Mafioso In Action

Mafioso In Action
Pulau yang tak Terpetakan? #95


__ADS_3

Empat hari kemudian, pukul 12:00 siang.


Kantor Penjagaan Pelabuhan Tenggara.


"Izin melaporkan! Kami mendapati dua kapal cepat Predator berwarna putih melintas masuk melalui perbatasan secara ilegal."


Prime mendengar dan menerima laporan tersebut dari anggotanya yang berjaga di sana. Dirinya langsung memberikan perintah, "tindak tegas!" titahnya melalui radio komunikasi. Tak hanya diam diri saja di kantor penjagaan. Prime segera menuju ke kapal cepatnya, dan segera meluncur ke lokasi.


~


Di tengah laut tampak lima kapal penjaga sedang mengejar dua kapal ilegal yang dimaksud itu. Pengejaran itu sepertinya sedang berlangsung, dan Prime bisa melihatnya meski dari kejauhan.


"Jika tidak mau berhenti, berikan tembakan peringatan! Tidak perlu khawatir, ini masih berada di wilayah kita!" pinta Prime memberikan arahannya kepada anggota-anggotanya yang sedang mengejar dua kapal asing tersebut.


"Izin memberikan peringatan, pak!" seru satu anggotanya melalui radio.


DOR ... DOR ...!


Dua tembakan terdengar cukup mempengangkan telinga, dan seketika situasi lautan itu menjadi cukup menegangkan lantaran dua kapal tersebut masih saja melaju terus ke arah Tenggara.


"Mereka terus melaju tanpa henti keluar dari perbatasan," lapor salah satu anggotanya melalui radio komunikasi.


Mengetahui dua kapal asing itu akan melarikan diri keluar dari wilayah teritorial. Prime pun mengambil keputusan akhir untuk mengakhiri pengejaran di atas air itu. "Tenggelamkan ..!" pintanya melalui radio seraya terus mengemudikan kapalnya dengan memacu kecepatan penuh.


DUARR ...!!!


Tiba-tiba ledakan pun terjadi tepat saat Prime tiba di lokasi pengejaran dan titik akhir di mana otoritasnya berlaku. Kapal berwarna putih itu hancur berkeping-keping akibat satu rudal yang diluncurkan. Namun sepertinya satu kapal lagi berhasil melarikan diri dengan melewati perbatasan.


"Periksa dan bersihkan kapal hancur itu!" pinta Prime melalui radionya.


"Semoga saja ... keputusanku tadi adalah keputusan yang tepat," batinnya ketika melihat kapal yang berapi-api dan hancur itu, dan satu kapal lagi yang berhasil lolos.


.


~


.


Di waktu yang sama di Kantor Polisi Pusat. Garwig menerima laporan masuk dari Prime mengenenai pengejaran yang sempat terjadi di perbatasan laut Tenggara.


"Satu kapal cepat Predator hancur, dan dua orang ditemukan selamat namun dalam keadaan luka berat. Kedua orang tersebut sedang mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit pelabuhan." Garwig membaca laporan tersebut.


"Selamat, ya?" gumamnya sendiri dan berpikiran untuk mengintrogasi dua orang selamat itu.


"Prawira, bisakah ke bertemu di ruanganku?" tanya Garwig kepada Prawira melalui radio komunikasinya.


"Baik," jawab Prawira.

__ADS_1


Tak perlu menunggu waktu lama. Prawira langsung tiba di ruangan kerja milik Garwig. "Aku akan pergi ke kantor penjagaan pelabuhan, aku ingin ke rumah sakitnya dan melihat langsung dua orang itu," ucap Garwig beranjak berdiri dari kursinya dan berhadapan dengan Prawira.


"Baik, saya akan ambil alih di sini," sahut Prawira.


"Prawira, tolong hubungi Ashgard soal ini!" pinta Garwig. Garwig juga meminta beberapa hal kepada Prawira untuk memberitahukan hal-hal penting kepada Ashgard.


"Baik, pak!" jawab Prawira mengangguk.


Garwig pun langsung pergi keluar dari ruangannya dengan meninggalkan Prawira di sana. Dirinya segera menuju ke atap kantor polisi, dan memilih jalur udara dengan menggunakan helikopter milik kepolisian agar cepat sampai ke tujuan.


~


Pukul 12:30 siang.


Pelabuhan Tenggara.


Garwig mendaratkan helikopternya pada landasan helikopter yang terdapat pada kantor penjagaan pelabuhan tersebut. Setelah itu dirinya langsung disambut oleh Prime yang sudah menunggu di tepi landasan.


"Selamat datang, mari ikuti saya," ucap Prime menyambut kedatangan Garwig seorang saat turun dari kursi pilotnya.


Garwig pun berjalan mengesampingi Prime menuju ke rumah sakit pelabuhan tersebut, tempat di mana dua orang itu sedang mendapatkan pertolongan pertama dan perawatan intensif.


Tampak banyak sekali aparat berjaga ketat di setiap titik dan sudut tempat itu, ditambah lagi saat kedatangan Garwig di sana. Kantor Penjagaan Pelabuhan dan Rumah Sakit Pelabuhan itu benar-benar dijaga sangat ketat.


