
Di keesokan harinya.
Pukul 12:00 siang.
Kantor Polisi Pusat.
Sesuai dengan pesan yang dikirimkan Prawira kepadanya melalui ponsel. Berlin datang ke Kantor Polisi Pusat untuk menemui Prawira. Sebenarnya dirinya datang tidak sendirian, karena ada teman-temannya yang ikut. Namun Berlin memerintahkan mereka semua untuk memantau dari luar dan sekeliling kantor polisi. Berlin juga tidak dapat mengajak Nadia bersamanya.
Ketika tiba di halaman kantor polisi. Berlin disambut baik oleh beberapa anggota polisi yang sedang berjaga, bahkan beberapa anggota polisi tampak memberikan hormat kepadanya. Tentu sikap hormat itu membuat Berlin bingung.
"Silakan masuk ke lobi, Pak Prawira sudah menunggu anda," ucap salah satu anggota polisi yang berdiri tepat di depan pintu masuk. Anggota polisi tersebut juga membukakan pintu kaca itu untuk Berlin.
"Terima kasih," ujar Berlin melirik curiga dan lalu berjalan memasuki lobi kantor polisi.
Ketika berada di lobi, Prawira langsung menyambut kedatangannya dan berjalan menghampirinya. Namun Berlin tidak dapat melihat kehadiran Garwig di lobi kantor polisi tersebut. Dirinya hanya melihat Prawira seorang yang menunggunya.
"Tidak bersama Nadia?" cetus Prawira setelah bersalaman dengan Berlin.
"Tidak bisa, dia harus istirahat setelah menjalani operasi kemarin," jawab Berlin.
"Kau benar-benar datang sendiri?" tanya Prawira mengangkat satu alisnya tidak yakin kalau Berlin datang hanya seorang diri.
"Tidak, hanya saja aku menyuruh mereka untuk memantau dari kejauhan, dan juga mereka tidak ingin terlalu terlihat mencolok," jawab Berlin.
Prawira dapat dengan langsung memahami apa maksud dari kata-kata terakhir yang Berlin ucapkan. Dirinya pun langsung mengajak Berlin berjalan mengarah anak tangga belakang, dan menuju ke atap atau landasan helikopter dari kantor polisi itu.
Di saat menaiki satu-persatu anak tangga. Prawira dapat merasakan serta melihat sikap dingin Berlin yang selalu saja terlihat dari dahulu. Ekspresinya juga tampak begitu datar.
"Tenang saja, aku tidak melupakan bayaran dari kontrak yang ku buat dengan kalian," cetus Prawira melirik kepada Berlin yang berjalan di sampingnya.
Mata Berlin benar-benar tajam, memanglah tajam seperti biasanya dan memiliki daya tarik tersendiri.
"Sikapmu yang dingin dan diam seperti itu, tidak salah jika dahulu cukup banyak gadis yang terpikat padamu," celetuk Prawira bergurau.
"Berisik! Mereka semua benar-benar membuatku risih," sahut Berlin begitu risih ketika mengingat dirinya ketika remaja.
"Hahaha ..!" Prawira terkekeh mendapatkan tanggapan seperti itu, "wanita memanglah seperti itu, Berlin. Rata-rata mereka tertarik dengan laki-laki yang misterius. Dan kurasa ... itu juga menjadi salah satu alasan mengapa Nadia sangat tertarik denganmu," ucapnya.
.
"Selain dari itu, ku perhatikan. Sekarang kau sudah berubah lebih baik, ya?" lanjutnya ketika sampai atap dan kembali melirik seorang anak laki-laki di sampingnya yaitu Berlin yang dahulu pernah menjadi tanggung jawabnya
Namun Berlin tidak menghiraukan perkataan terakhir Prawira, dan terus berjalan menghampiri Garwig yang sudah menunggu bersandar di pembatas landasan helikopter.
...
Garwig tampak membawa sebuah lampiran catatan di tangannya, "apa kabar, Berlin?" sapanya kepada Berlin.
"Baik," jawab singkat Berlin.
"Sesuai dengan kesepakatan kita sebelumnya, aku akan langsung memenuhi bayaranmu," ucap Garwig.
.
"Dan bayaranmu ada di sini," lanjutnya memberikan lampiran yang sebelumnya ia bawa kepada Berlin.
Berlin menerima lampiran catatan tersebut. Dirinya tidak begitu mengerti apa isi dari lampiran yang kini berpindah tangan ke dirinya.
Namun setelah membuka serta membaca dan mengetahui isinya. Bayaran yang diberikan tentu sangatlah membuat Berlin puas, dan dirinya yakin teman-temannya juga akan sangat puas.
__ADS_1
"Terima kasih banyak," ucap Berlin sesaat setelah mengetahui semua isi dari lampiran catatan tersebut. Tampak Berlin sangat senang sekali dan lega setelah mendapatkan bayaran yang sesuai dengan keinginannya.
