
"Pasti ... dia akan marah padaku ...," gumam Berlin ketika berdiri tepat di depan pintu rumahnya.
Setelah semua kegiatan bersama kelompoknya selesai, dan tidak menghasilkan informasi berharga apapun itu. Berlin langsung bergegas segera pulang ke rumah karena hari pun mulai perlahan menjelang fajar.
Namun sampai rumah, dirinya sangat berharap kedatangannya tidak diketahui oleh Nadia dan dapat terhindar dari kemarahannya jika mengetahui dirinya pulang selarut itu.
"Sudahlah, dia pasti sudah tidur di kamar," batin Berlin yang lalu membuka perlahan pintu rumahnya.
Kreeekk ...!
Ruang tamu dan ruang utama terlihat sudah sangat gelap, tidak ada tanda-tanda dari Nadia di lantai satu. Berlin pun perlahan menutup kembali pintunya dan mengunci pintu tersebut, lalu segera menuju ke kamarnya secara diam-diam.
DEG.
Saat melangkahkan kakinya melewati ruang tamu dan sampai ke ruang tengah. Berlin cukup terkejut ketika mendapati Nadia yang tertidur di sofa ruang tengah, dan dengan ponsel yang masih menyala menampilkan kontak miliknya.
"Dia menunggu ku ...?" batin Berlin melihat kekasihnya yang terbaring tidur di sofa tersebut.
"Oh, kamu ... sudah pulang ...?" Nadia langsung terbangung karena merasakan kehadiran dari lelakinya itu.
"Iya, aku pulang," jawab Berlin melihat kekasihnya yang memalingkan wajah dari dirinya.
Nadia terlihat cuek dan kesal yang menandakan kalau dirinya sedang marah kepada Berlin. Ia hanya mendiamkan Berlin dan memalingkan wajahnya dari pandangan Berlin, serta bersikap sangat dingin terhadap lelakinya.
Dugaan Berlin benar, kalau dirinya akan mendapatkan sikap dingin tersebut. "Maaf ...."
"Kemana saja ?!"
"Kenapa kamu tidak bisa aku telepon ?!"
Dua pertanyaan tersebut langsung menyerang Berlin secara bersamaan, tanpa membiarkan Berlin berbicara terlebih dahulu.
"Ponselku kehabisan baterai, aku lupa," Berlin duduk tepat di samping wanitanya dan perlahan menjawab pertanyaan tersebut.
.
"Dan, tadi ... aku bersama teman-teman sedang memantau sebuah acara malam yang ada di pinggiran kota," lanjutnya.
Nadia langsung menoleh dan menatap tajam kepada Berlin yang duduk di sampingnya, dan mengatakan, "pinggiran kota ?! Itu kan cukup jauh dari sini, kamu juga nggak lihat waktu ?!"
"Iya, aku tahu semua itu, tetapi itu lakukan dengan tujuan untuk mencari informasi tentang Mafioso di sana. Namun, ternyata ... itu adalah ide yang cukup buruk," Berlin langsung menjawab dan menjelaskannya secara singkat kepada Nadia. Ketika Nadia menatapnya, ia sedikit tertunduk saat menjelaskannya.
"Buruk ?" sahut Nadia dengan tatapan penuh tanya.
"Yah, sempat terjadi beberapa tembakan, sih ...," jawab Berlin tertunduk dan dengan nada yang berbisik.
"Tetapi kamu baik-baik saja, 'kan ?" sahut Nadia langsung meraih pipi dan menatap Berlin lebih dekat.
Berlin tersenyum melihat Nadia sangat begitu mengkhawatirkan dirinya, "tentu saja. Kamu bisa melihatnya, bukan ?" jawabnya.
Mendapatkan jawaban itu. Nadia kembali melepaskan tangannya dan tertunduk memalingkan wajahnya dari hadapan Berlin. "Kamu jahat, padahal aku sangat mengkhawatirkan mu ...," ucap Nadia sembari tertunduk dan dengan nada berbisik.
"Maaf, ya ? Aku selalu membuatmu khawatir, dan itu bukan maksudku untuk selalu membuatmu khawatir," ujar Berlin sembari memegang dan sedikit mengelus salah satu pundak milik Nadia yang sedang diam tertunduk.
.
"Kamu mau memaafkan ku, 'kan ?" sambung Berlin.
Nadia tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya ke dada milik Berlin. Berlin pun memeluk perlahan Nadia dan mengatakan, "ini tandanya ... kamu mau memaafkan ku ?" ucapnya.
