Mafioso In Action

Mafioso In Action
Koneksi #80


__ADS_3

Pukul 06:00 pagi.


Rumah Sakit Pusat.


Nadia terbangun dari tidurnya. Sinar matahari nampaknya sudah menyorot dan masuk ke kamarnya melalui jendela kamar. Nampaknya hari ini akan menjadi hari yang sangat cerah.


Di saat Nadia ingin beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. Dirinya sedikit terkejut dengan keberadaan Berlin yang tampak masih tertidur sangat pulas di sebuah sofa sudut ruangan.


Nadia beranjak dari ranjangnya, dan berjalan mendekati Berlin dengan sangat hati-hati seraya memegang dinding untuk membantunya berjalan.


Nadia tersenyum ketika melihat wajah tidur Berlin yang nampaknya masih tertidur sangat nyenyak. Awalnya ia berniat untuk membangunkannya karena sudah pagi. Namun ia mengurungkan niatnya, dan memilih untuk mengambil sebuah selimut kecil di ujung tempat tidur lalu memakaikannya kepada Berlin.


"Kamu pasti lelah sekali, ya?" gumam Nadia perlahan menutup tubuh kekar Berlin menggunakan selimut tersebut, dan membiarkannya untuk tidur.


Setelah itu Nadia mengambil tongkat alat bantu untuk jalan yang terletak di sudut ruangan, dan lalu mengambil handuk serta berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


.


~


.


Di waktu yang sama, namun di tempat yang berbeda. Prawira nampaknya sedang sibuk karena kedatangan cukup banyak tamu dari para wartawan yang ingin bertanya-tanya soal kekacauan kemarin. Kantor Polisi Pusat tiba-tiba saja ramai dengan para wartawan tersebut.


"Apakah para pelaku berhasil di amankan?"


"Bagaimana dengan dalang dari balik semua kekacauan kemarin?"


"Siapakah dalang dari semua kekacauan kemarin?"


"Apakah dalang dari semua kekacauan itu berhasil di amankan?"


"Apa hukuman yang akan dijatuhkan pada para pelaku?"


"Apakah kelompok kejahatan Mafioso sudah benar-benar dibubarkan?"


Semua pertanyaan-pertanyaan seputar itu diterima oleh Prawira dalam waktu yang hampir bersamaan. Dirinya cukup dibuat pusing ketika harus menghadapi banyaknya wartawan di depan kantor pusat.


Prawira cukup bingung untuk menjawab satu-persatu dari semua pertanyaan itu. Beruntungnya, Garwig datang menghampirinya dan menjawab semua pertanyaan itu tanpa keraguan.


...


Setelah semua hampir pertanyaan dari para wartawan itu terjawab. Garwig bersama Prawira kembali masuk ke dalam kantor yang saat itu dijaga ketat oleh para aparat khusus divisi taktis yang membuat para wartawan tidak dapat ikut masuk ke dalam kantor pusat.


"Semuanya aman, Pak. Tenang saja," ucap Prime kepada Garwig di lobi dari kantor pusat tersebut.


"Prime, Prawira, ikut aku!" titah Garwig yang lalu berjalan masuk ke dalam ruang jenderal miliknya, diikuti oleh kedua rekanya itu.


Setelah memasuki ruangan pribadi milik Garwig. Dirinya langsung menutup pintu serta tirai pada pintu tersebut rapat-rapat, seolah tidak ingin ada orang lain yang tahu.


"Prime, aku ingin meminta laporanmu soal perbatasan!" titah Garwig duduk di kursi pribadinya.


"Baik," jawab Prime.


Prime pun menyampaikan semua laporan dari seluruh anggotanya yang berjaga di setiap perbatasan, baik darat sampai ke laut. Semua laporan itu diterima Garwig dengan jelas dan rinci. Namun hasilnya masih nihil untuk menemukan keberadaan Nicolaus yang menghilang sejak ledakan bom mobil terakhir kali.


