Mafioso In Action

Mafioso In Action
Kepastian #82


__ADS_3

Pukul 17:00 sore.


Perbatasan Teritorial Laut Tenggara.


Di sore harinya, Garwig terjun langsung untuk memantau perbatasan teritorial laut sebelah Tenggara. Memang benar di sana terdapat beberapa kapal perdagangan yang melintas, dan kapal-kapal itu selalu melewati pemeriksaan yang ketat tanpa ada satupun yang terlewat.


Angin bertiup sangat kencang ketika berada di tengah laut seperti saat ini Garwig berada. Dirinya hanya dapat mendengar suara deru ombak beserta gelombang-gelombang yang menabrak kapal dan lalu terpecah menjadi cipratan air.


Sejauh mata memandang, Garwig tidak melihat satupun kapal mencurigakan yang dimaksud oleh Prime dalam laporannya tadi siang. Dirinya juga tidak melihat orang-orang berpakaian serba putih yang dimaksud.


Di atas dari sebuah kapal militer penjagaan, Garwig tampak terus memandangi lautan biru tanpa beranjak dari posisinya berdiri. Prime berjalan menghampirinya di saat dirinya berdiri di atas geladak utama kapal.


"Apa memang benar, di kejauhan sana ada pulau itu?" cetus Prime berdiri di samping Garwig dengan pandangan jauh ke arah Tenggara. Sejauh matanya memandang, Prime hanya melihat air laut beserta gelombang-gelombang kecilnya. Dirinya tidak dapat melihat pulau yang sebelumnya dimaksudkan oleh Prawira.


"Mungkin kau tidak percaya jika aku menjawab, benar. Tetapi pulau itu memang ada," jawab Garwig sedikit melirik Prime di sampingnya, dan lalu pandangan kembali mengarah ke Tenggara.


"Ya, begitulah. Karena sepengatahuan ku, di luar dari wilayah teritorial sebelah tenggara milik kita ini, tidak terdapat negara tetangga atau kepulauan sama sekali," ucap Prime.


"Namun jika pulau itu ada dan berpenghuni. Maka bagaimana menurutmu? Apakah pulau itu milik perseorangan? Atau milik dari sebuah negara kecil?" cetus Garwig menoleh kepada Prime.


"Perseorangan? Hahaha, orang itu pasti sangat kaya," celetuk Prime terkekeh.


Garwig hanya tersenyum tipis mendengar serta melihat tanggapan Prime mengenai pertanyaannya barusan. Pandangannya melihat ke arah kapal-kapal aparat yang mengapung di perbatasan laut tersebut.


"Hmm, mungkin ini sudah waktunya untuk aku kembali ke darat," ucap Garwig dengan memandangi jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Sepertinya kau tidak ingin mabuk terkena gelombang malam, ya?" cetus Prime bergurau.


Garwig terkekeh mendengar perkataan Prime tersebut. "Sepertinya begitu, karena aku lebih suka di udara, jadi aku tidak begitu suka terombang-ambing oleh ombak, apalagi ombak malam," ucap Garwig seraya berjalan ke arah helikopter polisi yang terparkir di atas landasan helikopter pada kapal tersebut.


"Baiklah, aku kembali terlebih dahulu, aku percayakan di sini padamu," ucap Garwig kepada Prime ketika sebelum dirinya naik ke dalam helikopter tersebut.


Prime memberikan hormat padanya dan mengatakan, "siap, Pak. Saya akan berusaha untuk tidak mengecewakan!" ucapnya.


Setelah mendengar apa yang dikatakan Prime. Mesin helikopter tersebut menyala dan mulai memutar baling-balingnya. Garwig pun langsung naik ke dalam helikopter itu, dan bersiap untuk beranjak pergi dari kapal militernya.


.


~


.


Pukul 18:18 petang.


Kamar rawat inap Nadia, Rumah Sakit Pusat.


Setelah menjalani operasi selama kurang lebih tiga jam. Nadia akhirnya bisa kembali ke kamar rawat inapnya untuk beristirahat sesuai dengan anjuran dokter. Walau pergelangan kaki kanannya terlihat terbalut perban serta gips dan sedikit terasa nyeri. Tetapi dirinya merasa kembali dengan keadaan yang lebih baik dari sebelumnya.


"Jangan lupa minum obat yang diberikan dokter," ucap Berlin mendekati Nadia yang terbaring di atas ranjang, dan duduk di kursi sebelahnya dengan menyiapkan obat milik Nadia.


"Iya," sahut Nadia beranjak duduk di ranjangnya. Ia mengambil botol air mineral di meja dan bersiap untuk meminum obat tersebut.


Setelah Nadia selesai meminum obatnya, Berlin ingin membicarakan soal hari esok. Nadia kembali berbaring dan bersiap mendengarkan Berlin berbicara.

__ADS_1


"Besok aku akan menemui Prawira di kantor pusat, dan dia memintaku untuk mengajakmu. Tetapi ... sepertinya itu tidak bisa, karena kamu harus banyak istirahat setelah operasi," ucap Berlin.


