Mafioso In Action

Mafioso In Action
Tawanan #63


__ADS_3

"Bos, gudang yang dimaksud pelaku tadi cukup jauh dari sini, saranku kita kirim dua orang untuk memantau perjalanan untuk ke sana" ucap Asep kepada Berlin yang duduk di kursi belakang.


"Iya, takutnya ... kita akan mendapat serangan secara tiba-tiba dari mereka yang mungkin saja sudah membaca pergerakan kita," sambung Kimmy menoleh dan menatap Berlin yang terlihat cukup termenung di kursi belakang.


"Baiklah, kirimkan Rony dan Galang ke depan, dan suruh mereka berdua lebih hati-hati!" sahut Berlin kepada Kimmy.


"Oh, baik," jawab Kimmy yang lalu berbicara kepada kedua rekannya itu melalui radio, "Rony, Galang, kalian berdua tolong cek jalur kita terlebih dahulu ke depan, takutnya mereka sudah bersiap di bagian perbukitannya," ucap Kimmy melalui radio.


"Siap," jawab Rony.


.


"Tenang, aku dan Rony akan pantau jalur!" sambung Galang.


Motor yang dikendarai Rony pun melaju mendahului mobil milik Berlin bersama Galang yang berada di boncengannya. Mereka berdua juga sudah sangat siap dengan pistol yang selalu mereka bawa.


"Berlin," ucap James memberikan radio yang sebelumnya diberikan oleh Prawira kepada Berlin.


"Halo, Berlin?" cetus Prime yang terdengar suaranya melalui radio tersebut.


"Ya?" sahut Berlin menerima radio tersebut dengan nada datar dan dingin.


"Apa rencanamu? Aku dan anggotaku akan mengikutinya!" tanya Prime melalui radio tersebut.


Seketika Berlin diam sejenak untuk berpikir. Tentu dirinya tidak ingin mengambil keputusan dan bertindak secara gegabah, karena bisa saja nyawa dari kekasihnya yang menjadi taruhan.


Berlin merasa benar-benar merasa melemah saat pertama kali mengetahui bahwa Nadia menjadi tawanan dari kelompok Mafioso. Seluruh pikirannya tentang strategi langsung kacau begitu saja. Namun dirinya berusaha untuk tetap sabar dan terus berpikir demi keselamatan kekasihnya, yaitu Nadia.


"Berlin," gumam Kimmy menoleh menatap Berlin yang terlihat sedang berpikir keras untuk menyelamatkan Nadia dengan tatapan kasihan. Wajar saja jika Berlin sangat marah kepada para polisi ketika berada di kantor polisi Shandy Shell.


"Apakah kau ada saran?" cetus Berlin bertanya kepada Prime melalui radio tersebut.


Pertanyaan Berlin barusan membuat ketiga temannya yang mendengar terkejut. Ditambah lagi dengan nada bicara dan ekspresi Berlin yang putus asa ketika bertanya seperti itu.


"Karena Nadia menjadi tawanan dari mereka, maka ini sudah termasuk ke dalam kasus penyanderaan. Jika kau mau, aku akan mengirim satu anggota sebagai negosiator untuk menyelamatkan Nadia dari sana. Prawira juga membantu dengan mengirimkan regu helikopternya," ucap Prime dengan tenangnya.


"Berlin, kau harus yakin untuk bisa menyelamatkan Nadia. Dia pasti akan baik-baik saja, dan keluar dari tempat itu dengan selamat bersamamu, Berlin!" lanjut Prime mencoba untuk memotivasi Berlin melalui radio.


"Tenang saja, kepolisian ... terutama divisi regu yang aku pimpin, akan membantu dan melindungi mu bersama Nadia jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan!" lanjut Prime kembali.


Berlin terdiam sejenak setelah mendapatkan beberapa motivasi yang tertuju kepada dirinya. Ia selalu meyakinkan Nadia di beberapa waktu yang lalu, dan sekarang waktunya ia yakin kepada dirinya sendiri menjemput Nadia dari tempat itu.