Nadia mengangguk pelan dan juga menjawab, "jangan diulangi lagi ! Setidaknya kamu memberiku kabar ... walau satu atau dua pesan !" jawabnya.
"Iya, aku tidak akan mengulanginya lagi," jawab Berlin sembari perlahan mendekap dan mengelus kepala milik Nadia.
Nadia terlihat merasa sangat nyaman di dalam pelukan hangat dari Berlin, dan membuat rasa kantuknya kembali menyerang untuk tidur.
Karena sudah sangat mengantuk, Nadia pun sempat memejamkan matanya dan tertidur dalam pelukan tersebut. Namun Berlin yang menyadarinya pun kembali menyadarkannya dan berkata, "tidurnya lanjut di kamar saja, yuk ...?"
"He'em," gumam Nadia sembari mengangguk dengan keadaan mata yang masih setengah terpejam.
"Mau jalan sendiri, atau ... mau aku gendong untuk antarkan ke kamar ?" celetuk Berlin berbisik sangat dekat di telinga milik Nadia.
Seketika Nadia dibuat sangat kikuk dan tersipu ketika mendapatkan tawaran tersebut. "Eh, um ... aku ... bisa jalan saja ...," jawab Nadia menatap Berlin dengan wajah cukup memerah.
"Ya sudah, yuk !" sahut Berlin yang lalu beranjak dari sofa tersebut dan berjalan menaiki tangga bersama Nadia.
.
~
.
Di keesokan harinya Garwig mengunjungi sebuah rumah yang sangat mewah dan sangat luas di daerah barat kota. Rumah mewah tersebut memiliki desain yang cukup kuno dengan patung-patung yang menghiasi pekarangannya. Namun nuansa yang diberikan cukuplah modern dan sangat nyaman untuk ditempati.
"Kediaman Gates". Begitulah tulisan yang tertulis pada gerbang utama rumah tersebut, dan dihiasi dengan tanaman liar yang menjalar hampir menutupi tulisan itu.
"Suasana lama ...," ucap Prawira turun dari mobilnya dan menghampiri Garwig yang tengah melihat-lihat keadaan sekelilingnya.
Di sini Garwig tidaklah sendiri, dirinya ditemani oleh Prawira untuk mengunjungi kembali rumah tersebut.
"Apa kau sudah mengabarinya untuk ke sini ?" tanya Prawira kepada Garwig sembari berjalan menyusuri pekarangan samping rumah yang cukup rindang dengan banyaknya pepohonan di sekitar.
"Sudah," jawab Garwig.
Garwig terlihat sangat senang bisa kembali mengunjungi tempat di mana ia dibesarkan oleh keluarga besarnya. Dahulunya rumah itu selalu ramai dengan anggota-anggota keluarganya, jauh sebelum ditinggalkan. Namun suasana sepi dan sunyi kini telah mengelilingi dan menyelimuti rumah tersebut.
"Ini foto-foto siapa saja ... aku sudah lupa," celetuk Prawira ketika menemukan banyak foto dalam bingkai saat berjalan memasuki ruang tamu.
"Haha," Garwig sempat tertawa sebelum mengatakan, "mereka semua ... sudah bukan lagi menjadi bagian dari Gates," katanya sembari melihat beberapa bingkai foto yang juga ada di ruang tengah.
Banyak foto-foto dari orang-orang yang dahulunya masih menjadi bagian dari keluarga besar Gates. Foto-foto itu membuat Garwig kembali mengingat betapa ramainya keluarganya dahulu.
"Seandainya ... Matrix tidak ikut campur, mungkin ... sampai sekarang ... kita masih ramai, dan ... mungkin juga ... semua yang terjadi sekarang tidaklah harus terjadi," ucap Prawira yang lalu meletakkan sebuah bingkai foto dari tangannya, dan lalu lanjut berjalan menuju ruang tengah menghampiri Garwig.
Garwig tiba-tiba terlihat merasa bersalah setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Prawira. "Seandainya aku berani menolak dan melawan dalam perundingan itu," batin Garwig.
Saat Garwig lanjut berjalan memasuki ruang utama dari ruang tengah. Tiba-tiba terdengar suara mobil yang datang dari halaman parkir.
"Akhirnya ... datang juga dia ...," gumam Garwig menoleh ke arah pintu masuk.
