Mafioso In Action

Mafioso In Action
Anak-anak #47


__ADS_3

Di keesokan harinya, dan tepat di siang hari. Berlin menemani Nadia untuk memilah beberapa mainan anak seperti boneka dan juga beberapa buku dongeng lainnya, di rumah milik Nadia sendiri.


Berlin sendiri juga sudah menyiapkan beberapa hadiah yang akan ia bawa ke Panti Asuhan yang Nadia maksud, dan itu semua sudah siap di dalam kardus yang ia simpan di bagasi mobilnya.


"Banyak sekali buku-buku dongengmu," gumam Berlin ketika Nadia membuka gudang lemari penyimpanannya.


"Dahulu aku suka sekali membacanya," sahut Nadia ketika mengambil satu-persatu buku-buku tersebut.


.


"Dan ... semua buku-buku ini ... bukan aku yang membelinya, tetapi pemberian dari seseorang," lanjutnya dan lalu tersenyum sendiri melihat buku-buku yang sudah tertumpuk di tangannya.


"Kamu yakin, memberikan pemberian orang ?" sahut Berlin heran.


Nadia mengangguk pelan dan menjawab, "mungkin kamu tidak paham, tetapi ... nanti juga kamu akan paham," jawabnya sembari memindahkan buku-buku tersebut ke tangan Berlin.


"O-oke," Berlin pun menerima buku-buku tersebut dan lalu menatanya dengan rapi ke dalam kardus yang sudah siap di ruang tamu.


Di saat Berlin menata buku-buku tersebut. Nadia berjalan menuju kamarnya untuk mengambil sebuah kardus dari dalam kamarnya, dan memindahkannya ke ruang tamu untuk dipilih.


Melihat Nadia cukup kesulitan membawa kardus tersebut ke ruang tamu. Berlin langsung bergegas untuk membantunya, dan untuk diletakkan di atas meja.


"Ini kardus apa ?" tanya Berlin ketika membantu kekasihnya memindahkan kardus yang cukup besar itu.


Nadia pun membuka kardus tersebut, dan memperlihatkan isinya kepada Berlin.


"Ini semua punya kamu ?!" Berlin cukup terkejut melihat cukup banyaknya boneka yang hampir memenuhi isi kardus yang dibawa Nadia.


"Iya," jawab Nadia mengangguk dan lalu tertawa kecil, "hehehe ...."


.


"Te-tetapi ... tidak hanya boneka, kok. Ada juga mainan anak laki-laki di baliknya," lanjutnya sembari mengeluarkan boneka-boneka tersebut.


"Jadi, mana saja yang mau dibawa ?" tanya Berlin sembari membantu Nadia memilih mainan-mainan itu.


"Se-semua aja, dan cari yang masih bagus," jawab Nadia sembari memilih-milih mainannya.


.


"Lagian, aku juga sudah tidak perlu mainan-mainan ini," lanjutnya.


"Baiklah," sahut Berlin.


Berlin membantu kekasihnya untuk memilah-milah semua boneka itu, termasuk dengan beberapa mobil mainan yang tersimpan di dalam kardus tersebut.


Beberapa boneka tersebut kebanyakan adalah boneka beruang, hanya saja terdiri dari berbagai warna yang berbeda, dan sisanya boneka binatang seperti gajah, kelinci, kucing, dan anjing.


...


"Sudah semua ?" tanya Berlin sesaat setelah menutup rapat kardus kedua yang penuh dengan mainan itu.


"He'em," gumam Nadia sembari mengangguk pelan.


Ketika Berlin mengangkat kardus itu untuk dipindahkan ke dalam bagasi mobilnya. Dirinya melihat sebuah boneka beruang kecil berwarna coklat yang tergeletak di atas sofa seperti tertinggal.


"Loh, ini ...." Belum selesai Berlin berbicara, tiba-tiba Nadia menyahut, "jangan ...!" selanya dengan langsung mengambil boneka tersebut. Wajahnya seketika berubah sedikit memerah saat memeluk boneka yang ia bawa.


"Kalau yang ini ... sangat berharga ... bagiku," ucap Nadia dengan tatapan sedikit menunduk malu di hadapan Berlin.


"Hahaha," Berlin tertawa ketika melihat ekspresi tersebut. "Baiklah," lanjutnya dan lalu berjalan ke luar sembari terus membawa kardus itu di atas tangannya.


...


