
"Vhalen, ayo kita pergi ke kantin! Aku belum melihat kamu memakan sesuatu dari tadi pagi," ucap Salva dengan menghampiri dan duduk tepat di samping Vhalen yang terlihat lelah dan lemas, karena telah menguras banyak tenaga untuk mengeluarkan air mata.
"Aku bersama dengan Sasha dan yang lainnya kembali ke bengkel dahulu ya ...?" cetus Kimmy sesaat setelah bangkit dari duduknya di samping Vhalen.
.
"Tenang saja, jika kamu membutuhkan kami, tinggal tekan tombol radio dan mintalah !" sambung Kina yang menghampiri Vhalen dan tersenyum kepadanya.
"Terima kasih dan maaf bila mengganggu waktu kalian," jawab Vhalen yang terlihat sangat senang dan tersenyum kepada teman-temannya yang sudah menemaninya.
"Mana ada mengganggu ...!" sahut Sasha.
.
"Tentu tidak mengganggu," sambung Adam.
"Kan memang sudah setiap hari kita bersama selalu, jadi tidak ada yang namanya mengganggu !" ujar Kimmy.
Vhalen mengangguk dan terlihat sangat senang kepada teman-temannya, karena mereka sudah menemani dan selalu hadir dalam keadaan atau kondisi apapun itu.
"Ya sudah, kami pergi dahulu !" ucap Kimmy yang lalu berjalan pergi bersama teman-teman yang lainnya, dan dengan sedikit melambaikan tangannya kepada Vhalen.
"Baik, kalian hati-hati !" sahut Vhalen.
"Kau nggak ikut, Salva ?" cetus Asep bertanya demikian.
Salva menggelengkan kepalanya dan menjawab, "terima kasih, tetapi nanti saja," jawabnya dengan sedikit melirik ke arah Vhalen yang berdiri di sampingnya.
"Oke kalau begitu," sahut Asep yang lalu berjalan pergi bergabung dengan yang lainnya menuju lobi dari rumah sakit.
***
"Bos, kami balik ke bengkel terlebih dahulu, ya ...!" ujar Kimmy saat melewati Berlin yang terlihat duduk berduaan bersama Nadia di ruang tunggu dari lobi rumah sakit.
"Oh, begitu ...?" sahut Berlin yang bangkit dari duduknya.
"Iya, Bos. Hari juga udah mau sore juga," cetus Asep.
"Ya sudah, hati-hati !" ucap Berlin dengan sedikit mengangkat dan melambaikan tangannya kepada Kimmy dan kawan-kawan yang mulai berjalan pergi melewati pintu keluar.
.
"Kunci brankas aman, 'kan ?" sambungnya.
"Aman ...!" jawab Kimmy.
"Hati-hati, Kim !" cetus Nadia kepada Kimmy yang mulai berjalan menjauh.
.
"Oke, tenang saja ...!" sahut Kimmy dengan mengacungkan jempol saat menoleh dan tersenyum ke arahnya.
Semua teman-temannya pun berjalan pergi melewati pintu keluar dari rumah sakit tersebut, dan menuju ke kendaraan mereka masing-masing yang terparkir di halaman parkir depan dari rumah sakit.
***
"Ayo kita ke kantin belakang !" titah Salva dengan menarik tangan milik Vhalen.
"Oh, baik ...," jawab Vhalen yang terlihat sedikit tersipu saat Salva tiba-tiba menarik tangannya.
Vhalen sendiri merasa sangat beruntung menjadi bagian dari Ashgard yang dipimpin oleh Berlin. Karena dirinya telah mendapatkan banyak hal yang sangat berarti di sana. Juga hal yang bersangkutan dengan sebuah perasaan, yang mungkin sedang ia rasakan saat ini.
Vhalen membiarkan teman laki-lakinya itu menggenggam dan menarik tangannya, dan dirinya hanya berjalan mengikutinya saja.
...
Pada saat mereka berdua berjalan melewati lobi untuk menuju ke kantin belakang rumah sakit. Mereka berpapasan dengan Berlin dan juga Nadia, yang kebetulan ingin bertemu dengan mereka berdua.
"Kalian mau kemana ?" tanya Berlin saat bertemu dengan kedua temannya di lobi.
"Astaga, Bos. Kami mau ke kantin sih ...," jawab Salva dengan sedikit terkejut dengan kehadiran Berlin tiba-tiba.
