
Pukul 02:00 dini hari.
Pengintaian yang dilakukan oleh Berlin dan kelompoknya akhirnya telah mencapai batas waktu yang ditentukan oleh Prawira. Berlin pun menarik mundur teman-temannya dan kembali ke basecamp sesuai dengan perintah Prawira sebelumnya.
Sesampainya di basecamp. Nadia langsung menyambut kedatangan Berlin dengan ekspresi senang dan lega.
"Syukurlah," gumam Nadia berlari kecil keluar melalui pintu belakang kantor polisi dan menghampiri Berlin.
"Bagaimana?" tanya Garwig berjalan bersama Prawira menghampiri Berlin.
"Kim," cetus Berlin. Kimmy yang berdiri di sampingnya pun langsung memberikan sebuah buku catatan kepada Berlin.
"Semuanya sudah dicatat di sini," ucap Berlin menerima dan memberikan buku catatan tersebut kepada Prawira.
.
"Jika ingin melakukan penyergapan, ku sarankan ... persiapkan lebih baik anggotamu," lanjut Berlin kepada Prawira dan Garwig dengan sangat tajam.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Berlin, itu membuat beberapa polisi di sana merasa tersinggung dan menatap Berlin dengan tatapan sinis mereka. "Apa maksudnya?" "Dasar kriminal lebih baik diam saja," bisik-bisik mereka membicarakan Berlin.
"Baik, terima kasih sudah menyarankan," jawab Garwig dan menundukkan kepalanya di hadapan Berlin tanpa ragu.
Sikap yang ditunjukkan Garwig tentu kembali menjadi bahan pembicaraan para anggota polisi yang melihatnya. Mereka terlihat semakin tidak suka dengan Berlin, dan mempertanyakan sikap yang diberikan Garwig.
"Baiklah kalau begitu. Hari ini sudah selesai, 'kan?" tanya Berlin kepada Prawira.
"Sudah, terima kasih. Apakah bisa besok sekali lagi kami meminta bantuan kalian?" sahut Prawira.
"Baik," jawab Berlin.
...
Setelah itu tak lama kemudian. Berlin bersama Nadia sekaligus semua temannya pergi dari kantor polisi tersebut dan lalu perjalanan untuk pulang ke villa. Setelah Berlin pergi, Garwig dan Prawira kembali ke kantornya dengan membawa buku catatan yang diberikan oleh Berlin.
"Sepertinya ... kehadiran Berlin di sini menjadi perbincangan anggota," ucap Prawira saat memasuki ruangan mengikuti Garwig.
"Wajar saja, karena kita belum memperkenalkan Berlin secara resmi kepada mereka," sahut Garwig.
"Untuk besok, apakah kau ada rencana?" tanya Prawira duduk di sebuah sofa.
"Hmm," gumam Garwig duduk di kursi miliknya dan mulai membaca isi catatan yang diberikan Berlin
.
"Dari informasi yang Berlin berikan, kita akan mendapatkan keuntungan di bukit Utara dan Selatan. Bagaimana menurutmu?" ucap Prawira yang juga ikut membaca catatan yang diletakkan Garwig di atas mejanya.
"Bisa saja. Namun mengingat jumlah musuh sangat banyak, itu bisa membuat kita kewalahan," sahut Garwig.
"Mengingat jumlah musuh sangat banyak. Bagaimana jika peperangan terjadi?" cetus Prawira terlihat cukup khawatir.
"Jika kita bisa menangani mereka, maka dampak dari kekacauan yang ada bisa lebih diminimalisir. Namun bagaimana jika sebaliknya?" lanjutnya.
Garwig terlihat berpikir serius tentang apa yang dikatakan oleh rekannya itu. Dirinya memikirkannya dari dua sisi buruk dan baik. Sisi baiknya, jika semua rencananya berjalan lancar dan berhasil menangani musuh. Maka dampak dari kekacauan pun tidak akan begitu besar. Namun jika sebaliknya, maka dampak dari kekacauan yang terjadi bisa saja meluas sampai ke pusat kota dan Paletown.
