Mafioso In Action

Mafioso In Action
Ingin Terus Bersamanya #56


__ADS_3

Pukul 19:00 malam


Ruang Rapat Kantor Polisi Pusat.


Malam ini, Garwig membuat pertemuan dengan beberapa anggota keluarganya yang juga termasuk sebagai perwira tertinggi dalam kepolisian.


Total ada delapan orang di ruang rapat itu, termasuk dengan dirinya dan juga James. Walau James bukan bagian dari keluarga Gates, namun James memiliki peran yang juga penting dan membuat Garwig harus menghadirkannya dalam pertemuan ini.


"Sudah hadir semua, ya ?" tanya Garwig saat duduk di kursi terdepan.


"Sudah," jawab Prawira yang duduk di samping kirinya.


"Baik !" Tanpa basa-basi Garwig langsung kepada intinya untuk menjelaskan mengapa dirinya mengumpulkan rekan-rekannya. "Kita akan membicarakan soal ide penyergapan yang dipunyai oleh Prawira," ucap Garwig membuka pembicaraan.


"Seperti yang sudah kita ketahui, Bukit Sunyi adalah tempat yang diduga markas atau persembunyian dari Mafioso. Kita tidak bisa membiarkan mereka terus-menerus, dan sudah menjadi tugas kita untuk menuntaskan semua kasus ini." Prawira berbicara di depan rekan-rekannya sembari berdiri di depan peta yang tertempel pada sebuah papan pada depan ruangan.


.


"Cepat atau lambat, kita harus segera membungkam mereka !" lanjut Prawira.


Rekan-rekannya terlihat menyimak Prawira dengan saksama, dan mereka terlihat sangat setuju dengan rencana yang disampaikan oleh Prawira.


"Selama tiga hari, saya minta semua anggota dari setiap divisi harus segera siap untuk melakukan misi penyergapan ini !" ucap Prawira dengan tegas.


Siska mengangkat satu tangannya yang menandakan ingin berbicara. Prawira pun mempersilakannya. "Tiga hari ? Bukannya itu terlalu cepat ?" ucapnya.


"Iya, minimal empat hari, lah," sahut Tambun.


"Baiklah," jawab Prawira.


"Namun jika kita tidak cepat, takutnya ... mereka akan mendahului kita," cetus Garwig dengan santainya.


"Ya, benar apa yang dikatakan oleh Garwig," lanjut Prawira kembali duduk di kursinya.


"Netty, bagaimana dengan perlengkapan yang ada ?" tanya Prawira kepada Netty yang selalu berdiri di sampingnya.


.


"Semua perlengkapan masih sangat mencukupi, mungkin dari para rekan anggota saja yang perlu dipersiapkan," jawab Netty membuka dan melihat kembali buku catatan yang selalu ia bawa.


"Aku akan mengurus rekan anggotanya, apa keberatan ?" tanya Flix.


.


"Saya akan membantu !" sambung Tambun


"Baik, aku percayakan itu pada kalian berdua," jawab Prawira.


"Mungkin saya membutuhkan satu anggota untuk membantu bagian pasokan nantinya ?" cetus Netty.


Dengan mengangkat satu tangannya, Siska pun langsung mengajukan diri untuk membantu Netty. Namun Prawira melarangnya dengan berkata, "tidak bisa !" ucapnya dengan tegas.


.


"Maaf, Siska. kami tetap membutuhkanmu untuk memonitor lokasi dari kantor pusat !" lanjut Prawira.


"Terakhir, mungkin kita harus membentuk tim pengintai untuk memantau dan mencari informasi tentang lokasi itu ?" cetus Garwig bersandar dengan santai di kursi miliknya.


"James, kami membutuhkanmu !" sahut Prawira yang lalu memberikan tugas itu kepada James.


James berdiri dengan tegap dan menjawab, "siap, Pak. Saya akan mengumpulkan anggotanya !"


"Prime, silakan persiapkan anggotamu juga !" titah Prawira kemudian kepada Prime.


"Ten-Four, Pak !" jawab Prime dengan tegas.


.


20 menit kemudian.


.


