Mafioso In Action

Mafioso In Action
Akhirnya Berhadapan #75


__ADS_3

Pukul 23:05 malam hari.


Lokasi Perbukitan Gedung Balaikota.


Baku tembak pun kembali pecah dan terjadi. Peperangan yang kembali terbentuk tidak dapat dihindarkan lagi. Mafioso benar-benar ditekan dan diberikan perlawanan yang sangat berarti dari pihak personel gabungan yang dipimpin oleh Garwig. Personel gabungan bergerak sangat taktis dan berkali-kali melumpuhkan orang-orang bersenjata itu.


Di lain sisi, sepertinya Ashgard juga tak ingin tertinggal. Dengan Berlin yang memimpin, dan walau dengan berjumlah enam orang termasuk Berlin sendiri. Mereka tampak tak gentar dan memberikan serangan yang mengejutkan kelompok Mafioso itu dari belakang. Meski hanya bermodalkan pistol, Berlin berhasil melumpuhkan lebih dari 10 orang. Namun itu sepertinya tak cukup, karena jumlah mereka kurang lebih lima kali lipatnya.


Kini malam yang tenang kembali menghilang dengan diwarnai percikan api yang keluar dari pelatuk masing-masing pihak yang terlibat. Kengerian dan ketegangan semakin menjadi ketika kelompok kejahatan Mafioso yang dipimpin oleh Nicolaus Matrix benar-benar sudah sangat terdesak.


"Bagaimana ini?!"


"Kita benar-benar terdesak!"


Kepanikan pun terjadi di antara anak buah Nicolaus. Mereka tampak begitu panik dan ketakutan. Ditambah lagi Berlin lebih kejam dari pada personel gabungan ketika memberikan serangan yang bertubi-tubi melalui pelatuknya. Tampaknya Berlin benar-benar tak memberikan ampun dan rasa belas kasihnya ketika menembaki orang-orang Mafioso itu.


"Baik, baik! Aku menyerah!" teriak tiba-tiba salah satu anak buah Nicolaus dengan menjatuhkan senapannya, dan berjalan ke arah pepohonan di mana Berlin dan teman-temannya berada seraya mengangkat kedua tangannya.


DOR!


Namun, sepertinya Berlin tak mengacuhkan salah satu lawannya yang menyerah itu. Dirinya menembak orang yang menyerah kepadanya itu tepat di kepalanya. Orang tersebut langsung tersungkur ke tanah dengan keadaan bersimbah darah keluar dari lubang pada kepalanya.


Sesaat setelah orang itu jatuh tersungkur ke tanah. Tiba-tiba Berlin melihat orang yang tak asing baginya, yaitu Nicolaus yang sedang berdiri di dekat dari sebuah mobil sedan berwarna hitam.


"Saatnya bergerak ...! habisi semua pengganggu itu ...! Luapkan saja semua kekesalan kalian terhadap Mafioso ...!" titah Berlin dengan nada datar dan terdengar sangat dingin.


.


"Yang terakhir, serahkan Nicolaus padaku! Aku ada sedikit urusan dengannya," lanjutnya.


"Baik, Bos!" sahut kelima orang temannya dan lalu bergerak sedikit berpencar dengan memanfaatkan semak-semak serta pepohonan sebagai perlindungan.


"Berhati-hatilah ...!" ucap Asep kepada Berlin yang lalu pergi berlari mengikuti teman-teman yang lain untuk sedikit berpencar.


Berlin pun mulai keluar dari persembunyiannya di balik semak-semak, dan berjalan ke arah Nicolaus yang berdiri tepat di sebuah mobil sedan berwarna hitam. Dengan jas, topi, celana, sepatu, bahkan sampai ke sarung tangan yang digunakan pun berwarna hitam. Nicolaus tampaknya sudah begitu menunggu kedatangan Berlin di sana.


Ketika berjalan mendekati Nicolaus, hati Berlin benar-benar berkecamuk dengan amarah dan kekesalannya. Ada beberapa pertanyaan yang ingin ia tanyakan. Namun dirinya berpikir itu tidak akan mulus dan begitu mudah untuk berhadapan dengan Nicolaus.

__ADS_1


...


"Jangan tembak dia ...!" cetus Nicolaus kepada beberapa anak buahnya yang berjaga dekatnya. "Mundur ...!" lanjutnya. Mendengar perintah dari Nicolaus, beberapa anak buahnya pun mundur sesuai dengan apa yang ia perintahkan. Di sisi lain, mereka juga masih direpotkan dengan personel gabungan yang terus mendesak dari arah berlawanan.


"Nah, sekarang hanya ada kau dan aku, Berlin. Jangan hiraukan kekacauan di sekitar ini ...!" ujar Nicolaus dengan santainya dan lalu menghela napas.


.


"Tenang saja, anak buahku tidak akan melukai atau bahkan membunuhmu," lanjutnya ketika melihat Berlin begitu waspada dan berhati-hati.


Berlin menghela napas tenaga seraya mengantongi pistolnya ke dalam saku. "Aku tidak percaya akhirnya bisa berhadapan langsung dengan mu seperti ini," cetus Berlin.


"Berlin, sekarang kau tahu siapa aku, bukan?" sahut Nicolaus.


"Ya, Nicolaus Matrix, orang yang membawa pergi dan mempengaruhi saudaraku," jawab Berlin.


