Mafioso In Action

Mafioso In Action
Deklarasi #40


__ADS_3

"Kim, sepertinya ada sesuatu yang menarik ...!" celetuk Sasha kepada Kimmy yang duduk di sebelahnya.


Sasha yang hanya ditemani oleh Kimmy, dan masih menunggu Adam yang belum juga selesai serta keluar dari ruang operasi. Dirinya dibuat cukup terkejut saat melihat tiga anggota polisi yang masuk ke ruang gawat darurat, dan satu di antara mereka langsung dilarikan ke salah satu ruang operasi di sana.


"Sepertinya ...," gumam Kimmy yang duduk di ruang tunggu depan ruang operasi, dan melirik ke arah keramaian di ruang operasi sebelah yang tak jauh darinya.


Kimmy masih berada di rumah sakit tersebut, karena diperintahkan oleh Berlin untuk menemani Sasha di sana. Sedangkan Berlin dan beberapa temannya yang lain kembali berkumpul ke bengkel mereka terlebih dahulu.


"Ada apa, James ?" tanya Kimmy saat James kembali menghampirinya setelah dari lobi rumah sakit.


"Ada ... sedikit insiden ... yang menimpan kru helikopter kami," jawab James.


"James, ditunggu kehadirannya di Kantor Pusat !" titah seorang polisi wanita yang mendekatinya dari belakang.


"Siap, Bu !" sahut James tanpa menoleh.


Setelah memberitahukan James. Polisi wanita tersebut pun langsung melangkah pergi.


"Adam ... belum ada pembaruan, ya ...?" tanya James dengan bersandar di dinding tepat di samping Sasha yang duduk di bangku ruang tunggu.


Kimmy pun kembali duduk di samping Sasha, dan masih menunggu hasil dari operasi Adam yang tak kunjung ada kepastian sedari tadi.


Baru saja sesaat Kimmy memposisikan dirinya di tempat duduk. Tiba-tiba dan akhirnya, seorang dokter pria keluar dari ruang operasi dengan membawa rekam medis milik Adam.


"Bagaimana, Dok ?!" Sasha langsung bangkit dari duduknya dan bertanya kepada dokter tersebut dengan sangat berharap cemas.


"Syukurlah ... operasinya berjalan lancar," jawab Dokter tersebut kepada Kimmy, Sasha, dan juga James, yang terlihat cukup berharap cemas dengan kondisi Adam.


"Syukurlah ...!" Kimmy dan Sasha terlihat sangat senang dan lega ketika mendapatkan kabar baik tersebut. Begitu pula dengan James yang juga merasa lega karena temannya itu masih selamat.


"Hanya saja ... dia sudah terlalu banyak menghabiskan tenaga. Jadi ... biarkan dia untuk istirahat beberapa saat, dan kemungkinan akan menghabiskan waktu satu hari penuh." Dokter tersebut memberikan sedikit penjelasan kepada Sasha saat menunjukkan rekam medis tersebut.


"Terima kasih banyak, Dok !" kata Sasha dan Kimmy secara bersamaan.


"Untuk barang bukti berjumlah dua butir peluru yang berhasil kami angkat. Kami mempersilakan kepada kepolisian untuk mengambil alihnya," ucap Dokter tersebut kepada James.


"Baik. Di mana saya bisa mengambilnya ?" jawab James.


"Silakan ikuti saya, Pak !" titah Dokter tersebut yang lalu berjalan ke arah laboratorium.


James pun berjalan mengikutinya dari belakang melewati lorong rumah sakit menuju laboratorium.


Sedangkan Kimmy dan Sasha. Mereka berdua terus menemani Adam yang dipindahkan serta diistirahatkan dalam keadaan masih tidak sadarkan diri menuju ke ruang rawat inap.


.


~


.


Beberapa jam setelah senja berganti ke gelapnya malam. Angin bertiup sepoi-sepoi melewati jalanan kota yang cukup ramai dan dinaungi lampu-lampu perkotaan.


Berlin berencana untuk membicarakan sesuatu tentang apa yang terjadi kepada Adam, dan juga termasuk dengan kasus ancaman sebelumnya.


Namun sebelum Berlin menemui teman-temannya yang sudah menunggu di bengkel miliknya. Dirinya terlebih dahulu mengantarkan Nadia untuk pulang dan beristirahat, karena sudah seharian dia menemaninya.


...


Sesampainya Berlin di rumah. Ia pun menurunkan Nadia tepat di depan pintu gerbang. Nadia pun turun dari mobilnya dengan membawa barang-barang belanjaannya.


