
"Bagaimana kondisinya ?" tanya Asep berjalan menghampiri Kimmy yang berdiri di depan jendela dari ruang perawatan.
.
Kimmy hanya meresponnya dengan sedikit mengangkat kedua bahunya, serta menunjuk ke arah dari dalam jendela ruang perawatan yang berada di hadapannya. Saat Asep melihat ke arah kaca jendela dirinya dapat melihat temannya yaitu Vhalen, bersama seorang remaja laki-laki yang terbaring tak sadarkan diri dengan banyaknya alat-alat yang terpasang di tubuhnya.
Nadia yang berdiri di samping Kimmy dapat melihat kesedihan dan merasakan suasana sendu yang juga sangat dirasakan oleh Vhalen. Dirinya juga bisa melihat dengan jelas seorang remaja laki-laki yang terbaring lemah, dan dengan kondisi yang teramat lah buruk akibat ledakan.
"Kejamnya ...," gumam Nadia dengan mata yang cukup berkaca-kaca karena terbawa dengan suasana sendu di sekitarnya.
"Ya ... memang seperti itulah dunia ini, sangat kejam ...," sahut Rony yang duduk di ruang tunggu depan dari ruang perawatan tersebut.
"Apalagi saat berada dan menjalani kehidupan dalam dunia yang kelam ini ...," sambung Salva yang berjalan menghampiri tempat duduk, dan duduk di samping Rony.
.
...
"Maaf ... aku adalah kakak yang payah ... tidak bisa melindungi dan menjaga adiknya," gumam Vhalen dengan memperhatikan adiknya yang masih terbaring tidak sadarkan diri, dan dengan cukup banyaknya perban yang terbalut di kepala, tangan, dan kakinya.
Terlihat juga cukup banyaknya alat-alat medis yang tidak begitu Vhalen mengerti, terpasang di hampir sekujur tubuh dari adiknya itu.
Berkali-kali juga dirinya melihat ke sebuah alat pendeteksi denyut nadi yang terpasang di samping tempat tidur. Ia dapat melihat dengan sangat jelas denyut nadi dari adiknya yang bergerak naik turun, dan dirinya sangat berharap statistik tersebut terus bergerak naik turun.
"Hehe ... apa kamu ingat permintaan mu sendiri di percakapan kita terakhir ?" cetus Vhalen dengan sedikit tersenyum kepada adiknya, walau mata milik adiknya yang terbaring masih terpejam.
.
"Kamu sangat memohon kepadaku ... untuk dapat melatih mu agar bisa menembak dengan tepat dan akurat, dan kita ... akan lakukan itu di musim panas nanti, serta ... akan ku ajak seseorang yang mungkin bisa menjadi gurumu."
Vhalen mengucapkan beberapa kata dengan sendirinya kepada adiknya yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Beberapa kali juga dirinya sempat mengusap air mata yang membasahi pipinya setiap setelah mengucap.
"Oh iya, seseorang yang ku maksud itu mungkin ... kamu mengenalnya ..., dia juga termasuk orang yang cukup keren dan hebat ... yang pernah aku kenal."
Berkali-kali Vhalen terlihat tertawa kecil dan tersenyum sendiri, serta sering kali ia berbicara sendiri di depan dari adiknya yang masih terbaring tidak bergerak sama sekali. Setelah beberapa kali ia berbicara sendiri, Vhalen tiba-tiba sedikit tertunduk dan kembali menangis saat memegang tangan milik adiknya yang terbalut dengan perban dan infus.
"Sekali lagi ... aku ... aku benar-benar minta maaf, dan ... ku mohon ... tetaplah bersamaku serta menemaniku," gumam Vhalen dengan berderai air mata, sampai-sampai menetes membasahi perban yang terbalut di tangan milik adiknya.
.
"Kamu ... kamu mau ... untuk memaafkan ... kakakmu yang sangat payah ini ..., 'kan ...?" sambungnya dengan terus tertunduk dan meneteskan air matanya yang mulai membasahi sprei dan tangan milik adiknya.
Vhalen sangat berharap mendapatkan respon dari adiknya setelah dirinya berkata seperti itu, setidaknya dengan sedikit gerakan dari jari-jemari yang saat ini sedang ia genggam. Namun dengan melihat statistik denyut nadi yang terus bergerak naik turun, serta suara yang terdengar terus berulang dan sangat monoton saja. Dirinya sudah merasa cukup lega, karena masih bisa merasakan kehangatan dengan kehadiran dari adiknya yang masih berada di sampingnya sampai saat ini.
...
Vhalen cukup kecewa dan sempat menyalahkan dirinya sendiri, saat menerima kabar buruk yang menimpa adiknya. Karena satu-satunya keluarga dan saudara kandung yang ia miliki adalah dia, maka dirinya sangat mencemaskan kondisi dari adiknya itu.
Lakit Angkasa adalah satu-satunya orang yang sangat berharga yang ia miliki, dan hanya dia yang tersisa di hidupnya setelah terjadinya konflik keluarga yang berujung pada perpisahan.
__ADS_1
Karena konflik yang sangat tidak diinginkan oleh siapapun itu telah terjadi dan berujung pada perpisahan, dirinya diharuskan untuk menjalani kehidupan yang sangat pahit hanya bersama dengan adiknya sendiri.
Mereka berdua sudah hidup mengarungi kesulitan dan kepahitan sejak Vhalen remaja, dan setelah perpisahan yang terjadi di keluarga miliknya. Bertahun-tahun Vhalen menjalani rintangan kehidupan yang sangat pahit itu, dirinya juga sempat ingin menyerah di tengah ia melewati kesulitan yang menimpanya. Tetapi dirinya berpikir jika itu ia lakukan, maka itu akan membuat hati adiknya sangat hancur begitu saja setelah perpisahan yang terjadi pada keluarganya.
