Mafioso In Action

Mafioso In Action
Keinginan #46


__ADS_3

Setelah dilakukannya pertemuan dan sedikit rapat di hari sebelumnya. Kini di keesokan harinya, Prawira mendapatkan perintah atau tugas tegas dari Garwig untuk lebih memperketat keamanan kota dan perbatasan. Perintah itu langsung diberikan kepada Prawira oleh Garwig, dan wajib untuk dijalankan di dua wilayah berbeda lainnya.


"Sudah dijalankan ?" tanya Garwig kepada Prawira di ruangannya.


"Siap ... sudah !" jawab Prawira dengan memberikan hormat kepada Garwig dengan cara membungkukkan badan di hadapan Garwig.


"Bagus. Sekarang ... aku ingin kau mendalami ... serta mencari tahu apapun tentang nama ini ...!" perintah Garwig kepada Prawira dengan menunjukkan sebuah nama yang ia catat di buku catatan pribadinya.


Prawira pun menegapkan kembali tubuhnya, dan mengambil serta membaca sebuah nama yang tertulis pada buku catatan tersebut.


Garwig terlihat seperti mengetahui dan merasakan sesuatu yang tidak dirasakan Prawira. Ia terlihat begitu gelisah dari yang sebelumnya, setelah mendapatkan catatan laporan yang diberikan oleh Berlin kepadanya. Serta mengingat kembali masalah keluarga besarnya yang bersangkutan dengan keluarga lain.


"Nama ini ... tidak asing ...." Prawira terdiam sejenak setelah membaca sebuah nama yang ada di buku catatan tersebut. Dirinya merasa pernah mendengar tentang nama dan siapa orang di balik nama tersebut. Namun dirinya benar-benar lupa, karena sepertinya sudah sangat jauh lama sekali dirinya tidak lagi mendengar nama itu.


"Kau pasti lupa, dan mungkin sudah melupakan masalah kita pada seseorang di balik nama ini," celetuk Garwig.


"Ya, nama ini benar-benar tidak asing bagiku," sahut Prawira setelah membaca nama tersebut, dan menghadap ke arah Garwig yang duduk di kursinya.


"Wajar saja, karena masalah itu sudah sangat jauh lama sekali berlalu," sambung Garwig.


"Tetapi, bagaimana dengan Kibo dan Bagas ?" tanya Prawira.


"Kita tidak perlu begitu mengkhawatirkannya, karena mereka berdua tidak begitu berbahaya dibandingkan dengan orang di balik nama ini !" jawab Garwig dengan sangat yakinnya.


.


"Soalnya ... orang dibalik nama ini ... seharusnya ... waktu itu tidak kita lepas begitu saja, dan juga ... seharusnya ... kita tidak setuju serta mengikuti permintaan mereka saat perundingan itu dilaksanakan," lanjutnya.


Garwig benar-benar sangat yakin dengan keputusan yang ia buat dan ambil. Karena dirinya telah mengingat kembali keluarga besarnya yang bermasalah dengan keluarga lain, yang tak lain lagi adalah keluarga milik seseorang yang ia maksud.


"Baik, laksanakan !" dengan tegas Prawira menerima tugas mulia tersebut, dan siap memberikan tanggung jawabnya.


"Aku berharap banyak padamu, Prawira. Karena ... jujur saja ... aku takut ... dengan orang ini, bila dia melakukan apa yang sudah aku prediksikan," cetus Garwig dengan ekspresi benar-benar cemas bercampur ketakutan terhadap seseorang yang ia maksud.


"Dan yang paling penting juga, jangan beritahukan hal ini kepada yang lain ... mau kepada siapapun itu !" lanjut Garwig dengan sangat tegas.


Melihat ekspresi tersebut. Prawira dapat memahami satu hal yang sangat penting, yaitu berarti seseorang yang Garwig maksudkan itu bukanlah orang biasa.


"Siap, akan ku usahakan semaksimal mungkin !" sahut Prawira dan kembali memberikan hormat kepada Garwig dan lalu berjalan keluar ruangan.


Sesaat setelah Prawira pergi. Dengan memandangi langit-langit ruangan, Garwig tiba-tiba bergumam dengan sendirinya, "aku juga berharap banyak ... dan sangat percaya padamu, Berlin."