"Aku pergi menemui teman-temanku sebentar, ya ?" cetus Berlin sesaat setelah Nadia turun dari mobilnya, dan memberikan kunci rumah miliknya kepada kekasihnya itu.


"Baiklah. Kamu pulang jam berapa ?" jawab Nadia sesaat setelah menerima kunci rumah tersebut.


"Sebentar aja, kok ! Nggak sampai malam-malam," jawab Berlin.


.


"Paling sejam dua jam," lanjutnya.


"Ka-kalau begitu ... a-aku ... masakin makan malam, ya ?" ucap Nadia sesaat menutup pintu mobil tersebut, dan berbicara kepada Berlin melalui jendela mobil yang dibuka.


"Oke ! Kalau begitu ... aku akan segera pulang cepat !" sahut Berlin yang terlihat cukup tidak sabar.


.


"Ya sudah, aku pergi dahulu ! Biar cepat selesai !" lanjutnya dengan tersenyum lebar.


"Iya, hati-hati !" sahut Nadia tersenyum dengan tatapan berbinar-binar kepada Berlin.


.


"Aku menunggumu di rumah !" lanjutnya dengan sedikit melambaikan tangannya.


Berlin pun memacu kembali mobil yang dikendarainya melewati jalanan menurun di sekitar kompleks perumahannya menuju ke kota.


Setelah melihat mobil yang dikendarai Berlin menjauh. Nadia pun segera masuk ke dalam rumah dengan tangan penuh barang belanjaan.


.


~


.


Melewati lalu lintas kota yang cukup lenggang pada malam yang cerah itu, Berlin memacu kecepatan mobilnya cukup tinggi.


Selama perjalanan menuju ke bengkel pribadi miliknya, yang sudah ditunggu oleh teman-temannya. Pikiran Berlin benar-benar cukup kacau dengan apa yang menimpa salah satu sahabatnya, yaitu Adam.


Apalagi Adam-lah yang dipercaya Berlin untuk mengusut kasus pengancaman yang dialami oleh Nadia. Baru saja satu hari berjalan setelah Berlin memberikan kepercayaan tersebut. Namun justru semua yang terjadi kali ini sangat di luar dugaan Berlin.


...


Tidak memakan waktu yang cukup lama, Berlin akhirnya sampai di tujuannya yang sudah ditunggu oleh teman-temannya. Begitu datang, dirinya langsung disambut dengan baik oleh semua teman-temannya yang sudah menunggu.


"Malam, Bos !" Asep dan yang lainnya pun langsung menyapa dan menyambut kedatangan Berlin, sesaat setelah Berlin turun dari mobilnya.


"Baik, langsung saja ... berkumpul !" Berlin langsung menyuruh teman-temannya untuk berkumpul di ruang utama mereka.


"Siap, Bos !" sahut mereka semua yang langsung berkumpul dan berdiri tepat di hadapan Berlin.

__ADS_1


Berlin pun langsung mulai berbicara mengenai beberapa masalah yang sedang terjadi, tepat di hadapan kesebelas orang teman-temannya.


"Karena Kimmy dan Sasha saat ini sedang berada di rumah sakit. Apakah ... mungkin ... salah satu dari kalian mengetahui kronologi pada kejadian yang menimpa Adam secara rinci, dan selain dari yang diceritakan James ?" tanya Berlin dengan sikap dan nada yang cukup tegas saat berbicara di hadapan teman-temannya.


"Untuk kronologinya ... hanya sedikit yang kami ketahui, Bos," jawab Galang.


.


"Iya, itupun hanya dari James tadi," sambung Faris.


"Begitu, ya ...," gumam Berlin.


Berlin terlihat sangat serius saat membahas masalah tersebut, dan terlihat sangat berbahaya jika disentuh.


"Apa Sasha belum menceritakannya kepada kalian ?" cetus Berlin kembali bertanya.


Teman-temannya yang berkumpul dan berdiri di hadapannya itu terlihat cukup tidak berani untuk angkat bicara menjawab pertanyaan Berlin. Mereka terlihat takut salah untuk memberikan kronologi yang mereka dapatkan dari Sasha.


"Kenapa tidak ada yang menjawab ?" celetuk Berlin.


.


"Tidak apa ..., aku tidak akan marah," lanjutnya yang lalu sedikit menurunkan nada bicaranya.


Karena tidak ada yang berani untuk berbicara. Asep pun membuka mulut dan menjawab pertanyaan dari Berlin dengan mengatakan, "Sasha hanya baru memberitahu kami sedikit dari kejadian itu, Bos."