"Aku mau pamit, mau mengantar Nadia pulang ke rumahnya," ucap Berlin dengan tangan yang terus menggandeng kekasihnya.
.
"Untuk administrasi sudah aku urus, jadi ... kamu tenang saja ...!" sambungnya yang lalu tersenyum ke arah Vhalen.
"Ya sudah tidak apa, terima kasih banyak sebelumnya, Bos !" jawab Vhalen dengan bersalaman dan tersenyum ke arah Berlin.
"Jangan lupa makan, nanti kau malah ikut drop, lho ...," ujar Nadia kepada Vhalen.
Vhalen terlihat sangat senang, dirinya mengangguk dan tersenyum kepada Berlin dan juga Nadia. Sekarang dirinya hanya berharap tentang kondisi dari adiknya untuk segera membaik dan segera pulih.
"Ngomong-ngomong ... kalian ...?" celetuk Nadia dengan sedikit menunjuk ke arah tangan milik Vhalen dan juga Salva yang saling bergandengan, serta melirik tajam ke arah temannya tersebut.
"Eh ...?" seketika Vhalen melepaskan gandengannya tersebut dan langsung menyela, "bu-bu-bukan seperti itu ...," sahutnya dengan nada cukup gemetaran dan tersipu malu.
Berlin hanya tersenyum dan menahan tawanya saat melihat temannya yaitu Vhalen yang mulai salah tingkah. Hal seperti itu memang sudah sangat wajar terjadi, dan dirinya sangat tidak mempermasalahkan hal tersebut.
"Sudahlah, lebih baik kita jangan mengganggu mereka," cetus Berlin dengan sedikit berbisik kepada Nadia.
"Oh iya, hehehe ..., maaf ...," sahut Nadia dengan sedikit tertawa kecil kepada Salva.
"Tidak apa-apa, lagian itu tidak seperti yang kalian pikirkan, hehehe ...," ucap Salva.
"Ya sudah kalau begitu, kami pamit terlebih dahulu," ujar Berlin kepada kedua temannya tersebut.
"Sekali lagi ..., terima kasih banyak, Bos !" sahut Vhalen dengan menundukkan kepalanya di hadapan Berlin, dan lalu mengangkatnya kembali dengan tersenyum lebar kepada Berlin.
"Hati-hati, Bos!" ucap Salva dengan juga menundukkan kepalanya di hadapan Berlin, dan lalu mengangkatnya kembali.
Setelah sedikit berbincang dengan kedua temannya, Berlin pun berjalan melewati pintu keluar rumah sakit bersama dengan kekasihnya untuk menuju ke mobil miliknya yang terparkir di halaman parkir depan rumah sakit tersebut.
__ADS_1
"Dah ...!" Nadia menoleh tersenyum dan melambaikan tangannya kepada Vhalen, saat berjalan menuju pintu keluar.
.
Vhalen membalasnya dengan juga melambaikan tangan dan tersenyum kepada Nadia yang mulai berjalan menjauh bersama Berlin.
.
~
.
Dalam perjalanan menuju kompleks perumahan kota, Berlin sengaja tidak memacu mobilnya begitu cepat. Karena dirinya masih ingin bersama dengan Nadia sedikit lebih lama lagi.
Langit senja sudah terlihat dan mengubah langit yang sebelumnya berwarna biru cerah menjadi berwarna jingga. Sinar matahari juga sudah terlihat di ujung barat, dan tinggal beberapa jam kemudian untuk tenggelam beristirahat.
Pada saat perjalanan, Nadia terlihat melamun dengan pandangan kosong ke arah luar jendela mobil. Ekspresi kekhawatiran serta kecemasan juga sangat nampak jelas di raut wajahnya. Entah apa yang ia pikirkan, tetapi dirinya merasa ada sesuatu yang sangat mengganjal di hatinya. Sesuatu itu seperti sebuah firasat yang memiliki aura sangat buruk, dan sangat dapat ia rasakan.
Berlin menoleh ke arah kekasihnya itu dan bertanya, "kenapa? Ada yang kamu pikirkan?" tanyanya dengan melirik ke arah Nadia.
Pertanyaan tersebut menyadarian Nadia dari lamunannya. Namun dirinya hanya menggelengkan kepala dan menjawab, "tidak ...," jawabnya dengan nada sungguh pelan dan dengan pandangan terus melihat ke luar jendela.