"Tentu prioritas kita keamanan warga, jadi apapun yang terjadi kita harus bisa membungkam mereka sebelum kekacauan semakin menjadi," ujar Garwig.
.
"Ya walau ... Nicolaus akan menghalalkan segala cara untuk memenangkan kekacauan yang dibuatnya," lanjutnya dengan sangat serius.
"Tetapi masalah kita bukan hanya Nicolaus, ada Carlos yang harus kita tangani," ujar Garwig kembali.
"Biarkan aku yang menangani Carlos!" sahut Prawira dengan tegas.
"Baiklah, aku paham," ujar Garwig.
Perbincangan mereka berdua pun terus berlanjut, dan juga mengundang beberapa rekan satu keluarganya untuk membicarakan strategi besok di ruangan Garwig.
.
~
.
Pukul 02:10 dini hari.
Villa Gates.
__ADS_1
Berlin bersama Nadia dan semua temannya akhirnya sampai juga di villa. Mereka semua terlihat cukup lelah hari ini. Berlin pun mengistirahatkan teman-temannya dengan mengizinkan mereka untuk singgah di villa mewah tersebut.
Berlin memilih untuk kembali ke villa daripada ke bengkel pribadinya, karena jarak villa miliknya ini tidak cukup jauh dari Shandy Shell, dibandingkan jarak antara bengkel pribadinya yang terletak di tengah kota Metro dan lumayan jauh dari Shandy Shell. Letak villa miliknya juga cukup strategis, karena terletak di atas bukit penghubung perbatasan kota Metro dan Shandy Shell.
"Dah, aku mau langsung tidur!" cetus Bobi saat berjalan memasuki villa.
"Iya, merebahkan badan kayaknya enak sekali!" sambung Kina.
"Untuk malam ini, kalian boleh singgah di sini. Tetap jaga dan taati peraturan, dan jangan naik ke lantai tiga tanpa seizin ku!"
"Kalian juga tidak boleh memasuki ruangan nomor dua di sebelah kanan tangga lantai satu!"
"Pelanggar akan langsung berurusan denganku!" Berlin berbicara dengan tegas soal aturan-aturan itu di hadapan teman-temannya ketika di ruang tamu.
"Baik, Bos," jawab mereka dengan lesu dan tampak lelah.
Berlin tersenyum sendiri melihat teman-temannya yang terlihat sudah cukup kelelahan dengan tugas pertama sebagai tim pengintai.
"Kalian boleh menggunakan semua fasilitas yang ada, dan anggap saja seperti rumah sendiri," ucap Berlin kembali.
.
"Ya sudah kalau begitu, aku tinggal dahulu!" lanjutnya yang lalu berjalan menaiki tangga menuju lantai tiga bersama Nadia.
Sepanjang perjalanan dari Shandy Shell ke villanya, Nadia hanya diam saja dan jarang sekali berbicara. Ia terlihat cukup kelelahan dengan tugasnya hari ini yaitu membantu Netty di bagian brankas kepolisian.
"Bagaimana dengan tugasmu hari ini?" tanya Berlin saat menaiki tangga bersama Nadia di sampingnya.
"Hoaam," Nadia menutup mulutnya dengan satu tangan untuk menguap sebentar dan lalu menjawab, "lumayan."
Berlin tersenyum. Ia pun mengatakan, "kamu langsung istirahat, ya? Kalau mau mandi dahulu, kamu bisa pakai air hangatnya."
"He'em," gumam Nadia mengangguk dan mengusap matanya.
"Mengerti cara memunculkan air hangatnya, 'kan?" cetus Berlin melirik kepada Nadia.
Nadia juga melirik dengan lirikan kesal dan menjawab, "aku sudah mengerti, kok!" jawabnya seraya mengerucutkan bibirnya ke depan.
"Baiklah," sahut Berlin.
...
"Iya, makasih," sahut Nadia tersenyum manis.
Berlin pun menutup pintu kamar tersebut, dan membiarkan Nadia untuk beristirahat. Dirinya pun juga sama ingin segera beristirahat setelah menjadi tim pengintai yang ternyata cukup melelahkan baginya.
Namun Berlin memilih untuk duduk sejenak menikmati pemandangan alam di malam hari melalui jendela di ruang keluarga tepat di depan kamarnya dan juga Nadia.