"Dan intinya ... seperti yang dikatakan James tadi, kalau mereka berusaha menculik dan menjadikan Sasha sebagai tawanan," sambung Vhalen.


Berlin menjadi cukup bingung untuk memikirkannya. Karena di sisi lain, saat ini Sasha sedang bersama Kimmy untuk menunggu pembaruan kondisi dari Adam di Rumah Sakit Kota.


...


"Baiklah, hal itu untuk sementara ... kita lanjut bicarakan dengan Sasha langsung !" Berlin pun ingin segera mengalihkan topik pembicaraan mereka.


"Sep, kau bawa kotak hitam yang kemarin ?" cetus Berlin bertanya.


"Oh, bawa, Bos. Apa perlu ku ambilkan ?" jawab Asep.


"Ya, bawa ke sini !" titah Berlin.


Asep pun keluar dari barisannya untuk mengambil kotak hitam yang dipercayakan Berlin kepadanya.


"Kotak ?" tanya Aryo.


"Apa sih ?" tanya Bobi.


"Kotak hitam apa, Bos ?" tanya Kent.


"Itu apaan, Sep ?" tanya Rony.


"Hmm ...," gumam Salva.


Semua teman-temannya langsung dibuat bingung dengan pembicaraan antara Berlin dan Asep. Mereka juga terlihat cukup penasaran dengan kotak hitam yang dimaksud tersebut.


Setelah Asep mengambil kotak hitam tersebut yang ia simpan di brankas belakang. Ia langsung berjalan kembali dengan membawanya untuk diberikan kepada Berlin.


"Darah ?" cetus Salva.


"Boneka ?" tanya sambung Kina.


Tanpa basa-basi, Berlin langsung membuka dan menujukkan isi dari kotak tersebut tepat di hadapan semua teman-temannya.


Semua teman-temannya terlihat sangat terkejut saat melihat banyaknya bercak darah yang mulai mengering di sekitar dinding kotak, dan sebuah boneka beruang putih yang dalam keadaan penuh dengan bercak darah mengering di beberapa bagiannya.


Berlin juga menunjukkan robekan surat yang tersimpan dalam kotak tersebut kepada teman-temannya.


"Tampilannya sih ... sangat mencurigakan," gumam Aryo mengomentari isi dari kotak yang ditunjukkan oleh Berlin.


"Ya. Pasti terjadi sesuatu, 'kan ?" sambung Salva yang lalu bertanya kepada Berlin.


Berlin pun langsung menjawab pertanyaan tersebut, dan juga mulai menjelaskan tentang kotak hitam yang ia dan Asep sembunyikan dari teman-temannya.


"Akan ku jelaskan dengan rinci dan singkat kepada kalian, tentang kotak ini," ujar Berlin.


"Jadi, kotak hitam ini ku temukan di dalam rumah milik Nadia kemarin, dengan keadaan yang ... seperti yang kalian lihat sendiri ini."


"Sudah pasti seseorang telah berhasil menyusup dan mengirimkannya, dengan tujuan yang tentunya ... sangat membahayakan keselamatan Nadia sendiri."


"Tentu aku tidak ingin tinggal diam. Maka dari itu ... aku memberi Asep dan Adam tugas khusus untuk mendalami asal-usul dari kotak ini."


"Namun ... aku sangat tidak menduga Adam akan menjadi seperti ini," gumam Berlin saat menutup kotak tersebut dengan sedikit tertunduk sendu setelah selesai berbicara.


"Hah ...?!" gusar Vhalen.


"Itu serius ... tentang Nadia ?!" sela Kina yang terlihat cukup terkejut setelah mendengar hal tersebut.


"Apa motif seseorang itu, sampai-sampai dia mengirimkan benda seperti ini kepada Nadia ?!" gusar Aryo yang terlihat kesal.


"Sep, bagaimana informasi yang kau dapat tentang kotak ini ?" tanya Berlin.


Asep pun melangkah maju dan memberikan sebuah tablet yang ia bawa kepada Berlin.


Berlin pun meletakkan kotak yang ia bawa di sebuah meja yang tak jauh darinya, dan menerima tablet yang diberikan Asep kepadanya.


Saat ia melihat layar tablet yang menyala itu. Berlin bisa dengan jelas mendapati beberapa catatan yang tertuliskan banyaknya informasi penting baginya. Dua nama dan sebuah tempat yang diduga menjadi asal-usul dari kotak yang meneror kekasihnya, itu tertulis dicatatan yang disimpan Asep pada tablet miliknya.


"Sudah ku duga, dia yang mengirimkan benda ini ...," gumam Berlin saat membaca salah satu dari kedua nama pada catatan tersebut.