"Hmm ...," gumam Berlin dengan menghela napas panjang.
.
"Aku tidak memaksa, kok. Tetapi ... jika ada sesuatu yang ingin kamu katakan, maka katakan saja! Aku akan selalu siap untuk jadi pendengar mu ...!" lanjutnya saat menyetir dan dengan pandangan terus fokus ke jalanan di depannya.
Nadia menoleh dan menatap ke arah lelakinya tersebut yang terlihat sedang fokus menyetir. Dirinya juga tersenyum kepada Berlin dan terlihat lebih tenang dari yang sebelumnya.
"Iya, makasih ..., aku jadi merasa lebih tenang ...," ucap Nadia sesaat setelah tersenyum ke arah Berlin.
"Nah ... gitu dong, senyum ..., 'kan kamu jadi terlihat imut saat seperti itu ...," sahut Berlin dengan maksud menggoda kekasihnya tersebut.
.
"Ish ...!" gusar Nadia dengan cemberut dan memalingkan wajahnya dari hadapan Berlin kembali memandang ke arah luar jendela. Nadia terlihat cukup tidak senang dengan perkataan Berlin barusan.
"Eh, kok marah ?" cetus Berlin dengan menoleh ke arah Nadia yang sudah memalingkan muka dari hadapannya.
.
"Aku nggak suka aja ... saat kamu bilang seperti itu !" sahut Nadia dengan tidak melihat atau menghadap kepada Berlin.
"Iya deh, iya. Aku minta maaf, ya ?" ujar Berlin yang terlihat cukup memohon dengan memegang salah satu lengan milik Nadia.
"Hihihihi ...." Tetapi Nadia justru malah tertawa kecil dengan sikap Berlin saat memohon kepadanya. Sikap yang sangat jarang terlihat, kali ini baru saja ia lihat.
"Ternyata ... Berlin bisa bersikap seperti ini ...?" gumamnya di dalam hati sembari tertawa kecil, namun dengan pandangan masih ke arah luar jendela mobil.
"Kok malah ketawa, sih ...?" tanya Berlin saat melepaskan pegangannya, dan merasa kalau dirinya telah dipermainkan oleh kekasihnya sendiri.
Dengan satu tangan menutupi mulutnya saat tertawa, Nadia menoleh dan mentatap ke arah Berlin. Dirinya pun menjawab dengan mengatakan, "maaf, soalnya ... aku belum pernah melihat kamu sampai memohon seperti itu, hehehe ...," jawabnya dengan cukup tersipu.
Nadia tertawa kecil dan terlihat tersenyum dengan melihat ke arah Berlin yang sedang menyetir. Pandangannya yang sebelumnya berpaling melihat ke arah ramainya jalan di luar jendela, sekarang beralih dan seakan tidak bisa lepas dari Berlin. Sesekali dan entah mengapa, dirinya tersenyum sendiri saat menatap lelakinya itu.
"Eh ..., kamu kenapa senyum-senyum? Ada yang aneh ya ... dari aku ?" cetus Berlin dengan melirik kekasihnya namun juga tak melepaskan fokusnya untuk menyetir.
"Eng-enggak ada yang aneh kok ...," jawab Nadia dengan menggelengkan kepalanya dan terlihat terus tersenyum kepada Berlin.
"Biasanya kalau wanita bilang enggak itu berarti iya," ucap Berlin.
.
Nadia langsung menyangkal ucapan tersebut dengan mengatakan, "Ish, sebel deh ..., terserah kamulah !" gusarnya dengan memasang ekspresi kesal.
"Iya, Sayang. Jangan marah dong ..., ya ?" ucap Berlin dengan nada memohonnya kembali.
"A ... Aku nggak marah kok, cuma sebel aja ...," jawab Nadia dengan memalingkan wajahnya ke arah jendela, dan terlihat cukup menahan tawa sesaat setelah mengucapkan demikian.
"Tuh kan ... ketawa lagi ...."
"Hahaha ..., maaf-maaf ..., sikapmu itu sangat lucu soalnya, hehehe ...," sahut Nadia dengan tawanya yang pecah tak dapat tertahan lagi.
"Tidak apalah, kalau bagimu lucu ...," gumam Berlin di dalam hati dan tersenyum saat melirik kekasihnya tersebut.
