
Sesampainya Berlin di Kantor Polisi Pusat yang tentunya terletak di tengah Pusat Kota, dan dengan dikawal oleh beberapa anggota Brimob yang bersamanya untuk mengantarnya. Dirinya cukup disambut dengan kebingungan yang sangat terlihat dari masing-masing raut wajah para anggota polisi yang saat itu berada di halaman dan lobi dari Kantor Polisi.
Berlin merasa cukup risih dengan banyaknya anggota polisi yang secara tiba-tiba membicarakan kedatangannya, namun itu tidak masalah dan sudah sangat wajar baginya. Tetapi dirinya juga merasa cukup canggung karena cukup banyaknya pasang mata yang tertuju kepadanya, dan kebanyakan adalah para anggota polisi wanita dengan tatapan tajam mereka.
"Huh ... oke ... mereka hanya polisi, tapi ... ternyata ... cukup mengerikan untuk berada di sini sendiri ...," gumamnya di dalam hati.
Di tengah Berlin berjalan melewati lobi dari Kantor Polisi, tiba-tiba datanglah seorang anggota polisi kepadanya.
"Silahkan, Pak. Ikuti saya !" titah satu anggota polisi yang menghampirinya.
"Oh, baik ...," sahutnya yang lalu mengikuti kemana anggota tersebut berjalan.
Anggota polisi tersebut meminta kepada dirinya agar mengikutinya, dan tanpa pikir panjang ia langsung mengikuti kemana anggota tersebut berjalan. Berlin berjalan tepat di belakang dari salah satu anggota polisi yang memintanya untuk mengikutinya.
"Terima kasih atas kerjasamanya, selanjutnya diminta untuk segera melapor ke Pak Prawira," cetus satu anggota polisi yang bersamanya kepada anggota Brimob yang mengantarnya.
.
"Siap, itu sudah menjadi tugas ...," sahut Brimob yang sebelumnya mengantarkan Berlin.
Mendengar apa yang dikatakan oleh satu anggota polisi yang bersamanya, Berlin merasa dugaannya benar dan akurat kalau Prawira ingin bertemu dengannya begitu pula dengan keinginan Berlin sebenarnya. Berlin sendiri sangat ingin bertemu kembali dengan Prawira, setelah pertemuan terakhir mereka di Danau Shandy Shell dan terpaksa harus terpotong karena kasus penyanderaan singkat yang sempat terjadi.
...
"Oh, apa kabar ..., Berlin ...?" cetus seseorang yang sudah menunggunya di dekat dengan helikopter polisi yang terparkir di atas helipad.
"Ba-baik ..., Pak," jawab Berlin dengan tatapan sedikit kosong ke arah Prawira yang sudah menunggunya tepat di hadapannya.
Berlin merasa cukup heran dengan melihat seorang anggota polisi wanita, yang berdiri tepat di sebelah Prawira. Namun anggota polisi wanita tersebut tidak menggunakan seragam, hanya saja terlihat memakai baju bebas dan kalung dengan lambang kepolisian yang menandakan dirinya seorang anggota.
"Terima kasih telah mengantarkan dia," cetus Prawira kepada satu anggota polisi yang mengantar Berlin kepadanya.
.
"Siap, dengan senang hati, Ndan !" sahutnya dengan berdiri tegap serta memberikan hormat kepada Prawira.
"Sudah cukup, silahkan kau lanjut aktivitas," jawab Prawira dengan memberi hormat kembali dan lalu menurunkan tangannya.
Satu anggota polisi tersebut pun berjalan pergi menuju pintu dan menuruni anak tangga, dan kembali ke tugasnya sebelumnya.
...
Berlin berjalan perlahan menghampiri Prawira, dan dengan sedikit rasa kebingungan kepada Prawira yang memintanya untuk kembali bertemu.
Memang benar sebelum dirinya berangkat mengantarkan temannya yaitu Vhalen, untuk menuju ke Rumah Sakit. Berlin menghubungi Prawira dan bertujuan hanya untuk menanyakan kabar.
.
...
.
~Beberapa waktu yang lalu, sebelum Berlin berangkat mengantarkan temannya menuju Rumah Sakit Kota.
"Selamat siang, Pak ...," ucapnya di dalam telepon tersebut.
"Oh, Berlin. Kau baik-baik saja 'kan?" sahut Prawira yang terdengar cukup mencemaskan dirinya.
