Mafioso In Action

Mafioso In Action
Dunia Malam #50


__ADS_3

Di malam harinya pada pukul 23:00, dan sebelum Berlin dan kawan-kawan memasuki wilayah di mana acara malam itu diadakan. Ia harus segera memecah dan menyebarkan semua teman-temannya sesuai dengan tugas mereka masing-masing, karena ternyata acara tersebut diadakan di salah satu wilayah kekuasaan milik kelompok Nostra.


Tempat tersebut berada di pinggiran kota dan dikelilingi gedung-gedung perkotaan. Walau begitu, tempat tersebut memiliki nuansa yang sangat suram dan kelam dalam naungan kelompok Nostra.


"Pengendara motor dan tim luar, langsung cari posisi ternyaman dan teraman kalian untuk memantau ...!" perintah Berlin kepada teman-temannya melalui radio yang ia simpan.


"Baik, Bos ..!" jawab mereka semua melalui radio.


"Kita ambil posisi di sebelah mana, Bos ?" tanya Salva fokus menyetir mobilnya melewati sela-sela gedung bertingkat.


"Oh iya, kita tim luar, ya ?" sahut Berlin bingung.


"Yang buat rencana siapa, yang lupa siapa ?" celetuk Salva dan lalu tertawa diikuti Vhalen yang juga tertawa terbahak-bahak.


Berlin lupa kalau dirinya masuk ke mobil paling akhir, yang di mana dalam rencananya ia tugaskan untuk tim luar dan pemantauan dari luar.


"Sep, untuk komando tim dalam ... silakan kau ambil alih !" titah Berlin kepada Asep melalui radionya.


"Laksanakan, Bos ...!" seru Asep dengan semangatnya dan membuat suasana radio benar-benar meriah.


"Salva, cari posisi yang memiliki keuntungan tinggi untuk memantau lokasi acara ..!" ujar Berlin kepada Salva yang tengah menyetir.


"Oke, sepertinya aku tau satu gedung di sekitar sini yang memiliki keuntungan itu," jawab Salva.


...


Mobil yang dikendarai oleh Salva pun mengarah ke belakang dari sebuah gedung parkir tua yang tidak jauh dari lokasi di mana acara tersebut dilaksanakan. Di saat yang bersamaan pun semua regu pengendara motor juga sudah siap di posisi terbaik mereka masing-masing.


"Aku siap di posisi, Bos !" cetus Galang berperan sebagai pengendara motor pertama melalui radio.


"Aryo juga siap di posisi !" sambung Aryo berperan sebagai pengendara motor kedua melalui radio.


Dua pengendara motor tersebut sudah siap di posisi mereka, dan mendapatkan posisi terbaik mereka untuk memantau sekitar lokasi acara.


"Aku mulai masuk," suara Asep yang terdengar berbisik di radio.


Terlihat tiga mobil mewah milik Berlin mulai memasuki lokasi acara yang sangat meriah itu. Banyak orang-orang di sana yang langsung tertarik perhatian oleh mobil yang dikendarai ketiga teman Berlin.


"Regu dalam mulai memasuki kerumunan !" cetus Kimmy sedikit berbisik di radio.


"Baik, waktu kita sampai pukul 01:00. Jika waktu kita habis, mau tidak mau harus segera pergi, atau kita akan dicurigai," ucap Berlin kepada semua temannya melalui radio.


"Anggota mereka sangat ramai," ujar Salva memandang ke area sekitar acara yang terlihat dijaga sangat ketat oleh komplotan orang berpakaian serba putih.


Kini Berlin dan kedua rekannya berada di posisi terbaik untuk memantau area sekitar lokasi acara. Gedung parkir tua yang digunakan Berlin sebagai tempat memantau cukuplah jauh dari lokasi, namun masih dapat digunakan karena semua terlihat jelas dari atas situ.


"Benar saja, kita disuruh balap, Bos. Bagaimana ?" bisik Asep bertanya kepada Berlin melalui radionya.


"Jam berapa balap dimulai ?" sahut Berlin bertanya kembali.


"...." Selama beberapa saat tidak ada jawaban dari Asep.


"Balap dimulai jam 00:30, bagaimana ?" jawab Asep.