***
Berlin cukup terkejut ketika mendatangi sebuah tempat yang dikatakan oleh Garwig. Rumah tersebut begitu sangat tidak asing baginya, dan dirinya bisa mengingat beberapa kenangan atau memori kecil tentang rumah tersebut.
"Tidak asing, bukan ?" cetus Garwig menyambut kedatangan Berlin di rumah itu.
"Ya, walau ... aku masih belum mengingat sepenuhnya ...," jawab Berlin turun dari mobilnya dan terus melihat ke sekelilingnya.
__ADS_1
"Oh, apa kabar, Nadia ?" sapa Prawira kepada Nadia yang baru saja turun dari mobil.
"Baik, Pak," jawab Nadia tersenyum dan lalu bersalaman dengan Prawira.
Tidak sendirian, karena Berlin ditemani oleh Nadia untuk pergi ke rumah tersebut. Dirinya ingin membagikan kebahagiaan serta kesenangannya ketika sedang di rumah itu kepada Nadia.
"Aku memanggilmu ke sini, karena ... aku ingin ... kau mengetahui kembali tentang rumah ini," ucap Garwig berjalan mendekati Berlin dan lalu merangkul pundaknya.
"Sudahlah, lebih baik kita berbincang sambil berkeliling ...!" ajak Prawira.
Berlin ditemani oleh Nadia pun masuk ke dalam rumah itu mengikuti Prawira dan Garwig.
Ketika berada di ruang tamu, Berlin dapat melihat banyaknya bingkai foto dari orang-orang yang sepertinya adalah anggota keluarga Gates.
Foto-foto itu terpajang sepanjang di dinding menuju ke ruang tengah, dan di atas lemari-lemari kecil yang terletak di sudut ruangan.
"Rumah ini ... tidak terlalu buruk, walau terlihat sudah cukup tua di luarnya, namun desain dalamnya cukup modern," batin Nadia kagum ketika memasuki rumah tersebut dan melihat sekelilingnya.
"Berlin, ikuti aku ..!" titah Garwig mengajak Berlin pergi ke ruang utama.
"Baik," sahut Berlin yang lalu mengikutinya.
Berhubung Berlin kelihatannya sedang sibuk. Nadia pun melanjutkan untuk melihat-lihat isi rumah tersebut bersama Prawira, karena dirinya juga cukup penasaran.
...
Berjalan melewati ruang tengah, Berlin pun mulai memasuki ruang utama yang di mana cukup banyak ruangan yang terbagi-bagi. Ia mengikuti Garwig yang memasuki sebuah ruangan yang tampak sangat beda dari pintunya yang kelihatannya sedikit berlapis emas.
"Ruangan apa ini ?" tanya Berlin bingung ketika memasuki ruangan tersebut.
Di ruangan tersebut terdapat sebuah meja dan kursi yang terlihat sudah seperti meja dan kursi milik atasan atau bos. Tak hanya itu, di ruangan itu juga terdapat rak buku yang amat besar di dinding ruangan.
Banyak buku yang tersimpan pada rak tersebut, yang tentunya buku-buku itu memiliki kegunaannya masing-masing.
"Sebenarnya ... ruangan ini milikmu, tetapi ... banyak hal yang terjadi," jawab Garwig berjalan ke arah sebuah rak buku yang amat besar di balik kursi pada meja tersebut.
"Berlin Gates Axel". Begitulah namanya tertulis samar berwarna emas pada sebuah kotak nama di atas meja tersebut. "Aku ... tidak mengerti apa maksudnya," cetus Berlin ketika membaca namanya sendiri.
"Tidak heran ... jika kau tidak mengerti, karena beberapa ingatanmu soal itu, dan soal Gates ... sengaja ku hapus," jawab Garwig mengambil sebuah buku dari rak buku di depannya.
"Kenapa harus dihapus ...?" sahut Berlin.
Berlin sendiri tidak begitu terkejut saat mendengarkan jawaban Garwig tentang ingatannya. Namun dirinya sangat kecewa karena harus kehilangan beberapa ingatan berharganya tentang keluarga besarnya sendiri.
Garwig berbalik badan menoleh kepada Berlin yang berdiri di depan meja, dan lalu menjawab, "karena ... waktu itu kau masih anak-anak yang baru memasuki usia remaja, dan aku tidak mau kau memikirkan masalah yang begitu besar."
"Aku hargai niat baik itu," sahut Berlin yang lalu duduk di sebuah sofa yang tak jauh dari dirinya berdiri.
