
Pukul 18:00 petang.
Rumah Sakit Pusat.
Setelah semua urusannya di bengkel pribadi sudah selesai, dan cukup lama karena membicarakan soal tawaran kontrak pekerjaan itu. Berlin kembali ke rumah sakit dan kembali menemui Nadia.
"Kamu lama banget. Sibuk banget, ya?" cetus Nadia terduduk di atas ranjang dan memandangi Berlin yang baru saja datang.
"Iya, maaf, ya? Apa kamu kesepian?" sahut Berlin berjalan menghampiri Nadia dengan melepaskan jaket birunya dan meletakkannya di atas sofa.
Nadia menggelengkan kepala dan lalu menjawab, "lumayan, tetapi tadi sempat ada Siska, Akira dan Alana yang kembali datang menjenguk, kok."
"Garwig dan Prawira belum ke sini?" tanya Berlin berjalan ke arah kursi yang terletak tepat di sisi Nadia.
Nadia menggeleng dan menjawab, "belum." Dirinya terus memperhatikan Berlin yang duduk di kursi sebelah ranjangnya. Berlin sedikit menunduk dan tampak begitu lelah. Namun ia berusaha untuk menyembunyikan kelelahannya ketika di hadapan kekasihnya, dan Nadia menyadari hal tersebut.
"Kamu lelah banget pasti, ya?" ucap Nadia seraya perlahan memegang serta membelai pipi milik Berlin yang sedikit kasar.
.
"Apa kamu ingin membicarakan sesuatu? Aku ingin dan siap mendengarkannya!" lanjutnya menatap dan lalu memberikan senyuman termanisnya kepada Berlin.
Berlin sempat tertegun melihat senyuman yang begitu manis ia dapatkan di depan matanya. Hatinya serasa meleleh, dan semua pikirannya serasa ringan. "Ada yang ingin aku bicarakan, sih. Ini soal pekerjaanku," ucap Berlin.
"Pekerjaan?" gumam Nadia tersenyum dan tampak sangat siap untuk menjadi pendengar dari semua kata dan kalimat yang akan dikatakan Berlin.
"Iya. Ashgard mendapat tawaran pekerjaan tetap untuk bergabung ke kepolisian, dan tawaran itu diberikan langsung oleh Garwig saat bertemu tadi siang." Berlin langsung membicarakannya. Nadia tampak cukup senang ketika awal mendengarkannya.
Di tengah mereka berdua berbincang. Tiba-tiba saja pintu kamar diketuk oleh seseorang, yang pasti bukan salah satu dari teman Berlin. Karena teman-temannya sedang beristirahat dan sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.
"Itu sepertinya mereka," Berlin beranjak dari kursinya, dan berjalan ke arah pintu untuk membukakannya.
Benar saja, Prawira dan Garwig sudah berdiri di depan pintu kamar sesaat setelah Berlin membukakan pintu. "Apa kami mengganggu kalian berdua?" tanya Garwig dengan keadaan tangan membawa keranjang berisikan buah-buahan. Mereka berdua datang tanpa mengenakan seragam aparat, dan hanya memakai baju santai.
"Tentu saja tidak. Mari masuk!" sahut Berlin yang lalu mempersilakan Garwig dan juga Prawira masuk.
Nadia tampak sangat senang dengan kehadiran dua sosok penting yang pernah ada di hidupnya, terutama Prawira. "Bagaimana kondisimu?" cetus Prawira kepada Nadia yang terduduk di atas ranjangnya.
"Sudah lebih baik dari sebelumnya," jawab Nadia.
"Katanya sore akan ke sini, tetapi baru sekarang," cetus Berlin setelah menutup pintu.
"Biasa, ada sedikit urusan di kantor pusat," sahut Garwig sembari meletakkan keranjang buah yang ia bawa di atas meja tepat di samping Nadia.
"Oh iya, kemarin Berlin memberitahuku untuk datang ke kantor pusat siang tadi. Memangnya ada apa? Kenapa aku harus ke sana?" Nadia langsung menanyakan hal yang terlintas di kepalanya dengan penuh penasaran.
Garwig duduk di kursi tepat di samping ranjang, dan lalu menjawab pertanyaan tersebut. "Aku ingin berbicara denganmu, Nadia. Membicarakan soal kariermu yang diberhentikan secara sepihak oleh oknum atasan," jawab Garwig.