"Apakah akan baik-baik saja jika kita merahasiakan hal ini dari publik?" tanya Prawira merasa khawatir.


"Kupikir untuk sementara begini saja dahulu, sampai kita mencapai titik terangnya," sahut Prime setuju dengan Garwig yang memutuskan untuk menahan hal ini agar tidak bocor ke ranah masyarakat.


Garwig tiba-tiba mengambil sebuah lembaran peta yang cukup besar, dan membentangkan di atas meja miliknya. Pada peta tersebut terdapat sebuah pulau yang amat besar, yang di mana pulau tersebut terdiri dari tiga wilayah yaitu Paletown, Shandy Shell, dan Kota Metro itu sendiri.


"Prime, apakah akhir-akhir ini kau mendengar soal pulau tak terpetakan?" tanya Garwig tiba-tiba.


Prawira dan Prime dibuat bingung dengan maksud dari pertanyaan Garwig. Pulau tak terpetakan? Memangnya ada pulau yang seperti itu?


"Apa maksudnya?" sahut Prime bingung.


"Beberapa bulan yang lalu, pihak militer sempat menemukan sebuah pulau yang letaknya tepat di luar batas teritorial laut kita," jawab Garwig dengan menunjuk ke sebuah lokasi pada ujung kanan bawah peta yang di mana lokasi tersebut hanyalah laut berwarna biru.


"Lalu kau berasumsi kalau Nicolaus melarikan diri ke sana?" tanya Prawira.


"Kalau dia ingin ke sana, maka dia harus melewati penjagaan ketat perbatasan kita," timpal Prime.

__ADS_1


"Mungkin saja, karena perbatasan laut di area sana adalah salah satu jalur yang ramai dengan keluar masuknya kapal-kapal perdagangan," sahut Garwig.


"Tetapi, semua orang bahkan setiap alat transportasi yang masuk ke wilayah teritorial kita. Mereka semua selalu melewati penjagaan serta pemeriksaan ketat dari setiap aparat milik kita," Prime sedikit menyangkal asumsi yang dimiliki oleh Garwig.


"Namun juga tidak menutup kemungkinan, mungkin saja terdapat suatu kelompok yang memiliki akses keluar masuk tersebut dengan mudah. Karena aku mendapatkan beberapa laporan mengenai kapal-kapal tertentu yang selalu mondar-mandir melewati pemeriksaan dengan mudahnya," cetus Garwig.


"Lalu bagaimana dengan jalur udara?" tanya Prime.


"Tidak mungkin. Karena sejak menghilangnya Nicolaus di lokasi kejadian kemarin, pihak militer langsung memperketat perbatasan udara. Setiap pesawat atau helikopter yang melewati perbatasan tanpa adanya izin, maka personel angkatan udara diperizinkan untuk melakukan tembakan peringatan," jawab Garwig.


Kapal-kapal tertentu? Kelompok yang memiliki akses keluar masuk perbatasan dengan mudah? Prawira tampak sedang memikirkan dua hal itu. Mungkinkah kelompok yang dimaksud adalah kelompok kriminal?


"Bagaimana jika kita tanyakan kepada Berlin soal kelompok yang memiliki akses keluar masuk perbatasan itu?" sela Prawira mengusulkan sarannya.


"Memang dia akan tahu?" sahut Prime tidak yakin.


"Seperti yang kita ketahui, kita dapat melumpuhkan serta mengalahkan Mafioso juga berkat informasi dari Berlin. Jadi menurutku, tidak ada salahnya kita bertanya padanya? Mungkin saja dia memiliki pengalaman serta pengetahuan lebih soal kelompok-kelompok itu," sahut Prawira.


Garwig mengangguk setuju, "bisakah besok kau panggil Berlin beserta teman-temannya ke sini? Sekalian juga dengan Nadia, aku ingin berbicara padanya," ucap Garwig.


"Baik, saya akan mengabarinya," jawab Prawira.


.


~


.


Pukul 10:00 pagi.


Rumah Sakit Pusat.