Sepanjang perjalanan mereka berdua di bawah langit jingga yang begitu indah, untuk menuju ke perumahan kota. Beberapa perbincangan dan canda tawa hampir selalu mewarnai suasana sepanjang perjalanan tersebut.
Berlin sendiri merasa sangat senang, ketika melihat kekasihnya itu dapat tertawa dan tersenyum lebar. Senyuman yang sangat tulus dan cukup jarang terlihat, kini terukir di wajah cantiknya. Bahkan sempat membuat dirinya tertegun sejenak karena terpesona dengan senyuman ia dapatkan.
~
Setelah perjalanan yang cukup lama karena memang dibuat secara sengaja oleh Berlin, dengan tidak memacu mobilnya begitu kencang. Akhirnya Berlin pun mulai memasuki kawasan kompleks perumahan kota, yang memiliki suasana cukup sepi walau rumah-rumah di sana telah dimiliki.
Perumahan ini adalah perumahan kelas menengah kebawah, dan biasanya dimiliki oleh orang-orang yang hanya serba berkecukupan. Letak dari perumahan ini berada cukup jauh dari pusat kota tetapi tidak terlalu, dan juga cukup strategis karena tidak membutuhkan waktu lama untuk menuju ke pusat kota.
"Sudah sampai ...!" ucap Berlin saat menepikan dan memberhentikan mobilnya tepat di depan dari sebuah rumah nomor A22.
Pada saat Berlin mengikuti Nadia untuk turun dari mobilnya. Dirinya melihat ke arah pintu rumah milik Nadia yang berwarna hitam, dan merasa kalau ada yang aneh dari pintu tersebut.
"Ma-makasih, ya ...," ucap Nadia sedikit tertunduk canggung, dan terlihat cukup tersipu saat ditatap oleh Berlin.
Secara tiba-tiba Berlin melangkah lebih dekat dan mengelus kepalanya secara perlahan, lalu mengatakan, "iya ..., kalau kamu membutuhkan 'ku, tinggal hubungi saja aku!" ucapnya dengan sedikit mendekatkan wajahnya tepat dihadapan Nadia.
DEG.
Seketika jantung milik Nadia berdebar begitu kencang tak beraturan saat berada di posisi tersebut. Wajahnya terlihat berubah memerah tersipu malu dan lututnya terasa sedikit bergetar lemas, saat Berlin menatap kedua matanya begitu dekat.
"Ba-ba-ba-baiklah ... kalau begitu ... aku masuk terlebih dahulu," ucap Nadia yang terlihat sangat salah tingkah saat Berlin menatapnya, dan dengan sedikit gagap saat mengatakannya.
Berlin tertawa kecil saat melihat kekasihnya sampai salah tingkah dibuatnya, dan mengucap, "ya sudah, istirahatlah ...," ucapnya singkat.
"Ba-baik. Dah ...!" cetus Nadia yang mulai melangkah masuk ke rumahnya dan lalu melambaikan tangannya kepada Berlin yang berdiri di samping mobil.
__ADS_1
Nadia pun masuk ke dalam rumah dan menutup pintu tersebut secara perlahan, dengan pandangan masih sedikit mengintip kepada Berlin yang masih berdiri di depan rumahnya. Dirinya sempat tersenyum sendiri saat mengintip Berlin yang terlihat masih menunggunya untuk menutup pintu.
Kreeekkk...
Pintu tersebut pun akhirnya ditutup oleh Nadia secara perlahan dan rapat.
...
"Huh ...," Berlin menghela napas.
Setelah memastikan kalau kekasihnya sudah menutup pintu rapat tersebut. Dirinya pun berbalik badan dan melangkah berjalan mendekati pintu mobilnya yang terparkir di hadapannya.
Pyaar....!!!
Di saat Berlin akan membuka pintu mobilnya. Tiba-tiba terdengar suara seperti sesuatu telah pecah yang bersumber dari dalam rumah milik Nadia.
Saat mendengar suara pecahan tersebut. Dengan spontan Berlin langsung berlari dan mendobrak pintu rumah, dan mencari keberadaan Nadia di dalam rumah itu.