"Aku minta tolong ... perdalam tentang apa itu Matrix yang dimaksud dalam catatan ini, dan tentang tempat yang dinamakan Bukit Sunyi !" titah Berlin saat memberikan kembali tablet tersebut kepada Asep.


"Siap, Bos !" jawab Asep.


.


"Sekarang ?" lanjutnya bertanya.


"Menurutmu ?!" sahut Berlin.


"Oh, baik !" Asep pun langsung menuju ke sebuah ruangan di bagian belakang bengkel, yang sepertinya sudah lama Berlin sediakan untuk dirinya.

__ADS_1


"Ada apa, Bos ?" tanya Faris dan yang lainnya.


"Oke, sepertinya ... lawan kita kali ini ... adalah kelompok kriminal yang sangat berbahaya," kata Berlin dengan nada dan sikap yang sangat dingin.


"Wah, sudah cukup lama ... kita tidak mendapatkan lawan yang tangguh," sela Aryo dengan meregangkan otot-otot jari tangannya.


Beberapa temannya terlihat cukup bersemangat setelah Berlin berkata seperti itu. Namun juga ada beberapa yang terlihat cemas atau khawatir. Karena dengan melihat gerak-gerik dan sikap yang ditunjukkan Berlin saat berbicara begitu serius dan dingin, maka musuh atau kelompok yang Berlin maksudkan itu bukanlah kelompok kriminal tingkat bawah.


"Apakah ... kelompok hitam itu ?" tanya Kina yang terlihat cukup cemas namun juga bersemangat.


"Ya. Mafioso telah resmi mengganggu dan menyenggol keluarga kita, sampai membuat salah satu rekan atau saudara kita terluka sangat parah. Dan juga, mereka telah membuat ancaman seperti kotak ini terhadap Nadia."


.


"Jadi ... aku berencana untuk melakukan aksi yang akan ditujukan untuk mereka, Mafioso br*ngs*k itu !" gusar Berlin.


"Akhirnya ... kita akan melakukan aksi untuk mereka !" seru Galang yang terlihat bersemangat.


"Aku harap ... kau memiliki rencana yang matang, Bos. Karena kau tahu sendiri, mereka itu sangatlah banyak," ujar Salva yang mengingatkan Berlin.


.


"Iya, Bos. Bahkan anggota polisi yang segitu banyaknya, dibuat kacau dan kewalahan oleh mereka, Mafioso sialan itu," sambung Rony.


"Tentu aku memikirkannya, kok. Aku juga memikirkan keselamatan kalian juga, karena mau bagaimanapun ... itu adalah hal yang paling utama," jawab Berlin.


"Kapan kita memulainya ?" tanya Aryo.


"Tidak sekarang, dan tidak dalam waktu dekat !" jawab Berlin dengan tegas.


"Untuk sekarang, aku ingin kita semua lebih berhati-hati dalam bepergian ke manapun itu. Kalau bisa, jangan sendirian !" Berlin memberikan himbauannya kepada teman-temannya supaya lebih berhati-hati dalam waktu dekat.


.


"Untuk masalah kelompok Mafioso itu. Aku harus membicarakannya dahulu dengan Prawira," lanjutnya.


"Baik, kau benar juga sih," sela Bobi.


"Ya sudah, mungkin hanya segitu dahulu untuk obrolan kita kali ini. Jadi intinya ... mereka Mafioso ... sudah resmi mendeklarasikan perang kepada kita,"


.


"Dan ... tinggal kita yang menjawab deklarasi itu nantinya," ujar Berlin yang lalu menutup dan mengakhiri semua pembicaraannya.


"Ya, kita harus lebih berhati-hati kedepannya !" sahut Kent kepada teman-temannya.


"Silakan bubar, dan melanjutkan aktivitas kalian masing-masing di malam ini dengan lebih berhati-hati !" titah Berlin yang lalu membubarkan semua teman-temannya yang berkumpul di hadapannya.


...


Setelah membicarakan sedikit hal tentang apa yang terjadi akhir-akhir ini. Mereka semua membubarkan diri sesuai dengan perintah Berlin. Ada beberapa dari temannya yang langsung pulang, namun ada juga yang masih menghabiskan waktu mereka di bengkel tersebut.


Setelah selesai membicarakan semua itu. Berlin merasa ingin segera pulang dan bertemu dengan Nadia yang pasti sudah menunggunya untuk makan malam. Namun sebelum itu, dirinya berjalan menemui Asep yang tengah duduk di bangkunya dan sibuk dengan layar komputer miliknya di ruang kerjanya.