Isi lampiran catatan yang berisikan bayaran yang akan diterima Berlin itu, adalah catatan tentang pemutihan atau pembersihan nama baik dari segala catatan buruk soal kriminal. Semua nama teman-temannya termasuk dirinya sendiri ada dalam catatan itu, yang berarti sekarang Berlin dan teman-temannya sudah bebas dari segala catatan kriminal yang pernah mereka perbuat.
Selain tentang pembersihan nama baik itu. Berlin juga mendapatkan sejumlah nominal uang yang menjadi bayarannya. Nominal yang diterima cukup fantastis, bahkan akan sangat cukup jika digunakan untuk membeli lebih dari 14 unit rumah sederhana.
"Uang yang tercatat di situ sudah ku kirimkan melalui rekening mu, Berlin," cetus Prawira.
"Kau tahu rekening milikku?!" Berlin terkejut, karena sepengatahuannya dirinya tidak pernah memberitahukan soal itu kepada Prawira.
"Tentu saja, semua data-data tentangmu ada di tanganku, lagian aku yang menjadi penanggung jawab mu sejak kecil," jawab Prawira sedikit penjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman.
"Berlin, bolehkah aku menanyakan sesuatu?" sela Garwig.
"Tentu, aku akan menjawabnya tergantung pertanyaannya," Berlin menoleh dan menatap serius Garwig, seolah sudah sangat siap untuk membicarakan hal yang akan dibicarakan Garwig padanya.
"Apa kau tahu soal kelompok Clone Nostra?" tanya Garwig.
Berlin tertegun terkejut mendengar pertanyaan tersebut. "Mengapa kau menanyakannya?"
Garwig pun menjelaskan secara singkat mengapa dirinya menanyakan hal ini kepada Berlin. Dirinya juga menjelaskan soal asumsinya tentang menghilangnya Nicolaus dari lokasi kejadian yang dikaitkan dengan kelompok Clone Nostra.
Setelah mendengar penjelasan singkat itu, Berlin paham dan menjawab sesuai dengan kapasitasnya.
"Clone Nostra adalah kelompok kriminal yang cukup besar, bahkan lebih besar dari Mafioso. Mereka identik sekali dengan warna putih, baik dari pakaian atau seragam, kendaraan, dan bahkan sampai persenjataan yang mereka miliki pun identik dengan warna perak keputihan."
"Clone Nostra juga termasuk ke dalam kelompok kriminal yang cukup sadis, licik, dan kejam. Bahkan mereka bisa lebih sadis dan kejam dari apa yang ku lakukan saat menghabisi satu pelaku yang tertangkap di Kantor Polisi Shandy Shell kemarin ketika kekacauan."
Mendengar penjelasan Berlin cukup membuat Garwig mengetahui siapa yang mungkin akan ia dan kepolisian hadapi.
"Apakah kau mengetahui soal keluar masuknya orang-orang dari mereka melalui perbatasan laut Tenggara?" tanya Garwig kembali mencoba menggali lebih dalam informasi soal Clone Nostra.
Garwig mengetahui kalau Berlin tampaknya tidak begitu ingin menjawab pertanyaannya yang terkahir terlalu jauh. Kebencian dan kekesalan sangat tertampak ketika Berlin memberikan jawaban itu. Mungkinkah ia mengetahui banyak soal itu? Dan apa yang ia ketahui sampai membuatnya sangat kesal?
"Baik, terima kasih, Berlin." Garwig menyudahi pertanyaan-pertanyaannya.
...
"Selain dari itu, aku ingin membicarakan soal pekerjaan tetap kepadamu," ucap Garwig kemudian setelah menanyai Berlin banyak hal.
"Pekerjaan tetap?" gumam Berlin mengerenyitkan dahinya dan bingung dengan maksudnya.
"Aku ingin menawarkan pekerjaan tetap untukmu, atau lebih tepatnya untuk Ashgard ...!" ujar Garwig langsung pada inti dari pembicaraan tanpa basa-basi.
.
"Tentu ini lain dari pekerjaan yang biasanya kau kerjakan untukku, karena pekerjaan ini akan berkerja sama langsung dengan pihak kepolisian," lanjutnya.
Berlin melirik tajam setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Garwig padanya. Pekerjaan untuk Ashgard? Tentu pertanyaan itu sempat muncul di kepala Berlin. Namun dirinya dapat langsung paham dengan maksud dari Garwig.
"Aku melihat adanya potensi pada kelompok kalian," ucap Garwig.
"Jadi kau ingin merekrut Ashgard untuk kepolisian?" celetuk Berlin mengerenyitkan dahinya berusaha menebak pikiran Garwig.
Garwig tertegun ketika Berlin mungkin berhasil menebak apa yang ia pikirkan. "Iya, seperti itulah," ucapnya.
.