"Huft ...!" Berlin mengehal napas panjang dan besandar di sofa empuk yang ada. Pemandangan alam yang ada di malam hari sangat memanjakan matanya, dan membuat tenang sejenak pikirannya.
Di saat bersantai di sofa tersebut. Entah mengapa Berlin merasa gelisah dan khawatir untuk esok hari. Dirinya juga tak bisa melepas pikirannya untuk memikirkan hari esok.
"Apa ... semuanya ... akan ... baik-baik saja?" gumamnya sendiri melamun melihat ke arah langit yang sangat cerah dipenuhi bintang.
~
Satu jam telah berlalu, dan Berlin masih saja termenung di sofa ruang keluarga. Tampak ia masih memikirkan beberapa hal untuk hari esok, walau waktu sudah menunjukkan dini hari yang berarti ini adalah hari esok.
Berlin memejamkan matanya di atas sofa, dan mencoba untuk santai serta beristirahat. Namun di saat ia memejamkan mata. Tiba-tiba terdengar suara isak tangis wanita yang mengejutkan dirinya.
"Berlin ... Berlin ...," suara wanita itu juga memanggilnya berkali-kali, dan itu membuat dirinya kembali tersadar.
"A ... apa? Aku tak salah dengar, 'kan?" Berlin bertanya-tanya tentang apa yang ia dengar.
"Kumohon ... jangan ... tinggalkan aku ...," suara itu kembali terdengar dan itu berasal dari kamar milik Nadia. Berlin pun beranjak dari sofanya dan langsung memeriksa apa yang sebenarnya terjadi.
Tok ... Tok ... Tok ...!
Berlin berusaha mengetuk pintu kamar. Namun saat dirinya berada di depan pintu kamar, suara tangisan itu semakin menjadi dan membuat dirinya langsung menerobos masuk.
Braakk ...!
Pintu tersebut terbanting mengenai dinding. Berlin yang masuk pun langsung mendapati Nadia yang tengah menangis, namun dengan keadaan tertidur di atas ranjangnya. Dirinya pun langsung menghampiri dan mencoba untuk menyadarkan kekasihnya itu.
Berlin mengetahui kalau saat ini Nadia sedang mengalami mimpi buruk. Dirinya pun berkali-kali mencoba untuk menyadarkan Nadia dari mimpir buruknya.
"Hei, Nadia!" Beberapa kali Berlin memanggil, tetapi sepertinya tidak ada reaksi. Malahan Nadia semakin menangis histeris seperti kehilangan sesuatu atau seseorang.
__ADS_1
"Berlin ...! Berlin, jangan ... tinggalkan aku," kata itu tercetus secara tiba-tiba oleh Nadia yang masi dalam keadaan tertidur dan menangis.
"Nadia! Nadia! Aku di sini! Tidak ada yang meninggalkanmu, sayang!" teriak Berlin dengan menggoyahkan tubuh milik Nadia yang terbujur kaku dan berkeringat dingin.
Setelah Berlin memanggilnya seperti itu. Nadia langsung membuka matanya dan tersadar dengan keadaan terkejut. Napasnya juga tidak teratur dan jantungnya berdebar sangat kencang.
Menyadari adanya Berlin di depannya. Ia langsung memeluk erat Berlin yang duduk di pinggir ranjangnya dengan keadaan masih terisak-isak. Berlin pun membalas pelukan tersebut, dan berusaha untuk menenangkan Nadia.
"Jangan pergi," cetus Nadia ketika memeluk Berlin.
"Aku nggak pergi, dan aku nggak ingin pergi darimu," jawab Berlin mendekap dan mengelus kepala milik kekasihnya.
"Memangnya mimpi buruk seperti apa yang kamu alami, sampai-sampai membuatmu histeris seperti ini?" tanya Berlin namun dalam batinnya dan tidak mengatakannya secara langsung kepada Nadia.
"Sudah, tenang, ya? Aku di sini," ucap Berlin dengan lembut melepaskan pelukannya dan merebahkan kembali tubuh milik Nadia di atas ranjang.