"Tak hanya itu. Aku mendapat laporan dari Prawira kalau kau juga sempat mendapatkan kekerasan dari oknum itu. Maka dari itu, aku dengan atas nama Departemen Kepolisian Metro ingin meminta maaf sebesar-besarnya," lanjut Garwig yang lalu menundukkan kepalanya di hadapan Nadia.
__ADS_1
"Eh? Ti-tidak perlu sampai menunduk seperti itu ...!" pinta Nadia terkejut.
Berlin diam duduk di sofa dengan Prawira, dan baru kali ini dirinya melihat seorang Garwig menundukkan kepalanya.
"A-aku sudah memaafkannya, kok. Lagipula ... tidak perlu dibahas lagi, karena ... aku sudah melupakannya," ucap Nadia sedikit tertunduk, dan terlihat sedih karena harus teringat kembali soal kejadian di mana dirinya diberhentikan paksa oleh oknum tersebut.
"Garwig, kau terlihat payah ketika berbicara di depan wanita, ya?" celetuk Prawira bergurau dan beranjak dari sofa menghampiri Garwig.
"Nadia, jika kau mau, kami akan memberikan kesempatan padamu," lanjut Prawira kepada Nadia.
"Kesempatan?" gumam Nadia menatap Prawira dengan tatapan bingung. Kesempatan apa yang dimaksudkan?
"Ya. Kau ... bisa kembali melanjutkan cita-cita dan kariermu itu," ujar Prawira.
Nadia tertegun, tersenyum, dan merasa senang mendengarnya. Ia kira karier yang sudah ia perjuangkan beberapa tahun akan lenyap begitu saja. Tetapi sepertinya tidak dengan kesempatan yang dikatakan oleh Prawira.
Sesaat setelah Nadia mendengar apa yang dikatakan Prawira. Matanya tertuju kepada Berlin yang duduk di sofa sudut ruangan, dan tampak tersenyum ikut senang mendengar soal kesempatan itu.
"Um, anggap saja kesempatan ini sebagai kompensasi atas kelalaian kami berdua sebagai petinggi," ucap Garwig.
"Kami benar-benar meminta maaf soal itu, terutama aku meminta maaf atas diriku yang tidak becus sebagai penanggung jawab mu kala itu," timpal Prawira.
"Bagaimana? Apa kau ... mau mengambil kesempatan ini?" tanya Garwig tampak mengharapkan kalau Nadia akan mengambil kesempatan yang telah ia berikan.
Tampaknya kehadiran Nadia sangatlah dibutuhkan dalam profesi itu. Nadia sendiri merasa senang ketika mendengar soal kesempatan itu. Namun, dirinya menjawab dengan berkata lain.
Nadia menyudahi senyumannya dan menjawab, "aku senang diberi kesempatan yang kedua ini. Tetapi, maaf, aku tidak bisa menerima kesempatan ini," jawabnya sembari menunduk dan benar-benar meminta maaf atas penolakannya.
"Jujur saja, aku merasa lelah dan mungkin tidak sanggup untuk melanjutkan tugas sebagai anggota. Dan ... di sisi lain, aku merasa ... aku tidak menemukan diriku yang sebenarnya di sana, yang ada hanyalah ... ketakutan yang ku rasakan jika harus melanjutkan profesi itu dengan menerima kesempatan ini." Nadia langsung memberikan alasannya mengapa dirinya langsung menolak kesempatan yang diberikan oleh Garwig dan Prawira.
Garwig dan Prawira tampak bisa memahami penolakan yang diberikan Nadia. Profesi sebagai anggota polisi memanglah tidak ringan. Bahkan profesi itu dapat memberikan tekanan berlebih kepada orang yang menjalaninya.
"Baik, aku paham. Memang jika sudah seperti itu jawabanmu, aku tidak bisa memaksakannya," ucap Prawira sedikit kecewa.
Garwig mengangguk pelan dan berbicara, "aku dapat mengerti dengan jawabanmu itu, terima kasih karena sudah pernah bergabung dan berkerja keras untuk kepolisian."
"Aku minta maaf karena menolaknya," ucap Nadia merasa sungkan.
"Tidak apa-apa," sahut Prawira.
"Sebagai gantinya, kau tetap menjadi bagian dari kami, dan kau berhak mendapatkan beberapa tunjangan yang setara dengan jabatan terakhir mu ketika di kepolisian," cetus Garwig.
.