.


~


.


Di siang hari yang sangat cerah walau dengan cuaca yang sedikit berawan ini. Berlin terlihat sedang sibuk bersenang-senang menemani Nadia yang sedang berjalan-jalan di taman kota.


Suasana di taman itu cukup ramai akan orang, namun juga tidak terlalu ramai. Nampak, banyak orang tengah menghabiskan waktu mereka bersama dengan orang-orang berharga mereka di taman tersebut.


"Kamu suka banget ... jalan-jalan di taman," ujar Berlin saat berjalan berdampingan dengan Nadia.


"Karena ... aku suka dengan suasananya," jawab Nadia dengan tenangnya sembari melihat ke sekeliling dan ke arah kolam ikan yang terletak di tengah taman.


"Tunggu !"


"Hahaha, kejar aku kalau bisa !"


"Tunggu aja, aku akan menangkapmu !"


"Hahaha, coba saja !"


"Awas di depan mu !"


BUK !


Di tengah Berlin sedang berjalan mengelilingi kolam ikan tersebut. Tiba-tiba saja secara tidak sengaja dirinya ditabrak oleh seorang anak laki-laki yang berlari ke arahnya tanpa melihat keberadaannya.


"Kamu tidak apa-apa ?" cetus Berlin yang langsung spontan memegangi tangan anak tersebut agar tidak terjatuh ke kolam.

__ADS_1


.


"Kamu baik-baik saja, 'kan ?" sambung Nadia terlihat sedikit kaget dengan seorang anak yang tiba-tiba menabrak Berlin.


"Tuh kan, padahal sudah aku peringatkan untuk melihat ke depan ketika berlari !" ucap seorang anak perempuan yang datang menyusul dan kelihatannya teman dari anak laki-laki tersebut.


"A-aku ... minta maaf, Kak !" anak laki-laki itu langsung tertunduk dengan canggungnya dan terlihat sedikit takut terkena marah, dirinya langsung meminta maaf kepada Berlin yang sudah ia tabrak.


"Iya, tidak apa-apa," jawab Berlin dengan sikap yang sangat ramahnya, dan lalu melepaskan tangan anak tersebut.


.


"Kamu tidak ada yang terluka, 'kan ?" lanjut Berlin.


Anak laki-laki itu hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya sembari tertunduk dan terdiam. Berlin tersenyum melihat sikap itu, karena menurutnya sikap yang ditunjukkan oleh anak itu terlihat cukup lucu baginya.


"Lain kali, lihat sekeliling mu ketika berlari dan bermain, ya ?" sambung Nadia sedikit membungkukkan dirinya, dan lalu tersenyum lebar pada kedua anak tersebut.


"Ba-ba-ba-baik, Kak," jawab kedua anak tersebut dengan sikap polosnya yang justru terlihat lucu. Setelah menjawabnya, kedua anak laki-laki dan perempuan itu langsung berlari pergi.


"Astaga, ada-ada aja ...," gumam Berlin sedikit menggelengkan kepalanya setelah itu. Nadia sedikit tertawa kecil setelah apa yang baru saja terjadi pada Berlin.


...


Setelah berjalan mengelilingi kolam yang cukup luas itu. Mereka berdua pun berjalan menghampiri dan duduk di sebuah bangku taman yang terletak di pinggir kolam.


"Huft ...!" saat duduk di bangku tersebut, Nadia menghela napas dan meregangkan otot-ototnya setelah berjalan mengelilingi kolam itu.


"Nih, kamu pasti haus, 'kan ?" Berlin mengambil dua botol kecil air minum yang ia simpan di saku, dan memberikan salah satunya kepada Nadia.


Nadia menerima botol tersebut, namun dirinya sempat terdiam sejenak. Karena ia merasa kalau dirinya pernah mengalami hal yang sama dengan Berlin beberapa tahun yang lalu.


"Te-terima kasih," Nadia pun langsung membuka dan meminumnya. Begitu pula dengan Berlin.


"Tunggu aku !"


"Ayo, cepat !"