"Hahahaha ...!" Nicolaus tiba-tiba tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban tersebut. "Mempengaruhi? Kau pasti bercanda ...!" ucapnya diikuti dengan tawa.


.


"Carlos Gates Matrix, dia terlalu gampang untuk dipengaruhi karena rasa dendam dan perasaannya yang tersakiti. Jadi ya ... jangan salahkan aku," ucap Nicolaus sedikit menjelaskan dengan nada yang cukup tengil.


Berlin tidak terkejut dan tidak terpancing dengan penjelasan tersebut, karena memang benar apa yang dikatakannya. Namun sepertinya, dirinya sedikit dibuat kesal dengan sikap Nicolaus yang terlihat sangat tengil.


"Dari raut wajahmu, aku tahu kau akan menghujani ku dengan beberapa pertanyaan. Jadi, tanyakan saja ..! Tetapi aku tak menjamin kau mendapatkan jawabannya," Nicolaus berjalan santai sedikit mendekati Berlin dengan tatapan tajam dan dingin.


"Apa maksudmu membuat semua kekacauan ini? Karena ... ini bukan Mafioso yang biasa dikenal oleh banyak kelompok kejahatan," celetuk Berlin yang langsung menghentikan langkah Nicolaus untuk mendekatinya.


"Yah ..., kami sudah lelah untuk bermain-main di balik bayangan seperti selayaknya Mafia. Di sisi lain, kami memiliki modal untuk membuat kekacauan ini, bahkan modal tersebut bisa saja menggulingkan pemerintahan dengan mudahnya. Termasuk juga ... dapat membeli seluruh keluarga dan orang-orang berhargamu, Berlin." Jawaban yang diberikan oleh Nicolaus cukup memancing amarah Berlin yang sedari tadi ia tahan.


"Kau kira ... keluarga dan orang-orang berharga ku bisa kau beli seperti itu? Sayang sekali, pemikiranmu yang dangkal itu ternyata masih tak jauh-jauh dari soal perdagangan manusia," sahut Berlin cukup tidak terima ketika mendengar jawaban yang diberikan Nicolaus.


"Baiklah, kalau begitu. Izinkan aku mengujimu sebentar!" Nicolaus secara tiba-tiba berlari dan bergerak sangat cepat menyerang Berlin dengan sebuah pisau kecil di tangan kanannya. Sepertinya dirinya sangat menginginkan hal yang barusan ia katakan.


TAP ...! SET ...!


Berlin pun langsung dengan sigap menangkis serangan tersebut dengan tangan kirinya, dan mencoba membalikkan keadaan dengan memukul wajah Nicolaus dengan tangan kanannya. Namun Nicolaus langsung mundur dan kembali memberikan jarak antara Berlin dengan dirinya.

__ADS_1


Sebenarnya Berlin bisa saja menembak Nicolaus dikala dia berlari untuk menyerang dirinya. Tetapi itu tidak ia lakukan, karena dalam hati Berlin pun juga sangat menginginkan hal yang sama dengan Nicolaus.


"Seperti dugaan ku, tidaklah mudah menyerang mu dengan cara itu," gumam Nicolaus.


Nicolaus berjalan mundur kembali mendekati mobil sedan hitam miliknya, dan mengambil sesuatu dari bagasinya. Melihat hal tersebut, Berlin langsung mengambil kembali pistolnya dan menodongkannya ke arah Nicolaus di sana.


"Ambil ini!" cetus Nicolaus dengan melemparkan sebuah pedang yang masih terselimut sarung pedang berwarna hitam.


KLOTAK ...!


"Hah? Pedang?"


"Sudah lama sekali aku menginginkan hal ini," celetuk Nicolaus dengan sebuah pedang yang sama dengan pedang yang ia berikan kepada Berlin.


Pedang tersebut dilemparkan dan jatuh ke tanah tepat di hadapan Berlin. Menyadari hal tersebut, dirinya cukup dibuat bingung dengan apa sebenarnya rencana Nicolaus. Namun dirinya mengambil pedang yang tergeletak di depannya itu, dan mencoba mengikuti alurnya.


***


"Apa yang terjadi?" Asep bertanya-tanya ketika melihat dan menantau Berlin dari kejauhan. Namun dirinya harus kembali fokus untuk menghadapi banyak anak buah milik Nicolaus.


"Hei, apa kau tahu apa yang terjadi di sana?" cetus Salva menghampiri Asep.


"Aku tidak tahu. Tetapi sepertinya, Nicolaus ingin beradu pedang dengan Berlin," jawab Asep.


"Apa katamu?!" Aryo tiba-tiba berlari datang dan menyela pembicaraan dengan terkejut.


"Beradu pedang? Apa Berlin benar-benar bisa menggunakan pedang?" tanya Salva.


"Aku tidak tahu. Tetapi aku percaya padanya ...!" sahut Asep.


"Baiklah, kalau begitu. jika terjadi sesuatu kepada Berlin, kita harus membantunya!" seru Aryo yang lalu kembali berlari menjauh untuk melumpuhkan lebih banyak lagi musuh.


"Berjuanglah, Berlin ...! Kami akan membantumu jika terdesak," batin Asep yang lalu berlari pergi ke arah Barat guna menemui personel gabungan.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2