
Pukul 00:00 dini hari.
Gedung Balaikota.
Tepat pada tengah malam. Situasi dari kekacauan dan kehancuran yang terjadi telah berhasil dikendalikan sepenuhnya oleh pihak berwenang. Kelompok kejahatan Mafioso telah dinyatakan kalah, dan beberapa pelaku bersenjata dari kelompok tersebut berhasil diamankan hidup-hidup.
"Kami sudah mengatasi beberapa rekan yang terluka, dan beberapa di antaranya dinyatakan tewas," ucap salah seorang petugas dari pihak medis kepada Garwig yang sedang berjalan di halaman depan Gedung Balaikota.
"Laporan jumlahnya!" sahut Garwig seraya terus berjalan menuju pintu masuk utama gedung.
"25 orang terluka berhasil ditangani dan mendapatkan perawatan intensif, lima orang di antaranya dalam kondisi kritis, sedangkan tujuh orang dinyatakan tewas," lapor petugas medis itu.
Garwig menghentikan langkahnya tepat di depan pintu utama dan mengucap, "baik, laporan diterima." Setelah itu dirinya meninggalkan petugas medis tersebut ke dalam Gedung Balaikota.
Di dalam gedung, ia langsung disambut dengan Prawira bersama Walikota Boni Jackson. "Semua pelaku yang masih hidup sudah diproses lebih lanjut. Bagaimana dengan ...?" belum selesai Prawira berbicara dan bertanya kepada Garwig. Dirinya menghentikan ucapan serta pertanyaannya dengan melihat ekspresi wajah takut bercampur cemas akan suatu hal yang sangat tertampak dari Garwig.
Garwig menggelengkan kepalanya dan mengatakan, "dia menghilang." Perkataan yang singkat namun cukup berat untuk dikatakan olehnya.
"Menghilang?" cetus Walikota Boni.
"Nicolaus?" imbuh Prawira.
"Ya. Aku sudah mengirimkan banyak personel militer sekaligus untuk mencari langsung keberadaannya, namun belum ada kabar baik," jawab Garwig dengan sangat berat hati ketika mengatakannya. Tak seharusnya bagi dirinya seorang aparat sekaligus komandan dari para personelnya, melepaskan tersangka yang menjadi dalang dari semua kekacauan yang terjadi.
Di saat yang bersamaan, Prime datang menghampiri mereka bertiga dengan maksud ingin melaporkan situasi sekitar gedung. Laporan itu diterima oleh Garwig dengan sangat jelas. Namun setelah itu, Garwig langsung memerintahkan Prime untuk menggandakan penjagaan anggotanya di setiap perbatasan.
"Prime, gandakan penjagaan dari anggotamu di setiap perbatasan, baik darat sampai laut!" titah Garwig kepada Prime.
Prime sedikit tertegun dengan perintah itu. Memang benar dirinya dan divisinya juga mengemban tugas penjagaan yang seperti itu. Namun jika Garwig sampai memerintahkan unit taktis sepertinya untuk sampai menjaga perbatasan laut, itu mendandakan terjadi sesuatu yang sangat tidak mengenakkan.
"Untuk udara biar kepolisian dan pihak militer ku yang ambil alih," kata Garwig yang lalu menyerahkan sebuah gulungan peta kepada Prime di depannya.
"Kau pasti memiliki target atau tujuan, bukan? Sampai-sampai menggandakan penjagaan perbatasan laut dan udara," celetuk Prime.
"Ya. Nicolaus tidak ditemukan di lokasi kejadian setelah bom mobil itu meledak," jawab Garwig.
"Apa?! Tidak ditemukan?" sahut Prime terkejut. Lantaran dirinya juga menyaksikan langsung bagaimana Nicolaus meledakkan dirinya beserta mobil sedannya.
.
__ADS_1
"Bukankah seharusnya dia tewas di sana akibat ledakan? Dia bahkan hanya berjarak satu inci dari mobil yang meledak itu. Mustahil baginya untuk selamat!" lanjutnya benar-benar tidak percaya.
"Jika memang dia tewas, maka seharusnya ada tubuh jenazahnya di lokasi kejadian, baik itu potongan tubuh ataupun pakaian. Tetapi di sana tidak ditemukan apapun, dan tidak ditemukan tanda-tanda potongan tubuh atau pakaian milik Nicolaus," jelas Garwig dengan sangat serius dan nada yang cukup memelan, seolah dirinya tidak ingin berita ini terdengar oleh banyak orang.
"Baik, saya akan melaksanakan perintahmu itu sekarang!" tegas Prime yang lalu berjalan keluar gedung guna menghubungi seluruh personelnya.
"Jadi, dia benar-benar berhasil melarikan diri?" tanya Walikota Boni dengan sedikit tidak percaya.
"Untuk sementara, kami menetapkan Nicolaus tewas di tempat, jadi tolong jaga rahasia ini!" sahut Garwig memperingatkan Walikota Boni dengan sangat tegas, tajam, dan serius.
"Besok akan banyak media berita yang meliput berita kekacauan ini, dan tentunya kita tidak ingin menimbulkan keresahan serta kekhawatiran yang berlebihan dari kalangan masyarakat," timpal Prawira.
"Baik, untuk semua masalah yang seperti itu akan aku serahkan kepada kalian berdua, aku mempercayai kalian," sahut Walikota Boni tampak setuju dengan pendapat Prawira.
...
Setelah selesai perbincangan mengenai Nicolaus. Prawira mengajak Garwig untuk menemui Berlin, dan mungkin akan berbicang sebentar dengan Berlin. Prawira dan Garwig menemui Berlin seorang di atap dari gedung mewah balaikota yang berwarna putih itu.
