Mafioso In Action

Mafioso In Action
Semua Tentang yang Ia Lupakan #88


__ADS_3

"Siapakah orang tua ku? Dan jika mereka masih ada, dimanakah mereka berada saat ini?"


DEG.


Pertanyaan itu cukup untuk membuat Garwig diam dan membisu selama beberapa detik. Dirinya cukup bingung untuk menjawab serta menjelaskannya, karena tidak mungkin ia mengarang cerita atau menjawab dengan jawaban bohong soal itu.


"Kenapa?" tanya Berlin kembali saat mendapati Garwig hanya diam dan melamun untuk beberapa saat.


"Ah, tidak ada apa-apa. Aku akan memberikan jawaban soal pertanyaanmu itu," sahut Garwig menggelengkan kepala untuk menyadarkan diri dari lamunan.


"Maaf, jika aku tidak memberitahumu soal itu jauh-jauh hari, dan mungkin kau lupa dengan kenanganmu soal itu," lanjut Garwig sedikit menunduk ketika menjawabnya.


"Lebih baik, sekarang kau ikut denganku, dan aku akan memberikan jawabannya," ajak Garwig kemudian kepada Berlin.


Berlin pun langsung mengiyakan ajakan tersebut karena dirinya benar-benar ingin tahu soal orang tuanya. Ingatan kenangan soal orang tuanya ikut hilang bersama ingatan yang lain. Maka dari itu dirinya tak bisa mengingat seperti apa wajah dari kedua orang tuanya, dan bahkan nama dari kedua orang tuanya.


~


Pukul 14:00 siang.


Ketika berada dalam perjalanan di dalam sebuah mobil pribadi milik Garwig. Berlin bertanya-tanya ke mana dirinya akan dibawa. Mobil itu melaju terus ke arah Barat Laut dari kota dan meninggalkan daerah pusat kota.


"Mungkin kau bingung saat ini aku membawamu ke mana. Yang jelas, aku tak bisa menjelaskannya tanpa memperlihatkan kedua orang tuamu," ucap Garwig seraya terus fokus mengemudi.


Tak lama kemudian, Berlin pun tiba di sebuah tempat yang sangat tak asing baginya. Di sebuah kuburan yang letaknya cukup dekat dari pinggir kota. Melihat tempat yang dikunjunginya. Berlin sudah tahu dan sudah menerka apa jawaban dari pertanyaannya itu.


Garwig berjalan melewati jalanan bebatuan dan makam-makam yang ada di sana, diikuti oleh Berlin di belakangnya. Mereka berdua terus berjalan sampai ke dua buah makam yang letaknya di tempat yang berbeda dari makam yang lain.


Dua buah makam tersebut berada di atas bukit kecil di tengah danau kecil yang ada di kuburan itu. Untuk ke sana, Garwig dan Berlin harus melewati jembatan berwarna merah yang ada.


"Makam ini adalah makam dari kedua orang tuamu, Berlin. Mereka-lah kedua orang tuamu," ujar Garwig ketika sampai di depan kedua makam tersebut bersama Berlin.


"Axel Gates" dan "Alison Gates". Kedua nama itu terukir pada dua batu nisan pada makam itu dengan sangat jelas.


"Mereka sudah tiada sejak kau kecil, Berlin," ucap Garwig kepada Berlin yang tampak begitu memperhatikan kedua makam orang tuanya itu.


Tiba-tiba saja mata milik Berlin berkaca-kaca ketika melihat makam dari kedua orang tuanya, dan mendengar apa yang dikatakan oleh Garwig. Namun di sisi lain dirinya merasa senang karena dapat mengetahui siapa orang tuanya sebenarnya.


"Bisakah kau ceritakan semua tentang orang tuaku? Aku ingin mengetahuinya," cetus Berlin dan lalu tersenyum tipis.


Garwig pun langsung menceritakan semua atau segala hal tentang Axel Gates dan Alison Gates kepada Berlin, "menurutku, mereka berdua adalah pasangan yang sempurna," ucapnya.


"Ibumu Alison itu adalah wanita yang sangat cantik, baik hati, lemah lembut, dan orang yang ceria."


"Sedangkan ayahmu Axel itu adalah orang yang tampan, dingin, baik hati, dan mungkin sedikit keras kepada orang lain. Dan mungkin juga ... semua sifat itu menurun pada dirimu, termasuk ketampanan yang dia miliki, Berlin."