"Baik, aku berterima kasih atas bantuan kalian. Tetapi, tidak perlu kirimkan negosiator ke sana, karena aku akan menjadi negosiator itu sendiri!" ucap Berlin kepada Prime dengan tenang dan sangat yakin dengan keputusannya.


Tentu Berlin sudah berpikir secara matang tentang keputusan yang diambilnya. Dirinya juga tahu seberapa bahayanya jika melakukan tindakan yang gegabah di saat-saat seperti ini. Maka dari itu dirinya tidak boleh melakukan kesalahan sama sekali.


"Baiklah jika begitu, tentu keamananmu akan terus kami pantau, jika terjadi sesuatu cukup lambaikan satu tanganmu ke atas sehingga kami dan penembak jitu kami bisa melihatnya," sahut Prime.


"Bos, kau yakin?" cetus Asep.


"Jika kau sudah yakin seperti ini, kami akan mendukung mu!" sambung Kimmy walau menyimpan rasa kekhawatirannya terhadap Berlin.


"Ya, aku yakin!" sahut Berlin.


.


"Aku akan menghadapi Carlos ... saudaraku sendiri, dan aku akan menyelesaikan masalah kami berdua," lanjutnya dengan tenang.


"Lalu, apa yang harus kami lakukan?" tanya Asep.


"Tentu nanti aku akan mematikan radio selama beberapa saat, dan aku ingin kalian memantau setiap titik di mana orang-orang dari Mafioso itu berjaga, serta bersiap untuk menunggu perintahku selanjutnya," sahut Berlin.


Perjalanannya sudah dekat dengan gudang atau tempat di mana Nadia sedang ditawan, dan itu membuat Berlin semakin berdebar bercampur geram kepada orang-orang yang berani-beraninya membawa Nadia.


"Baik, Bos," sahut ketiga temannya.

__ADS_1


"Bos, jalur terpantau aman!" cetus Galang melalui radio.


"Baik, pengendara motor silakan berkeliaran mengisi atas perbukitan!" titah Berlin mulai menggerakkan rekan-rekannya.


Di tengah Berlin sedang memberikan arahan untuk rekan-rekannya. Tiba-tiba saja Prime menyela dengan meminta, "Berlin, bisakah kita bertemu di balik bukit kecil sebelah Barat Daya dari gudang?"


.


~


.


Pukul 14:00 siang hari.


Titik Kumpul Barat Daya.


"Di mana teman-teman mu yang lain?" tanya Prime menyambut kedatangan Berlin di titik kumpulnya.


"Aku menyuruh mereka untuk terus memantau," jawab Berlin.


Sesusi dengan apa yang diminta oleh Prime sebelumnya. Berlin menuruti permintaan tersebut untuk bertemu di lokasi milik Prime yang menjadi titik kumpul.


"James," sapa Prime kepada rekan kerjanya sendiri.


"Senang bertemu denganmu, Pak!" sahut James berjabatan tangan dengan Prime seraya tersenyum.


Di lokasi titik kumpul tersebut, terlihat beberapa anggota Brimob yang bersiaga dengan pakaian dan persenjataan taktis mereka di sekitar titik kumpul. Anggota-anggota Brimob itu adalah personil dari regu yang dipimpin langsung oleh Prime.


"Kita berada di kasus penyaderaan saat ini, dan objektif utama serta prioritas utama bagi kami tentunya keselamatan sandera. Aku telah mengirimkan beberapa orang mengelilingi tempat gudang itu, dan dua penembak jitu yang sudah siap di posisi." Tanpa basa-basi, Prime langsung saja membicarakan soal strategi untuk menyelamatkan serta membebaskan sandera, yang di mana sandera tersebut adalah Nadia. Berlin dengan sangat serius menyimaknya dengan saksama.


"Eagle Eye tiba sebentar lagi, jadi selama tanpa kehadiran tim helikopter, kita sulit memastikan ada berapa jumlah pelaku di dalam," ucap Prime.


"Apakah sudah mengkonfirmasi berapa jumlah pelaku yang terlihat?" tanya Berlin.


