
"Sialan! Mati kau!" teriak seorang pria mengangkat sebuah senjata peluncur roket ke arah Berlin.
Jleebb ...!
Sebuah peluru panas melayang menusuk ke dada pria tersebut, dan membuat pria tersebut langsung tergeletak di tanah dengan keadaan tak berdaya.
"Berlin!" teriak Asep dan keempat temannya yang datang di saat yang tepat. Dirinya juga sangat beruntung bisa tepat waktu untuk melumpuhkan pria tersebut.
"Bos, kau baik-baik saja, 'kan?" tanya Aryo dan yang lainnya terlihat sangat khawatir dengan Berlin.
Kelima temannya sempat terkejut dengan kondisi Berlin yang hampir berlumuran darah pada Hoodie Ashgard yang ia kenakan. Di sekitar Berlin juga banyak orang-orang berpakaian serba hitam dan bersenjata, yang tergeletak tak bernyawa dengan keadaan yang sangat mengerikan.
"Ya. Aku harus mencari Nicoalus!" sahut Berlin yang lalu ingin berjalan ke puncak dari bukit tersebut, yang tampak sangat banyak sekali personil dari Mafioso yang menjaga lokasi tersebut.
"Tunggu!" bentak Asep menghentikan langkah Berlin dan dengan tegas menghalangi jalan Berlin.
.
"Kami tak bisa membiarkanmu sendirian. Bukankah kita keluarga? Bukankah kita teman? Bukankah kita tim?" lanjut Asep dengan tatapan serius dan tajam menatap Berlin.
"Benar apa yang dikatakan Asep," sambung Salva.
"Jangan lupakan temanmu," sambung Aryo.
"Aku siap dan sangat siap jika kau menyuruhku untuk membunuh orang-orang Mafioso br*ngs*k itu!" lanjut Galang.
"Tanganku juga sudah gatal untuk melumpuhkan orang-orang itu," celetuk Bobi.
Asep tersenyum mendengar semua yang dikatakan oleh keempat teman-temannya. "Kau tidak melupakan kami 'kan, Berlin?" ucap Asep tersenyum seraya mengepalkan satu tangannya dan sedikit memukul salah satu bahu milik Berlin dengan perlahan.
"Teman-teman ...," gumam Berlin akhirnya tersadarkan dari semua amarahnya yang telah ia luapkan. Air matanya hampir saja terjatuh, namun sempat dan berusaha ia tahan.
"Nah, sekarang. Apa rencanamu?" tanya Salva berdiri tepat di samping Berlin dengan tangan memegang pistol.
"Apakah ini saatnya memberitahu mereka sedang berurusan dengan siapa?" celetuk Aryo menatap dari kejauhan orang-orang Mafioso yang tampak sedang baku tembak dengan aparat dan personil militer dari sisi seberang bukit.
"Apa perintah mu, Berlin?" tanya Asep menatap Berlin.
.
~
.
Pukul 20:25 malam.
Perbukitan Utara Gedung Balaikota.
Baku tembak dan peperangan antara aparat dengan orang-orang Mafioso tak bisa lagi dibendung. Situasi sangatlah kacau dengan melibatkan sangat banyak nyawa tentunya. Dari pihak milik Garwig tampak cukup kesulitan untuk melawan banyaknya jumlah anggota dari Mafioso yang memberikan perlawanan yang sangat berarti.
Garwig memimpin sebuah regu yang berisikan personil militer untuk memberikan tekanan dan perlawanan. Namun sepertinya ia harus membutuhkan lebih usaha dan cukup memutar otak untuk melawan Mafioso yang sudah mengacaukan segalanya.
"Prime, bagaimana dengan kondisi pada regu yang kau pimpin?" tanya Prawira melalui radio.
