Mafioso In Action

Mafioso In Action
Penawaran Menarik #57


__ADS_3

Pukul 12:00 siang hari.


Kantor Polisi Pusat.


Dua hari sudah berlalu sejak Prawira dan Garwig membagikan tugas untuk mempersiapkan rencana penyergapan. Flix tampak sangat lancar untuk mempersiapkan banyak personil gabungan anggota polisi. Tugasnya menjadi cukup ringan karena rekannya yaitu Tambun membantu dirinya.


Netty tampak tidak ada masalah sama sekali dengan tugasnya dalam bagian pemasokan, dan itu sudah menjadi tugasnya sehari-hari ketika di gudang senjata atau brankas kepolisian.


Prime juga tampak tidak ada kendala sama sekali, dan terlihat semua anggota pada divisinya sudah sangat siap menerima perintah atau arahan. Sedangkan Prawira dengan Garwig sedang memikirkan rencana yang pas untuk mengunci wilayah Bukit Sunyi itu.


Semua rekan-rekannya tampak tidak ada masalah sama sekali dengan masing-masing tugas yang diterima. Namun tidak dengan James yang kini masih sangat kesulitan untuk membentuk tim khusus pengintainya. Ia sudah berusaha untuk merekrut beberapa rekannya, namun tidak ada yang mau sama sekali. Mengingat resiko sebagai tim pengintai pun sangatlah tinggi.


...


Tok ... Tok ... Tok ...!


Suara ketukan pintu dari seseorang di luar ruangan dapat didengar oleh Prawira dan juga Garwig yang tengah berbincang di ruangan milik Prawira.


"Silakan masuk !" titah Prawira.


Seseorang tersebut ternyata adalah James. Ia berjalan memasuki ruangan dengan tampak cukup putus asa dengan tugas yang diterimanya.


"Masih tidak ada ?" cetus Prawira yang duduk di sofa kepada James.


James menggelengkan kepala, "sulit, Pak."


"Baiklah, kalau begitu biarkan aku saja yang pilih secara langsung !" tegas Garwig yang duduk di kursi milik Prawira.


.


"Kalau tidak ada inisiatif dari kita, anggota tidak akan jalan nantinya," lanjutnya bersandar santai di kursi tersebut.


"Hmm, tim pengintai ..., kita butuh banyak informasi dari tim ini," gumam Prawira mengernyitkan dahi seraya berpikir.


"Berlin ... dan kelompoknya ...?" sahut Garwig secara tiba-tiba mengucap demikian.


"Maksudnya ?" sahut Prawira.


"Jika Mafioso ingin bermain kotor dengan kita, maka kita bisa menggunakan cara bermain mereka," jawab Garwig melirik tajam kepada Prawira.


"Tetapi kita tidak bisa memaksanya, dan bahkan dia aset berharga bagi keluarga," Prawira tidak setuju dan langsung menyanggah pemikiran Garwig.


Garwig menggelengkan kepala lalu berkata, "kita tidak memaksanya, namun kita menawarkannya untuk kerja sama."


.


"Keputusan untuk bergabung atau tidaknya, tetap di tangan dia sendiri," lanjutnya.


Prawira termenung sejenak mendengar hal tersebut. Ia terlihat tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Garwig. "Baik, aku akan mencoba untuk menghubunginya," ujar Prawira dengan nada sedikit terpaksa.


"Prawira, dia sudah dewasa sekarang, Berlin yang sekarang bukanlah Berlin yang dahulu, dan aku percaya kepadanya," ucap Garwig kepada Prawira.


.


"Kau sendiri yang melihat perkembangannya, bukan ?" lanjutnya.


"Baiklah," gumam Prawira sembari sedikit mengangguk mengikuti apa yang dikatakan oleh Garwig.


Prawira pun langsung mencoba untuk menghubungi Berlin melalui ponsel genggamnya. Tak hanya sebuah tawaran dan ajakan saja, Garwig juga memberikan bayaran yang sebanding dengan resikonya. Ia juga memberikan jaminan soal keamanan Berlin sendiri, karena mengingat Berlin adalah satu-satunya garis keturunan akhir pada keluarga besarnya yang tersisa.


.


~


.


Pukul 12:15 siang hari.


Villa Gates.


Berlin menerima panggilan serta pesan masuk dari Prawira. Panggilan dan pesan tersebut berisikan tentang rencana penyergapan yang dimiliki oleh Prawira. Serta penawaran atau ajakan Prawira untuk bergabung dalam rencana tersebut.


Tak hanya sekedar ajakan atau penawaran yang menarik. Prawira juga memberikan bayaran yang cukup fantastis, dan sebanding dengan resikonya.


