang sama, namun di tempat yang berbeda. Masih berada di titik kumpul di mana Berlin sedang bersiap bersama semua teman-temannya.


"Gunakan rompi kalian, jangan sok kuat!" titah Berlin tegas kepada teman-temannya.


"Siap, Bos!" sahut mereka semua secara serempak.


"Tuh! Aryo, dengerin!" cetus Kina kepada Aryo di hadapannya.


"Iya, aku tahu!" sahut Aryo sedikit sebal karena Kina menatapnya.


Setelah selesai mempersiapkan perlengkapan miliknya. Berlin pun kembali menghampiri Nadia yang duduk dan tampak cukup murung di mobil.


"Tenang saja, aku akan ke sana dan memastikannya!" ucap Berlin.


Nadia hanya mengangguk, "tetapi kamu harus tetap berhati-hati, ya?" ucapnya.


"Tentu saja!" sahut Berlin mengangguk dan tersenyum berusaha sedikit menghibur Nadia yang tampak muram karena cemas.


"Senyum dong! Biar aku semangat!" celetuk Berlin seraya menatap kedua mata milik Nadia dengan sangat dekat, bahkan napas mereka berdua pun saling terdengar.


"Duh, kamu ini!" sahut Nadia yang lalu tertunduk menutupi wajahnya yang memerah karena malu.


"Hehehe, maaf," ucap Berlin tertawa kecil.

__ADS_1


Nadia tiba-tiba kembali mengangkat kepalanya dan menatap lelakinya seraya tersenyum manis. "Aku akan selalu menunggumu untuk kembali," ucapnya tersenyum.


Berlin sedikit mengangguk dan mengatakan, "aku akan segera kembali dengan membawa kabar baik." Hatinya benar-benar luluh ketika mendapatkan senyuman itu dari kekasihnya.


***


Kimmy melihat semua itu dari kejauhan. Dirinya merasa sangat senang dan lega, karena sikap Berlin yang dingin sebelumnya seolah telah hilang begitu saja ketika kembali bertemu dengan Nadia yang dalam keadaan selamat dari penyanderaan itu.


"Hei, kenapa?" cetus Vhalen berbisik sangat dekat dengan Kimmy dari belakangnya.


Sontak itu mengejutkan Kimmy, "ah tidak, tidak, tidak ada apa-apa!" sahutnya langsung membalikkan badan menghadap Vhalen dan lalu tersenyum.


"Mencurigakan," gumam Vhalen menatap sinis.


.


"Sudahlah, lagian aku sudah tahu," lanjut Vhalen yang lalu berjalan pergi untuk mengambil rompinya.


"Sudah tahu?" gumam Kimmy bertanya-tanya. "Tu-tunggu! Jika kau sudah tahu, maka tolong jangan disebarkan!" ujar Kimmy dengan tegas seraya mengejar temannya itu yang sudah berjalan menjauh.


"Buat apa aku menyebarkannya, yang lain juga pasti sudah tahu," sahut Vhalen dengan santainya.


"Tetapi, sepertinya ... Berlin-lah yang tidak mengetahuinya," batin Kimmy sedikit sakit hati dengan perasaannya.


.


~


.


Pukul 19:10 malam.


Bagian Timur Kota.


Bersama dengan pihak milik Prawira dan regu yang dipimpin langsung oleh Prime. Berlin memasuki daerah pinggiran paling Timur kota secara serempak bersama kelompoknya.


"Bos, jika mereka menghalangi bagaimana?" tanya Asep seraya fokus untuk menyetir mobil.


"Hajar, habisi! Tetapi jangan dikejar jika mereka kabur!" sahut Berlin dengan sangat tegas di kursi belakang.


"Tanpa ampun!" sambung Sasha yang duduk di kursi belakang tepat di samping Berlin. Kini Sasha-lah yang menemani Berlin di kursi belakang, karena James harus kembali ke kantor pusat sesuai arahan Prawira. Sedangkan Nadia dirujuk ke rumah sakit kota untuk mendapatkan perawatan lebih dari luka-luka dan cederannya.


Kimmy yang duduk di kursi sebelah pengemudi hanya diam mendengar jawaban Berlin. Tampaknya Berlin menyimpan rasa dendam tersendiri terhadap Mafioso yang telah mengacaukan hampir semuanya.