"Kedua orang tuamu adalah orang yang hebat, mereka berdua adalah orang yang sangat penting bagi kota ini. Berkat mereka-lah, ekonomi dan segala sesuatunya di kota jadi stabil dan berimbang."


"Orang penting?" cetus Berlin bingung dengan maksud dari kata-kata itu.


"Ya, mereka berdua adalah orang penting, dan semua masyarakat menghormatinya," sahut Garwig.


"Nama Axel yang ada pada nama belakangmu itu diturunkan dari ayahmu, Berlin. Dan sepertinya tidak hanya namanya saja, melainkan juga sifat serta kehebatannya dan ketampanannya."


"Sedangkan nama Berlin pada nama depanmu itu adalah keinginan dari ibumu Alison. Ibumu itu pernah berkuliah di salah satu universitas di Jerman, dan sangat terobsesi dengan ibu kota Jerman. Maka dari itu ia menurunkan nama Berlin pada dirimu."


Berlin tersenyum-senyum sendiri ketika mendengar semua tentang orang tuanya dari Garwig. Sedangkan Garwig terus menceritakan semua yang ia ketahui tentang Axel dan Alison kepada Berlin.


"Tetapi aku masih bingung, soal ... orang tuaku yang menjadi ... orang yang sangat penting itu," celetuk Berlin bertanya-tanya.


Dari semua yang diceritakan oleh Garwig saat itu. Berlin masih bingung dengan maksud dari orang tuanya yang menjadi 'orang penting' bagi masyarakat kota.


"Kalau begitu ... habis ini ikut aku, aku akan menjelaskannya dan juga memberitahumu soal seberapa penting peran kedua orang tuamu terhadap kota ini," jawab Garwig.

__ADS_1


~


Setelah dari pemakaman itu. Garwig pun membawa Berlin untuk pergi ke suatu tempat. Dan ternyata tempat itu adalah Kediaman milik Gates.


"Ada apa di sini?" tanya Berlin turun dari mobil bersama Garwig.


"Sudahlah, ikuti aku!" pinta Garwig yang lalu berjalan memasuki kediaman.


Melewati ruang tamu, ruang tengah, dan lalu ruang keluarga. Setelah melewati ketiga ruangan penting itu, Berlin pun berjalan mengikuti Garwig melewati lorong yang letaknya di bagian belakang rumah.


Sepanjang lorong tersebut terdapat banyak ruangan yang ternyata adalah kamar. Kamar-kamar itu berjumlah lebih dari 10 ruang kamar. Baru kali ini Berlin melihat semua kamar-kamar itu dan juga lorong ini.


Setelah melalui lorong tersebut, terdapat sebuah ruang keluarga lagi, dan di ujung ruang keluarga terdapat sebuah kamar. Kamar tersebut tampak sangat berbeda dari yang lain. Pintu dari kamar tersebut berwarna coklat dan tampak sangat mewah dibandingkan pintu kamar yang lain. Dan di pintu tersebut terdapat tulisan.


"Gates?" gumam Berlin membaca tulisan yang terukir pada pintu tersebut.


Tanpa berlama-lama, Garwig langsung membuka pintu kamar itu dan menunjukkan isi dalamnya kepada Berlin.


Saat melihat isi dari kamar tersebut. Berlin cukup dibuat tertegun. Air matanya seolah ingin menetes namun ia tahan setelah mengetahui beberapa foto yang terletak di salah satu meja di samping sebuah ranjang yang sangat luas.


"Apa mereka ... kedua orang tuaku?" celetuk Berlin ketika melihat foto seorang pria dan wanita berdampingan di atas dari sebuah meja kecil yang terletak di samping kasur.


Garwig cukup terkejut ketika Berlin bertanya demikian. Karena seharusnya Berlin belum mengetahui seperti apa wajah kedua orang tuanya.


"Iya, dan aku akan menceritakan semuanya di sini," jawab Garwig.


"Ceritakanlah, aku ingin mendengarnya!" sahut Berlin terduduk di pinggir ranjang seraya memandangi foto-foto kedua orang tuanya. Sedangkan Garwig, ia pun menceritakannya.


"22 tahun yang lalu, orang tuamu terpilih untuk menjadi walikota kota ini. Mereka mendapatkan suara paling banyak dari seluruh masyarakat yang mendukungnya."