Ajakan tersebut telah dipikirkan baik-baik oleh Berlin sendiri, dan belum diketahui oleh teman-temannya. Jika semua temannya tahu, Berlin sangat menduga kalau semua temannya akan setuju dengan tawaran tersebut. Apalagi dengan bayaran yang ditawarkan oleh Prawira.


Semua informasi tentang Mafioso telah berada di tangannya, dan juga beberapa informasi tentang Bukit Sunyi itu. Tawaran Prawira adalah kesempatan bagi Berlin untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut, karena sangat memungkinkan untuk dirinya bertemu dengan Carlos secara langsung.

__ADS_1


Di sisi lain. Berlin juga memikirkan, jika Mafioso dibiarkan begitu saja. Dirinya takut dengan banyak hal jika kelompok itu tidak segera ditangani. Karena kehadiran mereka sudah sangat mengancam dirinya dan juga orang-orang berharganya. Masih banyak yang menjadi pertimbangan Berlin.


...


"Ayo, berpikir !" gumam Berlin dengan sendirinya sembari tertunduk dan berkali-kali sedikit memukul dahinya dengan jari. Ia duduk di sebuah sofa pada ruang keluarga lantai tiga, dan menghadap ke arah pemandangan alam di luar jendela.


"Sebenarnya ini kesempatan bagiku untuk menyelesaikan semuanya, aku sangat ingin menerima tawaran ini," batinnya sembari kembali melihat sebuah pesan dari Prawira pada ponsel genggamnya.


"Tetapi, apa tanggapan Nadia tentang ini ...?" batinnya kembali dengan rasa cemas yang sedikit mendalam tentang kekasihnya.


"Jika mereka dibiarkan, maka Ashgard akan terancam, dan ... mereka juga akan terus menghantui Nadia."


"Adam dan Sasha sudah menjadi korban mereka, termasuk Lakit yang terkena dampak dari kekacauan yang mereka perbuat."


Di tengah Berlin sedang termenung dan melamun sembari melihat pemandangan ke luar jendela. Tiba-tiba Nadia berjalan mendatanginya dari belakang, dan lalu memeluknya perlahan dari belakang.


"Ada apa, sayang ?" tanya Berlin.


"Kenapa kamu termenung begini ? Ada yang mau diomongin ? Aku siap mendengarkan, kok," sahut Nadia bersandar di bahu milik Berlin saat memeluknya dari belakang.


"Tidak ada, kok," jawab Berlin memegang kedua tangan milik Nadia yang melingkar di lehernya.


"Yang benar ?" tanya Nadia kembali memastikan.


"He'em," gumam Berlin hanya mengangguk.


"Um, okay. Barusan teman-teman memanggilmu ke bawah tuh," ujar Nadia.


"Oke, ayo kita ke bawah aja !" sahut Berlin beranjak dari sofa dan lalu berjalan menuruni tangga.


...


Selesai Berlin menuruni tangga dan tiba di lantai dua. Ia secara tiba-tiba menghentikan langkahnya dengan ekspresi memikirkan sesuatu. Nadia pun dibuat bingung dengan sikapnya.


"Ada apa ?" tanya Nadia berbalik setelah berjalan mendahului Berlin.


"Sebenarnya, aku ... ingin berbicara sesuatu denganmu," jawab Berlin menatap Nadia dan lalu membuang pandangannya dengan sedikit menundukkan kepala.


Nadia melangkah lebih dekat tepat di hadapan Berlin. "Tuh 'kan !" cetusnya. "Bicara saja kepadaku," lanjutnya meraih pipi milik Berlin seraya mengusapnya dengan satu tangannya.


Berlin membulatkan tekadnya untuk membicarakan soal tawaran tersebut dengan Nadia. Dirinya kembali berjalan menaiki anak tangga ke lantai tiga, untuk membicarakan soal hal itu kepada Nadia.


Tanpa basa-basi, Berlin langsung menunjukkan pesan yang berisikan tawaran yang dikirimkan oleh Prawira pada ponselnya kepada Nadia. "Aku sendiri ingin mengambilnya, karena mungkin ini kesempatan ku untuk menyelesaikan semuanya," ujar Berlin ketika memberikan ponselnya kepada Nadia.


"Bagaimana dengan teman-teman ?" sahut Nadia menatap Berlin dengan tatapan penuh kekhawatiran.


"Melihat dari antusias mereka dari kemarin, tentu mereka akan setuju jika aku setuju," jawab Berlin.


"Kamu yakin ... menerimanya ...?" tanya Nadia. Ia terlihat begitu cemas dan cukup gelisah dengan keputusan Berlin.


Berlin menyadari kekhawatiran yang Nadia rasakan terhadap dirinya. Dirinya menatap kedua mata yang indah milik Nadia sembari mengatakan, "iya, aku yakin ! Karena jika mereka terus dibiarkan, kamu sendiri tahu kan dampaknya ?"