"Cukup tidaklah baik, beberapa anggota mengalami luka tembak ringan, sedangkan dua anggota mengalami luka tembak berat. Mungkin akan cukup sulit untuk mengapit musuh dari kedua sisi, karena mereka sangat bersikeras untuk menghabisi kita!" Prime dengan nada cukup panik namun berusaha untuk tenang, menjawab serta melaporkan situasi yang ada di regunya.
"Baiklah, kalau begitu saya akan ...."
"Prawira, aku meminta kau tetaplah di sana untuk menjaga pertahanan Gedung Balaikota, dan menjaga Walikota!" titah Garwig langsung menyela ucapan Prawira melalui radio.
Garwig tampaknya sangat mengetahui apa yang akan dilakukan Prawira, ditambah lagi Prawira melihat Berlin yang bertindak secara nekat. Namun Garwig ingin Prawira fokus untuk terus memperkuat barisan paling belakang bersama semua anggotanya.
"Ba-baik," jawab Prawira secara terpaksa menuruti perintah tersebut.
"Apakah Walikota sudah berada di tempat yang aman?" tanya Garwig kepada Prawira melalui radionya.
"Sudah, dia sudah diamankan di dalam bunker bersama tim penjagaan walikota," sahut Prawira.
"Baiklah, jadi jangan ragu untuk melakukan perlawanan jika mereka mendesak!" cetus Garwig yang lalu kembali bergerak menaiki bukit-bukit kecil untuk memberikan perlawanan terhadap kelompok Mafioso itu.
~
Berlin dan kelima orang temannya sedikit mundur dan bersembunyi dibalik pepohonan yang ada di lereng bukit. Dirinya tengah memikirkan rencana untuk melawan orang-orang Mafioso yang jumlahnya sangat banyak itu di atas bukit. Berlin sendiri sempat bingung, karena ada mungkin setengah dari jumlah mereka sudah ia bunuh ketika amarahnya sedang meluap. Namun sepertinya jumlah mereka lebih banyak dan diluar pikiran Berlin.
"Bos, kau benar baik-baik saja, 'kan?" tanya Asep kembali memastikan kondisi Berlin. Dirinya sedikit khawatir karena melihat Hoodie Ashgard yang digunakan Berlin berlumuran darah setelah berhadapan dengan banyak orang dari mereka.
__ADS_1
"Tenang saja, ini bukan darahku," jawab Berlin sedikit menyembunyikan luka-luka kecilnya.
"Kita harus fokus untuk melawan mereka semua, namun kita di sini benar-benar buta informasi. Apakah benar Nicolaus ada di puncak bukit itu?" lanjut Berlin berpikir.
"Aku tidak tahu," sahut Asep.
"Apapun itu, yang pasti kita harus menangani anak-anak buahnya dahulu untuk ke sana," cetus Salva.
"Sepertinya akan sulit, melihat mereka yang sangatlah banyak, bahkan terlalu banyak untuk kita," sela Bobi.
"Setelah bertemu dengan Nicolaus, apa yang akan kau lakukan, Berlin?" tanya Asep serius melirik kepada Berlin di sampingnya saat mereka masih bersembunyi di balik pepohonan.
Mendengar pertanyaan tersebut, membuat Berlin merasa kesal dengan mengepalkan kedua tangannya. "Aku ... akan ... membunuhnya ...!" jawab Berlin dengan nada yang terdengar sangat dingin nan kejam.
***
"Saat ini kita melibatkan pihak militer, apa akan baik-baik saja?" cetus Kibo terlihat cukup panik ketakutan ketika mengetahui personil gabungan mulai maju melalui sisi Barat.
Nicolaus turun dari mobil istimewanya, dan dengan tenangnya berbicara, "tentu saja! Kita bahkan sudah melawan satu kota sekaligus."
Di sekeliling Nicolaus dijaga sangat ketat oleh anak-anak buahnya dengan persenjataan yang lengkap, bahkan beberapa senjata berat telah mereka pakai untuk melawan personil gabungan dari para aparat itu.
"Kibo, aku ingin kau tetap bersiap di kursi pengemudi!" titah Nicolaus kepada Kibo yang hendak turun dari mobilnya.