"Sudah semua ?" tanya Berlin kepada Nadia setelah dirinya selesai menata dua kardus tersebut ke dalam bagasi mobilnya.


"Sudah !" jawab Nadia dengan semangat dan ekspresi berseri-seri.


"Baiklah, ayo kita berangkat !" Berlin pun menutup rapat bagasi mobilnya dan kemudian masuk ke bangku pengemudi, diikuti dengan Nadia yang duduk di bangku penumpang tepat di sebelahnya.


.


"Tunjukkan jalannya, ya ?" lanjutnya.


Nadia mengangguk dan terlihat sangat semangat, "oke !"


~


Perjalanan untuk menuju ke Panti Asuhan cukuplah jauh, karena letaknya yang berada di pinggiran kota sebelah Timur dan cukup jauh dari pusat kota.


"Ini ... masih lurus atau ke kanan ?" Mobil yang dikendarai Berlin terhenti di sebuah pertigaan dengan keadaan jalanan yang cukup sepi.


"Ke kanan," jawab Nadia yang duduk disebelahnya dengan menunjuk arah yang ia maksud.


"Oke," Berlin pun segera mengendarakan mobilnya menuju ke arah yang Nadia maksud.


Jalan yang ditunjuk oleh Nadia tidak terlalu besar, karena itu termasuk jalanan kampung dan hanya cukup untuk satu mobil dan satu motor secara bersamaan. Kanan kiri dari jalanan tersebut hanya terdapat dinding dari rumah-rumah penduduk.


Tidak jauh dari pertigaan sebelumnya, dan tidak lama kemudian setelah Berlin mengendarai mobilnya masuk ke dalam gang tersebut. Di ujung jalan, dirinya dapat melihat sebuah rumah yang tidak terlalu besar, namun memiliki halaman yang cukup luas yang dijadikan sebagai taman bermain.


"Parkir masuk ke halamannya saja," ujar Nadia terlihat sangat bersemangat.


Di saat Berlin tengah memarkirkan mobilnya di halaman tersebut. Terlihat seorang wanita berumuran 25 tahun, sedang berdiri di depan pintu dan melihat ke arah mobil yang dikendarai Berlin dengan tatapan dan ekspresi bingung. Namun Nadia terlihat sangat senang ketika melihat wanita tersebut.


Sesaat setelah Berlin selesai memarkirkan mobilnya. Dengan semangatnya, Nadia langsung turun dari mobil dan berlari menghampiri wanita tadi.


"Nadia ?" celetuk wanita tersebut dan langsung memeluk erat Nadia, seakan sudah lama sekali tidak bertemu.


"Bagaimana kabarmu ?" tanya wanita itu kepada Nadia sesaat setelah melepas pelukan rindunya.


"Tentu, baik saja," jawab Nadia dengan sedikit cengar-cengir dan ekspresi wajah sangat senang.


"Eh, dia siapa ?" cetus wanita itu saat melihat Berlin turun dari mobilnya, dan berjalan menghampirinya. "Jangan-jangan ...," lanjutnya dengan melirik sinis kepada Nadia.

__ADS_1


Nadia langsung sedikit kikuk dengan sedikit menyenggol temannya itu dengan siku. Temannya hanya tertawa melihat sikap dari Nadia.


"Halo, selamat datang !" sapa wanita tersebut kepada Berlin dengan sikap yang sangat ramah.


"Berlin, kenalkan ... ini Alana, sahabat kecilku," ucap Nadia kepada Berlin dan memperkenalkan temannya.


"Salam kenal," cetus Alana sembari berjabatan tangan dengan Berlin.


.


"Berlin," ujar Berlin saat berjabat tangan.


Di tengah mereka bertiga berbincang di depan pintu masuk. Terlihat beberapa anak kecil yang mengintip dengan tatapan penasaran dari balik dinding di belakang Alana.


"Ada apa ini ?" terdengar suara seseorang wanita paruh baya berjalan dari balik dinding di mana anak-anak kecil itu mengintip.


"Nadia berkunjung, Bu," jawab Alana menoleh ke arah ibunya.


"Ya ampun, kamu udah dewasa aja," ujar ibu tersebut kepada Nadia.


"Iya, Bu," jawab Nadia langsung memeluk dan sedikit mencium pipi milik wanita yang sudah ia anggap seperti ibu sendiri.


"Oh iya ... kenalin, ini Berlin. Berlin, ini Ibu Helena," cetus Nadia yang juga mengenalkan Berlin.