"Dahulu ketiga wilayah ini yaitu Paletown, Shandy Shell, dan Kota Metro, tidak menjadi satu pemerintahan dan juga cukup sering terjadi konflik soal pengklaiman wilayah."


"Namun, berkat kedua orang tuamu, ketiga wilayah ini dapat damai dan sepakat untuk menjadi satu kesatuan. Dan mereka berdua semakin disenangi oleh rakyat."


"Lalu, apa yang terjadi? Kenapa kau tampak sedih seperti itu?" sahut Berlin menoleh dan menatap penasaran Garwig di sampingnya.


"Apa kau ingin aku melanjutkannya?" sahut Garwig bertanya.


"Ya, aku ingin mengetahuinya!" pinta Berlin dan menatap dengan tatapan memohon kepada Garwig.


Tampak secara terpaksa, Garwig melanjutkannya. "Tepat dua tahun setelah mereka berdua menjabat, dan setelah semua yang mereka raih selama menjabat. Tiba-tiba saja sebuah tragedi politik yang sangat mengerikan pun terjadi dan menimpa mereka berdua."


"Tragedi?" Berlin cukup terkejut dan semakin dibuat penasaran dengan apa yang terjadi.


"Rumah ini ... diserang tengah malam ... oleh sekelompok orang bersenjata. Sekelompok orang itu membunuh para penjaga walikota, beberapa anggota keluarga Gates, dan juga termasuk dengan kedua orang tuamu yang tewas di kamar ini," ucap Garwig dengan mata berkaca-kaca dan tampak tidak ingin lagi mengingat-ingat kejadian itu.


"Mereka tewas karena melindungimu yang pada saat itu masih bayi berusia 10 bulan," lanjutnya yang lalu menghela napas cukup berat.


Berlin tertegun dan terdiam ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Garwig padanya. "Melindungiku ...?" gumam Berlin dengan mata berkaca-kaca setelah mendengar apa yang Garwig katakan. Napasnya tiba-tiba gemetaran terisak dan merasa tidak menyangka dengan apa yang Garwig katakan.


Garwig pun menghentikan ceritanya karena mengetahui kalau dirinya sudah membuat Berlin meneteskan air mata. Dirinya pun mendekat dan merangkul laki-laki itu di sampingnya. "Tidak seharusnya aku menceritakan hal itu," ucapnya ketika memeluk dan menenangkan Berlin.


Berlin menggelengkan kepalanya dan mengatakan, "tidak apa, dan sudah seharusnya aku sebagai anak mengetahuinya."


"Apa saat ini mereka bisa melihatku?" tanya Berlin kemudian sembari mengambil foto dari kedua orang tuanya dan memandangi foto tersebut.


"Mereka pasti melihatmu selama ini," jawab Garwig.


"Lalu, apa mereka kecewa denganku? Lantaran ... selama ini ... aku malah menjadi seorang penjahat," lanjut Berlin kembali bertanya dan tertunduk sendu.


Garwig merangkul Berlin di sebelahnya dan mengatakan, "tidak ada kata terlambat untuk berubah, dan dirimu pasti bisa berubah selama ada keinginan untuk berubah."


"Apa dari dahulu mereka menginginkan ku untuk berubah?" gumam Berlin memikirkan hal itu.

__ADS_1


"Mungkin tak hanya mereka berdua yang menginginkan hal itu, tetapi Nadia mungkin juga mengharapkan hal tersebut padamu, dan mungkin juga orang-orang di sekitarmu menginginkan hal yang sama," ujar Garwig kepada Berlin yang sedang memandangi foto kedua orang tuanya di tangannya.


Berlin tersenyum ketika mendengarkan hal tersebut keluar dari mulut Garwig. "Begitu, ya ...?" gumamnya dan lalu tersenyum senang.


"Bisakah kau ceritakan lagi semua soal orang tuaku? Atau juga ceritakan soal masa kecilku yang tak ku ingat!" pinta Berlin kembali dan terlihat sangat antusias dengan hal itu. Setelah sedih, ia memasang wajah yang sangat ceria, dan dapat membuat Garwig merasa kalau saat ini dirinya kembali berhadapan dengan Berlin kecil yang ia kenal.


"Baiklah, aku akan menceritakan semuanya sembari jalan-jalan ke sekeliling rumah," jawab Garwig beranjak.