"Aman, Pak. Kau sendiri ... tidak menjadi korban, 'kan ?" sahut Berlin dengan mengembalikan pertanyaan kepada Prawira.
"Tentu tidak, aku tidak selemah itu ...."
.
"Berhubung aku bisa menghubungi mu, bisakah kita bertemu ? Karena ada beberapa hal yang ingin 'ku sampaikan, dan ... mungkin ... hal-hal tersebut penting," sambung Prawira setelah menjawab pertanyaan kabar yang dilontarkan oleh Berlin.
"Ya ... sebenarnya ... ada beberapa hal yang ingin 'ku tanyakan, dan itu ... mungkin ... bersangkutan dengan keluarga besar," jawab Berlin dalam sambungan telepon tersebut.
"Kebetulan ... ada beberapa hal yang ingin 'ku sampaikan, menyangkut dengan ... keluarga yang kau maksud ...," tutur Prawira setelah Berlin berbicara.
.
"Kalau begitu ..., aku tunggu di Kantor Pusat !" titahnya kepada Berlin secara sepihak.
"Tu-tunggu ...!" ucap Berlin sesaat sebelum telepon tersebut diakhiri oleh Prawira.
Belum selesai berbicara, namun sambungan telepon tersebut telah diakhiri oleh Prawira. Berlin pun harus menemui Prawira di lokasi yang sudah ditentukannya, yaitu Kantor Polisi Pusat.
Mungkin juga ini kesempatan baginya, untuk sedikit atau bahkan mengetahui serta mengingat semua tentang dirinya dan keluarga besarnya, juga tentang keterikatan dirinya dengan seseorang bernama Carlos.
.
__ADS_1
...
.
"Belum selesai berbicara, sudah main mengakhiri telepon saja, kebiasaan mu cukup buruk !" gusar Berlin saat berjalan menghampiri Prawira.
.
"Dan juga ... lain kali ... kalau mengirim anggota untuk menjemput itu bilang!" sambungnya dengan nada yang terdengar cukup kesal.
"Hahaha ... maaf-maaf, kalau tidak ... pasti susah untuk menemui mu," sahut Prawira dengan tertawa terbahak-bahak saat melihat ekspresi kesal yang ditujukan oleh Berlin.
"Udahlah ... sekarang apa yang ingin dibicarakan ?" tanya Berlin dengan bersandar di pagar beranda tepat di samping Prawira.
"Oke, tapi sebelumnya ... perkenalkan dulu ... sekertaris 'ku," sahut Prawira dengan memperkenalkan Netty yang berada di sampingnya.
"Halo, perkenalkan ... saya Sekertaris Jenderal Netty, salam kenal, Berlin ...," tutur Netty dengan berjabat tangan dengan Berlin.
Netty adalah sekertaris terbaik yang ia miliki, dan kehadirannya sangat membantu Prawira di manapun dirinya berada, serta di saat apapun itu juga. Prawira merasa sangat beruntung bisa memiliki sekertaris sepertinya, dan mungkin juga sangat sulit untuk menemukan yang sepertinya.
"Oh, salam kenal, Berlin G Axel," ucap Berlin saat bersalaman dengan Netty
Netty terlihat cukup terkejut sekaligus senang saat mendengar nama lengkap yang Berlin ucapkan. Tapi di sisi lain, dirinya cukup merasa lega bisa bertemu dengan Berlin secara langsung.
"Jenderal kemana-mana bawa sekertaris cantik, ya ..., boleh juga caramu," sambung Berlin setelah bersalaman dengan Netty, dan memasang senyuman sinis serta lirikan tajam ke arah Prawira.
"Kan juga sudah sewajarnya," sahutnya dengan nada yang cukup tinggi.
.
"Sudahlah ... cukup, kita lanjut saja ke topik pembicaraan !" sambungnya.
...
Setelah basa-basi yang cukup lama dari mereka berdua, Prawira pun kembali dengan tujuannya mengundang Berlin untuk menemuinya. Dirinya pun mulai membuka pembicaraan dengan sedikit mengenang serta mengingat kembali kenangannya di masa lalu miliknya, dan juga sudah seharusnya menjadi ingatan yang Berlin miliki.