Berlin pun juga langsung berjabat tangan dengan Helena dengan sikap yang sangat ramahnya.


"Oh, pandai juga ya, kamu milih yang ganteng kayak dia," celetuk Helena dengan melirik kepada Nadia sesaat setelah bersalaman dengan Berlin, dan lalu tertawa kecil setelah mengucap.


"Apasih, Bu !" sahut Nadia dengan sikap cukup kikuk.


"Hahaha," Helena sedikit tertawa melihat sikap Nadia yang menurutnya tidak berubah dari dahulu, yaitu sikapnya yang masih seperti anak kecil.


"Dalam rangka apa kalian kemari ?" lanjut Helena pada Nadia dan Berlin.


"Kami kemari karena ingin memberikan beberapa sesuatu yang mungkin bisa membuat anak-anak di sini senang," jawab Berlin.


"Sekaligus juga ... ingin main-main dan berkunjung saja ke sini," sambung Nadia.


"Oh, ya ?" cetus Alana terlihat senang ketika mendengar hal tersebut.


Berlin dan Nadia pun berjalan kembali ke mobil mereka untuk mengambil barang yang sudah mereka bawa dan siapkan. Alana yang terlihat sangat senang ketika mendapatkan kabar gembira ini pun juga ikut membantu membawakan sebuah kotak kardus dari bagasi mobil milik Berlin.


"Apakah ini ... serius ?" tanya Helena.


Dengan membawa kotak kardus di tangannya, Nadia menjawab, "ya iyalah, Bu," jawabnya tersenyum lebar kepada Helena.


"Wah, isinya banyak mainan !" celetuk Alana saat sedikit mengintip isi kotaknya.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Alana. Anak-anak yang tadinya hanya mengintip dengan penuh penasaran, langsung menghampiri Alana dengan ekspresi penasaran sekaligus gembira setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Alana.


"Mainan ?"


"Apakah ada boneka di dalamnya ?"


"Kita buka di ruang tengah, yuk ?" ujar Alana dengan semangatnya kepada anak-anak itu.


"Ayo !" seru anak-anak itu terlihat sangat senang.


"Nad," cetus Alana menoleh kepada Nadia di belakangnya dan memberikan kode untuk mengikutinya.


Nadia pun langsung berjalan mengikuti Alana yang bersama dengan anak-anak itu menuju ruang tengah. Sedangkan Berlin, sebelum dirinya mengikuti mereka berdua bersama anak-anak itu. Ia terlihat memberikan sebuah amplop berwarna coklat secara sembunyi-sembunyi dari Nadia kepada Ibu Helena.


"Apa ini ?" tanya Helena bingung ketika melihat sangat banyak uang di dalam amplop yang diberikan Berlin.


"Saya memberikannya ... karena saya sedang ingin memberi, dan ... siapa tahu sangat membantu untuk tempat ini," jawab Berlin dengan sopannya.


Helena yang awalnya bingung, kini berubah menjadi sangat senang dan bersyukur dengan apa yang ia terima. Dirinya pun mengucap, "terima kasih banyak, Nak Berlin."


Berlin tersenyum dan mengangguk pelan kepada Ibu Helena. "Sama-sama, senang bisa membantu," ucap Berlin dan lalu berjalan menuju ruang tengah yang sudah ditunggu oleh Nadia dan anak-anak yang lainnya.


Helena benar-benar merasa senang dan sangat terbantu dengan apa yang diberikan oleh Berlin dan juga Nadia. Dirinya merasa sangat senang ketika melihat anak-anak yang ia rawat juga ikut senang dengan apa yang diberikan oleh Berlin dan Nadia.


***


"Wah, banyak banget !" seru semua anak itu ketika melihat isi dari ketiga kotak kardus itu setelah terbuka.


"Aku mau yang ini !"


"Boneka beruang putih ini buat aku, ya ?"


"Aku ambil boneka gajah ini, ya !"


.


"Tetapi aku juga mau yang gajah !"


Mereka langsung bersemangat mengambil mainan yang masing-masing mereka sukai. Beberapa dari mereka juga terlihat asik dengan buku-buku dongeng yang dibawa oleh Nadia.


"Sudah, sudah, jangan berebut, ya ...?" ucap Alana melerai dua anak laki-laki yang sedang memperebutkan satu mobil mainan.


"Kak, ayo mainan boneka ini ...!" ucap salah satu dari lima anak perempuan kepada Nadia.