"Kapan pemeriksaan mu akan dilakukan?" tanya Berlin duduk di atas ranjang tepat di samping Nadia.


"Sebentar lagi dokter akan ke sini," jawab Nadia tertunduk melihati kaki kanannya yang terbalut perban.


"Kamu takut?" cetus Berlin.


Berlin terkekeh melihat sikap dari kekasihnya yang lagi-lagi lucu baginya. "Dasar kamu, ya!" gusar Nadia seraya mengerucutkan bibirnya.


Drrtt .. Drrttt ...!


Di tengah Berlin sedang asik menggoda Nadia. Tiba-tiba ponselnya berbunyi yang menandakan adanya pesan masuk dari seseorang. Berlin pun segera memeriksa siapa seseorang yang mengirimkannya pesan.


Seseorang itu ternyata adalah Prawira yang membatalkan pertemuan yang seharusnya dilakukan hari ini, dan diganti dengan hari esok.


"Apa ada kesibukan?" tanya Nadia dengan nada dan tatapan polosnya.


"Tidak ada, sayang," jawab Berlin tersenyum.


"Kamu mau menemaniku selama pemeriksaan, 'kan?" cetus Nadia menatap Berlin dengan tatapan memohon.


"Tentu aku akan menemanimu, bahkan di manapun kamu berada jika kamu mau!" seru Berlin.


Nadia menggenggam kedua tangan Berlin, menatap lelaki yang ada di hadapannya itu dengan tersenyum tulus dan lalu berkata, "terima kasih!" ucapnya dengan tulus dan tersenyum manis.


~


Tok ... Tok ... Tok ...!


"Bos, ada yang ingin masuk!" cetus Kimmy membuka pintu kamar inap.


"Suruh dia masuk saja, Kim!" sahut Berlin.


Orang yang dimaksud Kimmy pun masuk ke kamar inap milik Nadia. Orang tersebut ternyata adalah dokter yang bertanggung jawab atas kondisi Nadia. Dokter itu tampak cukup tampan dan muda bagi seorang dokter.


Berlin dibuat cukup terkejut dengan kedatangan dokter tersebut, lantaran dirinya sangat mengenal siapa dokter yang datang itu.


"Berlin? Eh maksudku. Apakah ini kau, Bos?" cetus dokter itu kepada Berlin dengan tatapan kagum tak percaya kalau dirinya akan bertemu dengan Berlin di sini.


"Selamat pagi, Dokter Zein. Eh, maksud saya, selamat pagi, pak direktur," sapa Berlin tersenyum dan bersalaman menyambut kedatangan kawan lamanya.


"Berlin, kamu mengenalnya?" tanya Nadia bingung dengan apa yang terjadi.

__ADS_1


"Iya, dia adalah salah satu kenalanku di rumah sakit ini," jawab Berlin sedikit menjelaskan apa hubungannya dengan Zein.


"Salam kenal, saya pribadi tidak menyangka kalau pasien yang akan saya tangani memiliki hubungan spesial dengan Berlin. Suatu kehormatan bagi saya," ucap Zein bersalaman dan sedikit menundukkan kepalanya di hadapan Nadia.


"Baiklah, apakah saya diizinkan memeriksa?" lanjut Zein bertanya dengan sangat sopan.


"Te-tentu saja, silakan," jawab Nadia sedikit sungkan dengan sikap Zein yang sangat formal.


Pemeriksaan pun dilakukan. Nadia yang awalnya tampak cemas dan khawatir sebelum pemeriksaan, kini berubah menjadi sedikit terhibur dengan sikap dari Zein yang lucu menurutnya. Baru kali ini dirinya melihat seorang dokter bersikap sangat formal seolah sedang berhadapan dengan seorang walikota.


.


15 menit kemudian.


.


Setelah beberapa menit berlalu, pemeriksaan terhadap kondisi dan cedera pada pergelangan kaki kanan milik Nadia pun akhirnya selesai.