Banyak hal-hal penting yang Berlin tidak tahu di saat dirinya masih menjadi bagian dari keluarga besar tersebut. Dan di saat ia mendengarkan beberapa penjelasan dari Prawira, Berlin terlihat sangat bingung untuk mengikuti perkataan serta cerita yang Prawira sampaikan.
"Oh, aku ke sini juga ingin mengembalikan ini ...," cetus Berlin dengan menyerahkan sebuah buku yang sebelumnya sengaja ia simpan dengan tujuan untuk dikembalikan kembali kepada Prawira.
.
Dengan melihat sampul depan dari buku berwarna coklat polos, dan terlihat cukup tua untuk bisa disebut sebagai buku. Berlin mengatakan, "ya ... aku ... sudah tahu ... semua isi dari buku ini ...," ucapnya dengan nada yang sangat pelan dan dengan tatapan kosong ke arah buku yang ia bawa di tangannya.
"Apa kau paham sesuatu ... dari buku tersebut ?" cetus Prawira dengan memberinya pertanyaan kembali.
"Entahlah ... aku tidak begitu paham, tapi ... aku sedikit paham ... mengapa kau memperlihatkan buku ini kepadaku, dan ... mengapa nama ku ikut tercantum dalam buku ini ... aku masih tidak mengerti ...," jawab Berlin dengan sedikit tertunduk dan membuka satu per satu halaman dari buku yang ia bawa.
Buku berwarna coklat yang tidak terlalu tebal juga tidak terlalu tipis, dibawa oleh Berlin terlihat cukup tua serta sangat lusuh untuk bisa disebut sebagai buku, adalah buku keluarga besar milik Prawira yang sengaja ia berikan kepada Berlin.
Hampir semua tentang keluarga besar miliknya tercatat di dalam buku tersebut, dan Prawira yakin itu dapat membantu Berlin dalam mengetahui tentang diri dia yang sebenarnya.
...
Berlin sendiri cukup terkejut saat pertama kali dirinya membaca isi dari buku yang diberikan oleh Prawira. Lantaran dirinya mendapati cukup banyak nama yang terdaftar dalam beberapa halaman terakhir dari buku tersebut, dan nama miliknya juga ikut tercantum dalam daftar dari sekian banyaknya nama.
Namun Berlin merasa aneh di saat dirinya menemukan nama lengkap miliknya yang tertulis, karena nama miliknya dituliskan pada kolom khusus dan tersendiri dibanding nama-nama lain. Tidak hanya itu, dirinya dapat melihat sesuatu yang hilang dari kolom khusus tepat di sebelah nama miliknya.
Terdapat dua kolom nama yang ditempatkan secara khusus tepat di akhir halaman dari buku keluarga tersebut. Namun dari dua kolom khusus tersebut hanya tertulis satu nama, yaitu nama lengkap milik Berlin. Sedangkan Kolom nama yang terletak tepat di sebelah nama miliknya, Berlin hanya dapat melihat kolom kosong dan seperti ada sesuatu yang menghilang dari kolom tersebut.
Dengan secara perlahan Berlin membuka satu persatu halaman dari buku yang ia bawa, dan sampai berpindah menuju halaman terakhir. Dirinya pun menunjukkan kolom yang kosong tersebut, tepat di sebelah dari nama miliknya yang tertulis kepada Prawira.
"Ini ... memang sengaja dihilangkan, atau ... karena usia dari buku ini yang sudah cukup usang ?" tanya Berlin dengan menyodorkan buku tersebut dengan keadaan terbuka kepada Prawira yang berada di sampingnya.
"Em ... sebenarnya ada nama seseorang ... yang tercantum tepat di sebelah nama mu," jawab Prawira dengan nada yang terdengar cukup datar.
.
"Lalu ... beberapa nama yang menghilang ini, maksudnya apa ?" sahut Berlin sesaat setelah Prawira berbicara.
"Nama-nama yang menghilang tersebut memang sengaja dihapus, karena ... satu per satu dari mereka ... mengundurkan diri dari keluarga besar," jawab Prawira dengan mengambil buku tersebut dari tangan Berlin.
"Hmm ..., lalu ... Carlos siapa ?" cetus Berlin dengan spontan menanyakan nama tersebut kepada Prawira.
Netty terlihat sangat terkejut saat mendengar nama yang ditanyakan oleh Berlin secara tiba-tiba, begitu pula dengan Prawira dengan langsung menutup buku tersebut yang berada di tangannya.