"Aku tidak ingin kalian terus-menerus harus berada di dunia kelam kriminal itu, dan aku juga tidak ingin terus melihatmu harus terlibat kasus kriminal. Namun semua keputusan itu aku kembalikan kepadamu, Berlin," lanjutnya.
__ADS_1
Memang benar apa yang dikatakan oleh Garwig. Berlin menjalani kehidupannya selama kurang lebih lima tahun berada di dunia kelam itu. Bahkan sejak ia berumur 17 tahun, Berlin harus berada di dunia kelam kriminal itu. Bahkan saat itu mungkin hanya dirinyalah seorang remaja yang berani atau mungkin bahkan nekat terjun di dunia tersebut.
Berlin juga berkali-kali harus terlibat kasus-kasus kriminalitas, atau bahkan mungkin dirinyalah yang membuat beberapa kasus itu dengan sengaja. Garwig dan Prawira telah memantau serta melihat semua itu, bahkan mereka berdua terus memantau sejak Berlin dengan sengaja dijauhkan dari keluarga besar Gates.
Kelompok Ashgard yang Berlin dirikan, adalah satu-satunya kelompok kriminal yang anggotanya memiliki umur yang terbilang masih cukup muda.
"Berlin, jika kau mencintai Nadia, aku ingin kau memikirkan hal ini!" ucap Prawira memberikan sebuah lampiran kontrak pekerjaan kepada Berlin.
.
"Jujur saja aku tidak bisa jika harus terus-menerus melihatmu terlibat kasus kriminal," lanjutnya.
"Memang benar kami berdua yang membuatmu harus terlibat ke dalam dunia kelam itu. Maka dari itu kami ingin menebus kesalahan kami dengan menawarkan hal ini padamu, Berlin." Garwig mengatakannya dengan nada penuh dengan penyesalan.
"Baik, akan aku pikirkan," Berlin menerima dan memandangi kertas kontrak pekerjaan yang diberikan Prawira.
.
"Tetapi hal ini tetap harus aku bicarakan dengan teman-teman, karena aku tidak bisa dengan seenaknya mengambil keputusan tanpa mendengar pendapat mereka," lanjutnya.
"Kau memang seorang pemimpin yang baik," sahut Garwig merangkul Berlin dan tersenyum kepadanya.
"Apapun jawabanmu, aku akan menghargainya. Namun aku tetap berharap, kalau kamu akan menerimanya," gumam Prawira tampak menaruh harapan untuk jawaban Berlin.
"Oh iya, karena aku tidak bisa berbicara dengan Nadia di sini. Apakah nanti sore aku bisa datang menjenguknya di sana?" cetus Garwig kepada Berlin.
"Tentu saja! Mungkin Nadia akan senang," jawab Berlin.
~
Setelah selesai dengan semua urusannya di Kantor Polisi Pusat, dan sekaligus berbincang lebih dengan Garwig dan juga Prawira. Berlin pun segera pergi dan ingin segera kembali ke rumah sakit. Dirinya berjalan menuju mobil sedan berwarna putih miliknya yang terparkir di halaman parkir kantor polisi.
"Bos, sudah selesai?" cetus Asep bertanya melalui radio yang Berlin tinggalkan di mobilnya.
"Sudah, dan aku sudah mendapatkan bayarannya. Saatnya kembali pulang ke tempat kita!" jawab Berlin.
Sebelum Berlin kembali ke rumah sakit. Dirinya terlebih dahulu kembali ke bengkel pribadinya bersama teman-temannya. Di sana ia berencana akan langsung membagikan hasil dari bayaran yang ia terima.
...
Selama perjalanan menuju bengkel pribadinya. Berlin masih memikirkan soal pekerjaan tetap yang ditawarkan oleh Garwig untuk kelompoknya. Berlin sendiri berpikiran bahwa pilihan untuk menerima pekerjaan itu adalah yang terbaik, dan tidak ada salahnya. Dirinya juga berpikir mungkin Nadia akan senang mendengarnya jika dirinya menerima pekerjaan itu.
Drrtt ... Drrtt ...!
Tiba-tiba ponselnya bergetar yang menandakan adanya pesan masuk.
"Jika kau masih bingung soal pekerjaan itu, maka jika tidak keberatan aku akan menjelaskannya di lain waktu saat kita bertemu." Pesan itu ternyata berasal langsung dari Garwig.
Lalu Berlin membalas pesan itu dengan mengetik, "bisakah besok kita bertemu untuk membicarakan soal ini?"
...
Beberapa saat kemudian, Berlin akhirnya sampai di bengkel pribadi miliknya dan kelompoknya. Di sana Berlin langsung memberitahukan serta membagikan soal bayaran yang ia terima untuk kelompoknya secara merata dan adil.
Tidak lupa, dan di saat itu juga. Berlin juga membicarakan soal tawaran kontrak pekerjaan tetap dengan kepolisian kepada teman-temannya.
.
Bersambung.
__ADS_1