"Kenapa Prawira meminta untuk aku hadir di sana?" tanya Nadia.


"Katanya, Garwig ingin berbicara denganmu, dan mungkin hal itu penting," jawab Berlin.


"Garwig? Pasti dia ingin membicarakan soal karierku yang diberhentikan paksa oleh oknum atasan itu," batin Nadia menduga-duga.


"Maaf ya, aku tidak bisa ikut ke sana," ucap Nadia tersenyum kepada Berlin yang tampaknya sangat ingin dirinya ikut.


"Ah, tidak apa-apa, lagian itu tidaklah wajib, aku akan berbicara dengan Prawira," sahut Berlin tersenyum.


...


Di tengah Berlin sedang asik berbincang berduaan dengan kekasihnya. Dirinya tiba-tiba saja ingat soal apa yang dikatakan oleh Prawira kemarin ketika berada di atap Gedung Balaikota.


Prawira kemarin pernah berkata soal "kepastian" kepada Berlin, dan itu terus saja teringat di dalam pikiran.


"Ngomong-ngomong, apakah aku boleh bertanya sesuatu?" cetus Berlin.


"Tanya apa?" sahut Nadia tampak penasaran dengan pertanyaan yang akan ditanyakan Berlin padanya.


"A-apakah ... kamu ... menunggu ... ke-kepastian dari ku?" tanya Berlin tampaknya cukup gugup untuk menanyakannya.


"Ke-kepastian?" Nadia tampak dibuat tersipu seketika ketika mendengar pertanyaan tersebut. Bagaimana ia menjawabnya? Ditambah lagi hatinya cukup berdebar ketika membicarakan soal ini.


"Y-yah, aku ... hanya ingin ... memberikan kepastian itu saja. Aku merasa tidak enak, jika kamu sudah menunggu-nunggu soal kepastian dari hubungan kita," kata Berlin menatap Nadia dengan penuh kasih dan ketulusan.


"Ja-jangan menatapku seperti itu! A-aku ... jadi merasa ... cukup ... ma-malu," cetus Nadia memalingkan wajahnya dari pandangan Berlin dengan maksud menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah.


Seketika suasana kamar itu menjadi sangat canggung. Mereka berdua sama-sama diam dan tidak ada yang kembali memulai topik pembicaraan. Berlin merasa kalau ia salah membicarakan hal ini kepada Nadia sekarang. Apakah waktunya tidak tepat untuk membicarakannya sekarang?


SET!


Di tengah situasi dan suasana yang canggung itu. Nadia tiba-tiba memberanikan diri untuk menggenggam tangan milik Berlin dengan satu tangannya.


Berlin kembali memandang Nadia yang terbaring di hadapannya, dengan satu tangan menggenggam tangannya.


"Soal ... kepastian itu, memang ... aku sudah menantikannya. Tetapi, aku tidak ada maksud memaksa atau ... apapun itu yang serupa!" ucap Nadia seraya menatap serius lelakinya.


Wajah Nadia tampak sangat manis di mata Berlin saat ini. Apalagi Nadia terlihat memberanikan diri untuk mengatakannya, karena itu sangat terlihat dari kedua pipinya yang merona merah.


"Berlin, jangan sampai kamu terbebani dengan memikirkan hal itu ...! Karena ... aku akan selalu setia menunggu kepastian itu, meski jika itu lama dan sangat lama," ucap Nadia. Berlin tersenyum dan merasa sangat senang ketika mendengarnya.


"Jujur saja, aku sudah sering memikirkannya, memikirkan rencana untuk masa depan itu. Dan, apakah itu terlalu cepat? Mungkinkah aku terlalu cepat memikirkan semua hal itu?" ucap Berlin.


Nadia menggelengkan kepalanya dan mengatakan, "tidak ada salahnya untuk memikirkan masa depan, dan semua orang pasti memikirkannya," ucapnya lalu tersenyum.


"Berlin, aku tahu tugas lelaki itu berat, dan akan lebih berat jika sudah menempuh jenjang yang lebih serius dari ini. Maka dari itu, aku tidak memiliki keinginan untuk memaksa atau mendesakmu. Semua keputusan soal kepastian itu ada di tanganmu sendiri, dan aku ... sangat bersedia untuk mengikutinya kapanpun ...!" Nadia tampak lebih dewasa ketika mengatakan hal-hal tersebut kepada Berlin. Ia mengatakannya dengan sungguh-sungguh seraya menggenggam tangan milik lelakinya itu.


Setelah mengatakan semua itu dan sudah seperti seolah Nadia sedang menasihati Berlin. Tiba-tiba Nadia tersentak dan seolah tersadar kalau dirinya mungkin sudah terlalu blak-blakan ketika mengatakannya.


"Ma-maaf, aku jadi mengatakan semua itu," ucap Nadia melepas genggamannya.

__ADS_1


"Terima kasih, Nadia. Aku merasa sedikit mendapatkan pencerahan," ucap Berlin yang lalu tersenyum tulus pada kekasihnya yang terbaring di hadapannya.


