Mafioso In Action

Mafioso In Action
Malam yang Indah #41


__ADS_3

Masih di malam yang sama, setelah Berlin selesai membicarakan beberapa hal kepada teman-temannya. Dirinya langsung memacu kecepatan mobil yang dikendarainya untuk pulang ke rumah.


Sepanjang perjalanan, pikiran Berlin sangatlah tenang dengan hampir semuanya dipenuhi tentang Nadia yang tak bisa lepas dan terus melekat pada hati dan pikirannya.


Suaranya yang sangat lembut nan sopan, sikapnya yang selalu ceria, dan senyumannya yang sangat manis nan tulus. Itu semua selalu membayangi pikiran Berlin, dan selalu berhasil membuat dirinya merasa tenang di kala banyak pikiran.


***


"Oke, semuanya sudah siap !" seru Nadia setelah berhasil selesai memasak serta menyiapkan menu makan malam untuk dirinya dan juga Berlin.


"Semoga Berlin cocok dan suka dengan menunya ...," gumam Nadia sembari menata celemek yang sebelumnya ia kenakan di pinggang sampai ke lutut.


Nadia sangat berharap kalau masakannya akan cocok dengan lidah lelakinya itu, karena ini pertama kalinya untuk ia memasakkan makanan selain untuk dirinya sendiri.


"Hmm ...." Nadia bergumam sendiri sesaat setelah menutup semua menu makanan yang sudah tersaji di meja makan itu. Dirinya pun berjalan menuju ke ruang utama rumah tersebut, dan sedikit merapikan beberapa bantal di sofa yang cukup berantakan.


Ini pertama kalinya bagi Nadia untuk berada di rumah yang cukup mewah dan luas ini sendiri.


"Berlin selalu di rumah sendirian seperti ini ?" ujar Nadia saat setelah menata sofa tersebut, dan melihat suasana di sekelilingnya yang sangat sepi dan sunyi tak ada orang lain selain dirinya.


"Apa dia nggak kesepian, kalau di rumah yang besar ini sendiri seperti ini ?" ujar Nadia kembali saat berjalan menuju ke ruang tamu, dan juga kembali menata sofa yang ada di sana.


Nadia beberapa kali berjalan ke sana kemari di dalam ruang tamu dan utama rumah milik Berlin yang cukup luas tersebut. Dirinya merasa cukup bosan karena kesepian di rumah itu. Beberapa kali juga ia mengintip gerbang luar dari balik jendela dan gorden, untuk memastikan apakah Berlin sudah pulang atau belum.


***


"Mungkin benar ... saran yang diberikan oleh Asep tadi," gumam Berlin di tengah perjalanan saat ia menyetir.


Dirinya pun sedikit mengurangi kecepatan mobil yang dikendarainya, dan segera memberi kabar kepada Prawira dengan mengirim pesan teks melalui ponsel genggamnya.


Setelah mengetik dan mengirimkan beberapa pesan teks kepada Prawira. Berlin pun kembali memacu kecepatan mobilnya melewati jalanan kota yang mulai menanjak karena sudah sangat dekat dengan kompleks perumahannya.


~


Tidak lama kemudian, Berlin akhirnya sampai di istana istimewa atau rumah miliknya. Gerbang utama terbuka secara otomatis saat mobil yang dikendarai Berlin mendekati gerbang tersebut. Setelah gerbang terbuka lebar, Berlin pun segera memarkirkan mobil miliknya itu ke dalam garasi.


Sesaat setelah mobil yang dikendarai Berlin memasuki gerbang. Gerbang tersebut pun kembali tertutup dan terkunci secara rapat secara otomatis.


***


"Oke. Apa yang harus aku katakan, saat Berlin memasuki pintu ?" gumam Nadia yang terlihat sangat salah tingkah ketika mendengar dan melihat kedatangan Berlin.


"Selamat datang datang kemari di rumah !" gumam Nadia dengan mempraktekkan beberapa gerakan untuk menyambut Berlin.