Berlin berpikir sejenak, karena dirinya harus mempertimbakan dengan batas waktu yang dipunya. "Bisakah kau ulur waktu sampai jam tersebut ..?" tanya Berlin.


"Ku usahakan, Bos !" jawab Asep


.


"Aku matikan radio sebentar," lanjutnya yang lalu mematikan alat komunikasi tersebut.


...


Angin malam memanglah dingin dan sangat terasa merasuk sampai ke tulang, apalagi saat ini Berlin berada di atas gedung parkiran. Dari atas situ Berlin dapat merasakan bertapa dinginnya malam ini.


"Aku belum melihat orang mencurigakan memakai pakaian serba hitam," ucap Salva sembari terus melihat ke arah lokasi menggunakan teropong yang ia bawa.


Sangat ramai orang yang terlihat sangat bersenang-senang pada acara tersebut. Terlihat orang-orang yang di sana bukanlah orang-orang biasa, namun mereka semua orang-orang kaya yang selalu memamerkan harta mereka.


Berlin juga dapat melihat banyak orang yang ia sadari memiliki keterikatan dengan dunia kriminal. Tentu itu tidak mengejutkan, bahkan sudah biasa bagi Berlin menemukan orang-orang seperti itu di tempat-tempat seperti ini.


Terlihat juga banyak mobil-mobil mewah yang dipamerkan dalam acara tersebut, sehingga membuat acara itu benar-benar meriah. Di sekelilingnya lokasi acara, terlihat dijaga begitu ketat oleh komplotan serba putih. Mereka selalu memastikan siapa saja yang masuk, dan tidak bisa sembarang orang memasuki acara.


"Bagaimana yang di sana ?" tanya Berlin kepada rekannya yang berada di dalam kerumunan itu melalui radio.


"Di sini cuma terpantau banyak orang mabuk, dan main wanita, Bos. Belum ada orang-orang berpakaian serba hitam mencurigakan," jawab Kimmy dengan nada cukup berbisik dan terdengar juga suara keramaian di sekitarnya.


"Orang kaya semua di sini, Bos ...," celetuk Rony di radio.


"Iya, banyak orang kaya yang bingung menghabiskan duit," sambung Faris dengan nada sangat menyindir namun berbisik melalui radio.


"Ya sudah, jika kalian mulai dicurigai, segera pergi dari tempat itu ...!" sahut Berlin memberikan arahannya.


"Siap ...!" sahut Kina.


"Itu Asep bagaimana ?" tanya Berlin kembali kepada rekannya melalui radio yang ia genggam.


"Aman," jawab Bobi berbisik di radio.


"Sudah pasti, kami akan balap, Bos," sambung Kent.


"Baik, nanti tunggu arahanku selanjutnya aja ..!" sahut Berlin kembali memberikan arahannya.


"Dua motor yang di luar, aman ?" tanya Berlin kembali.


"Aman, Bos ..!" seru Aryo.


"Clear ...," sambung Galang.


"Oke, jika kalian semua melihat yang mencurigakan, langsung beritahukan di radio ..!" titah Berlin.


"Siap," jawab teman-temannya melalui radio.


Berlin memastikan satu-persatu semua temannya, karena tentu dirinya mengkhawatirkan keselamatan semua rekannya. Ia juga berpikir kalau dirinya memasuki wilayah kelompok lain secara diam-diam, maka tingkat untuk bisa kembali keluar untuk pulang dari wilayah itu cukup rendah.


"Bos, kau tidak mengabari Nadia ? Ini sudah sangat larut, loh ...," cetus Vhalen di atas kap mobilnya dan memandang ke arah lokasi acara.


"Aku lupa, karena ponselku kehabisan baterai. Tetapi ... sudah tau akan kena marah nantinya," jawab Berlin dengan santainya bersandari di dinding pembatas.


"Ngomong-ngomong, gimana ceritanya ... kau bisa kenal dan dekat dengan Nadia, Bos ?" celetuk Salva.


"Hehehe," Berlin tertawa kecil dan lalu menjawab, "sangat-sangatlah panjang sekali," jawabnya sembari memandang ke arah bintang-bintang yang bertaburan indah di langit.


"Kepo amat sih kamu !" sahut Vhalen membentak Salva.