"Iya, Kak. Ayo !" lanjut empat anak perempuan lainnya dengan sedikit menarik tangan Nadia ke arah sofa yang tak jauh dari situ.


"Hehehe." Nadia sedikit tertawa kecil dan kemudian menjawab, "iya, iya, yuk kita main !"


"Kakaknya ini mau main sama kita, ayo teman-teman !" teriak salah satu dari kelima anak perempuan itu kepada teman-temannya yang masih tertinggal di belakang.


"Tunggu aku !"


"Aku mau ikut dong !"


"I-iya, iya, yuk sini !" ujar Nadia yang lalu duduk di sofa dan mulai ikut bermain boneka bersama anak-anak perempuan itu.

__ADS_1


Nadia terlihat sedikit kewalahan ketika pertama kali diajak anak-anak perempuan itu bermain bersamanya. Tetapi dirinya tetap menuruti keinginan anak-anak itu.


***


Di tengah Berlin sedang merapikan kardus-kardus yang sudah kosong karena barang di dalamnya sudah habis diambil. Tiba-tiba dirinya dihampiri oleh seorang anak perempuan dengan membawa sebuah buku dongeng di tangannya.


"Kak, bisakah ... menolong ku untuk membacakan buku ini ...?" ujar anak itu kepada Berlin dengan menyodorkan buku yang ia maksud, dan dengan ekspresi sangat memohon.


Secara spontan Berlin langsung menjawab, "bisa, kok. Sini ... duduk, biar aku bacakan ..!" jawab Berlin menerima buku dongeng yang ditunjukkan anak itu.


Anak perempuan itu langsung duduk di atas karpet tepat di samping Berlin, dan siap menunggu Berlin membacakan dongeng itu untuknya.


"Aku mulai membaca, ya ?" ucap Berlin membuka buku dongeng tersebut.


"A-apa ... aku boleh bergabung ...?" sela seorang anak laki-laki yang datang kepadanya.


"Boleh, kok. Sini duduk aja ..!" jawab Berlin.


Berlin pun mulai membacakan kisah dongeng dari buku itu kepada kedua anak yang menghampiri dirinya. Tak hanya kepada mereka, tetapi satu-persatu dari anak-anak di saja mulai mendekati Berlin ketika dirinya mulai membacakan dongeng tersebut.


Anak-anak yang datang di sekitarnya langsung duduk dan diam untuk menyimak cerita yang Berlin bacakan untuk mereka. Mereka terlihat begitu serius menyimak ceritanya, begitu pula dengan Berlin yang sedikit gugup untuk membacakan dongeng itu di hadapan banyak anak-anak.


"Akibat kecelakaan mobil yang sangat tak diduga, seorang anak laki-laki itu alhasil terjebak di dalam hutan yang sangat asing baginya. Di saat ia berjalan menelusuri hutan dengan penuh kebingungan dalam kepalanya, dirinya tiba-tiba menabrak sesuatu yang tidak terlihat di depannya."


"Sesuatu tidak terlihat ?" sela anak laki-laki yang duduk di hadapannya sembari mengangkat satu tangannya.


"Sshh ! Jangan berisik !" sahut anak perempuan yang duduk di samping anak laki-laki tersebut.


Berlin terhenti sejenak dan tersenyum, lalu melanjutkan kembali dongengnya di hadapan anak-anak itu.


"Sesuatu yang tidak terlihat itu ternyata adalah seekor naga besar yang sedang berkamuflase untuk sembunyi dari manusia. Sontak, anak laki-laki itu kaget dan sempat terjatuh saat dirinya berjalan mundur setelah melihat apa yang ia lihat di depan matanya."


"Naganya besar nggak ?" cetus anak lain.


"Sshh !" gusar anak-anak yang lain secara bersamaan kepada anak laki-laki itu.


"Besar banget ! Sampai-sampai tinggi pohon cemara pun tersaingi," sahut Berlin dengan mengangkat satu tangannya ke atas seolah mengukur besar naga yang dimaksud dalam cerita.


"Tunggu, berkamuflase itu apa ?" sela seorang anak laki-laki itu tadi lagi kepada Berlin.


Berlin tertawa kecil melihat apa yang terjadi di hadapannya, dirinya pun menjawab pertanyaan anak tersebut. "Berkamuflase itu dapat mengubah warna, bentuk, atau ukuran tubuhnya demi sembunyi dari hal-hal lain, contoh hewannya adalah ... Bunglon," jawabnya.