"Jangan-jangan ! Bukan seperti itu !" gusar Nadia dengan sedikit memukul kepalanya sendiri.


Tap ... Tap ...Tap ...!


Suara langkah kaki milik Berlin terdengar sangat jelas di balik pintu, dan itu membuat Nadia cukup terkejut. Seketika dan secara spontan, dirinya langsung merapikan baju atau dress yang ia kenakan.


***


Berlin berjalan menuju pintu rumahnya dengan hoodie miliknya yang ia bawa di tangannya.


Kreeekk ...!


Sesaat setelah Berlin membuka pintu yang tidak terkunci itu untuk masuk ke dalam rumahnya. Dirinya cukup dibuat terkejut ketika ada seseorang yang menyambut kedatangannya di rumah.


"Um ... se-selamat ... datang," ucap Nadia dengan nada dan sikap yang cukup canggung menyambut kedatangan Berlin.


"Aku pulang," gumam Berlin dengan sedikit tersenyum kepada Nadia.


Berlin merasa sangat senang ketika ada yang menyambut kedatangan di rumah. Karena sebelum-sebelumnya, tidak ada siapa-siapa di rumah selain dirinya sendiri.


"Kamu ini ... suka banget pakai dress begitu," cetus Berlin yang mengomentari penampilan Nadia yang menggunakan dress santai selutut berwarna putih polos sembari menutup dan mengunci pintu.


"Aku sudah terbiasa memakai dress santai seperti ini sih. Memangnya salah, ya ?" sahut Nadia.


Berlin langsung menjawab dengan berkata, "Eng-enggak, kok. Kamu terlihat cantik."


Suasana tiba-tiba berubah sangat canggung dengan kesunyian yang tiba-tiba saja terbentuk.


"Y-ya sudah, ayo ! Makan malamnya udah siap dari tadi, lho ...," ujar Nadia dengan mengambil hoodie milik Berlin dari tangannya, dan sekaligus meraih serta menarik tangan milik Berlin.


"Oh ... o-oke, baiklah," jawab Berlin dengan membiarkan dirinya ditarik oleh kekasihnya itu.


Dari ruang tamu, Berlin berjalan melewati ruang utama menuju ke dapur dengan membiarkan Nadia terus menarik tangannya.


Jantungnya benar-benar berdebar tak karuan, ketika Nadia secara tiba-tiba menarik tangannya. Dirinya bisa merasakan tangan milik kekasihnya itu yang begitu halus dan lembut.


"Aku nggak pulang terlambat, 'kan?" tanya Berlin kepada Nadia saat berjalan mengikutinya.


"Um ... nggak sih, tetapi nggak juga ...," jawab Nadia menoleh kepada Berlin.


"Maksudnya ?" sahut Berlin.


"Ya, maksudnya ... cuma terlambat lima menit aja ...," jawab Nadia yang lalu memalingkan muka.


...


Sesampainya di dapur dan di meja makan. Berlin dapat melihat tudung saji logam yang seperti menutupi menu makanan di dalamnya. Nadia langsung menyuruh dirinya untuk duduk di kursi, dan siap membuka tudung saji tersebut.

__ADS_1


"Emangnya kamu masak apa sih ?" tanya Berlin penasaran.


"Um ... kamu lihat sendiri aja," jawab Nadia yang lalu membuka penutup makanan tersebut.


SET !


Saat penutup makanan tersebut terbuka. Berlin langsung mendapati lebih dari satu menu makanan di meja tersebut. Dirinya juga mendapati salah satu menu makanan yang menjadi kesukaannya sejak remaja, yaitu Kari Ayam.


Selain itu ada dua menu lainnya yang juga termasuk disukai oleh Berlin, yaitu Tumis Ayam dan Kangkung. Semua menu makanan tersebut tersaji secara rapi di dalam mangkuk-mangkuk.


Aroma dari semua menu tersebut langsung menyebar ke seluruh ruangan, dan membuat Berlin merasa sangat lapar.


"Ini semua kamu yang masak ?!" cetus Berlin terkagum.