"Ya maaf, aku cuma penasaran aja," jawab Salva yang terlihat langsung ciut.


.


~


.


"Dia ke mana sih ?!" gusar Nadia terlihat cemas dengan ponsel yang menampilkan kontak milik Berlin.


Beberapa kali ia mencoba menelepon Berlin, namun tidak ada dapat tersambung. Saat ia melihat ke arah jam, waktu sudah menunjukkan pukul tengah malam.


"Kenapa kamu tidak ada kabar ...?" gumam Nadia yang terlihat cukup cemas sembari berjalan ke sana ke mari di ruang tamu, dan beberapa kali melihat ke luar jendela.


Karena merasa lelah terus berjalan ke sana ke mari, dan juga rasa kantuk berat yang sudah melanda. Nadia pun berjalan ke ruang tengah dan duduk di sofa untuk mengistirahatkan dirinya.


Terus saja ia tidak melepaskan ponsel miliknya yang masih saja menampilkan kontak milik Berlin. Ia kembali mencoba untuk meneleponnya, namun tetap saja tidak dapat tersambung sama sekali.


Karena rasa kantuk yang sangat berat. Nadia pun merebahkan tubuhnya di atas sofa tersebut, dengan tujuan mengurangi rasa kantuknya dan menunggu Berlin pulang. Ponsel miliknya terus menyala dan berada di genggamannya, serta sesekali ia terus mencoba menelepon lelakinya itu.

__ADS_1


.


~


.


Satu jam sudah berlalu dan masih belum terlihat ada yang mencurigakan yang menunjukkan keberadaan Mafioso di acara malam tersebut. Di sisi lain, tim yang dipimpin oleh Asep harus mengikuti acara balap yang ada secara terpaksa dalam waktu yang sangat dekat.


"Bagaimana ? Waktu kita sebentar lagi habis," ucap Salva menoleh kepada Berlin.


Berlin bersandar di mobil dan terlihat berpikir sembari melipat lengan serta menopang dagunya dengan satu tangan. Belum ada tanda-tanda dari kelompok hitam selama kurang lebih satu jam.


"Oh ! Kami melihat sekelompok orang berpakaian serba hitam !" seru Aryo berteriak di radio.


"Ya, aku juga melihatnya !" sambung Galang.


"Di mana ?!" sahut Berlin.


"Kimmy, dari arahmu sebelah timur keluar dari kerumunan itu ...!" Aryo pun memberitahu sekelompok orang yang ia maksud itu kepada Kimmy.


"Baik !" Kimmy langsung meresponnya dan mulai berjalan lebih dekat dengan berusaha membelah kerumunan di sekitarnya. Ketiga rekan pada timnya juga mengikuti dirinya dari arah yang berbeda dan sedikit berpencar.


"Pantau terus mereka sedang ngapain saja !" titah Berlin yang lalu mengambil teropong milik Salva dan menggunakannya.


"Bos, kami bertiga ... memasuki lintasan," ucap Asep yang kedengarannya sudah kembali menghidupkan radionya. Namun nada bicaranya terdengar cukup gemetaran dan diiringi suara sorakan keramaian di sekitarnya.


Mata Berlin langsung tertuju pada tiga mobil mewah miliknya yang terlihat mulai memasuki lintasan balap. Di sekitar mobil-mobil tersebut, terlihat banyak orang yang menyorakinya.


"Ya, aku bisa melihat jalanan itu ...!" ujar Vhalen melihat ke arah satu jalan yang kelihatannya menjadi lintasan dari balap liar tersebut.


"Um, ke-kenapa ... perhatian mereka tertuju pada kita ?" tanya Kent melalui radio dengan sangat gugup.


"Bos, seperti dugaanku, mobilmu ini terlalu mencolok dan mencuri banyak perhatian," ucap Bobi di radio.


"Um, aku ... tidak yakin akan hal ini," gumam Asep di radio.


Perhatian semua orang yang menyaksikan balap liar itu tertuju pada tiga mobil milik Berlin yang dikendarai oleh Asep dan dua rekannya. Mereka menatapnga dengan tatapan kagum dan penuh curiga.