"Strategi yang dimiliki oleh regu Prime sepertinya sangat efektif, mereka juga bergerak dengan sangat taktis," cetus Asep.


"Ya, itu adalah hal yang wajar, karena mereka adalah anggota yang terlatih," sahut Sasha.


"Terutama pelatihan untuk divisi yang dipimpin oleh Prime, pelatihan mereka sangatlah keras," sambung Berlin dengan pandangan ke luar jendela.


"Ngomong-ngomong, apakah Mafioso akan berhenti jika kita menangkap atau menghabisi otak atau pemimpin mereka?" tanya Asep sedikit melirik ke belakang ke arah Berlin.


"Aku tidak tahu. Tetapi yang pasti ... jika aku bertemu dengan Nicolaus, akan ku pastikan kematiannya di saat itu juga!" jawab Berlin sangat serius dan terasa dingin seraya mengepalkan salah satu tangannya. Ia tampak sangat menyimpan amarah dan dendam tersendiri terhadap orang yang bernama Nicolaus itu.


~


Di saat melewati jalan-jalan pada daerah itu. Suasana tampak sangat sepi seperti kota mati karena sudah ditinggalkan. Namun ternyata masih ada beberapa warga sipil yang belum diungsikan, karena mereka sendirilah yang memilih lebih baik berlindung di dalam rumah-rumah mereka.


"Langsung saja ke sana!" titah Berlin menujuk ke layar monitor kecil yang menampilkan peta digital ada dashboard mobilnya.


Tanpa berlama-lama, Berlin langsung segera ingin menuju ke panti asuhan yang ia maksud dan pernah ia kunjungi.


.


"Aku akan membuat perimater," lanjutnya.


"Baik," jawab Berlin.


...


Sesampainya di panti asuhan. Tempat itu tampak sangat sepi seperti sudah ditinggalkan. Berlin dan kelompoknya tidak sendirian, karena ada beberapa anggota polisi yang dikirimkan Prawira untuk ikut dengannya menggunakan beberapa mobil baja.


Tok ... Tok ... Tok ...!


Suara ketukan dibuat oleh Berlin terhadap pintu depan dari panti asuhan tersebut. "Permisi, apakah ada orang?" tanya Berlin seraya mengetuk pintu. Namun tidak ada jawaban sama sekali.


Beberapa temannya terlihat berjalan mengelilingi tempat itu dengan tujuan untuk memastikan. "Ada orang di dalam, Bos!" bisik Sasha berbisik kepada Berlin setelah sedikit mengintip jendela di bagian depan.


Di saat Berlin ingin kembali mengetuk pintu, dan memberitahu kalau dirinyalah yang datang. Tiba-tiba saja terjadi keributan dari radio yang digunakan untuk berkomunikasi dengan regu milik Prime.


"Mereka terlalu banyak!"


"Anggota terluka parah!"


"Lumpuhkan saja mereka semua!"


"Arrgghhh!"


Tuuutttt ......!


Beberapa ucapan dari para aparat tersebut didengar oleh Berlin, sebelum radio itu mati sepenuhnya seperti terputus dari frekuensinya.


"Prawira ...?" gumam Berlin cukup cemas.


Berlin melirik Asep dan yang lainnya, lalu mengangguk pelan dan singkat. Tatapan dan sikapnya itu seperti sedang memerintahkan sesuatu, dan itu langsung direspon cepat oleh teman-temannya yang langsung peka mengetahuinya.


"Tenang saja, kau urus anak-anak itu! Biarkan kami urus para Mafioso keparat itu!" cetus Asep dan lalu pergi bersama beberapa temannya menggunakan motor.


Berlin kembali mengetuk pintu dan mengatakan, "Nyonya Helena, ini saya ... Berlin!"


Sesaat setelah memberitahukan dirinya yang datang. Pintu itu pun dibuka langsung oleh Helena dan Alana dengan ekspresi ketakutan di wajah mereka. Begitu pula dengan anak perempuan berusia empat tahu yaitu Akira, yang secara tiba-tiba berlari dan memeluk Berlin.


DEG.


"Apa ... kakak di sini untuk menjemput Akira ...?" tanya Akira menatap Berlin dengan tatapan sungguh berharap. Berlin dibuat tertegun sejenak saat mendapatkan tatapan tersebut.


"Iya, Akira," jawab Berlin tersenyum.


"Astaga, ka-kami kira ... kalian adalah komplotan itu," ucap Helena merasa cukup lega setelah mengetahui siapa yang datang.