"Baru 12 pelaku, empat di depan gudang, empat di belakang gudang, dan dua di sebelah kanan dan kiri gudang," jawab Prime.


Di tengah perbincangan, Prime mendapatkan laporan masuk melalui radionya. "Eagle Eye izin merapat dan bergabung ke lokasi," ucap regu helikopter melalui radio milik Prime.


"Ten-Four, usahakan ketinggian di atas 400 kaki sesuai prosedur kita!" sahut Prime.


"Baik, Pak!" sahut co-pilot dari regu helikopter tersebut.


"Kami izin melaporkan, terdapat 15 suhu panas di dalam gudang, dan 12 suhu panas di luar gudang," ucap sang co-pilot kepada Prime melalui radio yang dibawanya.


Mendengar laporan tersebut, Berlin dan teman-temannya terlihat sedikit terkejut. Lantaran hampir sebagian dari kelompok mereka berada di tempat itu.


"27 pelaku," gumam Berlin.


"Apakah kau bisa mencari di mana sandera berada? Mungkin dia di tempatkan di tempat yang paling berbeda," ucap Prime kepada regu helikopter melalui radionya.


"Ya, satu suhu panas terdeteksi di bagian ujung gudang, dan ... sepertinya dia dalam keadaan pingsan karena tidak ada gerakan sama sekali," sahut sang co-pilot.


Berlin mendengar kembali laporan yang diberikan oleh regu helikopter itu. Dirinya benar-benar tidak ingin membuang waktu lama untuk segera menyelamatkan Nadia dari sana.


"Apakah ada pelaku yang berada di luar area gudang?" tanya Prime kembali.


Prime ingin memastikan kalau tidak ada pelaku yang berada di luar dari area gudang, agar tidak mengganggu dan mengancam rencana penyelamatan.


"Sepertinya tidak ada," sahut co-pilot.


"Jangan 'sepertinya'! Jika yakin langsung saja jawab 'tidak ada'!" sahut Berlin dengan tiba-tiba menarik radio milik Prime.


Prime sedikit terkejut dengan sikap Berlin yang sepertinya sudah sangat ingin pergi ke gudang itu. Namun dirinya tetap tenang dan mengambil kembali radionya dari tangan Berlin.


"Benar apa yang dikatakan Berlin, tolong lakukan pengecekan kembali ke area sekitar gudang dan luarnya dengan radius 500 meter!" sambung Prime sesaat setelah mengambil kembali radionya dari tangan Berlin.

__ADS_1


"Baik, Pak!" sahut sang co-pilot melalui radio.


Setelah itu, Prime kembali melanjutkan pembicaraannya dengan Berlin untuk melakukan strategi penyelamatan Nadia dari gudang itu.


Berlin sendiri merasa tidak bisa menunggu lebih lama lagi, dirinya sangat ingin segera pergi ke gudang itu dan menyelesaikannya. Namun ia sadar kalau dirinya tidak boleh melakukan tindakan yang gegabah, karena nyawa kekasihnya yang menjadi taruhan. Berlin juga sudah tahu siapa yang akan dia hadapi setelah ini.


.


~


.


***


"Berlin! Berlin!" teriak Nadia histeris ketika melihat Berlin terlegetak tidak sadarkan diri. Dirinya dapat melihat kekacauan dan kehancuran yang ada di sekelilingnya. Banyak nyawa yang terlibat, termasuk nyawa dari Berlin yang menjadi korban.


"Tidak ... mungkin," gumam Nadia dengan tangis yang tak bisa dibendung lagi.


.


"Tidak, tidak, tidak, tidak ...!" Teriaknya dengan tangis yang semakin menjadi-jadi, namun tak bisa melakukan apapun.


Nadia tak bisa membendung tangisnya yang semakin histeris saat melihat Berlin yang hanya tergeletak di depan matanya dengan kondisi bersimbah darah. Ingin berteriak, ingin memberontak, dan ingin berlari ke arah Berlin. Namun rasanya tak bisa, seluruh tubuhnya seperti terkunci tidak dapat digerakkan, dan hanya bisa terbujur kaku. Semua usahanya untuk memberontak hanyalah sia-sia, dan hanya bisa menangis melihat apa yang terjadi di depan matanya.