TOK ... TOK ... TOK ...!


Tiba-tiba saja pintu kamar mereka diketuk oleh seseorang. Berlin segera beranjak dari kursinya, dan membukakan pintu tersebut serta melihat siapa yang datang mengetuk pintu.


Sesaat setelah dirinya membuka pintu. Betapa terkejutnya Berlin kedatangan tamu yang spesial, dan mungkin akan sangat spesial bagi Nadia.


"Kak Berlin ...!" teriak Akira yang tiba-tiba memeluk kedua kaki milik Berlin. "Apa kakak baik-baik saja?" tanya Akira mendongak dan menatap Berlin dengan ekspresi imutnya.


"Tentu aku baik-baik saja, dong!" sahut Berlin tersenyum lebar ketika melihat seorang anak perempuan yang sangat ceria di hadapannya.


"Akira, ingat kita ada di rumah sakit. Jangan teriak-teriak, ya?" ucap Alana menasihati Akira yang terlalu bersemangat ketika bertemu dengan Berlin.


Tak hanya Akira sendirian yang datang, tetapi juga ada Alana dan Nyonya Helena tentunya. Mereka bertiga datang ingin menjenguk keadaan Nadia.


"Kalau begitu, tunggu apalagi? Mari masuk!" titah Berlin mempersilakan Alana dan Nyonya Helena masuk ke dalam kamar untuk bertemu dengan Nadia.


...


Akira tampaknya memang tak bisa diam. Apalagi di saat bertemu dengan Nadia, anak perempuan itu cerewet terus saja bertanya berbagai macam hal kepada Nadia. Ia juga tampak sangat ceria dan senang bisa bertemu kembali dengan Berlin dan juga Nadia.


"Apa yang kakak rasakan? Sakit atau tidak? Apakah kaki kakak bisa digerakkan?" pertanyaan-pertanyaan itu tercetus Akira ketika melihat kondisi Nadia. Cerewet dan penuh perhatian.


"Akira, jika kamu menanyakan semua itu sekaligus. Bagaimana cara Kak Nadia mengerti?" ucap Nyonya Helena seraya mengelus kepala Akira.


"Hehehe," Akira tertawa kecil dan tersenyum manis, "Akira hanya ingin tahu saja," ucapnya. Dirinya lalu berlari menghampiri Berlin yang duduk di sofa bersama Alana.


"Duduk sini ...!" titah Alana yang lalu mengangkat Akira untuk duduk di sofa tepat di antara Berlin dan dirinya. Sedangkan Nyonya Helena duduk di kursi samping ranjang milik Nadia, dan tampak sedang berbincang dengan Nadia.


"Kak Berlin, apakah penjahat-penjahat itu sudah ditangkap?" cetus Akira tiba-tiba menanyakan hal tersebut kepada Berlin dengan sikap polosnya.


"Sudah dong! Mereka semua sudah tidak ada! Mereka sudah ditangkap oleh polisi," jawab Berlin tersenyum melihat sikap seorang anak perempuan di depan matanya.


"Lalu, tadi pagi Akira melihat di televisi. Kenapa ada kakak ada di televisi? Apa kakak juga melawan penjahat-penjahat itu?" cetus Akira.


Berlin cukup terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Akira padanya. Televisi? Berita televisi? Media memang benar-benar cepat dan tanggap soal menyiarkan sebuah berita. Bahkan tanpa sepengetahuan Berlin.


"Akira! Jangan lupa kalau kita sedang di rumah sakit, ya?" ucap Alana memperingatkan Akira sekaligus membuat Akira berhenti berbicara sejenak.


.


"Berlin, maaf ya, anak kecil memang suka cerewet," lanjut Alana merasa tidak enak dengan Berlin.


Berlin tersenyum dan tampak sama sekali tidak keberatan dengan kecerewetan Akira kepadanya. "Iya, aku juga melawan penjahat-penjahat itu," ucap Berlin yang lalu mengusap perlahan kepala milik Akira.


"Wah, hebat! Berarti kakak sudah seperti polisi yang melawan penjahat. Keren ...!" celetuk Akira tampak menatap Berlin dengan tatapan penuh kagum di balik ekspresi kepolosannya.


Berlin hanya tersenyum dan tampak sangat terhibur dengan sikap-sikap yang ditunjukkan Akira di depan matanya. Sikap kekanak-kanakan itu sungguh membuat hatinya tenang dan sedikit luluh jika melihat ekspresi kepolosan Akira.


Berlin tampak sedang sibuk terus berbicara dengan Akira yang terus cerewet bertanya berbagai macam hal. Sedangkan Nadia yang terbaring di ranjangnya, tampak sedang berbincang dengan Nyonya Helena.


Malam itu mungkin menjadi malam yang indah bagi Nadia. Karena dirinya merasa sangat senang ketika orang-orang yang berharga baginya datang menjenguknya. Ditambah lagi dirinya bisa bertemu kembali dan melihat sikap kekanak-kanakan Akira yang hampir selalu bisa membuatnya tersenyum dan tertawa.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2