"Apa mereka mengatakan sesuatu? Dan apakah kau sudah menanyakan beberapa hal?" tanya Garwig ketika berjalan bersama Prime menyusuri lorong rumah sakit tersebut.


"Tidak, mereka benar-benar bungkam, dan seolah mereka terlatih untuk patuh menjaga rahasia," jawab Prime.


.


~


.


Pukul 13:00 siang.


Bengkel Ashgard.


Terlihat semua personel Ashgard tengah bersantai-santai di bengkel yang dijadikan markas tersebut. Begitu juga dengan Asep yang tampak bersantai di ruang kerja dan di depan layar komputernya sembari memainkan permainan pada layar komputernya.


"Tembak di kepala, lah! Itu apa coba?! Tembakanmu cuma mengenai badan, itu tidak langsung membuatnya terbunuh," celetuk Adam berjalan masuk dan bersandar pada pintu ruangan milik Asep. Ia tampak mengomentari cara bermain Asep ketika memainkan permainan tentang tembak-tembakan pada layarnya monitornya.


"Berisik! Lihat dan pelajari sang ahli bermain!" sahut Asep lalu menunjukkan kemampuannya dengan membunuh lima musuh sekaligus dalam waktu sangat dekat, dan kelima musuh tersebut terkena tembakan tepat di kepala mereka.


"Yeah! Kau lihat itu, 'kan?" sorak Asep berselebrasi atas keberhasilannya dan memutar kursinya untuk menatap Adam.


Adam hanya tersenyum tipis dan berkata, "boleh juga."

__ADS_1


"Dasar laki-laki!" gerutu Kimmy menghampiri dengan geleng-geleng kepala menyela keasyikan dua rekannya.


Asep hanya tertawa kecil, sedangkan Adam hanya tersenyum mengetahui Kimmy mendatanginya.


"Kita mendapatkan sesuatu dari Prawira, dia barusan mengirimkan beberapa informasi yang mungkin penting kepada kita," ucap Kimmy kemudian menunjukkan pesan yang Prawira kirim melalui ponsel genggamnya.


"Angka koordinat?" cetus Adam melihat terdapat angka-angka yang cukup tidak asing baginya pada isi pesan tersebut.


Isi pesan tersebut cukup singkat, namun penting. Dalam pesan itu juga terdapat beberapa angka mencurigakan yang kemungkinan adalah angka dari sebuah koordinat.


"Sep, coba cek koordinat ini!" pinta Kimmy memberikan ponselnya.


"Baiklah," sahut Asep menerima ponsel tersebut. Dirinya kembali pada layar monitornya untuk menutup permainan yang ia mainkan, dan kemudian tampilan layarnya dipindahkan pada sebuah peta untuk mencari atau melacak titik koordinat tersebut.


"Koordinat ini tidak ada dalam peta nasional," gumam Asep terus mencoba mencari letak lokasi pada koordinat itu. Dirinya terus mencocokkan kembali koordinat pada layar komputernya dengan koordinat pada pesan yang dikirimkan oleh Prawira.


"Mungkin aku akan coba menggunakan peta internasional," ucapnya yang lalu mengganti peta pada layar monitornya.


Kimmy dan Adam hanya memperhatikan rekannya bekerja. Mereka tampak melihat dengan saksama layar monitor milik Asep.


"Nah, ada di sini!" Tidak perlu menunggu waktu lama, Asep langsung menemukan di mana lokasi koordinat itu berada.


"Tunggu, tetapi tidak ada apapun di sana, 'kan? Atau mataku yang salah lihat?" sahut Adam.


"Iya, hanya ada laut," timpal Kimmy melihat hal yang sama dengan Adam.


"Iya juga, ya?" gumam Asep mencoba untuk memperbesar tampilan layarnya pada lokasi koordinat itu berada. Namun tetap saja, yang ditampilkan pada peta itu hanyalah lautan berwarna biru tua.


"Sebentar, tetapi dahulu aku pernah melihat ada sebuah pulau di sini. Namun kenapa sekarang pulau itu tidak ada dalam peta internasional?" gumam Asep tampak berpikir akan keanehan tersebut.


"Yang benar saja kau?" sahut Adam.


"Iya, aku yakin sekali!" sahut Asep begitu yakin. Tiba-tiba saja terlintas ide untuk mengubah versi peta internasional itu ke versi lama dan bukan versi terbaru.


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Kimmy memperhatikan Asep yang tampak begitu terampil ketika mengendalikan komputer tersebut.


"Aku hanya ingin memastikan sesuatu," jawab Asep dengan pandangan terus tertuju pada layar monitornya.


"Nah, tuh 'kan ada! Apa ku bilang?" seru Asep secara tiba-tiba.


Ketika versi peta tersebut berhasil diubah oleh Asep. Kimmy dan Adam cukup dibuat terkejut dengan munculnya sebuah pulau pada koordinat yang dikirimkan oleh Prawira.


"Pulau?" gumam Kimmy.


"Dan pulau itu tepat berada di luar perbatasan kita?" timpal Adam.


"Sudah ku duga ada keanehan dengan versi terbaru peta internasional itu," gumam Asep.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2