Suara-suara teriakan gembira dan canda tawa di anak-anak yang sedang bermain di taman, terdengar sangat jelas bersahut-sahutan. Mereka terlihat sangat senang ketika menghabiskan waktu mereka untuk bermain-main di taman.


"Kenapa ?" Nadia menoleh dan menatap Berlin sembari bertanya padanya.


"Ah, tidak," jawab Berlin sedikit terkejut ketika mendapatkan tatapan tersebut.


"Apa kamu suka dengan anak-anak ?" lanjut Nadia dengan spontan bertanya demikian.


Berlin cukup terkejut ketika mendapatkan pertanyaan itu dari mulut Nadia langsung. Dirinya pun menjawab dengan sikap sedikit canggung, "yah ... tidak terlalu."


Nadia tersenyum senang saat mendengar jawaban tersebut keluar dari mulut Berlin. Memikirkan tentang anak-anak, Nadia jadi teringat tentang suatu tempat yang sangat berharga baginya.


"Melihat dan mendengar kegembiraan mereka ketika bermain, aku jadi teringat suatu tempat, dan mungkin ... itu tempat asalku," ujar Nadia sembari melihat ke arah anak-anak yang berlarian melewatinya.


"Rasanya ... aku ingin mengunjungi kembali tempat itu ...," lanjut Nadia yang sebenarnya perkataannya barusan ini tidak ia sadari keluar begitu saja dari mulutnya.


DEG.


Dengan menatap serius, Berlin tiba-tiba menggenggam salah satu tangan milik Nadia dan mengatakan, "kenapa tidak ? kita kunjungi saja tempat yang kamu maksud itu !" kata Berlin yang lalu tersenyum seakan paham sesuatu.


"Eh ?" Nadia terkejut. "Maaf, aku jadi ngelantur," ucapnya dan lalu tertawa kecil.


.


"Untuk yang itu ... tidak perlu ! Aku tidak mau membuat kamu sampai repot nantinya," lanjutnya dengan sedikit menunduk dan memalingkan wajahnya.


"Kemarin aku kan sudah bilang, aku akan menemanimu ke manapun !" ujar Berlin sembari memandang ke arah kolam yang terlihat cukup indah itu.


.


"Lagian ... aku melakukannya karena keinginan ku sendiri, jadi tidak ada kata merepotkan bagiku untukmu," lanjut Berlin menoleh dan menatap kekasihnya.


Nadia merasa senang mendengar hal itu. Dirinya pun mengatakan dan memberitahu tempat yang sangat ingin ia kunjungi itu kepada Berlin.

__ADS_1


"Jadi, sebenarnya ... aku sangat ingin bisa mengunjungi kembali tempat asalku, yaitu Panti Asuhan," ucap Nadia dengan sedikit tersenyum dan memandang ke arah anak-anak yang bermain di sekitar kolam.


Berlin sedikit terkejut saat Nadia mengatakannya, karena dirinya tidak begitu mengetahui tentang itu. Ia juga sedikit terpana dengan cara wanitanya itu berbicara dan dengan sikap lembutnya itu.


"Baiklah, di mana letak tempat itu ?" cetus Berlin setelah Nadia selesai berbicara.


Angin tiba-tiba berhembus cukup kencang dan menerpa tubuh Nadia, serta membuat rambut panjangnya sedikit terbawa angin. Dirinya benar-benar merasa terkejut senang ketika Berlin menanyakan hal tersebut.


"Sekarang juga ?" sahut Nadia dengan sedikit bersikap canggung dan tidak bisa menyembunyikan ekspresi bahagianya.


Berlin mengangguk pelan dan menatap langsung kedua mata yang tampak indah milik Nadia. Seketika Nadia sedikit tertunduk tersipu sesaat setelah pandangan mereka berdua saling beradu.


"Ya ... terserah kamu mau kapanpun itu, aku akan selalu siap untuk menemanimu !" jawab Berlin.


.


"Tetapi kalau kita ke sana, berarti ... kita harus membawakan sesuatu untuk anak-anak itu," lanjut Berlin sembari melipat lengan dan berpikir.