.
"Tetapi, aku jadi tidak ingat hal-hal berhargaku pada keluarga ini, dan siapa saja keluargaku, selain yang ku kenal dirimu dan juga Prawira," lanjutnya ketika duduk.
Garwig duduk dan meletakkan buku yang ia bawa, lalu mengatakan, "aku benar-benar minta maaf soal itu, karena ... waktu itu ... Prawira dan aku melakukannya demi keselamatan mu dari incaran Matrix."
Berlin menoleh saat mendengar sebuah nama yang tercetus oleh Garwig, dan lalu menanyakan, "siapa Matrix itu ?"
.
"Kenapa mereka mengincar ku ?" lanjutnya.
Garwig terdiam sejenak dan sedikit tertunduk untuk membuang pandangannya dari Berlin yang bertanya mengenai hal itu.
Garwig diam sejenak menyandarkan tubuhnya ketika duduk di kursi tersebut. Baginya, apa yang ditanyakan oleh Berlin itu sudah sewajarnya.
Sebelum Garwig ingin menjawab semua pertanyaan tersebut. Ia kembali membuka buku yang ia letakkan di atas meja, dan menunjukkan isi dari buku tersebut kepada Berlin.
Berlin pun melihat dan membaca isi dari buku yang ditunjukkan kepadanya. Buku tersebut terlihat sama seperti buku keluarga yang sebelumnya ia terima dari Prawira, namun memiliki perbedaan dari isinya yang lebih lengkap.
Dari buku tersebut, Berlin mendapatkan sebuah informasi tentang dirinya sendiri dan Carlos. Ia sedikit terkejut ketika mengetahui kalau ternyata dirinya dan Carlos adalah bersaudara.
"Jadi ... musuhku adalah ... saudaraku sendiri ...?" gumam Berlin dengan mata masih tertuju pada buku yang ia baca itu.
.
"Apa yang harus aku lakukan ?" lanjut Berlin menatap Garwig dengan tatapan bingung setelah membaca buku tersebut.
Garwig mengerti perasaan Berlin yang terlihat bingung setelah membaca buku yang ia tunjukkan. "Walau ... aku sempat menduganya, tetapi ... cukup berat setelah mengetahui kebenarannya," ucap Berlin memalingkan pandangannya dengan menunduk.
"Berlin, coba kau baca ini ...!" sela Garwig membuka halaman terakhir dari buku tersebut dan kembali menunjukkannya kepada Berlin.
.
"Aku yang menulisnya," lanjutnya.
Di halaman terakhir yang ditunjukkan pada buku itu. Berlin dapat membaca kalimat tentang apa yang kemungkinan akan terjadi nantinya. "Jika dua anak terakhir Gates atau salah satu diantaranya jatuh ke tangan yang salah. Maka sangat ditakutkan akan terjadi banyak hal yang tentunya akan melibatkan banyak nyawa."
"Apakah ... anak yang dimaksud adalah ... aku ?" tanya Berlin setelah membaca kalimat tersebut.
"Lebih tepatnya ... kalian berdua, kau dan Carlos," jawab Garwig.
.
"Tetapi ini hanya sekedar prediksi atau ramalan ku saja, belum tentu benar terjadinya," lanjut Garwig dengan cepat langsung menutup bukunya.
Berlin tertegun dan terdiam dengan tatapan kosong. Ia masih terpikirkan tentang kalimat yang dibacanya pada buku tersebut. Dirinya yang bingung masih mencoba untuk memahami semuanya.
"Jadi tujuanku untuk menemui mu di rumah ini, adalah untuk meminta bantuan kepadamu, Berlin," ujar Garwig berdiri dari kursinya dan kembali menyimpan buku tersebut di rak buku.
Berlin yang merasa bingung pun langsung menyanggahnya dengan mengatakan, "kenapa harus aku ?!" sahutnya dengan nada sedikit tidak terima.
"Tentu, masalah kriminal sudah menjadi kewajiban pihak kepolisian untuk menyelesaikannya. Namun, aku masih tetap membutuhkan bantuan mu, Berlin ..!" jawab Garwig dengan tenangnya.
Mendengar jawaban tersebut, Berlin mencoba untuk kembali menenangkan dirinya dengan bersandar di sofa. Dengan tenangnya dan sikap yang mulai cukup dingin. Berlin menjawab, "apa kau yakin ... meminta bantuan kepada penjahat seperti ku ...?"