"I-iya. Kamu cobain, ya ?" jawab Nadia sedikit tersipu dan lalu duduk di hadapan Berlin.


Aroma yang begitu menyengat dari menu-menu tersebut, membuat perut Berlin semakin lapar. Dengan bersemangat dirinya langsung mengambil piring dan sepasang sendok garpu, lalu mengambil masing-masing menu makanan yang ada di hadapannya.


"Aku harap kamu cocok dengan masakan yang kubuat," ucap Nadia.


.


"Kasih tahu enak atau enggaknya, ya !" lanjutnya.


"Oke, aku cobain, ya ?" sahut Berlin dengan menyendok sesuap nasi yang juga penuh dengan lauk pauknya.


Tanpa basa-basi, Berlin langsung menyuap suapan pertama tersebut ke dalam mulutnya, sampai membuat mulutnya dipenuhi makanan.


DEG.


Di saat Berlin mencoba suapan pertama tersebut. Nadia terlihat cukup berdebar menanti tanggapan lelakinya itu mengenai masakan yang dibuatnya.


Ditengah Nadia menunggu tanggapan tersebut. Berlin malah terlihat begitu lahap dan dengan perlahan terus melanjutkan suap demi suapnya tanpa menghiraukan Nadia yang duduk di kursi depannya.


"Ih, kamu ini ... !" gusar Nadia.


.


"Aku kan menunggu tanggapanmu," lanjutnya.


"Oh iya, bentar," jawab Berlin dengan keadaan mulut masih terisi makanan.


Sesaat setelah Berlin menelan semua makanan yang berada di dalam mulutnya. Dirinya pun memberikan tanggapannya mengenai masakan makan malam yang dibuatkan oleh kekasihnya itu untuk dirinya.


"Enak, kok. Aku malah nggak percaya, kalau ternyata ... kamu berbakat dalam bidang memasak," ucap Berlin yang lalu tersenyum kepada wanitanya tersebut.


"Syukurlah," kata pertama yang terucap oleh Nadia setelah mendengar tanggapan tersebut.


.


"Iya-iya, aku percaya kok," sahut Berlin yang lalu kembali melanjutkan menyantap makanannya.


"Kamu mau aku masakin sarapan apa buat besok ?" cetus Nadia.


"Um ... pagi-pagi tuh enaknya yang berkuah sih, tetapi ... masak yang sebisa mu aja," jawab Berlin.


Berlin pun kembali melanjutkan untuk menyantap makan malamnya, ditemani dengan Nadia yang duduk tepat di kursi depannya.


Berlin sendiri cukup terkejut dengan menu makanan yang dibuatkan oleh Nadia. Karena memiliki rasa yang sangat enak seperti menu-menu di rumah makan atau restoran.


...


"Gimana kamu bisa masak makanan yang enak seperti ini ?" celetuk Berlin di tengah menyantap hidangannya.


Nadia menghentikan suapannya sejenak dan menjawab, "ya, karena ... aku harus bisa masak sendiri. Soalnya ... aku tinggal di rumah sendiri, jadi apa-apa aku harus bisa sendiri."


Setelah menjawab pertanyaan Berlin. Dengan perlahan Nadia kembali melanjutkan menyantap makanannya.


"Kalau aku sih jarang masak sendiri," ucap Berlin.


"Jarang atau nggak bisa ?" sahut Nadia dengan menatap sinis kepada Berlin.


"Cuma mie instan sama masak telur doang sih, yang lainnya beli, hehehe ...," jawab Berlin yang lalu tertawa kecil.


"Ish, nggak baik juga kalau kebanyakan, tau !" tegas Nadia.


"Iya, aku juga tahu kok," sahut Berlin.


Nadia tertawa kecil dan sedikit tersenyum saat melihat Berlin begitu menikmati menu makanannya. Dirinya merasa berhasil untuk membuatkan menu masakan yang cocok untuk lelakinya itu.


"Mulai sekarang ... biarkan aku yang mengerjakan pekerjaan rumah, ya !" ujar Nadia yang lalu bangkit dari duduknya setelah selesai, dan berjalan menuju ke wastafel dengan membawa piring dan cangkirnya.