"Oh, ba-baik!" sahut Kibo mengurungkan niatnya untuk turun dari mobil.
Tampak Nicoalus menghela napas panjang dan cukup kasar dengan pandangan ke arah bukit kecil di sebelah Timur, yang di mana tempat itu adalah tempat barisan paling luar kelompoknya yang telah dihancurkan. Banyak anak buahnya yang terbunuh oleh Berlin seorang yang tampak sangat meluapkan amarahnya di lokasi itu, dan menjadikan semua anak buahnya yang di sana sebagai bahan pelampiasan dari amarah tersebut.
"Aku menyesal ... dahulu ... aku tidak mencari dan bersikeras untuk membawamu, saat aku berhasil membawa Carlos keluar dari keluarga Gates itu," gumam Nicolaus dengan pandangan terus ke bukit sebelah Timur.
"Kau benar-benar memiliki bakat dan potensi yang sangat tinggi, dan itu diperlukan oleh Keluarga Matrix. Bahkan bakat dan potensi mu itu jauh berbeda dari saudaramu yang hanya bisa berambisi," lanjut Nicolaus berbicara sendiri seraya melihat dari kejauhan Berlin dan kelima temannya yang mulai bergerak.
Nicolaus melirik ke salah satu anak buahnya yang sepertinya juga menjadi salah satu orang kepercayaannya selain Kibo. Ia melirik dan sedikit mengangguk seakan memberikan sebuah perintah penting setelah melihat Berlin dan teman-temannya mulai bergerak.
Salah seorang anak buahnya itu mengangguk seakan paham dengan maksud Nicolaus kepadanya. Ia langsung bergegas ke arah bukit kecil bagian Timur dengan membawa beberapa orang dan persenjataan lengkap.
***
Pukul 20:35 malam.
Tap ... Tap ... Tap ...!
"Apakah Kimmy dan yang lain baik-baik saja jika kita tinggal di barisan belakang?" tanya Berlin kepada Asep yang sembari terus berlari di sampingnya.
"Tenang saja, di sana ada pihak kepolisian milik Prawira," jawab Asep.
Berlin dan kelima orang temannya segera bergerak dengan rencana yang sudah sempat tersusun. Walau rencana tersebut dibuat secara dadakan dan dalam waktu yang sangat singkat. Tetapi Berlin yakin dengan rencananya sendiri, begitu pula dengan kelima temannya yang ikut yakin jika Berlin yakin.
"Bos," cetus Salva saat berlari dan melihat komplotan orang berpakaian serba hitam yang tampak mendekati ke atas bukit depannya.
"Sekarang!" sahut Berlin kepada ketiga orang temannya, yaitu Salva, Galang, dan Aryo. Mereka bertiga tampak berlari berpencar menjauhi Berlin, Asep, dan Bobi yang terus saja berlari ke arah komplotan orang bersenjata itu.
Salva, Galang, dan Aryo. Mereka bertiga diutus oleh Berlin untuk memisahkan diri, dan bersiap di pepohonan dan semak-semak di sekitar lokasi di mana komplotan orang bersenjata itu berada. Tingkat kegagalan dari keputusan tersebut sangatlah tinggi. Meski begitu, mereka bertiga tampak tidak memiliki rasa ragu ketika Berlin memerintahkannya secara langsung. Mereka bertiga seakan menaruh kepercayaan yang sangat besar dengan keputusan dan rencana yang dibuat oleh Berlin.
DOR ...!
Satu tembakan mengarah ke arah Berlin, dan diikuti dengan banyak tembakan lainnya yang berasal dari komplotan yang menghadang tersebut. Beruntung terdapat sebuah batu dan pohon yang dapat digunakan oleh Berlin dan kedua rekannya untuk berlindung. Namun sepertinya Bobi yang berlindung di balik sebuah batang pohon, sedikit terpisah dari Asep dan Berlin yang berlindung di balik batu yang cukup besar.