"Beruntungnya, cedera kaki kanan Nadia masih termasuk ke dalam cedera ringan. Hanya saja mungkin akan membutuhkan sedikit operasi dan beberapa terapi untuk proses penyembuhannya," ujar Zein memberikan dua hasil pemeriksaan, dari hasil pemeriksaan kemarin dan yang baru saja dilakukan.


"Kira-kira ... berapa lama sampai bisa pulih?" tanya Nadia dengan wajah sedikit sedih.


"Hanya memerlukan waktu beberapa minggu saja, kok. Tentu saya akan membantu sampai benar-benar pulih total!" jawab Zein dengan sangat ramah.


"Lalu, bagaimana dengan operasi yang kau maksud?" tanya Berlin kepada Zein.


"Operasi itu dilakukan untuk membantu agar cepat memulihkan kembali tulang yang retak, dan itu tidak akan memakan waktu yang lama," jawab Zein.


.


"Operasi itu juga tentu bisa dilakukan ketika pasien sudah siap, lebih cepat lebih baik, sih," lanjutnya.


"Apakah itu bisa dilakukan jika hari ini?" cetus Nadia tiba-tiba dengan tekad yang sepertinya sudah bulat.


Berlin terkejut dengan semangat yang ditunjukkan Nadia. Begitupula dengan Zein. "Kamu serius?" tanya Berlin, dan Nadia menjawbanya dengan hanya mengangguk yakin.


"Um, kalau sudah yakin seperti ini, nanti saya coba cek dahulu untuk jadwalnya. Setelah itu, nanti akan saya hubungi secepatnya," ucap Zein.


"Baiklah kalau begitu, sepertinya waktu saya di sini sudah habis. Saya izin permisi terlebih dahulu," lanjut Zein ingin meninggalkan ruangan.


"Zein, mohon bantuannya, ya?" cetus Berlin.


"Tenang saja, Bos! Dengan atas nama direktur dan rumah sakit, tanggung jawab Nadia sebagai pasien ada padaku," sahut Zein yakin.


~


"Kamu yakin hari ini?" tanya Berlin meyakinkan Nadia setelah Zein keluar dari kamar inap tersebut.


"Iya! Aku yakin!" sahut Nadia menatap Berlin dengan tatapan penuh keyakinan.


Berlin tersenyum dan hanya bisa mendukung keinginan dari kekasihnya itu. Di sisi lain, Nadia menyimpan pertanyaan soal Zein kepada Berlin.


"Ngomong-ngomong, Zein itu kenalanmu? Atau koneksimu?" cetus Nadia. Sepertinya Nadia sudah sangat mengetahui seluk-beluk Berlin yang memiliki banyak kenalan serta koneksi di mana.


"Kamu tahu aja kalau dia koneksi ku," jawab Berlin duduk di ranjang tepat d samping Nadia.


.


"Tetapi memang benar, dia adalah koneksi atau relasi milikku di bagian pihak medis," lanjutnya.


Zein ternyata adalah salah satu kenalan dekat Berlin dalam instansi medis. Berlin sendiri sudah mengenal Zein sejak lama, bahkan tidak semua teman-temannya tahu kalau dirinya memiliki hubungan pertemanan dengan Zein.


"Sama seperti James dahulu, bedanya kalau James koneksiku di kepolisian. Sedangkan Zein koneksiku di rumah sakit," ucap Berlin kembali menjelaskan.


"Kamu memang punya banyak kenalan, ya? Aku kadang iri dengan itu," cetus Nadia sedikit tertunduk.


"Malahan kalau bisa, orang yang kamu kenal hanyalah aku, jadi biar aku saja yang bisa mengenalmu lebih dalam dan lebih dekat," sahut Berlin dengan nada sedikit menggoda Nadia di sampingnya.


"Iya, kok. Hanya kamu yang dapat mengenalku lebih dalam, bahkan hanya kamu yang dapat mengerti ku," sahut Nadia cukup tersipu ketika mengatakannya.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2