Rapat tersebut pun akhirnya selesai. Semua tugas sepertinya sudah terbagikan secara merata kepada semua rekannya. Kini Prawira tinggal harus memikirkan strateginya matang-matang, karena dirinya tidak begitu menahu tentang kondisi medan yang ada di perbukitan Bukit Sunyi itu.


Namun beruntung Prawira akan dibantu oleh Garwig untuk memikirkan strategi penyergapan yang akan dilakukan. Di sisi lain Prawira tetap memberikan komando utama kepada Garwig, karena mau bagaimanapun posisi jabatan Garwig lebih tinggi daripada dirinya.


Prawira kembali ke ruang kerjanya dengan pikiran yang sepetinya akan meluap. Selain memikirkan strategi penyergapan. Prawira juga memikirkan soal tim pengintai yang dimiliki oleh James, karena mencari personil untuk tim pengintai sangatlah sulit. Karena tingkat dan resiko bahayanya yang sangat tinggi.

__ADS_1


"Tim Pengintai ? Aku ragu kalau James bisa mengumpulkan personilnya," cetus Garwig saat berjalan masuk ke ruangan milik Prawira, dan duduk di sofa pada ruangan tersebut.


"Aku harap dia berhasil mengumpulkan anggotanya," sahut Prawira dengan nada dan sikap yang terlihat cukup pesimis.


"Jika tidak terkumpul, aku akan memilih langsung anggotanya !" ucap Garwig dengan sangat tegas.


Namun Prawira tidak yakin dengan anggota yang secara terpaksa dan sepihak dipilih oleh Garwig, mengingat kesempatan tim pengintai untuk dapat kembali pulang sangatlah rendah.


"Semoga kau berhasil untuk mengumpulkan personilmu, James," batin Prawira berharap.


.


~


.


Di keesokan harinya.


Pukul 15:00 sore hari.


Lapangan Tembak Kediaman Gates.


DOR ... DOR ... DOR ...!


Berkali-kali suara tembakan terdengar dari pelatuk pistol yang ditarik oleh Nadia. Peluru-peluru karet itu melesat sangat cepat mengarah ke papan sasaran yang letaknya cukup jauh dari posisi Nadia berdiri. Semua peluru telah ia buang dan tembak, namun hanya beberapa peluru saja yang dapat mengenai papan sasaran.


"Huft !" Nadia menghela napas kasar. Tetapi dirinya langsung kembali mengisi amunisi pistolnya, dan tidak berhenti mencoba begitu saja.


Nadia berlatih secara diam-diam tanpa sepengetahuan Berlin kalau dirinya menggunakan lapangan tembak ini. Terlihat, ia berlatih sangat keras dan tidak pernah berhenti mencoba untuk menembak tepat mengenai sasaran.


"Aku ... ingin ... berada di sisinya !"


"Aku ... ingin ... bisa melindunginya !"


"Aku ... ingin ... berguna untuknya !"


Kata-kata itu terus berulang terlontar dari mulut Nadia sembari ia terus berlatih dengan sangat keras. Ambisinya benar-benar tidak dapat terbendung, dan ia terlihat sangat serius dalam berlatih.


DOR ...!


Rasa lelah sangat dapat dirasakan Nadia, beriringan dengan keringat yang mulai bercucuran. "Aku ... ingin ... terus bersamanya," gumamnya yang lalu melakukan tembakan terakhir sebelum pistol miliknya kehabisan amunisi.


Peluru terakhirnya akhirnya dapat dengan telak mengenai sasaran, dan membuat papan sasaran itu jatuh dengan sangat keras mencium tanah. Namun tubuh milik Nadia pun serasa juga ingin ikut ambruk pingsan akibat saking lelahnya. Karena tidak dapat lagi menjaga keseimbangannya, alhasil tubuhnya pun oleng dan terjatuh kebelakang diiringi rasa pusing yang dapat dirasakan.


SET ...!


Tiba-tiba saja dari belakang ada seseorang yang menangkapnya dan seolah menopang tubuhnya agar tidak terjatuh.


"Eh ?" gumam Nadia dengan tatapan sedikit nanar dan memaksakan untuk menjaga kesadarannya.


"Astaga, aku cari kemana-mana, ternyata kamu di sini," ucap seseorang itu yang suaranya sangat ia kenal, yaitu ternyata adalah Berlin.