"Kau baik-baik saja?!" teriak Berlin kepada Bobi di seberangnya. Meski jarak mereka berdua tidaklah jauh, tetapi suara tembakan beserta timah panasnya terus saja menghujani tempat mereka berlindung.
"Ya!" sahut Bobi.
"Bos? Sekarang?" cetus Salva kepada Berlin melalui radio. Salva dan kedua rekannya sepertinya sudah siap di posisinya masing-masing, dan tinggal menunggu perintah lanjutan dari Berlin.
"Tidak! Kalian tetap bersiap!" sahut Berlin menyanggahnya.
Walau situasinya sedang dihujani oleh peluru-peluru panas. Namun Berlin dan kedua rekannya tetap tenang serta tidak panik.
"Bagaimana sekarang?" tanya Asep yang jongkok seraya merunduk melindungi kepalanya.
"Sekarang hanyalah masalah waktu, kita tenang terlebih dahulu di sini," jawab Berlin yang lalu memberikan kode kepada Bobi di seberangnya dengan menutup mulutnya menggunakan jari telunjuk.
Di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja tembakan-tembakan tersebut berhenti dan membuat situasi hening seketika. Meski begitu, suara-suara tembakan tetap terdengar dari jauh perbukitan sebelah Barat, yang di mana lokasi tersebut masih kacau oleh baku tembak para aparat dengan kelompok pelaku.
"Hei, hei, apa kalian ketakutan?!" Terdengar suara seorang pria yang berjalan perlahan mendekati batu yang digunakan Berlin dan Asep berlindung. Pria tersebut tampak mengerikan dengan senapan yang terus ia bawa dan ia gunakan untuk menembaki Berlin sebelumnya.
__ADS_1
"Bagaimana?" bisik Asep tampak menahan kesabarannya untuk menyerang. Bobi pun tampak menatap Berlin dengan tatapan penuh pertanyaan tentang apa yang harus ia lakukan.
Tetapi Berlin tetap menyuruhnya untuk tenang dengan memberikan kode sebuah jari telunjuk yang diletakkan menutup mulutnya.
"Berlin, ya? Apakah itu kau, Berlin? Ada apa dengan dirimu yang tadinya menggila membunuh semua rekan ku? Kenapa sekarang kau begitu tenang?" Pria tersebut tak henti-hentinya berbicara seraya terus berjalan perlahan mendekati batu yang digunakan Berlin untuk berlindung. Tampak juga lebih dari 10 orang mengikuti pria tersebut dari belakang, dengan senapan dan senjata api yang siap di tangan mereka semua.
"Siap?" bisik Berlin kepada Asep di sampingnya, dan juga memberikan kode untuk Bobi juga bersiap menyerang.
Berlin terlihat siap dengan sebuah pisau lipat yang sangat di tangannya. Sepertinya ia menunggu waktu yang tepat ketika pria tersebut lebih dekat dengan batunya dan juga jangkauan serangnya.
Ketika pria tersebut berjalan mendekati batu yang digunakan Berlin untuk berlindung seraya terus menodongkan senapannya.
SET!
"Ap-?!"
Di saat atau waktu yang tepat, dan ketika sudah berada di jangkauan Berlin. Dengan sigap dan sangat cepat, Berlin langsung menyerang pria tersebut dengan tangan kosong. Dengan sangat cepat serta cekatan, Berlin membuat pria itu tak bisa lagi melakukan perlawanan dengan tangan dan kaki yang langsung terkunci oleh serangan fisik yang diberikan oleh Berlin.
Beruntungnya senapan yang dibawa oleh pria itu belum sempat ditembakan ke arah Berlin, karena ada Asep dan Bobi yang langsung mengamankan senapan tersebut.
"Hei, hei, jangan berikan perlawanan jika kalian ingin rekan kalian terbunuh lagi!" tegas Berlin kepada rekan-rekan pria tersebut seraya memposisikan pisau yang ia bawa tepat pada leher milik pria yang kini menjadi tawanannya.