Berlin pun berjalan meninggalkan kamar itu dengan perasaan sedih namun juga lega karena sudah mengetahui semuanya. Dirinya kini berjalan mengikuti Garwig berkeliling halaman rumah, seraya mendengarkan Garwig bercerita soal dirinya waktu kecil.


Setelah mengetahui semua tentang yang ia lupakan. Berlin merasa cukup lega dan merasa kalau pencarian jawaban dari semua pertanyaan yang ada di kepalanya kini sudah terbayar dan ditemukan.


.


~


.


Pukul 18:00 petang.


Setelah sangat lama Berlin mencari tahu apa yang seharusnya ia ketahui, dan akhirnya mendapatkan jawaban dari semua pertanyaannya. Berlin harus kembali pulang karena sudah terlalu lama juga, dan di sisi lain Garwig juga harus segera kembali bertugas.


Kreekk ..!!!


Ketika sesaat Berlin membuka pintu rumahnya. Dirinya langsung disambut oleh Nadia yang memasang wajah ceria seperti biasanya meskipun masih duduk di kursi roda.


"Selamat datang kembali!" seru Nadia lalu tersenyum manis menyambut Berlin.


Berlin tersenyum haru ketika mendengar kata "selamat datang" dari kekasihnya. Secara tiba-tiba Berlin terduduk di hadapan Nadia dan langsung memeluk erat Nadia yang duduk di kursi roda.


DRAP.


"Eh?" Nadia cukup terkejut dengan sikap Berlin yang sedikit aneh. Namun dirinya merasa senang ketika Berlin memeluknya, dan membiarkan Berlin memeluk dirinya sepuasnya.


"Apa terjadi sesuatu?" bisik lembut Nadia pada telinga milik Berlin ketika berpelukan.


Berlin menggelengkan kepalanya. Dirinya melepas pelukan itu dan mengatakan, "tetapi ada yang ingin aku ceritakan padamu." Dirinya tampak gugup karena masih terbawa suasana sebelumnya.


Nadia tersenyum manis dan lalu mengatakan, "aku akan menunggumu bercerita, dan jangan buat aku penasaran, ya!"


"Namun, sekarang bagaimana kalau kita makan malam dahulu?" lanjut Nadia mengulurkan tangan dengan maksud ingin menggandeng Berlin menuju ruang makan.


Berlin mengangguk dan langsung menggenggam tangan lembut tersebut lalu mengatakan, "ah, aku sudah lapar!" cetusnya seraya mendorong kursi roda milik Nadia berjalan menuju ruang makan.


"Aku sudah sangat ingin makan malam denganmu!" sahut Nadia.


"Maaf, kamu menunggu lama, ya?" ucap Berlin meminta maaf.


"Tidak apa-apa. Lagian tadi kamu pasti mendapatkan sesuatu yang sangat penting bagimu, bukan? Jadi tidak masalah aku harus menunggu," ujar Nadia ketika sampai di ruang makan dan berpindah duduk di kursi makannya.


"Ya, ada banyak hal penting tentang diriku yang terlupakan dan baru saja ku temukan kembali," gumam Berlin lalu menghela napas lega dan tersenyum tipis dengan sendirinya.


Di atas meja makan tersebut sudah tersedia beberapa menu makan yang sangat nikmat, dan menu-menu tersebut adalah menu makan kesukaan Berlin.


"Wah ...! Memang kamu ini pandai memasak, ya?" goda Berlin ketika mengambil piring dan alat makannya.


Nadia hanya tersenyum manis dan sedikit tersipu ketika mendapat pujian itu. "Sudahlah, lebih baik kita segera makan! Kalau tidak makanannya segera dingin," pinta Nadia.


Berlin pun segera menyantap menu-menu makanan tersebut bersama Nadia. Setelah makan malam tersebut selesai. Dirinya baru menceritakan tentang banyak hal tentang dirinya yang baru saja ia ketahui dari Garwig kepada Nadia, salah satunya adalah tentang masa kecilnya.


Berlin juga menceritakan hal-hal di masa kecilnya yang ia ketahui dari Garwig kepada Nadia. Sedangkan Nadia tampak sangat antusias mendengarkan cerita tersebut. Ia tampak ikut senang ketika Berlin juga terlihat sangat senang.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2