"Bagaimana, Bos ? Merasa pusing ?" celetuk Asep kepada Berlin yang memasuki ruangannya, namun dengan pandangan yang terus tertuju pada layar monitor.


"Entahlah ..., aku cukup bingung dengan semua ini," jawab Berlin yang lalu bersandar pada dinding tepat di sebelah pintu masuk ruangan.


Sebenarnya apa yang dikatakan atau ditanyakan oleh rekannya itu memang ada benarnya. Berlin sendiri merasa cukup pusing dengan semua yang terjadi. Karena banyak hal yang harus ia pikirkan secara matang-matang agar tidak terjadi hal-hal yang tidak ia inginkan.


Tidak seperti biasanya dan tidak seperti dahulu waktu awal-awal kelompok miliknya terbentuk, yang di mana Berlin hampir selalu mengambil keputusan tanpa berpikir panjang, walau dengan resiko yang amat besar. Bahkan Teman-temannya sendiri sampai sempat menyebut dirinya dengan berbagai sebutan seperti, Berlin Stone, penantang, orang yang suka bahaya, atau orang yang sangat gegabah. Walaupun, hampir semua keputusan yang ia ambil secara gegabah itu, selalu menghasilkan atau mencapai keberhasilan. Walau juga hampir semuanya selalu membahayakan dirinya sendiri.


Tetapi, semua itu hanyalah masa lalunya dan sangat berbeda dengan dirinya yang sekarang. Karena cukup banyak orang-orang yang menurutnya sangat berharga, dan mereka semua selalu mengkhawatirkan atau mencemaskan dirinya. Dan Berlin selalu mencoba untuk tidak membuat mereka semua cemas terhadap dirinya. Terutama Nadia yang selalu saja mencemaskan dirinya.


Di sisi lain, jika Berlin mengambil keputusan dengan gegabah tanpa berpikir panjang. Dirinya bisa saja membuat orang-orang berharganya itu masuk ke dalam zona atau lingkaran berbahaya.


"Yang lain langsung setuju begitu, saat kau mendeklarasikan untuk melawan Mafioso," celetuk Asep dengan tersenyum tipis namun dengan pandangan masih ke layar monitor.


Berlin hanya tertawa kecil saat mendengar perkataan yang diucap Asep barusan.


.


"Apakah kau ada saran ?" cetus Berlin kepada Asep.


Asep langsung menghentikan aktivitasnya terhadap komputer miliknya, dan lalu menoleh serta menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu.


.


"Mungkin saranku ..., kau harus membahas semua ini dan temasuk rencana yang ingin kau lakukan, kepada keluarga Gates-mu itu."


"Tidak hanya itu, kau juga harus membahasnya dengan Nadia !" lanjut Asep.


Berlin mengangguk paham dengan jawaban dari sahabatnya itu, dan merasa harus segera melakukan semua saran yang ia terima.


"Terutama dengan Nadia, ya !" Asep kembali menegaskan jawabannya kepada Berlin.


"Walau dirinya juga sedang mendapatkan ancaman, seperti contohnya dalam bentuk kotak hitam tadi. Tetapi aku yakin, dia lebih mengkhawatirkan dirimu dari pada dirinya sendiri, Berlin." Asep memutarkan bangkunya menghadap Berlin.


"Iya, aku menyadarinya," ucap Berlin dengan nada yang sungguh pelan dan sedikit tertunduk.


Asep tersenyum tipis setelah mendengar ucapan Berlin. Ia pun kembali memutarkan bangkunya ke hadapan layar monitor dengan berkata, "kau sangat beruntung bisa memiliki Nadia, Berlin. Andai saja ... aku sama beruntungnya dengan mu."


.


"Jadi jangan heran, jika cukup banyak orang yang iri dengan hubungan kalian berdua," sambungnya dengan maksud sedikit menyindir seseorang di balik ancaman dari sebuah kotak hitam itu.


"Terima kasih sarannya," ujar Berlin.


.


"Kalau begitu, aku harus segera kembali ke rumah," lanjutnya sesaat setelah menepuk salah satu pundak milik Asep, dan lalu melangkah berjalan ke luar ruangan.


"Berhati-hatilah ! Karena tanpa dirimu, semua teman-temanmu ini ... akan sangat sulit atau bahkan tidak bisa melakukan apa-apa," sela Asep mengingatkan rekannya itu.


"Baik, aku akan lebih berhati-hati !" jawab Berlin yang lalu melangkah pergi meninggalkan ruang kerja milik Asep.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2