"Bos ?" celetuk Asep kepada Berlin memalui radio. Ia sepertinya sangat gugup dan cukup panik ketika dirinya menjadi pusat perhatian dari semua orang di sekitarnya.


Mobil-mobil lain pun terlihat mulai memasuki lintasan satu-persatu dan bersiap tepat di samping dari tiga mobil yang dikendarai oleh rekan Berlin.


Belum sempat Berlin menanggapi ucapan Asep. Tiba-tiba Aryo menyela dengan mengatakan, "sekelompok orang tadi mulai bergerak ke arah kalian bertiga yang di lintasan !" sela Aryo dengan nada yang terdengar cukup keras.


.


"Galang, kau bisa melihatnya ?" lanjut Aryo bertanya kepada Galang yang berada di posisi lain.


"Ya ! Dengan sangat jelas !" sahut Galang.


"Kim, biasakah kau buntuti dan pantau mereka ?" tanya Berlin kepada Kimmy yang masih berada di dalam kerumunan itu.


"Se ... sedang ... diusahakan, Bos," jawab Kimmy dengan suara sedikit terputus-putus.


"Aku tepat di belakang mereka, Bos !" sambung Faris.


"Baik, terus pantau dan infokan !" titah Berlin.


...


Berlin masih menahan di posisinya dan menunggu waktu yang tepat untuk bergerak. Pandangannya tidak bisa lepas dari ketiga mobil berharganya yang sudah berada di atas lintasan, bersama dengan mobil-mobil mewah lain.


Ditengah Berlin memantau semua keadaan itu dari atas gedung parkiran. Tiba-tiba Galang berteriak, "Sep, mereka mengeluarkan pistol dan mulai berlari ke arah kalian !"


~


Mendengar apa yang dikatakan oleh Galang. Berlin cukup terkejut dan langsung memberikan arahannya untuk tim milik Kimmy, "Kim, tarik mundur !" titahnya.


Kimmy dan rekan timnya yang juga dibuat cukup panik pun langsung mengikuti perintah tersebut. Namun sepertinya keberadaan mereka mulai disadari oleh para penjaga berpakaian serba putih.


"Kita ketahuan, Bos !" sahut Kimmy terengah-engah berlari menerobos kerumunan ke arah mobilnya yang terparkir.


.


Terlihat Kimmy dan ketiga rekannya berlari-lari menerobos keramaian untuk melarikan diri dari kejaran para penjaga yang berpakaian serba putih. Para penjaga itu terlihat sangat ambisius untuk menangkap Kimmy dan timnya. Namun pengejaran mereka juga harus cukup terhambat karena keramaian yang terjadi.


"Berhenti !" teriak para penjaga yang mengejar.


"Kita dikejar, Bos !" cetus Rony kepada Berlin melalui radio.


~


Di sisi lain, Kent dapat melihat sekelompok orang berpakaian serba hitam yang mulai berjalan menghampiri mobilnya melalui kerumunan para penonton di pinggir lintasan.


Mereka berjalan dengan sangat santainya dan tanpa terlihat identitas wajah, karena tertutup oleh masker berwarna hitam yang mereka kenakan.


"Sep, mereka semakin dekat ..!" ucap Kent panik menoleh kepada Asep yang berada di mobil sebelah.


"Sstt ..!" gumam Asep menaruh telunjuknya menutup mulut memberikan kode kepada Kent untuk jangan berisik.


Di saat Kent kembali melirik ke arah sekelompok orang itu. Matanya secara otomatis langsung tertuju pada pistol berwarna hitam yang sangat terlihat dengan jelas pada genggaman mereka. Alhasil itu tambah membuat dirinya semakin tidak tenang.


"Bos, me ... mereka ... membawa ... senjata ...," ujar Kent kepada Berlin melalui radio dengan nada cukup lemas karena menahan diri untuk tidak panik.


Asep dan Bobi yang juga mendengar hal tersebut langsung menoleh dan saling beradu pandang dari mobil mereka masing-masing.


~


Setelah mendengarkan semua hal itu yang masuk kepadanya. Berlin langsung memberikan arahannya untuk tim yang berada di dalam.


"Kimmy, Kina, Rony, Faris. Keluar dari sana sekarang !" titah Berlin dengan terdengar sangat tegas memberikan perintah.