Namun kehidupan miliknya bersama dengan adiknya akhirnya berubah secara tiba-tiba, setelah Vhalen bertemu dengan Berlin yang pada saat itu menariknya untuk bergabung ke dalam kelompoknya sampai sekarang. Di matanya Berlin adalah pria yang sangat baik, karena segala kebutuhan hidupnya dan kebutuhan hidup adiknya sangat dicukupi oleh Berlin.
Apa yang dilakukan oleh Berlin juga bukan hanya kepada dirinya, namun juga kepada hampir semua teman-temannya. Bahkan Berlin masih melakukan itu sampai sekarang, dan dia melakukannya seakan tanpa keraguan kepada semua teman-temannya saat sangat membutuhkan bantuannya.
Semua yang dilakukan oleh Berlin telah merubah warna kehidupannya yang sangat abu-abu, menjadi cukup lebih berwarna bersama dengan teman-temannya sampai sekarang.
Vhalen sendiri telah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah melupakan Berlin dari hati dan pikirannya. Karena semua kebaikan yang Berlin berikan secara tulus telah terukir dalam sejarah kehidupannya.
...
Setelah cukup lama Vhalen menghabiskan waktunya berada di ruang perawatan tersebut bersama dengan adiknya yang masih terpejam. Tiba-tiba seorang perawat wanita yang mengantarnya, kembali masuk ke ruangan tersebut dan mengatakan, "mohon maaf, waktu jenguk sudah habis ... silakan menunggu di luar kembali."
.
"Oh, baiklah ... terima kasih banyak sebelumnya," jawab Vhalen yang lalu berjalan keluar ruangan.
...
.
Setelah melangkah melewati pintu keluar ruang perawatan, teman-temannya langsung menyambutnya dengan mencoba untuk menenangkannya agar tidak terus menangis.
"Kondisinya cukup parah, aku ... aku tidak yakin ...," celetuk Vhalen dengan mata yang sudah sembap karena terlalu banyak menangis, dan terlihat cukup putus harapan setelah melihat langsung kondisi dari adiknya yang sangat buruk.
.
"Hush ... jangan bicara seperti itu !" sela Adam dengan sedikit memukul punggung milik Vhalen dari belakang secara lembut.
"He'em ... pasti dia akan segera pulih, selama kamu sendiri yakin !" sambung Nadia dengan mengangguk dan tersenyum ke arahnya.
Vhalen benar-benar tidak bisa membendung semua air mata yang sebelumnya sudah membasahi pipinya. Ditambah dengan melihat secara langsung kondisi dari adiknya yang terbaring tidak berdaya di dalam ruang perawatan yang sudah mirip seperti akuarium isolasi.
"Sudahlah ... dia sudah mendapatkan perawatan yang terbaik, dan ... aku yakin ... dia akan segera baik-baik," ucap Salva yang tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Vhalen.
.
"Sekarang ... hentikan dulu tangisanmu, istirahatkan matamu yang sudah mulai lebam itu, ya ?" lanjutnya dengan secara tiba-tiba memeluk Vhalen.
"Um ... tu-tunggu ... uh ...," gumam Vhalen dengan tergagap saat menerima momen yang cukup canggung menurutnya, namun dirinya merasa lebih baik saat mendapatkan pelukan yang cukup tulus tersebut.
"Haha ... benar, istirahat itu perlu !" cetus Faris dengan sedikit tertawa kecil saat melihat momen tersebut.
"Lagian ... Kamu jangan merasa sendiri, karena ada kami, 'kan ?!" sambung Kina dengan tersenyum ke arah temannya itu.
Melihat Vhalen merasa lebih baik saat mendapatkan pelukan tersebut, semua temannya yang menyaksikan pun ikut merasa lega dan tersenyum ke arahnya. Vhalen yang mendapatkan momen tersebut merasa sangat canggung, karena dirinya belum pernah mendapatkan momen seperti itu sebelumnya.
__ADS_1
.
~
.
"Huh, siapa dia ?"
"Apa dia salah satu dari pelaku ?"
"Apa ada yang mengenalnya ?"
"Tapi ... dia cukup tampan untuk seorang pelaku ...!"
.
"Ya ... terlalu sempurna ...."
Celetuk kebanyakan dari anggota polisi wanita yang sedang berada di halaman depan, dan lobi dari Kantor Polisi. Kedatangan seseorang yang sangat asing dan secara tiba-tiba cukup menggemparkan suasana Kantor Polisi Pusat. Apalagi seseorang itu terlihat dikawal dengan sangat ketat oleh beberapa anggota Brimob di sekelilingnya.
.
...
"Tamu anda sudah datang, Pak !" cetus satu anggota polisi dengan menghampiri Prawira yang terlihat sedang menunggu di helipad.
"Langsung saja bawa ke saya, dan perlakukan dia selayaknya tamu ... bukan pelaku !" titah Prawira kepada anggota tersebut yang mendatanginya.
.
"Oh iya, sampaikan kepada anggota Brimob yang mengantarnya ..., dan ... ditunggu laporannya," lanjutnya.
"Siap !"
Satu anggota polisi yang mendatanginya pun kembali masuk dan menuruni anak tangga, serta membawakan tamu yang diundang oleh Prawira sendiri.
...
.
"Silahkan, Pak. Ikuti saya !" titah satu anggota polisi yang menghampirinya.
.
"Oh oke ...," sahutnya yang lalu mengikuti kemana anggota tersebut berjalan.
.
Bersambung.
__ADS_1