"Ber ... lin ...?" gumam Nadia yang lalu kehilangan kesadarannya karena sudah terlalu kelelahan.


Berlin pun langsung menggendong dan segera memindahkan Nadia yang tidak sadarkan diri ke atas sofa yang cukup empuk di ruang tengah.


"Padahal kamu yang mengingatkan ku untuk tidak memaksakan diri, tetapi malah kamu sendiri yang memaksakan diri," gumam Berlin dengan sendirinya sembari perlahan mengusap dan mengelus kepala milik kekasihnya itu yang tengah terbaring lemas di sofa.


.


5 menit kemudian.


.


"Akhirnya, kamu sudah sadar," cetus Berlin saat Nadia membuka matanya perlahan.


Nadia pun langsung bangkit dan ingin segera beranjak dari sofa tersebut. Namun Berlin menahannya dan berkata, "kamu masih perlu istirahat, jangan banyak bergerak dahulu !" titahnya kepada Nadia dengan nada yang sungguh lembut.


Berlin pun memberi Nadia air minum pada botol yang sudah ia bawa dan simpan. Setelah selesai meminumnya. Nadia kembali berbaring di sofa tersebut. Dirinya merasa tidak enak hati karena telah merepotkan Berlin. Tanpa basa-basi ia langsung meminta maaf, "maaf, aku malah jadi merepotkan mu," ucapnya namun tidak berani menatap langsung mata milik Berlin yang terlihat cukup dingin menatapnya.


Berlin menyadari hal itu, kalau tatapannya justru malah membuat Nadia takut untuk menatapnya. Ia tersenyum kecil sembari terus mengusap kepala milik Nadia, dan sesekali memainkan rambutnya. Dirinya benar-benar memperlakukan Nadia seperti anak kecil.


"Aku kan pernah bilang, tidak ada kata merepotkan bagiku untukmu," ucap Berlin dengan lembutnya.


Nadia sedikit terkejut ketika kepalanya diusap oleh lelakinya itu. Namun dirinya malah merasa nyaman, diikuti dengan pipinya yang mulai merona seperti terlalu banyak memakai blush-on. Terlebih lagi dengan cara berbicara Berlin barusan yang terkesan sedang merayu dirinya.


"Lagian kamu berlatihnya nggak ajak aku, sih," celetuk Berlin dengan nada dan cara berbicara sedikit sebal.

__ADS_1


.


"Untung aja aku cepat ke sini, kalau tidak mungkin kamu bisa pingsan di sana lebih lama," lanjutnya.


"Ehehehe," Nadia tertawa kecil menertawakan dirinya sendiri. "Maaf, aku sudah sengaja seperti itu," ucapnya kembali meminta maaf sembari bangkit memposisikan dirinya untuk duduk dan bersandar di sofa.


Berlin yang sebelumnya duduk di atas lantai, kini berpindah duduk tepat di samping Nadia. "Ngomong-ngomong, apa yang kamu ucap selama berlatih di sana tadi ?" cetus Berlin bertanya.


"Eh ? Ng-nggak, nggak ada, kok ! Mungkin cuma perasaanmu saja," sahut Nadia dengan cukup kikuk.


"Perasaan hampir tidak pernah salah, 'kan ?" sahut Berlin.


.


"Jangan kira aku tidak dengar, kamu sendiri yang mengucapnya dengan cukup keras tadi," lanjutnya dengan melirik Nadia.


Nadia terunduk dan sangat dibuat malu ketika mendengarnya, kalau Berlin ternyata mendengar semua ucapannya selama berlatih sendirian. Bahkan dirinya sendiri tidak sadar kalau telah mengucap semuanya dengan keras. "Perasaan ... aku tidak keras-keras saat mengucap semua itu tadi ?" batin Nadia.


"I-iya, a-aku ... mengaku dan ... tidak bisa mengelak lagi," ucap Nadia dengan sungguh pelan sembari terus menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah tampak merona.


"Jadi begitu, ya ?" sahut Berlin dengan nada sungguh pelan.


Nadia langsung menoleh dan menatap Berlin dengan tatapan bingung. "Begitu ? Maksudnya apa ?" pertanyaan itu tercetus dalam benak Nadia.