"Tetapi kamu tahu resikonya, 'kan ?" sahut Nadia dengan tatapan berkaca-kaca dan berusaha untuk menahan air matanya menetes.


"Tentu aku tahu, dan resiko seperti itu sudah sering aku dapatkan di dunia ku yang seperti ini," jawab Berlin dengan tenang dan santainya. Ia tersenyum kepada Nadia dan kembali berkata, "mungkin, ini juga menjadi kesempatan bagiku untuk berubah, seperti keinginanmu itu yang selalu ingin merubahku ke arah lebih baik, bukan ?"


Nadia hanya berdiam diri dan tertunduk. Dirinya mengusap kedua matanya yang tampak basah. Pikirannya sudah mulai sedikit kacau soal Berlin jika menerima tawaran tersebut.


"Lagian, tugas tim pengintai itu adalah mengintai, mencari dan menggali banyak informasi, bukan berperang," lanjut Berlin kembali dengan nada dan cara berbicara yang terlihat sangat tenang. Ia mencoba untuk meringankan pikiran Nadia yang tampaknya sudah mulai kemana-mana.


"Tetapi, jika situasi di sana kacau, bagaimana ?" sahut Nadia mengangkat kembali kepalanya dan menatap Berlin sembari bertanya.


"Tinggal serahkan saja kepada pihak kepolisian, kita percayakan saja ke mereka," jawab Berlin lagi-lagi dengan tenangnya.


"Namun, tetap saja ... aku ...," gumam Nadia kembali tertunduk dan menyandarkan kepalanya ke dalam dekapan Berlin, "aku ... mencemaskan dirimu," lanjutnya ketika Berlin mulai perlahan mendekapnya.


"Jadi ... begini ... rasanya jika ... benar-benar dikhawatirkan oleh seseorang yang ku cintai sendiri," batin Berlin ketika berusaha menenangkan Nadia dengan memeluk dan perlahan mengelus kepala milik kekasihnya.


"Kamu percaya kepada ku, 'kan ?" tanya Berlin kepada Nadia.


"Iya, aku percaya padamu," jawab Nadia mengangguk. "Tetapi bukan berarti kamu harus selalu membahayakan dirimu !" gusar Nadia dalam pelukan Berlin.


"Besok aku akan menemui Prawira, mungkin kamu bisa ikut aku," sahut Berlin saat melepaskan pelukannya.


"Baiklah, aku akan berbicara padanya besok !" sahut Nadia yang justru tampak kesal kepada Prawira.


~

__ADS_1


Harapan Nadia terhadap Berlin untuk bisa berubah ke arah lebih baik lagi mungkin akan terealisasikan. Namun, Nadia semakin dibuat cemas setelah mengetahui rencana yang dibuat oleh Prawira dan tawaran yang diberikan Prawira kepada Berlin.


Banyak pertanyaan di benaknya ketika pertama kali mengetahui tentang tawaran tersebut, "memangnya kepolisian tidak punya anggota untuk itu, apa ?!" batinnya dengan tiba-tiba timbul rasa kesal tersendiri.


Setelah berbincang singkat dengan Nadia. Berlin kembali menuruni tangga dan berkumpul dengan teman-temannya yang terlihat sedang bersantai di ruang utama dan taman belakang.


"Masih memikirkannya ?" tanya Berlin kepada Nadia yang terlihat termenung ketika berjalan bersamanya menuruni tangga.


"Iya, lah ! Mana bisa aku melepas dan melihatmu sedang dalam bahaya !" gusar Nadia terlihat cukup kesal dan cemberut seraya memalingkan wajahnya dari jangkauan pandangan Berlin.


Walau Berlin berkali-kali meyakinkan serta memberikannya kepercayaan yang sangat besar untuk menenangkan Nadia. Namun sepertinya cara itu tidaklah berhasil.


"Jangan marah begitu dong, nanti aku malah pergi ke sana sendiri, loh !" celetuk Berlin seraya menggoda Nadia.


"Jangan !" bentak Nadia langsung memasang muka masam menatap Berlin dengan sangat dekat, dan membuat Berlin sedikit terkejut karena tiba-tiba matanya beradu pandang dengan mata milik Nadia.


Berlin terkekeh, "ya nggak, lah ! Aku masih bisa berpikir jernih, sayang," ucap Berlin sedikit menepuk perlahan kepala milik Nadia.


"Hmmph !!" gumam Nadia menghela napas kasar sembari terus memasang muka masamnya dan tak melepaskan pandangannya dari Berlin.


Berlin tertawa kecil dan lalu tersenyum melihat ekspresi yang ditunjukkan Nadia yang justru malah terlihat imut baginya.


...


Sesampainya di ruang utama, Berlin langsung disambut oleh celotehan-celotehan dari teman-temannya. Tampak mereka tengah bersantai menghabiskan waktu mereka di villa milik Berlin itu.