"Kau juga berhak mendapatkan jaminan keamanan yang setara dengan anggota polisi yang sudah pensiun," lanjutnya.
"Kurasa ... itu berlebihan," gumam Nadia menoleh dan menatap ke arah Prawira.
"Tentu itu tidak berlebihan, Nadia. Itu sudah sesuai dengan peraturan dan sandar dari kepolisian. Apa kau lupa soal itu?" sahut Prawira berjalan kembali ke sofa dan duduk di sebelah Berlin.
__ADS_1
"I-iya, aku mengingatnya. Akan tetapi, saat ini aku bukan lagi seorang petugas, dan mungkin tidak pantas untuk mendapat jaminan seperti itu." Nadia kembali tertunduk saat mengatakan seperti itu.
"Hei, apa kau lupa apa yang ku katakan baru saja?" cetus Garwig.
Nadia mengangkat kepalanya dan menoleh menatap Garwig. "Kau tetap menjadi bagian dari kami," lanjut Garwig dan lalu tersenyum tipis. Kata-kata itu membuat Nadia cukup tersentuh.
~
Pukul 19:00 malam.
Waktu terus berjalan, dan malam pun tiba. Setelah memperbincangkan banyak hal, dan cukup lama. Garwig dan Prawira segera menyudahi kunjungan mereka, karena sudah cukup lama mereka menjenguk Nadia.
"Ya sudah, kalau begitu kami pamit terlebih dahulu," ujar Garwig beranjak dari kursinya, begitu pula dengan Prawira.
Mereka berdua pun berjalan menuju pintu dengan diantarkan oleh Berlin. "Berlin, titip Nadia, ya?" cetus Prawira kepada Berlin ketika sudah berada di luar kamar.
"Siap, Pak," jawab Berlin mengangguk.
Setelah itu mereka berdua pun berjalan pergi menuju lobi dan keluar dari rumah sakit. Sedangkan Berlin kembali masuk dan menutup pintu kamar itu rapat-rapat.
Sesaat setelah menutup pintu. Nadia tiba-tiba saja berbicara dan bertanya, "apa kamu kecewa karena aku menolak kesempatan itu?"
Berlin berbalik badan dan tersenyum. Ia berjalan mendekati Nadia dan duduk di kursi tepat di sisinya. "Rasa sedikit kecewa mungkin ada. Namun semua keputusan itu ada di tanganmu sendiri, dan hanya kamu yang berhak mengaturnya," ujarnya.
"Mendengar alasanmu tadi, aku jadi paham dan sangat mengerti mengapa kamu menolaknya," lanjutnya.
Nadia yang masih terduduk pun dibuat sedikit tertegun melihat wajah lelakinya yang justru terlihat senang dan tersenyum kepadanya.
"Profesi sebagai anggota polisi itu memang sangatlah berat, dan tentu aku tahu itu. Tidak hanya fisik saja, tetapi mental juga digempur habis-habisan pada profesi itu, bukan?" ucap Berlin seraya menatap Nadia yang cukup terpaku diam di hadapannya.
.
"Tidak hanya kedua hal itu saja. Tetapi berperan sebagai anggota polisi juga membawa resiko yang cukup tinggi juga, 'kan?" lanjutnya.
"Walau aku sedikit kecewa, tetapi di sisi lain aku justru merasa senang dengan jawabanmu itu," ucap Berlin kembali dan lalu tersenyum.
Nadia juga merasa senang jika Berlin senang. Meskipun ia harus kehilangan cita-citanya. Namun yang terpenting dirinya tidak kehilangan seseorang yang sangat berharga baginya, yang saat itu ada di hadapannya.
...
Nadia kembali berbaring dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang seraya bertanya, "oh iya, bagaimana soal tawaran pekerjaanmu yang tadi sempat terpotong itu?"
"Oh, soal itu, ya? Ku kira kamu sudah melupakannya," sahut Berlin terkejut.
"Kalau kamu masih ingin membicarakannya denganku, maka aku akan bersedia mendengarkan dan menyimaknya," ucap Nadia yang terbaring seraya melirik lembut Berlin di sisinya.
Berlin pun memilih untuk kembali membicarakan soal tawaran pekerjaan yang sebelumnya sempat terpotong karena kedatangan Garwig dan Prawira. Dirinya membicarakan serta seraya menunjukkan lembaran kontrak kerja yang diberikan oleh Garwig tadi siang kepada Nadia.
.
__ADS_1
Bersambung.