"Semua kata yang kamu ucapkan saat di sana, itu juga diucap oleh hatiku. Aku tidak ingin jauh darimu, apalagi dengan semua masalah dan ancaman yang belum terselesaikan ini," ucap Berlin sembari memandang ke arah langit-langit ruangan yang tampak terdapat cukup banyak lampu yang menerangi.


.


"Dan apalagi ... mengingat ... aku yang membawakan mu semua masalah itu," lanjutnya yang lalu sedikit tertunduk karena merasa bersalah.


Nadia tersenyum dan merasa senang setelah mendengar apa yang diucap oleh Berlin baru saja. Walau begitu, dirinya tidak pernah menyalahkan Berlin. Di sisi lain, dirinya malah merasa senang karena dapat memiliki banyak waktu untuk berduaan dengan Berlin.


...


"Oh iya, aku tanya sesuatu boleh ?" cetus Berlin menoleh kepada Nadia.


Nadia mengangguk menjawab, "tanya apa ?"


"Terakhir ... rumah ini aku kunci deh, tetapi kenapa kamu bisa masuk ?" tanya Berlin menatap Nadia dengan tatapan sinis.


Nadia langsung dibuat mati kutu dengan pertanyaan tersebut. Dirinya memang tidak bisa berbohong lagi. Jadi ia harus menjawab dengan jujur.


"Um, se-sebenarnya ... aku mencuri ini dari mu," jawab Nadia dengan tertunduk dan sedikit terbata-bata saat mengucap. Ia mengambil dan menunjukkan sebuah kunci rumah yang ia simpan di sakunya kepada Berlin.


"Oh, jadi sekarang ... kamu sudah berani nakal dengan mencuri barang dari ku, ya ?" sahut Berlin mengambil kunci tersebut dari tangan Nadia. Nada bicaranya terdengar sedang marah, dan itu membuat Nadia terdiam.


"Ka-kamu ... marah, ya ? A-aku benar-benar meminta maaf, aku melakukannya hanya sekali ini, kok," cetus Nadia kembali meminta maaf atas perbuatannya dengan kepala masih tertunduk karena tidak berani menatap Berlin.


Nadia terlihat takut kalau Berlin benar-benar marah kepadanya. Karena ia tidak ingin Berlin marah dan bersikap dingin kepadanya. "Berlin, kumohon jangan marah, aku tidak ingin kamu jadi cuek kepadaku," batin Nadia dengan masih menunduk untuk menyembunyikan wajahnya di hadapan Berlin.


Berlin terkekeh sendiri melihat sikap yang ditunjukkan Nadia padanya. Ia langsung meraih dan memeluk Nadia seraya berkata, "aku nggak marah, kok. Lagian cuma masalah kecil."


"Kamu nggak bohong, 'kan ?" sahut Nadia sedikit mendongak untuk menatap Berlin.


"Iya, aku tidak berbohong," jawab Berlin menatap kembali Nadia sehingga membuat keduanya beradu pandang.


.


"Lagian, sulit juga bagiku untuk marah kepadamu," lanjutnya.


"Bagus, deh !" sahut Nadia tersenyum manis kepada Berlin sebelum dirinya tenggelam dalam dekapan yang diberikan oleh Berlin padanya.


Setelah beristirahat sudah cukup lama. Nadia terlihat sangat bersemangat untuk bisa kembali berlatih lagi.


"Bisakah kita mulai berlatih ?!" cetus Nadia kepada Berlin. Semangatnya benar-benar tidak bisa terbendung, bahkan Berlin tidak bisa membendung semangat tersebut.


"Baiklah, tetapi jangan memaksakan diri, oke ?" jawab Berlin.


"Iya, ayo !" sahut Nadia beranjak dari sofa dan langsung menarik tangan Berlin.


"Benar-benar tidak biasanya kamu seperti ini," gumam Berlin saat berjalan mengikuti Nadia dengan tangan yang masih saja terus menariknya.


"Emang salah, ya ? Padahal kamu sendiri yang mau untuk melatih ku," sahut Nadia menoleh kepada Berlin di belakang sembari terus berjalan.


Berlin hanya bisa terdiam dan menuruti kemauan dari kekasihnya itu. Walau dirinya sedikit bingung dengan semangat yang dimiliki oleh Nadia. Tetapi menurutnya itu tidak menjadi masalah.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2