.


"Asep, Bobi, Kent. Langsung tancap gas tinggalkan balap itu menuju ke arah pertigaan di tenggara !" lanjutnya memberikan arahan untuk tim mobilnya.


.


"Aryo, Galang. Langsung ke titik pertigaan tersebut dan siap bantu di sana !" lanjut Berlin kembali.


"Siap, Bos !" sahut rekan-rekannya.


~


Setelah memberikan arahannya kepada rekan-rekannya yang berada sangat dekat dengan lokasi. Berlin bersama dengan kedua temannya yaitu Salva dan Vhalen pun langsung bergegas merapat ke teman-teman yang lain.


"Sial ...!" gusar Berlin sibuk mempersiapkan senjatanya yang sudah sedari awal ia simpan di balik hoodie.


"Jika bentrok pecah, apa yang akan kita lakukan ?" tanya Salva sembari fokus menyetir mobilnya.


"Tentu kita mundur ! Kita tidak bisa berlama-lama berada di wilayah ini ..!" sahut Berlin.


~


DOR ...! DOR ...! DOR ...!


Di sisi lain, Asep dan kedua rekannya yang tengah mencoba meninggalkan lintasan tersebut sesuai dengan arahan Berlin. Tiba-tiba mereka bertiga menerima beberapa tembakan yang ditujukan kepada mobil yang mereka kendarai.


Sekelompok orang berpakaian serba hitam itu langsung menembaki tiga mobil yang dikendarai Asep dan dua rekannya. Mereka menembak dengan tujuan untuk menghentikannya.


Sontak itu membuat Kent panik dan berteriak kepada semua temannya melalui radio sembari terus menancap gas tanpa henti, "mereka menembaki kami ...!" teriaknya.


Akibat suara tembakan tersebut, tempat acara yang sebelumnya meriah langsung berubah menjadi sangat ricuh. Banyak orang langsung berlarian menyelamatkan diri setelah mendengar suara tembakan tersebut.


Kericuhan yang terjadi membuat keuntungan bagi Kimmy dan rekan timnya. Karena para penjaga yang sebelumnya mengejar harus menghentikan kejaran mereka untuk mencari sumber dari suara tembakan yang terjadi.

__ADS_1


"Kent, tetap tenang !" teriak Asep melihat mobil yang dikendarai Kent begitu melaju sangat kencang tidak beraturan dan berbelok-belok mendahului mobilnya.


"Tenangkan dirimu, Kent ! Kami berada tepat di belakang mu !" sambung Bobi dengan sangat tegas.


"Ba-ba-ba-baik ...!" sahut Kent sangat gemetaran dan terdengar mencoba untuk tetap berusaha tenang.


"Baik, kami ... keluar dari lokasi ...!" sela Kimmy dengan nada yang terdengar begitu terengah-engah setelah berlarian.


"Aku dan Galang sudah berada di pertigaan, Bos !" cetus Aryo kepada Berlin melalui radio.


"Perizinan menembak ?" sambung Kimmy bertanya melalui radio.


"Tembak saja ! Mereka sudah terlebih dahulu menembaki kita !" sahut Kent begitu panik.


Berlin langsung menyangkalnya dengan tegas mengatakan, "tahan !" bentaknya dan membuat semua temannya diam sejenak.


.


"Biarkan Nostra yang mengurus mereka," lanjutnya.


Beberapa saat kemudian mobil yang dikendarai Salva sampai ke pertigaan yang Berlin maksudkan. Pertigaan tersebut lokasinya cukup jauh dari lokasi acara.


Saat Berlin sampai ke lokasi pertigaan, ia langsung bisa bertemu dengan dua rekan lainnya yaitu Aryo dan Galang.


"Sep, kami sudah di pertigaan !" ucap Berlin menekan tombol berbicara pada radionya.


Asep langsung menjawab, "baik, Bos."


"Kent, tetap tenang ya ..?" ucap Bobi kepada Kent yang mengendarai mobil tepat di depan mobilnya melalui radio.


Dor ... Dor ... Dor ...!


Suara tembakan kembali terdengar bersahutan dan bersumber dari lokasi acara tersebut.