"I-iya juga, mereka pasti sangat senang jika kita ke sana dengan membawa hadiah," sahut Nadia dengan sedikit menunduk sembari menggenggam kedua tangannya yang berada di atas pahanya.


"Ya sudah, karena besok hari Minggu. Bagaimana kalau ... hari ini kita cari sesuatu semacam mainan dan semacamnya untuk mereka," ujar Berlin dengan semangatnya dan sikap yang sangat begitu berbeda dari yang biasanya.


"He'em !" Nadia mengangguk setuju pada Berlin. Ia merasa sangat senang karena dirinya akan kembali mengunjungi tempat yang sudah ia anggap sebagai rumah pertamanya.


Namun selain itu, Nadia juga merasa sangat senang. Karena dirinya mendapati perubahan sikap dari diri Berlin yang sangat menonjol dan lebih baik.


Di sisi lain, Nadia cukup terkejut dengan sikap ramah yang ditunjukkan oleh Berlin di saat ia tidak sengaja tertabrak oleh seorang anak kecil. Karena sikap yang sangat ramah itu jarang terlihat dari diri Berlin dibandingkan sikap tenang dan dingin yang paling sering ia tonjolkan.


...


"Hei, kenapa wajahmu memerah begitu ?" tanya Berlin ketika terus memandangi wajah kekasihnya yang amat cantik itu.


.


"Kamu nggak lagi sakit, 'kan ?" lanjut Berlin langsung memegang jidat milik Nadia dengan satu tangannya.


"Eh ... um ...." Nadia terlihat benar-benar terlihat sangat canggung, wajahnya terlihat begitu memerah ketika Berlin terus memandangi dirinya.


Nadia tiba-tiba menggeser untuk lebih dekat dengan Berlin, dan dengan perlahan menyandarkan kepalanya pada bahu milik lelakinya itu. Jantungnya benar-benar berdebar, dan dirinya cukup malu saat berada di situasi seperti itu.


"Dasar kamu ini ...!" cetus Berlin dan lalu sedikit merangkul pundak milik Nadia.


"Hehehe ...." Nadia seketika tertawa kecil. "Um ... ingat, kita berada di tempat umum. A-aku ... cukup malu ...!" ucapnya ketika lelakinya itu merangkul dirinya perlahan.


"Iya, aku tahu, kok," jawab Berlin dengan nada yang sungguh lembut.


.


~


.


Di tengah malamnya dan di ruangan pribadi yang sangat mewah milik Bos Besar. Carlos dipanggil untuk memberikan laporannya serta menghadap langsung kepada Sang Bos di markas mereka.


"Bagaimana pembaruan terkini ?" tanya Bos Besar kepada Carlos.


Carlos sedikit menunduk memberikan hormatnya, dan menjawab, "semua yang anda inginkan sudah terpenuhi," jawabnya dengan nada bicara yang sangat tenang dan santai.


"Apakah semua orang kita sudah tersebar ?" tanya Sang Bos kembali, yang duduk di kursi berharganya.


"Sudah ! Orang-orang kita sudah aku sebarkan ke segala wilayah dan setiap sudut kota," jawab Carlos dengan tenangnya, dan lalu menegapkan kembali tubuhnya.


"Berarti ... tinggal tahap terakhir, untuk melaksanakan rencana utama," ujar Sang Bos.


Walau rencana utamanya sudah tinggal memasuki tahap akhir. Namun, Sang Bos nampak cukup gelisah dan tidak tenang. Carlos menyadarinya dan menanyakan, "apakah semua baik saja ?"


"Rencana utama kita ... tentu akan bermusuhan dengan pihak keamanan kota, namun itu adalah masalah yang mudah bagi kita. Namun ... aku justru mengkhawatirkan ... kalau ... Berlin dan teman-temannya akan ikut campur dan menghambat kita," jawab Sang Bos sembari menopang dagunya di atas meja berlapis perak mengkilap miliknya.


"Jika begitu, aku sendiri akan menanganinya. Di sisi lain, aku juga memiliki urusan pribadi yang belum terselesaikan dengannya," sela Carlos dengan tegasnya.


"Baik, aku percaya padamu, jangan kecewakan aku !" sahut Sang Bos dengan tegas dan sikap yang sangat dingin.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2