"Oohh ...," sahut anak-anak di sekitarnya dengan ekspresi kagum nan polos mereka.


"Aku belum pernah lihat Bunglon," cetus anak-anak yang lain.


"Bunglon itu seperti apa ?" tanya mereka kepada Berlin.


"Aduh, gimana jelasinnya, ya ?" gumam Berlin sedikit bingung menjawab pertanyaan itu.


"Bunglon itu seperti kadal, tetapi sedikit lebih besar, dan ia bisa berganti-ganti warna," jelas Berlin menjawab pertanyaan tersebut.


"Kak, lanjut lagi dong ..!" titah anak perempuan pertama yang sebelumnya meminta untuk dibacakan.


"Baik, kita lanjut, ya ?" tanya Berlin dengan semangatnya kepada anak-anak yang duduk di depannya.


"Baik ..!" jawab mereka semua secara bersamaan.


Berlin pun kembali melanjutkan membacakan buku dongeng itu di hadapan anak-anak itu, dan diikuti oleh semua anak itu yang menyimak cerita tersebut dengan saksama.


***


"Dia kelihatannya suka dengan anak-anak," celetuk Alana kepada Nadia sembari memandang ke arah Berlin yang sibuk mendongeng.


Nadia tersenyum dan diam saja, lalu hanya mengucap di dalam hati, "syukurlah kalau begitu."


Nadia sendiri tidak menyangka kalau Berlin berubah menjadi sangat baik dan ramah seperti itu, terutama terhadap anak-anak. Dirinya merasa sangat senang, karena sifat Berlin mulai perlahan berubah menjadi lebih baik lagi.


"Gruoahhh !!!" pekik Berlin tiba-tiba sembari memperagakan seolah dirinya adalah naga dari cerita dongeng yang ia baca.


Sontak itu mengejutkan anak-anak di hadapannya, dan kemudian tertawa melihat Berlin. "Hahaha," mereka tertawa cekikikan termasuk Berlin sendiri.


"Dia pria yang baik, ya ?" cetus Helena berjalan menghampiri Nadia dan Alana yang tengah sibuk memperhatikan Berlin bersama dengan anak-anak itu.


"Dia juga ganteng, dan sepertinya sangat menyukai anak-anak. Kalau aku bersamanya untuk beberapa waktu, gimana ?" celetuk Alana dengan ekspresi dan nada yang menggoda Nadia.


"Ih, nggak boleh ! Bukannya kamu udah punya sendiri, ya ?!" sahut Nadia sedikit memukul bahu kiri milik Alana.


"Oh iya, tadi dia memberikan ini. Apa ini serius ?" sela Helena kepada Nadia dengan menunjukkan sebuah amplop coklat berisikan banyak uang.


Nadia sendiri sedikit terkejut dengan apa yang diberikan Berlin kepada Helena, karena dirinya sendiri tidak mengetahui hal tersebut. Namun dirinya sangat mengerti dengan niat yang dilakukan oleh lelakinya itu, dan dirinya juga mengerti kenapa Berlin menyembunyikan hal itu dari dirinya.


"Dari awal ... dia yang sangat bersemangat untuk mengantar dan menemaniku ke sini, setelah dia aku sedikit bercerita kepadanya tentang diriku dan tempat ini," jawab Nadia sembari terus melihat ke arah Berlin yang terlihat masih asik bermain-main dengan anak-anak.


.


"Walau aku sudah lama dekat dengannya, tetapi ... masih ada beberapa hal yang harus aku mengerti tentangnya," lanjutnya.


"Iya, sih. Kalau aku terus melihatnya, dia itu cukup misterius, ya ?" sambung Alana yang juga terus memandang ke arah Berlin.


Nadia tiba-tiba langsung menutup mata milik Alana dan berkata, "jangan terus dilihatin dong !"


"Hehehe, iya, iya, dia milikmu sepenuhnya, kok !" jawab Alana yang lalu tertawa kepada Nadia dan sedikit memeluk sahabatnya itu.


.


"Lagian, kayaknya ... dia tipe lelaki yang setia," lanjutnya kembali menoleh dan melihat ke arah Berlin.


"Hehehe," Helena tiba-tiba tertawa kecil setelah melihat dan mendengar kembali kedua suara yang sangat ia rindukan itu. "Dasar, kalian ini nggak berubah dari sejak kecil, ya ?" ujar Helena sembari merangkul Nadia dan Alana di kanan dan kirinya.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2