
Pukul 19:00 malam.
Bengkel Pribadi Ashgard.
"Malam, Bos." Seluruh temannya menyapa kedatangannya di sana. Setelah selesai mempersiapkan banyak hal bersama Nadia, dan kembali pulang. Berlin memilih untuk langsung pergi untuk menemui teman-temannya, namun tidak bersama Nadia yang sudah terlalu lelah hampir seharian bersamanya.
"Aku gagal menangkap dua penguntit itu, tetapi ada beberapa informasi yang ku dapat dari para preman bayaran itu." Asep berjalan menyeimbangi langkah Berlin menuju ke ruang utama.
"Apa informasinya?" sahut Berlin yang lalu duduk di sebuah sofa pada ruang tengah bengkel tersebut.
Asep pun memberitahu beberapa informasi yang ia dapatkan dari mengintrogasi para preman yang ia dan kedua rekannya lawan sebelumnya. Dirinya memberitahu informasi-informasi tersebut tanpa ada kekurangan kepada Berlin.
"Jadi aku benar-benar dicari oleh orang-orang Clone Nostra, ya?" gumam Berlin setelah mendengar semua informasi dari rekannya.
"Dan ... entah mengapa ... aku sangat yakin kalau ini ada hubungannya dengan menghilangnya Nicolaus di lokasi kejadian kekacauan beberapa bulan yang lalu," cetus Adam duduk di sofa sebelah Berlin.
"Mungkin aku bisa mengambil asumsi, kalau ... terdapat kerjasama antara Nicolaus dengan mereka, Clone Nostra itu," timpal Kimmy yang berdiri di sebelah Asep.
Berlin tanpa diam dan terlihat cukup khawatir dengan situasinya saat ini. Teman-temannya cukup dibuat bingung dengan sikap dan ekspresi khawatir itu, lantaran baru kali ini mereka melihat Berlin khawatir dengan hal atau masalah seperti ini.
"Baru kali ini aku melihatmu khawatir hanya karena soal ini, padahal dahulu kau pernah mengalami hal yang sama, dan kau tampak tenang," celetuk Asep melirik Berlin yang duduk di sofa sampingnya. Seketika Kimmy sedikit menyikut Asep yang berdiri di sebelahnya itu.
"Apa kau sedang mengejekku?" sahut Berlin melirik dingin Asep yang berdiri di sampingnya.
Asep langsung sedikit mengangkat kedua tangannya dan berkata, "aku tidak bermaksud." Namun Berlin hanya tersenyum tipis mendengarnya.
"Wajar jika kau tampak khawatir dengan hal ini, karena dalam waktu dekat akan ada acara yang sangat krusial dan penting bagimu. Benar begitu, bukan?" ucap Adam.
"Ya ...," jawab Berlin.
"Tenang saja, Bos. Kau bisa mengandalkan kami!" seru Asep tiba-tiba.
"Yup! Tentu aku tidak akan membiarkan mereka merusak acara berharga dari orang yang berharga bagiku!" timpal Kimmy.
"Aku siap mengawal anak walikota!" sela Aryo tiba-tiba menundukkan kepalanya di hadapan Berlin. Sontak sikap dan apa yang dikatakan oleh Aryo mengundang gelak tawa teman-temannya.
"Aku juga siap menerima tugas penting itu!" timpal Bobi lalu mengikuti gerakan Aryo.
"Tunggu! Bagaimana kalian tahu soal itu?" tanya Berlin terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Aryo barusan.
__ADS_1
"Bos, mata Ashgard ada di mana-mana, dan selalu mengawasi serta menjaga orang yang penting bagi Ashgard sendiri," sahut Asep lalu tersenyum tipis kepada Berlin.
"Tetapi sebagai peringatan, kalian tidak harus terus mengawasi ku seperti itu, ya! Karena rasanya aneh saja jika ... kalian terus mengawasi ku seperti itu," ucap Berlin memperingatkan teman-temannya.
Berlin sendiri merasa lega ketika mendengar apa yang dikatakan oleh teman-temannya.
"Kami juga terkadang merasa iri kok, apalagi ketika mengawasimu tadi waktu berada di mal. Kayaknya enak sekali gitu, ya? Berduaan, jalan-jalan," celetuk Asep.
"Lagian kalian ini ketika ku beri waktu longgar, malah memilih untuk terus menjagaku," sahut Berlin.
"Ya ... kami hanya khawatir saja, Bos. Apalagi dengan statusmu yang dicari oleh penjahat-penjahat itu," ucap Kimmy diikuti oleh teman-temannya yang memasang wajah khawatir mereka terhadap Berlin.