"Apakah ... mereka teman-teman Kakak?" tanya Akira saat melihat Kimmy dan yang lainnya dengan tatapan bingung penuh tanya. Akira tampaknya cukup ketakutan, ditambah lagi dengan situasi yang masih kacau seperti ini.


"Iya," jawab Berlin.


.

__ADS_1


"Halo, Akira ya? Salam kenal, aku Kimmy!" sambung Kimmy tampak sangat ramah kepada Akira agar membuatnya tidak merasa takut.


"Aku akan membawa kalian ke tempat yang aman sementara, mari ikuti aku!" ujar Berlin yang lalu berjalan menuju halaman depan.


"Berlin, terima kasih banyak," ucap Alana saat berjalan menuntun Nyonya Helena melewati Berlin menuju mobil baja milik petugas yang terparkir, diikuti dengan beberapa anak lainnya yang tampak sangat ketakutan.


"Keluarga Nadia berarti juga keluarga ku, jadi sudah seharusnya aku melindungi kalian juga," sahut Berlin dan lalu tersenyum. Secara spontan dirinya mengucap demikian tanpa disadari.


Di saat Akira akan menaiki mobil baja milik petugas, ia tiba-tiba berjalan kembali mendekati Berlin dan bertanya. "Kak, di mana Kakak Nadia? Dia baik-baik saja, 'kan?" tanya Akira cukup mendongak ke atas kepada Berlin dengan wajah khawatir.


Berlin sedikit membungkukkan dirinya dan menjawab, "tentu saja! Nanti kamu bisa menemuinya, kok!" jawabnya seraya mengusap lembut kepala milik Akira.


.


"Sekarang ikut teman-teman mu, ikut Nyonya Helena dan Kak Alana ke tempat aman, ya?" lanjut Berlin tersenyum.


"Baik!" sahut Akira tersenyum bersemangat.


DOR ... DOR ...!


Tiba-tiba saja suara tembakan terdengar cukup dekat dari arah Timur. Galang dan Sasha yang mendengarnya pun bergegas pergi menuju sumber suara dengan senjata api di tangan mereka. "Bos, cepat tangani di sini, biar kami mengecek!" ucap Sasha yang lalu berlari pergi bersama Galang.


Berlin pun kembali menatap Akira yang tampak sangat ketakutan dengan tangan menggenggam erat bajunya. "Akira, cepat sana ikut bersama Kak Alana dan Nyonya Helena ...! kamu akan aman ikut mereka, karena banyak polisi yang akan mengawal," ucap Berlin.


"Ba-baik," jawab Akira yang lalu berlari ke arah Nyonya Helena dan Alana yang akan memasuki mobil baja petugas.


"Kim, ayo ...!" titah Berlin yang lalu bergegas menuju mobilnya. "Galang, Sasha, kami sudah selesai!" teriak Berlin kepada kedua temannya itu saat berlari menuju mobilnya yang terparkir.


Saat berada di dalam mobil miliknya. Tiba-tiba saja ponsel milik Berlin berdering, dan menunjukkan panggilan masuk dari Prawira.


"Berlin, apakah sudah?" tanya Prawira.


"Sudah! Mereka segera berangkat ke pusat," jawab Berlin.


"Baik, akan ada unit dari anggotaku untuk mengawal mereka!" sahut Prawira yang lalu mengakhiri teleponnya. Suara Prawira barusan terdengar sangatlah panik.


...


"Down satu!"


"Mereka sudah banyak berjatuhan."


"Walau begitu, jumlah mereka sangatlah banyak."


Suara-suara itu bersahutan dari radio milik Berlin diikuti dengan suara-suara tembakan yang terjadi. Sepertinya semua rekan-rekannya berhasil menangani situasi mereka.


Kini Berlin memerintahkan semua rekannya untuk bergabung dengan pihak milik Prawira dalam pengawalan.


"Oke, ku akui kalian hebat. Tetapi itu sudah cukup, objektif kita sekarang melakukan pengawalan dengan pihak kepolisian sampai memasuki area pusat!" titah Berlin dengan tegas kepada semua rekannya melalui radio.


"Siap, Bos!" jawab rekan-rekannya serempak.


Apapun yang terjadi, Berlin tidak ingin para Mafioso itu menyentuh atau bahkan mengganggu jalannya evakuasi anak-anak itu ke tempat aman.