"Bos, nggak ada kerjaan, 'kan ?" cetus Rony yang berjalan dari arah dapur ke ruang tengah dengan membawa minuman di tangannya.


"Semenjak situasi dengan Mafioso memanas, kita jadi sulit untuk bergerak rasanya," sambung Galang yang terlihat sedang bersantai di sofa ruang utama.


"Dua hari terakhir ini kita sama sekali belum menarik pelatuk, jari-jari tanganku jadi terasa sedikit kaku," ujar Faris yang sedang bersandar di pintu sebelum menuju taman belakang villa.


Semua temannya tampak mulai merasa bosan. Kegiatan mereka sangat berubah mulai pertama kali ketika situasi dengan Mafioso memanas. Berlin menghentikan serta membatasi kegiatan kelompoknya, semenjak Adam menjadi korban.


"Aku menerima kabar yang mungkin menjadi kabar baik bagi kalian," cetus Berlin berjalan menghampiri sofa dan duduk di sofa tersebut bersama Nadia di sampingnya.


Tanpa basa-basi, Berlin langsung memberitahukan tentang tawaran Prawira yang diterimanya kepada semua temannya. Teman-temannya yang mendengar hal tersebut langsung terlihat sangat antusias seperti dugaan Berlin.


"Kami sangat setuju kalau kau menerimanya, Bos," ucap Kimmy yang duduk di sofa seberang Berlin.


"Tetapi, apa kau yakin dan percaya dengan aparat ?" tanya Salva merasa penuh curiga.


Salva terlihat menaruh rasa curiga kepada pihak kepolisian. Berlin sendiri memaklumi hal tersebut. Karena selama perjalanan dirinya dan kelompoknya di dunia kelam itu, tentu selalu bertentangan dan bermusuhan dengan para penegak hukum itu.


"Aku sudah tahu apa yang sedang kau pikirkan, dan apa yang kalian pikirkan jika kita bekerjasama dengan kepolisian. Aku sudah memikirkannya, dan jika bayaran sudah di tangan kita, maka kita akan angkat tangan dengan urusan mereka." Berlin menjawab semua rasa curiga yang dirasakan oleh Salva, dan mungkin juga dirasakan oleh semua temannya.


"Lalu, bagaimana dengan urusan kita kepada Mafioso sialan itu ?" sahut Kina.


"Urusan tersebut tetap aku anggap sebagai permasalahan antar kelompok, dan ... tentu ... kita akan menyelesaikannya, atau bahkan menghabisi mereka semua jika perlu," jawab Berlin yang sangat tampak kekejamannya ketika mengatakan hal tersebut.


"Gitu, dong !" seru Asep tiba-tiba.


"Kami semua sudah sangat siap, Bos !" tegas Bobi.


"Ini yang sudah kami tunggu-tunggu !" sambung Aryo dan beberapa teman lainnya.


"Semua perlengkapan kita sudah siap, baik dari rompi anti peluru, persenjataan, dan amunisi," cetus Kimmy membuka buku catatan kecilnya.


.


"Aku akan urus bagian kendaraannya !" sambung Asep.


Rasa dendam? Ya, rasa itu yang saat ini dirasakan oleh Berlin ketika mengingat semua perbuatan yang dilakukan oleh kelompok kejahatan Mafioso itu. Berlin juga masih belum bisa memaafkan atas perbuatan yang mereka lakukan terhadap Adam.


Maka dari itu, tawaran yang diberikan Prawira benar-benar menjadi sebuah kesempatan untuk Berlin bisa membalas perbuatan kelompok Mafioso. Semua temannya juga terlihat sangat siap dan bersemangat untuk bergabung ke tim pengintai, dan membalas perbuatan Mafioso.


Melihat teman-teman dan Berlin begitu siap untuk bergabung ke tim pengintai kepolisian. Justru itu semakin membuat Nadia khawatir. Pikirannya sudah kemana-mana, memikirkan Berlin nantinya. Dirinya juga tidak ingin hanya berdiam diri tak melakukan apa-apa. Ia sangat ingin bisa membantu Berlin, sekaligus menjaga serta melindunginya jika terjadi sesuatu nantinya.


Di tengah Nadia sedang termenung dengan sendirinya. Tiba-tiba Berlin menggenggam tangannya tanpa berkata dan melihat atau bahkan meliriknya. Sepertinya dia tahu apa yang sedang Nadia pikirkan saat ini.


"Oh iya, Sasha belum mengetahui soal ini," cetus Vhalen.


.


"Iya, hari ini dan besok, katanya dia ingin menemani Adam di rumah sakit," lanjut Kent.


"Baiklah, biar besok aku beritahu dia, sekalian bicara dengan Adam," sahut Berlin.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2