"Nadia, kamu baik-baik saja, 'kan?!" cetus Berlin saat menemukan Nadia yang hanya berdiri diam menghadap ke arah kamarnya, dan terlihat serpihan gelas pecah yang berserakan tepat di bawah kaki milik kekasihnya tersebut.
Saat Berlin menghampiri kekasihnya tersebut. Secara tidak langsung matanya tertuju ke arah dari sebuah kotak berwarna hitam, yang diletakkan di atas dari sebuah meja tata rias. Kotak tersebut dalam keadaan penuh bersimbah darah, dan darah tersebut sepertinya bocor dari dalam kotak.
Tidak hanya itu, bau anyir sangat menyengat meliputi kamar milik Nadia. Serta darah yang keluar dari kotak hitam tersebut terlihat mulai menetes ke lantai karena saking banyaknya.
Tubuh milik Nadia terasa sangat lemas saat melihat banyaknya darah yang tiba-tiba membanjiri meja tata riasnya. Dirinya sangat lemas hampir pingsan serta hampir muntah, karena mulai tidak kuat melihat banyaknya darah dan bau anyir yang menyelimuti ruangan.
"Hei, hei, sudah jangan dilihat !" titah Berlin saat mendekati Nadia, dan meraih serta mencoba untuk menghalangi pandangan dari kekasihnya yang terus menatap kosong ke arah meja tata rias yang sudah dibanjiri dengan darah.
Kali ini lutut milik Nadia benar-benar terasa lemas dan tidak dapat menopang berat tubuhnya. Secara langsung, tubuhnya yang terasa sangat lemas pun mulai terjatuh perlahan dengan kesadaran yang mulai menurun.
DEG.
Berlin langsung mendekap tubuh milik kekasihnya, serta sedikit menjauhkan Nadia dari serpihan gelas yang berserakan dan kotak hitam yang sudah dibanjiri dengan darah.
Dengan tatapan kosong yang tidak dapat teralihkan dari kotak yang bersimbah darah tersebut, serta dengan ekspresi penuh kebingungan. Nadia bergumam, "ke ... kenapa ... darah ... begitu banyak ... di situ ...?" gumamnya dengan nada yang sungguh lemas dan gagap saat Berlin mendekap dirinya.
"Hei, lihat dan tatap aku !" titah Berlin dengan memegang kedua pipi milik kekasihnya, serta menatap tajam kedua matanya.
Nadia menatap balik kedua mata milik Berlin dengan menahan rasa pusing yang mulai menyelimuti kepalanya. Rasanya dirinya akan pingsan, karena dirinya benar-benar tidak bisa melihat darah secara langsung dengan mata kepalanya. Dan sekarang, ia justru malah melihatnya.
"Ayo kita cari udara segar terlebih dahulu, ya ...?" ucap Berlin dengan menuntun Nadia untuk keluar dari rumahnya.
Dengan napas yang terengah-engah, Nadia membiarkan dirinya dituntun oleh Berlin untuk keluar dari rumahnya. Dirinya benar-benar syok saat mendapati sebuah kotak hitam dengan banyaknya darah yang bocor dari dalam kotak.
"Kamu tenangkan diri terlebih dahulu di sini, ya ...?" ujar Berlin saat membukakan pintu mobil dan membiarkan kekasihnya untuk duduk di jok mobil miliknya.
"Apakah kotak hitam itu milik mu ?" tanya Berlin kepada Nadia dengan bersandar di samping mobil, dan membiarkan pintu mobilnya terbuka.
Nadia yang terlihat tertunduk lemas pun menjawabnya dengan hanya menggelengkan kepala, dan tidak mengatakan apapun kepada Berlin. Dirinya juga merasa sangat mual dengan apa yang ia lihat, dan juga dengan bau amis yang menyelimuti kamarnya.
"Ya sudah, kamu tunggu di sini, ya ...!" titah Berlin yang lalu kembali melangkah masuk ke dalam rumah tersebut.
.
"Ka-kamu mau ngapain ..?" cetus Nadia saat melihat Berlin kembali masuk ke dalam rumahnya.
Dengan menoleh ke arah kekasihnya, Berlin menjawab, "aku hanya penasaran dengan isi dari kotak itu, dan ... akan 'ku bersihkan dahulu, ya ...," jawabnya yang lalu masuk ke dalam rumah tersebut.