***


DRAP !


Nadia tersadarkan diri dari pingsannya dengan terkejut dan sangat bingung bercampur ketakutan. Dirinya langsung tersadarkan diri karena mendapatkan pengelihatan yang sama dengan mimpi buruknya kemarin malam.


"Pengelihatan dari mimpi ... itu lagi?" batinnya di dalam hati dengan memegangi kepalanya yang masih terasa sangat pusing.


"Darah?" gumamnya saat melihat jarinya setelah memegang jidatnya yang terluka akibat benturan.


"Gudang? Ini ... di dalam gudang?!" batinnya kembali ketika melihat ke sekelilingnya, dan menyadari kalau dirinya berada di dalam dari sebuah gudang yang amat besar dan luas.


Dirinya dapat melihat cukup banyak orang-orang berpakaian serba hitam yang tampak bersiaga dengan senjata api mereka. Orang-orang itu terlihat sangat mengerikan bagi Nadia. Ia kembali mengingat kalau dirinya pingsan akibat memberikan perlawanan terhadap dua pelaku penyerangan.


"Oh, begitu, ya? Sekarang ... aku adalah tawanan dari mereka," gumamnya dengan melihati kedua telapak tangannya yang kotor dan terdapat sedikit luka gores. Baju kemeja putih yang dikenakannya juga sudah sangat kotor dan sedikit rusak di bagian lengan.


"Tetapi, aku ... harus ... pergi dari sini ...!" gumamnya kembali seraya berusaha untuk bangkit berdiri dengan dibantu oleh kotak-kotak kayu di sekitarnya yang bisa ia gunakan sebagai pegangan untuk berdiri.


"Aduh, aduh," rintihnya ketika berusaha untuk bangkit dan berdiri. Namun kembali ambruk karena mengingat cidera di bagian kaki kanannya cukup parah.


Nadia hanya bisa duduk di lantai dengan meluruskan kedua kakinya untuk melihat seberapa parah lukanya. "Berlin ...," gumamnya dengan menaruh harapan kalau Berlin akan menyelamatkannya. Dirinya sangat percaya kalau Berlin akan datang untuk menyelamatkannya.


"Semoga ... itu hanya mimpi buruk ku saja," lanjutnya berharap.


TAP ... TAP ... TAP ...!


Langkah kaki dari seseorang terdengar memasuki gudang dan menghampiri Nadia yang hanya bisa terduduk di atas tanah. Seorang pria berpakaian serba hitam, dengan wajah yang belum begitu kelihatan karena tertutup topi hitam yang dipakainya.


"Si-siapa? Siapa kamu?!" bentak Nadia langsung bergerak mundur menggunakan tangannya dan menyeret kedua kakinya karena ketakutan hingga dirinya terpentok dinding dan tersudut.


"Tenanglah, sayang. Aku tidak akan menyakitimu, kok," ucap Pria tersebut.


DEG.


Suara yang tidak asing di telinga milik Nadia. Suara seseorang yang pernah mengundang dan mengajaknya untuk makan malam bersama, namun ditolak langsung oleh Nadia sendiri.


"Jangan-jangan ...?" gumam Nadia dengan tatapan penuh dengan ketakutan dan membuat seluruh tubuhnya gemetaran.


Pria tersebut melepas topi yang ia kenakan, dan mulai memperlihatkan wajahnya. Wajah cukup tampan dan memiliki sedikit kemiripan dengan Berlin di bagian hidung.


"Carlos?" Orang yang pernah Nadia temui, dan cukup mengerikan baginya. Kini dirinya kembali bertemu dengan orang tersebut, tanpa ada yang menemani. Hanya ada dirinya, dan juga Carlos yang berdiri tepat di hadapannya dengan terus menatapnya dengan tatapan tajam.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2