"Sebenarnya ... tidak ada kejahatan di dalam dirimu, Berlin. Aku minta maaf sudah membuatmu menjadi seperti itu," jawab Garwig kembali duduk.
.
"Tetapi, aku yakin dan sangat percaya kepadamu," lanjutnya.
"Bagaimana kau yakin ... tidak ada kejahatan dalam diriku ...?" sahut Berlin dengan sikap dinginnya dan sedikit melirik tajam kepada Garwig.
Garwig tersenyum dan menjawab, "buktinya ... kau bisa mendapatkan Nadia, dan Nadia pun juga terlihat sangat baik saat bersama mu."
.
"Aku mengenalmu dari kau masih anak kecil, dan jika kau meminta bukti, aku bisa menceritakan tentang dirimu yang mungkin ikut hilang dalam ingatanmu itu," lanjutnya.
__ADS_1
Berlin jadi termenung sendiri dengan tertunduk melihat kedua telapak tangannya sendiri. Ia mencoba untuk terus mengingat-ingat kembali ingatannya yang hilang.
"Beruntung ... kau bisa memiliki Nadia, karena aku yakin dia pasti bisa menuntumu ke arah yang baik, dan aku juga yakin ... dia memiliki keinginan seperti itu," ucap Garwig menepuk pundak milik Berlin dan lalu tersenyum.
Garwig pun terus berbincang dengan Berlin, dan mulai menceritakan tentang masa lalu milik Berlin yang benar-benar menyenangkan. Masa lalu yang tidak sengaja ikut terhapus saat dirinya menghapus ingatan milik Berlin.
Garwig juga membahas banyak hal yang penting dengan Berlin. Ia seakan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ketika ada waktu untuk bertemu dengan Berlin.
***
Setelah satu jam berlalu, Nadia masih saja berkeliling rumah ditemani oleh Prawira menuju halaman belakang. "Luasnya kebangetan ...," gumam Nadia di dalam hati dengan kagumnya pada rumah tersebut.
"Di halaman belakang ini terdapat taman, lapangan tenis, dan kolam berenang," ujar Prawira berjalan bersama Nadia mengelilingi taman yang cukup rindang.
"Tetapi, menurutku ... rumah seluas ini kalau sepi jadi sedikit ngeri," celetuk Nadia melihat ke sekeliling taman.
"Hahaha ...!" Prawira tertawa terbahak-bahak mendengar apa yang dikatakan oleh Nadia. "Dahulu ... rumah ini sangat ramai sekali, bahkan juga banyak anak-anak yang sering bermain di taman ini," ucap Prawira saat berjalan di tengah taman bersama Nadia.
"Lalu, ke mana mereka sekarang ?" sahut Nadia langsung bertanya.
.
"Apakah mereka orang-orang yang ada di foto ruang tengah ?" lanjutnya.
Prawira mengangguk pelan dan menjawab, "sekarang mereka semua sudah bukan lagi bagian dari rumah ini."
"Kok bisa ?" sahut Nadia menghentikan langkahnya.
Prawira terlihat cukup kebingungan untuk menjawab, dirinya berpikir untuk mencari-cari alasan dan menjawabnya.
Namun di tengah Prawira memikirkan alasannya. Garwig dan Berlin yang selesai berbicara pun akhirnya terlihat berjalan mendatanginya.
"Gimana ?" tanya Prawira langsung kepada Garwig.
Garwig menjawabnya dengan mengangkat satu tangannya dan melingkarkan ibu jari serta jari telunjuknya sehingga menandakan "ok", atau semua berjalan lancar.
"Berlin, rumah milik keluargamu ternyata sangat luas, ya," cetus Nadia melangkah mendekati Berlin.
"Aku sendiri pun takjub," sahut Berlin tersenyum.
"Oh iya, aku ingin memperlihatkan mu satu tempat yang mungkin bisa membantu untuk mengingat kembali ingatan mu," sela Garwig.
"Baiklah," sahut Berlin.
Berlin bersama Nadia pun berjalan mengikuti Garwig dan Prawira menuju ke halaman paling belakang rumah. Jaraknya cukuplah jauh dari rumah dan taman itu, dan membuat Berlin harus berjalan cukup jauh juga.
Sesampainya di tempat yang Garwig maksud. Berlin tertegun dan benar-benar terkejut dengan tempat itu. Sebuah lapangan tembak yang sangatlah luas tersimpan di belakang rumah.