"Uh ?" gumam Netty yang cukup terkejut saat mendengar sebuah nama yang terlontar dari mulut Berlin.
"Kenapa secara tiba-tiba ... kau menanyakan tentang nama tersebut ?" sahut Prawira dengan nada yang cukup tegas saat mendengar nama tersebut.
"Entah mengapa ... beberapa hari yang lalu ... aku selalu terpikirkan tentang nama itu, dan ... tampaknya ... dia sangat membenciku," jawab Berlin yang berusaha meluapkan semua pikirannya tentang nama tersebut.
__ADS_1
.
"Sebelum terakhir kali kami bentrok dengan mereka ... setelah kasus penyanderaan itu selesai, kami tidak memiliki masalah sama sekali dengan kelompok mereka," sambungnya.
Berlin memang beberapa hari sebelumnya sempat berkali-kali memikirkan tentang seseorang bernama Carlos. Walau berkali-kali juga dirinya berusaha untuk lepas dari pemikiran tersebut, namun pemikiran tentangnya seakan-akan terus menempel dalam bayang-bayang pikirannya.
Karena dirinya terlalu memikirkannya, dan sangat kurangnya informasi yang dimilikinya tentang orang yang bernama Carlos. Maka dari itu ia mencoba untuk menanyakan hal tersebut kepada Prawira.
"Ngomong-ngomong ... bagaimana kabar dari Nadia, kalian berdua aman-aman saja, 'kan ?" celetuk Prawira yang terlihat berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan.
.
"Ah ... Aku sudah lama sekali tidak bertemu dengannya. Dia dulu ... salah satu murid kebanggaan yang pernah dimiliki akademi, dan juga salah satu anggota terbaik juga ...," sambungnya.
"Nadia ... tentu baik-baik saja, untuk sementara ... Dia ikut bersamaku," jawab Berlin dengan memasukkan tangannya ke dalam kantong dari hoodie yang ia kenakan.
Berlin sendiri tahu kalau Prawira berusaha menghindar dari pertanyaan yang dilontarkannya di awal. Namun dirinya berusaha terus mendesak Prawira, agar mau menjawab serta menjelaskan tentang pertanyaan miliknya yang belum juga di jawab.
"Cukup basa-basinya, sekarang jawab pertanyaan ku tadi !" titahnya dengan menatap tajam ke arah Prawira dan juga dengan nada yang cukup tinggi kepadanya.
"Um ... saya permisi terlebih dahulu kalau begitu, silahkan kalian lanjut saja," sela Netty yang lalu berjalan menuju pintu dan menuruni anak tangga.
Prawira terpaku diam setelah Berlin berbicara seperti itu dengan nada yang terdengar cukup kesal. Namun menurut Prawira, Berlin juga tidak bersalah dengan rasa penuh dengan keingintahuan yang dimilikinya.
"Oh, maaf bila aku terlalu lancang meminta ...," ucap Berlin dengan sedikit tertunduk karena merasa bersalah telah mendesak serta memaksa Prawira untuk menjawab.
"Aku tahu akan rasa keingintahuan mu yang cukup besar itu, tapi ... kurasa ... kau akan cukup sulit untuk memahaminya," sahut Prawira dengan sedikit merangkul Berlin.
"Ya, aku merasa ... semua yang terjadi kepadaku itu ... sudah cukup rumit untuk dipahami," gumam Berlin yang lalu menghela nafas panjang setelah mengucap.
"Memang seperti itulah ... banyak misteri yang masih sulit untuk dimengerti," ujar Prawira dengan menatap langit siap yang sangat cerah tepat di atasnya.
.
"Tapi ... tenang saja ... aku akan membantumu. Kita 'kan tetap satu keluarga, bukan ?" sambungnya.
.
...
.
Setelah beberapa percakapan yang dilakukan oleh Prawira bersama dengan Berlin. Ia pun memulai untuk sedikit demi sedikit menjelaskan tentang keluarga besar miliknya yaitu Gates, dan juga perlahan namun pasti dirinya juga memberitahukan tentang pertanyaan yang sudah membuat Berlin sangat terpikirkan.