"Kamu yakin ?" jawab Berlin yang juga ikut bangkit dari duduknya, yang lalu membantu Nadia untuk mencuci piring dan beberapa alat makan lainnya.


Nadia hanya mengangguk menjawab pertanyaan tersebut, dengan pandangan fokus kepada piring dan alat-alat makan yang sedang ia cuci di wastafel.


"Baiklah, yang penting ... jangan terlalu memaksakan dirimu !" ujar Berlin setelah selesai mencuci piring dan gelasnya, dan lalu mencuci beberapa mangkuk lainnya.


"Ya sudah, kalau kamu mau ke lantai atas, ke sana saja dahulu ...!" titah Nadia.


"Apa ada yang bisa ku bantu lagi ?" sahut Berlin yang selesai mencuci mangkuk dan sendok.

__ADS_1


"Makasih, nih ... udah selesai kok," jawab Nadia setelah selesai mencuci alat makannya.


"Aku tunggu di atas, ya," ujar Berlin yang lalu berjalan pergi menuju dan menaiki anak tangga.


Mendengar ucapan yang diucap oleh Berlin kepadanya. Nadia bisa sangat mengetahui kalau lelakinya itu ingin membicarakan sesuatu dengan dirinya.


~


Berlin duduk di sebuah sofa yang berada di ruang keluarga lantai kedua. Ia hanya duduk berdiam diri sembari memandangi ke arah pemandangan kota dari kaca jendela yang tak jauh darinya berada.


Suasana malam yang sangat tenang dapat dirasakan, dengan cuaca yang sangat cerah sehingga bintang-bintang sangat terlihat bertaburan di langit malam itu.


Terangnya lampu-lampu kota yang sudah seperti bintang, juga terlihat sangat indah dari kaca jendela tersebut.


Ditengah dirinya memandangi pemandangan malam kota dari atas situ. Nadia yang menaiki tangga pun langsung berjalan menghampirinya, dan lalu ikut duduk tepat di samping Berlin.


"Apa yang mau kamu bicarakan ?" ucap Nadia saat duduk di sampingnya.


"Tau aja kamu ini," jawab Berlin dengan sedikit merangkul pundak milik wanitanya itu.


"Lalu, kamu mau ngomongin apa ?" cetus Nadia yang lalu sedikit menyandarkan kepalanya di bahu milik Berlin.


Berlin pun mulai berbicara dan memberitahukan kepada Nadia, mengenai obrolannya dengan teman-temannya di bengkel.


"Jadi ... aku mengambil keputusan bersama dengan yang lainnya, untuk melakukan perlawanan terhadap tindakan yang dilakukan oleh Mafioso kepada kita."


"Tentu aku tidak membiarkan serta tidak ingin ada lagi ... temanku yang menjadi korban seperti Adam dan Sasha."


"Aku juga ... tentu tidak bisa membiarkan mereka terus-menerus mengirimkan teror atau ancaman kepadamu, Nadia."


Nadia mengangguk paham setelah mendengarkan semua perkataan yang diucap oleh lelakinya itu. Dirinya sangat memahami maksud dan tujuan dari Berlin, sampai-sampai dia mengambil keputusan tersebut.


Namun di sisi lain, Nadia menjadi sangat khawatir kepada Berlin ketika setelah mendengarkan semua cerita tersebut. Karena tentu menurutnya keputusan yang diambil oleh lelakinya itu, sangat bisa membahayakan keselamatan dia sendiri.


"Aku paham maksud dan tujuanmu." Setelah Berlin selesai berbicara sampai habis, Nadia pun menanggapinya.


"Namun, aku masih bingung dan tidak mengerti maksud dari tujuan mereka menyerang temanmu." Nadia mengangkat kembali kepalanya dari sandaran Berlin, dan menoleh kepada lelakinya itu saat mengatakannya.


"Kalau itu ... aku berasumsi dan memprediksi banyak hal, namun juga aku tidak yakin ... tujuan mereka sesuai dengan asumsi atau prediksiku," jawab Berlin.