Ada beberapa hal yang tidak diketahui Berlin soal keluarganya, dan Prawira ingin memberitahukan hal-hal tersebut. Garwig dan Prawira juga ingin meminta maaf soal hilangnya ingatan Berlin soal keluarganya sendiri.
Malam itu menjadi saksi di mana Berlin akhirnya menemukan kejelasannya soal Keluarga Gates. Dirinya juga sedikit mendapatkan kejelasan soal masalah yang terjadi antara Keluarga Gates dan Matrix.
Namun masalah itu menjadi besar ketika Nicolaus mendapatkan sedikit otoritas terhadap pemerintahan, dan menyudutkan Keluarga Gates yang kala itu adalah keluarga besar yang berdiri dalam naungan pemerintah terutama instansi pemerintah kepolisian.
Entah mungkin Nicolaus menyimpan dendam pribadi dengan Keluarga Gates atau bahkan Garwig. Dirinya terus saja menyudut keluarga itu, sampai keluarga itu tidak dapat bernapas dan harus menuruti keinginannya bila ingin terus bernapas untuk hidup.
Saking kerasnya ancaman dan desakan yang diberikan oleh Keluarga Matrix, itu membuat Keluarga Gates kehilangan banyak anggotanya yang memilih untuk mengundurkan diri dari keluarga untuk pergi dengan damai.
...
"Baik, aku sudah mendapatkan apa yang aku mau, terima kasih banyak," ucap Berlin setelah mendengar semua penjelasan yang cukup panjang dan lebar diberikan oleh Prawira soal keluarga besarnya serta masalah yang terjadi.
"Sayang sekali, yang tersisa dari Gates cuma beberapa dari kita di kepolisian," kata Garwig bersandar di pagar beranda yang berdiri di pinggiran atap.
"Oh iya, bolehkah aku menanyakan sesuatu, Prawira?" tanya Berlin dengan menatap polos dan sedikit canggung untuk bertanya.
"Tentu!" sahut Prawira yang tampak sangat siap untuk menjawab.
"Apakah ... kau yang mengadopsi Nadia, dan mengangkatnya menjadi bagian dari keluarga?" tanya Berlin tampak sedikit sedih untuk bertanya dan mendengarkan jawabannya.
__ADS_1
Prawira sedikit tersentak dan tertawa kecil mendengar pertanyaan itu tercetus di pikiran Berlin. "Aku tidak pernah mengadopsi siapapun, Berlin," jawabnya.
"Memang benar aku yang membawa Nadia keluar dari panti asuhan itu, tetapi aku tidak mengadopsinya, atau bahkan mengangkatnya menjadi bagian dari keluarga." Prawira langsung menjelaskan secara gamblang soal dirinya dengan Nadia kepada Berlin. Wajar bagi dirinya mendengar pertanyaan itu terlintas di pikiran Berlin.
"Aku hanya membawanya dengan tujuan akademi kepolisian, dan itupun aku hanya ingin membantu harapan kecil yang dimiliki oleh Nadia yang ingin bercita-cita menjadi seorang polisi wanita," jelas Prawira kembali.
Namun sepertinya penjelasan Prawira yang terakhir justru membuat Berlin sedih dan merasa bersalah kepada dirinya sendiri. Dirinya merasa bersalah, karena gara-gara dirinyalah yang membuat Nadia kehilangan profesi yang dicita-citakan itu.
"Sudah jelas, 'kan?" tanya Prawira memastikan.
Berlin mengangguk dan tersenyum tipis. Dirinya merasa puas bisa mendapatkan semua kejelasan ini. Kini tidak ada lagi yang mengganjal pikirannya, dan tidak ada lagi pertanyaan-pertanyaan yang selalu mondar-mandir di pikirannya soal keluarga dan masa lalunya.
"Tenang saja, Berlin. Tentu kau bisa melanjutkan hubunganmu dengan Nadia, kok," celetuk Garwig dengan nada sungguh menyindir Berlin.
Prawira mengangguk setuju dengan perkataan Garwig, "bahkan sebagai penanggung jawabnya, aku merestui hubungan kalian berdua, kok!" timpal Prawira tanpa basa-basi.
"Tu-tunggu! Apa maksudnya?" Berlin dibuat salah tingkah setelah mendengar semua perkataan itu.
"Walau umurmu bisa dibilang masih sangat muda, tetapi ... mungkin untukmu ... lebih cepat lebih baik. Bagaimana, Berlin?" sambung Garwig yang justru semakin membuat Berlin salah tingkah.
"Anu ... um ..., A-aku ... sebenarnya sudah terpikirkan untuk ke sana, kok," ucap Berlin tampak cukup salah tingkah ketika mengucap.
Prawira tiba-tiba sedikit memukul punggung Berlin dengan pelan dan mengatakan, "santai saja, kau bisa pikirkan itu sambil jalan."
"Betul itu! Karena jenjang selanjutnya akan menjadi jenjang yang sangat berat, dan harus siap ditempuh oleh kalian berdua," timpal Garwig dengan sikap sudah seperti menasihati seorang pemuda.
"Ya yang penting, kau harus memberikan kepastian, sih. Jika tidak, kasihan Nadia pasti menunggu kepastian itu," sela Prawira dengan nada sedikit bergurau kepada Berlin.
"Ingat juga untuk tetap menjaga perasaannya, jangan sampai kau sakiti dirinya! Asal kau tahu saja, Nadia itu hatinya rapuh dan mudah untuk tersakiti," lanjut Prawira menasihati Berlin.
"Iya, aku tahu," sahut Berlin tersenyum dengan sendirinya.
.
"Terima kasih, terima kasih atas semuanya," lanjutnya berterimakasih kepada Garwig dan Prawira.
.
Bersambung.
__ADS_1