Nadia benar-benar merasa ketakutan saat melihat kotak hitam dan banyaknya darah yang tiba-tiba berada di kamarnya. Walau ia belum membuka dan mengetahui isi dari kotak tersebut. Tetapi dirinya merasa kalau ini adalah bentuk dari sebuah ancaman.
***
Dengan membawa beberapa alat pembersih, dan sebuah ember plastik serta kantung plastik sampah. Berlin dengan perlahan dan sangat hati-hati membersihkan serpihan gelas yang berserakan di lantai, serta memasukkannya ke dalam sebuah kantung plastik sampah.
Saat Berlin masuk ke dalam kamar, dirinya dapat mencium bau amis yang begitu menyengat. Namun dirinya terlihat sangat tahan dengan bau anyir tersebut yang telah menyelimuti seluruh sudut ruangan.
Setelah membersihkan serpihan gelas tersebut. Lalu Berlin pun langsung membersihkan ceceran darah yang berada di atas dari meja tata rias, dan juga sudah membanjiri lantai di bawahnya.
Dengan menggunakan gombal seadanya, dan juga cairan pembersih lantai. Berlin terlihat sangat telaten saat membersihkan darah yang berceceran di atas meja, dan kolong meja tersebut. Tidak lupa dirinya juga menggunakan pengharum ruangan di setiap sudut ruangan.
Setelah terlihat begitu bersih dan sangat harum. Berlin langsung mengangkat kotak hitam tersebut yang masih dengan bercak darah di bawahnya.
"Siapa yang mengirim dan meletakkan kotak ini di sini ...?!" gusar Berlin pada saat mengangkat kotak tersebut, dan terlihat sangat marah kepada orang yang telah mengirim benda seperti itu.
Berlin berniat akan membungkus kotak tersebut dengan sebuah kain putih yang ia bawa, dan membawa kotak itu untuk diselidiki lebih lanjut. Di saat ia mengangkat kotak yang sedikit basah di bagian bawah karena darah yang bocor. Rasa penasaran dengan isi dari kotak hitam tersebut pun sangat menyelimuti dirinya.
Karena rasa ingin tahu yang sangat besar, Berlin pun membuka kotak hitam yang ia bawa di tangannya tersebut secara perlahan. Di saat ia membuka kotak tersebut, dirinya dibuat sangat terkejut dengan benda yang tersimpan di dalamnya.
DEG.
"Apa ?! Boneka beruang ?!" cetusnya dengan sangat terkejut saat melihat isi dari kotak hitam tersebut.
Isi dari kotak tersebut adalah sebuah boneka beruang berukuran kecil berwarna putih, namun dengan kondisi berlumuran darah di seluruh bagian dari boneka tersebut.
Boneka beruang putih tersebut terlihat sangat imut dengan keadaan tidak ada kerusakan sama sekali di seluruh bagian badannya. Hanya saja boneka tersebut berlumuran darah dan berbau sangat amis karena darah yang melumurinya.
Berlin pun sedikit mengangkat boneka beruang tersebut, dan matanya tertuju ke secarik surat yang tersimpan di bawah dari boneka tersebut. Secarik surat itu juga dalam keadaan berlumuran dengan darah, namun tidak mengubah tulisan yang tertulis di atas kertas tersebut.
"Sial ...!" gusar Berlin yang terlihat cukup cemas dan menyimpan emosinya saat sekilas membaca tulisan dari surat yang ia temukan di dalam kotak.
"Siapa ...? Dan ... apa maksudnya dia mengirimkan ini kepada Nadia ...?!"
Berlin terlihat sangat khawatir, cemas, dan cukup terbawa emosi saat membaca tulisan yang tertulis di surat yang ia temukan. Suasana hatinya sangat dibuat berkecamuk setelah membaca surat yang ia temukan.
Namun Berlin lebih merasa sangat cemas dan khawatir terhadap kekasihnya, setelah membaca isi surat tersebut. Dirinya sangat khawatir dengan keselamatan di mana pun Nadia berada.
Seketika karena terbawa oleh emosi yang begitu menyelimuti dirinya. Berlin langsung meremas dan merobek surat yang telah ia baca, dan terlihat sangat kesal dengan orang yang mengirimkan benda ini.
"Siapapun kau, aku akan segera menemukan mu, sialan !" gumamnya saat merobek-robek surat yang ia baca, dan lalu mengantonginya.
.
Bersambung.
__ADS_1