Karena Berlin juga berasal dari keluarga yang sama dengan Prawira, bahkan Prawira sendiri yang merawat Berlin sedari kecil. Dirinya pun berniat untuk membantu saudara atau lebih tepatnya anak yang ia didik sendiri, dalam keadaan baik susah atau sedang terpuruk saat menerima masalah.
Gates adalah keluarga yang sangat besar dan terkenal pada masanya, keluarga tersebut adalah keluarga besar dari hampir seluruh anggota polisi. Keluarga Gates sendiri didirikan oleh seseorang yang sangat penting dalam struktur pemerintahan kota, dan memiliki tujuan tertentu.
Namun setelah berjalan bertahun-tahun, terjadi beberapa masalah dalam internal dari keluarga besar tersebut. Dan semua masalah-masalah yang sempat terjadi dalam beberapa tahun terakhir, terus berlanjut bahkan sampai ke dua keturunan paling terakhir yaitu Berlin.
...
Prawira yang mendapatkan kesempatan untuk kembali bertatap muka langsung dengan Berlin pun memberitahukan beberapa hal penting kepadanya. Salah satunya beberapa hal tentang saudara dari dua keturunan terakhir, yang termasuk saudara milik Berlin sendiri yaitu Carlos.
Carlos G Matrix adalah nama lengkap dari saudara Berlin, yang sebelumnya nama tersebut tidak menggunakan marga Matrix di belakangnya. Tetapi karena beberapa perjanjian dan kesepakatan yang telah terjadi, maka nama asli milik Carlos secara paksa harus diubah sesuai dengan keluarga yang mengangkatnya.
Di saat Berlin masih berusia delapan tahun, dirinya dirawat dan memiliki hubungan sangat dekat dengan Prawira. Banyak hal yang telah Prawira ajarkan kepada Berlin, baik dalam bidang akademi maupun persenjataan yang sudah menjadi kewajiban bagi seluruh anggota keluarga.
Pada umur yang bisa dibilang masih sangat muda dan kanak-kanak, Berlin dituntut harus bisa menguasai kemampuan menembak jarak jauh menengah. Dirinya sempat mendapatkan banyak tekanan dari orang-orang sekitarnya, termasuk rival dari saudaranya sendiri yaitu Carlos.
Prawira yang merasa kasihan kepada Berlin pun mulai mengangkatnya sebagai murid, dan mengajarinya dalam bidang senjata api sampai dengan bela diri. Karena Prawira juga termasuk sebagai pembina dalam akademi kepolisian, sekaligus kedudukannya yang saat itu sebagai ketua unit terdepan dalam situasi darurat apapun itu. Sangat menguntungkan bagi Berlin jika ia dididik langsung oleh Prawira.
Di mata Prawira, Berlin adalah anak yang baik juga sangat periang dan ceria, serta murah senyum kepada siapapun itu. Saat Prawira langsung bertemu dan bertatap muka secara langsung dengan anak laki-laki tersebut. Dirinya merasa seakan tersihir oleh daya tarik yang sangat menonjol serta ditunjukkan oleh Berlin, di saat ia bertemu dengannya.
"Kau ... memang ... anak yang sangat menarik ya, Berlin. Aku akan membimbing mu ... sampai kau ... berhasil menggapai cita-cita yang kau impikan," gumam Prawira di dalam hati saat pertama kali dirinya menatap mata indah berwarna hitam pekat yang dimiliki oleh Berlin, serta senyuman tulus yang Berlin tunjukkan pada saat itu.
"Salam kenal Berlin, aku akan menjadi mentor atau guru yang akan membimbing mu mulai dari detik ini. Tolong kerjasamanya ya ..., Berlin ...," ucap Prawira saat berkenalan dengan Berlin untuk yang pertama kalinya.
Anak laki-laki tersebut hanya menjawab, "ya ... aku akan berusaha," yang lalu memasang senyuman tulus dan dengan ekspresi polosnya kepada Prawira.
Hati dari Prawira sangat tersentuh sekaligus luluh saat melihat senyum serta ekspresi wajah yang Berlin tunjukkan, dirinya belum pernah menemukan senyuman yang begitu sangat tulus seperti senyuman yang diberikan Berlin kepadanya waktu itu.
Prawira sendiri berjanji untuk tidak melupakan momen di mana dirinya pertama kali berkenalan serta berperan sebagai pembimbing untuk Berlin.
.
...
.
Bersambung.
__ADS_1