Tak hanya Berlin, Nadia juga ikut terkejut saat mengetahui kalau rumah itu menyimpan lapangan tembak yang sangat luas. Dirinya benar-benar tidak menyangka dengan apa yang ia ketahui.
"Apa kau mengingat sesuatu ?" tanya Garwig berjalan mendekati sebuah pembatas untuk menembak.
"Aku rasa ... aku pernah berlatih di sini, rasanya sangat tidak asing," jawab Berlin yang masih terkagum dengan apa yang ia lihat. Dirinya sedikit mengingat beberapa memori masa kecilnya yang pernah berlatih di tempat tersebut.
"Memang ... kau memang pernah berlatih di sini, Berlin," sahut Prawira.
"Hahaha ..!" Garwig tiba-tiba tertawa dengan sendirinya. "Karena kau sangat suka menembak, maka dahulu kau juga sangat suka menjadikan tempat ini untuk berlatih," ucapnya kepada Berlin.
"Oh, jadi memang hobi kamu dari dahulu itu menembak, ya ?" celetuk Nadia kepada Berlin.
.
"Pantas saja," lanjutnya.
"Pantas kenapa ..?" sahut Prawira bertanya kepada Nadia.
"Nggak apa-apa," jawab Nadia yang lalu tertawa kecil. "Hehehe."
"Tetapi nggak cuma menembak, Berlin juga jago bela diri," cetus Garwig kepada Nadia dengan nada mengompori.
"Mana ada !" sahut Berlin.
.
"Sekarang aku sudah tidak berlatih," lanjutnya dengan memalingkan muka dengan sedikit kikuk.
"Hahaha," Garwig kembali tertawa melihat sikap yang ditunjukkan Berlin. "Sudahlah, lebih baik kita segera kembali ! Kalau tidak, bisa gosong kita di sini," ucap Garwig menutupi teriknya sinar matahari yang sangat menyilaukan mata dengan tangannya.
"Iya, aku juga harus kembali bertugas," sambung Prawira.
Mereka semua pun segera kembali ke rumah di bawah teriknya sinar matahari yang sangat cerah di siang hari itu. Berlin sendiri merasa puas setelah datang ke rumah ini, karena dirinya telah mendapatkan kebenaran dari semua pertanyaannya selama ini tentang keluarganya sendiri.
...
"Baiklah, sampai bertemu lain waktu, Berlin," ucap Prawira kepada Berlin sebagai salam perpisahan.
Berlin yang berdiri di samping mobilnya pun menjawab, "dengan senang hati."
"Apakah ada permintaan ?" tanya Garwig kepada Berlin sebelum dirinya menaiki mobilnya yang sudah siap.
Berlin berpikir dan menjawab, "Sepertinya ... tidak."
"Ya sudah kalau begitu," sahut Garwig tersenyum dan lalu masuk ke dalam mobilnya.
"Jaga Nadia, ya !" sambung Prawira kepada Berlin.
Saat Berlin melirik kepada Nadia, dirinya jadi teringat satu hal. Ia pun meminta satu hal tersebut kepada Garwig, "tunggu !" cetus Berlin kepada Garwig.
.
"Mungkin ... ada satu hal yang ingin ku minta," lanjutnya.
...
Setelah semuanya selesai, Berlin pun segera pergi dari rumah itu dan kembali menemui teman-temannya di bengkel. Dalam perjalanan, Nadia terus-menerus memandang Berlin yang sedang menyetir. Ia terlihat lebih senang memandang Berlin dibandingkan memandang pemandangan kota selama perjalanan.
"Jangan terlalu lama melihatku, nanti aku jadi salah tingkah," ujar Berlin sedikit melirik kepada Nadia di sampingnya.
Nadia langsung tersenyum, ia menyandarkan dirinya di kursi dan bertanya, "tadi apa yang kamu minta kepada Garwig ?"
"Ada deh ..!" jawab Berlin melepas pandangannya kepada Nadia dan kembali fokus ke jalanan di depannya.
"Tuh kan, main rahasia !" gusar Nadia terlihat cemberut mendengar jawaban tersebut.
"Nanti juga kamu akan tahu, kok," ucap Berlin dengan tiba-tiba mengelus kepala milik Nadia.
Nadia langsung terdiam dan cukup tersipu ketika membiarkan Berlin mengelus kepalanya. "Aku jadi penasaran," gumamnya sedikit tertunduk.
__ADS_1
.
Bersambung.