Berlin hanya tersenyum melihat itu dan berkata, "terima kasih, tetapi jangan lupakan waktu untuk diri kalian masing-masing."
"Lalu, apa kau ada rencana?" tanya Adam duduk di samping Berlin.
Berlin menoleh mendengar pertanyaan itu. Dirinya tampak berpikir dan menjawab, "untuk sementara, aku ingin acaraku berjalan lancar terlebih dahulu. Setelah itu, mungkin ... baru ... kita dapat beraksi untuk melawan!"
.
~
.
Kediaman Berlin.
Setelah dirasa selesai bertemu dengan teman-temannya. Berlin memutuskan untuk pulang lebih cepat daripada biasanya. Dirinya juga sudah merasa lelah dan sangat ingin segera untuk beristirahat.
Sesampainya Berlin di rumah, dan ketika berjalan menuju teras rumah. Dirinya mendapati Nadia yang tengah duduk di atas rerumputan halaman belakang, dan memandangi ke arah kota yang tampak cukup jelas dari situ.
"Loh, kamu di sini?" tanya Berlin berjalan menghampiri dan duduk tepat di samping Nadia.
Tanpa sepatah dua patah kata. Nadia yang menyadari Berlin duduk di sampingnya. Ia langsung menyandarkan kepalanya pada bahu milik Berlin.
Gemericik tenang air pada kolam berenang di halaman belakang tersebut terdengar, diikuti oleh angin malam yang berhembus pelan dengan membawa suasana tenang. Berhubung rumah milik Berlin tersebut berada di lereng bukit Gedung Balaikota. Jadi pemandangan gemerlap cahaya dari gedung dan bangunan perkotaan terlihat cukup jelas dari sana.
"Apa ada yang membuatmu tidak nyaman?" tanya Berlin seraya membelai lembut rambut hitam panjang milik kekasihnya.
"Aku hanya ... deg-degan, dan entah mengapa ... aku menyimpan sedikit rasa cemas," jawab Nadia.
__ADS_1
"Apa yang membuatmu cemas?" tanya Berlin kembali.
Nadia menggelengkan kepalanya perlahan sembari menjawab, "aku tidak tahu ...."
Berlin meraih pipi milik Nadia dengan satu tangannya seraya menatap kedua matanya dan berkata, "kita berdoa saja supaya segalanya dilancarkan, dan buang pikiran negatif itu ...!"
Nadia hanya mengangguk dan tersenyum mendengar apa yang Berlin katakan. Tak lama kemudian, ia pun menenggelamkan dirinya pada dekapan yang Berlin berikan. Ketika kepalanya bersandar pada dada milik lelakinya itu. Dirinya dapat mendengar suara yang berdegup cukup kencang. Entah mengapa perasaannya merasa tenang ketika ada di situasi tersebut.
"Kamu juga deg-degan, ya?" cetus Nadia menengadahkan kepalanya untuk menatap Berlin.
Berlin tersenyum dan terpana dengan wajah cantik milik perempuan yang saat ini berada tepat di depan matanya. "Tentu saja, sayang. Bahkan aku selalu deg-degan ketika kita berdekatan seperti ini," jawabnya.
Nadia kembali membenamkan kepalanya pada dekapan hangat yang diberikan oleh Berlin seraya memejamkan matanya. Ia tampak sangat nyaman ketika berada di posisi tersebut. "Berlin, aku ingin terus bersamamu," gumam Nadia dengan keadaan mata terpejam.
"Iya, aku akan terus bersamamu, dan tidak akan pergi ke mana-mana," sahut Berlin dengan nada memelan seraya mengurai rambut panjang milik Nadia yang tergerai indah.
"Ya, aku tidak akan pergi ke mana-mana," batin Berlin kemudian dengan pandangan memandang ke arah gemerlapnya gedung-gedung perkotaan.
.
~
.
Pukul 22:00 malam.
Pulau tak terpetakan.
"Ada berita menarik," cetus seorang pria berpakaian serba putih kepada temannya seorang pria berpakaian serba hitam.
Pria berpakaian serba hitam itu tampak berdiri di halaman belakang dari sebuah vila mewah, dan memandangi indahnya pantai malam yang indah pada belakang vila tersebut. Ia hanya melirik rekannya yang berjalan menghampirinya dari dalam vila dan mengatakan membawa berita yang menarik untuknya.
"Dalam waktu dekat, akan ada sesuatu yang menarik untuk diramaikan," ucap pria berpakaian serba putih.
Pria berpakaian serba hitam hanya menyeringai tipis mendengar berita tersebut. Pandangannya kembali mengarah ke pantulan cahaya bulan pada air laut dengan ekspresi yang cukup misterius.
.
Bersambung.
__ADS_1