Tangan milik Nadia tak bisa melepaskan genggamannya yang terus menggenggam tangan milik Berlin. Ekspresi ketakutan sangat terlihat dari wajah Nadia.
"Baiklah, aku temani kamu di sini, ya? Agar tidak akan ada lagi mimpi buruk seperti itu," ujar Berlin duduk tepat di samping ranjang milik Nadia.
Nadia hanya mengangguk dan menjawab, "terima ... kasih," jawabnya dengan suara cukup serak karena terlalu berlebihan berteriak.
"Lagian itu hanyalah mimpi, jadi kamu tenang saja," ucap Berlin kembali seraya mengusap lembut kening milik Nadia yang mulai memejamkan mata untuk mencoba kembali tidur.
Nadia mengangguk pelan tanpa mengatakan sepatah kata, dan memejamkan matanya lebih rapat lalu mulai tertidur. Genggaman tangannya belum juga terlepaskan dari salah satu tangan milik Berlin. Namun Berlin memilih untuk membiarkannya saja.
"Berlin, aku ingin ... kamu ... tidak pergi ke sana ... besok ...," celetuk Nadia dengan keadaan masih setengah sadar seraya terus menggenggam tangan milik Berlin.
Berlin tidak begitu mengerti maksud dari perkataan Nadia barusan. Namun sepertinya dirinya sedikit paham. "Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan, kamu mungkin terlalu lelah hari ini, jadi istirahat saja," ucap Berlin sembari membenarkan selimut yang dipakai Nadia.
.
~
.
Pukul 03:00 dini hari.
Rumah Besar Mafioso.
"Bagaimana, semua persiapan sudah siap?" tanya Carlos kepada Nicoalus saat berada di ruangan Nicolaus.
"Tentu saja sudah, tinggal aksinya saja besok," jawab Nicolaus dengan tajam.
.
"Carlos, ingat untuk jangan mengacaukan rencana!" lanjutnya.
"Iya, iya, aku tahu!" sahut Carlos menghela napas.
"Kita akan bagi dua kelompok besok, dan kau ... ku beri otoritas untuk mengambil posisi pemimpin di salah satu kelompok, jadi jangan mengecewakan!" ujar Nicolaus sangat serius seraya bersandar di kursi miliknya.
"Serahkan saja padaku, semuanya akan mudah!" sahut Carlos sangat percaya diri.
.
"Aku sudah tidak sabar untuk menghadapi, atau bahkan menghabisi para aparat br*ngs*k itu," lanjutnya dengan ketus.
"Keamanan kota akan diperketat, termasuk gedung balaikota, jadi kita akan sulit untuk menerobos masuk ke sana. Namun, kita bisa membuat kekacauan atau bahkan mengambil alih wilayah Shandy Shell terlebih dahulu. Setelah itu, kita akan menyebar ke wilayah pusat kota. Kau paham dengan rencana ini, 'kan?" Nicolaus menjelaskan rencananya secara singkat kepada Carlos.
"Iya, aku paham!" sahut Carlos.
.
"Perlengkapan kita bagaimana?" lanjutnya bertanya soal persenjataan dan lainnya.
"Kita punya banyak sekali di gudang, pakai saja yang ada di sana!" sahut Nicolaus.
"Baiklah! Aku tidak sabar!" cetus Carlos terlihat sangat bersemangat untuk melaksanakan semua rencana kelompoknya.
Nicolaus kembali terdiam di kursinya, dan tampak memikirkan sesuatu. Dirinya sepetinya menyadari akan menghadapi seseorang bernama Garwig. Setelah bertahun-tahun Garwig menghilang, akhirnya muncul juga.
"Garwig, kita lihat saja, apakah kau akan mengulangi kesalahan yang sama, lagi?" batin Nicolaus.
.
"Aku juga penasaran denganmu, Sang Anak Emas Berlin Gates," batinnya kembali sembari tersenyum sinis dengan sendirinya. Ekspresi kejam seperti merencanakan sesuatu sangat tertampak dari wajah Nicolaus, dan itu membuat Carlos lebih bersemangat menantikan aksi kelompok, Mafioso.
__ADS_1
.
Bersambung.