"Tujuan kita ke mana?" tanya Asep yang kini melaju mengendarai motor dan mendekatkan motornya ke samping mobil milik Berlin ketika melaju.


"Rumah Sakit Pusat!" jawab Berlin sedikit berteriak. Sesuai dengan arahan dari Prawira, pengawalan itu akan dilakukan sampai rumah sakit kota.


~


Di tengah perjalanan keluar dari daerah pinggiran kota untuk menuju pusat. Secara tiba-tiba pihak kepolisian dan pihak milik Berlin mendapatkan serangan langsung dari sekelompok orang-orang Mafioso.


DOR ... DOR ... DOR ...!


Mereka tanpa ragu menembaki mobil-mobil baja yang mengangkut anak-anak untuk dilarikan ke tempat aman. Melihat hal tersebut, Berlin tak bisa diam begitu saja. "Mereka ini benar-benar membuatku emosi!" gusar Berlin.


"Bos, sabar," ucap Kimmy berusaha menenangkan Berlin yang sepertinya akan terpancing emosi.


"Bos, kita tidak mau melawan?" tanya Asep kepada Berlin melalui radio.


Para pengendara motor dari kelompok Berlin sedikit menyebar dan memberikan jarak mereka agar tidak tertembak. Para pengendara motor itu siap menunggu perintah langsung dari Berlin.


***


"Jangan hiraukan serangan mereka! Kalian menggunakan mobil baja anti peluru, jadi tetap di jalur dan jangan takut terkena tembakan!" teriak Prawira kepada para anggotanya yang membawa mobil-mobil baja yang berisikan warga sipil tersebut.


.


"Jika ada yang menghalangi jalan kalian, maka tabrak saja! Kalian berada di jalan yang benar, jadi jangan takut!" lanjutnya berusaha membangunkan mentalitas para anggotanya yang sedang mengevakuasi para warga sipil dari tempat itu.


"Prime, silakan ambil tugasmu!"titah Prawira kepada Prime dan regunya.


"Ten-Four!" sahut Prime.


Regu yang dipimpin oleh Prime pun mulai melaksanakan tugasnya. Prime dan regunya mulai memisahkan cukup jauh dari rombongan, dan mencari posisi untuk melumpuhkan para pelaku.


***


"Langsung, Sep. Komando untuk regu pemotor ada di kau!" titah Berlin kepada Asep melalui radio.


"Oke! Aku akan berusaha dan tidak akan mengecewakanmu!" sahut Asep bersemangat.


Sesuai dengan amanah yang diberikan langsung oleh Berlin kepadanya. Asep langsung membawa regu pemotor untuk ikut sesuai dengan perintahnya. Semua teman-temannya juga setuju dengan keputusan Berlin yang memberikan komando untuk Asep.


DESING!


Beberapa peluru mengarah ke mobil milik Berlin. Beruntungnya Berlin menggunakan mobil yang telah dimodifikasi untuk tahan dari timah-timah panas itu.


"Terus dekati rombongan, dan halangi jika ada musuh yang mencoba untuk masih ke rombongan!" titah Berlin kepada Galang yang memegang kendali penuh atas mobilnya.


"Siap, Bos!" sahut Galang.


.


~


.


Dari kejauhan Nicoalus melihat semua kekacauan itu. Pihaknya yang mencoba untuk memaksa memasuki rombongan, dan mencoba untuk memisahkan rombongan mobil baja kepolisian itu. Namun jalan dan langkah mereka dihalang-halangi oleh Ashgard dan regu milik Prime yang terlihat sangat menguasai area sekitar seraya terus mengikuti rombongan menuju ke pusat.


"Jangan biarkan Ashgard menghalangi! Jumlah mereka tak lebih dari 15 orang, kita tidak mungkin akan kalah dari mereka. Habisi nyawa mereka semua yang menghalangi tanpa ampun!" Nicolaus tampak terpancing emosi ketika mengetahui semua anak buahnya dibuat kesulitan dengan kelompok Ashgard yang dipimpin oleh Berlin.


Ashgard telah menghalang-halangi jalan mereka untuk mendekati rombongan mobil baja kepolisian. Ditambah lagi terdapat regu Brimob dengan perlengkapan serba taktis mereka yang dipimpin oleh Prime membantu mereka.


"Sialan kau, Berlin!" gusar Nicolaus.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2