"Tetapi ... yang terpenting, aku mau kamu mencari atau meminta bantuan kepada Prawira," kata Nadia dengan memandangi ke arah luar jendela.


.


"Karena ... aku yakin, kalian akan membutuhkan posisi Prawira itu di suatu saat," lanjutnya dengan menoleh dan menatap serius kepada Berlin.


Setelah mengatakan beberapa hal penting tersebut. Nadia kembali menyandarkan diri dan kepalanya ke sandaran Berlin, dan bersikap cukup manja seperti anak kecil saat lelakinya itu merangkul dirinya.


...


"Terima kasih, ya," ucap Berlin dengan nada yang sungguh pelan saat dirinya perlahan membelai rambut milik kekasihnya itu yang terurai sedikit bergelombang.


"Oh iya, apakah aku boleh meminta sesuatu kepadamu ?" cetus Nadia dengan langsung menatap kedua mata milik Berlin.


Tatapan mata yang sangat indah dan seolah bersinar seperti bintang di malam itu, didapatkan oleh Berlin.


.


"Mau minta apa, Sayang ?" sahut Berlin dengan mengelus kepala milik kekasihnya.


"Bisakah kamu ... mengajariku ... cara menggunakan senjata api, seperti pistol ...?" celetuk Nadia dengan sedikit tersipu dan memainkan dua telunjuknya yang saling beradu saat mengatakannya.


Nadia merasa tidak pantas saat meminta hal tersebut kepada Berlin, setelah mengingat kembali kalau dirinya mantan seorang anggota polisi.


"Jujur saja, aku ... tidak cukup bisa dan berani ... pada saat memegang senjata seperti itu," ucap Nadia dengan sedikit tertunduk.


.


"Memegangnya saja sudah membuatku gemetaran, apalagi menggunakannya, hehehe ...," lanjutnya dengan sedikit menertawakan dirinya sendiri.


"Memang ... apa alasanmu ? Sampai harus membuatku mengajarimu," jawab Berlin.


"Uh ... um ... a-aku, a-aku kan ... juga ingin ... melindungimu ...," jawab Nadia dengan memalingkan wajahnya dari pandangan Berlin, dan cukup terbata-bata karena tiba-tiba terasa sangat malu untuk mengatakannya.


"Hahahaha ....!" Berlin tiba-tiba tertawa saat melihat tingkah dan sikap dari kekasihnya itu saat memohon kepada dirinya.


"Kamu jangan mengejekku, ya !" gusar Nadia dengan kembali berpaling kepada Berlin dan menatapnya dengan tatapan tajam.


.


"A-aku kan ... juga ingin ... melindungimu ...!" lanjutnya dengan sedikit tertunduk karena malu saat kembali mengatakannya.


Berlin menghentikan tawanya setelah itu, dan lalu tersenyum kepada Nadia yang terlihat sangat serius. Dirinya memahami keinginan dan tahu maksud dari kekasihnya, sampai-sampai dia memohon kepada dirinya.


"Baiklah, aku akan mengajarimu atau melatihmu," ucap Berlin dengan nada yang sungguh lembut sembari mengangkat perlahan dagu milik gadis manis yang saat itu berada di hadapannya.


Saat perlahan mengangkat kembali dagu milik seorang gadis manis yang berada di hadapannya. Secara tidak langsung, Berlin menatap kedua bola mata yang sangat indah berseri-seri milik Nadia yang juga menatap dirinya. Mereka berdua langsung terdiam dengan pandangan yang masih saling beradu.


Malam ini adalah malam yang indah bagi Berlin dapat mendapatkan serta menyaksikan beberapa hal dari Nadia yang sangat jarang ia dapati.


"Dia ... benar-benar cantik ... walau tanpa make-up sama sekali," gumam Berlin dalam hatinya saat terpana memandangi paras cantik milik Nadia yang cukup bersinar di bawah bulan dan bintang-bintang yang bertaburan di langit.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2