"Sial ...!" gusar pria yang sekarang menjadi tawanan Berlin.
***
"Hmm, licik juga dirimu ya, Berlin?" gumam Nicolaus yang tampaknya terus memperhatikan pergerakan Berlin dari kejauhan dengan sebuah teropong miliknya.
"Apa yang akan kalian lakukan selanjutnya? Apakah kau bisa melewati salah satu orang andalanku, Berlin?" lanjut Nicolaus mengomentari situasi yang sepertinya memanas di lokasi Berlin.
***
Orang-orang berpakaian serba hitam yang sebelumnya mengikuti pria yang kini menjadi tawanan Berlin pun dibuat cukup bingung dan terdiam. Lantaran jika mereka menembaki Berlin, maka mereka juga akan menembaki dan bahkan membunuh rekannya yang dijadikan tawanan oleh Berlin.
"Hahahaha!" seorang pria berpakaian serba hitam dan dengan sebuah topeng berwarna putih tampak tertawa terbahak-bahak melihat apa yang dilakukan oleh Berlin.
"Sayang sekali, cara licik seperti itu tidak akan bekerja. Karena, kami diajarkan untuk siap mengorbankan diri masing-masing," ucap pria bertopeng itu yang lalu mengangkat senapan di tangannya.
Mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Asep dan Bobi pun kembali mengambil perlindungan, namun tidak dengan Berlin yang tampak bersikeras mengancam lawannya.
"Hei, hei, apa kalian bercanda?!" bentak Berlin yang terus-menerus mengancam tawanannya dengan menggunakan sebuah pisau.
DOR ...!
Satu tembakan dari pria bertopeng itu dilancarkan ke arah Berlin, namun tembakan itu harus mengenai pria yang menjadi tawanan Berlin.
"Apa?!" cetus Berlin menyaksikan situasi yang terjadi. Dirinya benar-benar tidak menyangka dengan apa yang dilakukan mereka oleh rekan mereka sendiri.
DOR ... DOR ... DOR ...!
Sesaat setelahnya. Tembakan secara beruntun pun dilancarkan oleh orang-orang itu dengan serempak ke arah Berlin dan kedua rekannya. Beruntung, Berlin sempat kembali mengambil perlindungan di batu sebelumnya.
"Mereka sudah gila!" gusar Asep terkejut dengan kejadian barusan.
"Apa-apaan yang dimaksud dengan siap berkorban dan mengorbankan, coba?!" sambung Bobi tampak tidak terima dengan pernyataan tersebut.
"Apapun itu, pokoknya ... kita harus menghabisi mereka, terutama pria bertopeng putih itu! Jika tidak, kita akan tertahan, atau bahkan mati di sini," ujar Asep tampak mempersiapkan dan memastikan pistol yang ia bawa terisikan penuh oleh peluru.
"Ya, aku merasakan hal yang buruk pada pria bertopeng itu. Jadi, kita harus lebih berhati-hati!" sahut Berlin lalu mengambil radionya.
.
"Kalian siap?!" seru Berlin kepada ketiga rekannya yang diperintahkan untuk berpencar sebelumnya.
"Siap!" sahut Salva melalui radio.
"Aku bisa melakukan c**lear shoot dari posisiku jika diperbolehkan!" sahut Aryo melalui radio.
"Menunggu perintah!" sahut Galang melalui radio.
Berlin tahu jumlah lawan yang dihadapinya kali ini lebih banyak dari pada sekelompok yang ia habisi karena menjadi bahan pelampiasannya sebelumnya. 20 orang adalah jumlah yang cukup besar untuk dihadapi oleh Berlin sendiri. Namun itu tak menjadikan dirinya gentar, karena mengingat selalu ada teman-teman yang dapat diandalkan, itu sangatlah membangun percaya diri Berlin.
"Lakukan!" titah Berlin.
.
__ADS_1
Bersambung.