"Aryo, biasakah kau kembali ke posisimu tadi ?" tanya Berlin turun dari mobil dan berjalan menghampiri Aryo yang masih bersiap di atas motornya.


.


"Aku membutuhkan kabar tentang apa yang terjadi di sana," lanjutnya.


Karena rasa penasaran Berlin cukup tinggi, ia pun menyuruh temannya tersebut untuk memantau apa yang sedang terjadi di sana.


"Siap, bos !" jawab Aryo dengan semangatnya dan lalu berangkat mengendarai motornya untuk kembali ke posisi sebelumnya.


"Sep, apakah mereka mengejar atau membuntuti kalian ?" tanya Berlin kepada Asep melalui radionya.


"Kurasa tidak, mereka terlihat berjalan kaki saat menembaki kami," jawab Asep.


Di tengah berbicara dengan Asep. Aryo menyela pembicaraan tersebut dengan mengatakan, "Bos, sepertinya ... mereka malah saling sibuk baku tembak," ucapnya perlahan mendeskripsikan apa yang sedang terjadi pada lokasi acara.


Ucapan Berlin sebelumnya ternyata benar, dan ini menjadi sebuah keuntungan bagi kelompoknya untuk melarikan diri dari lokasi. "Baguslah, kalau begitu kita langsung pergi dari sini saja ...!" ujar Berlin kepada semua temannya melalui radio.


.


"Aryo, mundur dari sana !" lanjutnya.


"Baik, Bos," jawab Aryo.


Tak lama kemudian, tiga mobil sport milik Berlin akhirnya terlihat merapat ke pertigaan di mana Berlin dan dua rekannya yaitu Salva dan Vhalen sudah menunggu.


"Kalian baik-baik saja, 'kan ?" cetus Vhalen langsung menyambut kedatangan tiga rekannya itu.


"Untungnya tidak ada peluru yang mengenai badan ku," jawab Asep yang masih berada di dalam mobil dan hanya membuka kaca jendelanya.


"Bos, maaf ... kaca ... belakang pecah," cetus Kent kepada Berlin dengan terlihat sedikit ketakutan dan masih gemetaran.


"Mau bagaimana lagi ?" sahut Berlin dengan santainya.


.


"Ya sudah, lebih baik kita segera pergi dari wilayah ini ..!" lanjutnya.


...


Selagi kericuhan pada acara tersebut masih terjadi, Berlin pun memanfaatkannya untuk segera melarikan diri dari wilayah tersebut. Di sisi lain, waktu sudah menunjukkan pukul 01:05 dini hari yang sudah menandakan batas waktu yang dimiliki oleh Berlin dan kelompoknya sudah habis.


"Semua aman ... tidak ada yang terluka ?" tanya Berlin dalam perjalanan kepada semua temannya melalui radio.


"Aman !"


"Sudah pasti aman !"


Jawab mereka semua.


"Kent, mental aman ?" celetuk Galang melalui radio dan dengan nada sedikit mengejek temannya itu.


"Wah, mental gimana tuh ? Panik banget kayaknya tadi," sambung Bobi mengompori dan lalu tertawa terbahak-bahak.


"Hehehe, maaf," sahut Kent tertawa kecil.


"Hahaha," Berlin juga ikut tertawa mendengarnya, "sudah ... cukup ...!" ujarnya melalui radio kepada temannya.


Berlin sendiri merasa cukup lega terhadap keselamatan dari rekan-rekannya, dan berhasil keluar dari wilayah tersebut.


Walau begitu, dirinya merasa merasa cukup kecewa dengan semua rencananya ini. Karena, ia dan kelompoknya tidak mendapatkan informasi apapun dari sana.


"Maaf, Bos. Ternyata ... itu adalah rencana yang buruk ...," cetus Asep kepada Berlin secara tiba-tiba menyela keheningan radio. Nada sangat bersalah dapat terdengar jelas dari cara ia berbicara.


Mendengar permintaan maaf tersebut, Berlin langsung menyanggahnya dengan berkata, "tidak apa, yang terpenting ... kita semua masih bisa keluar dari tempat itu dengan selamat," katanya dengan santai dan tenang.


.


~


.


"Orang-orang dari Mafioso yang telah membikin semuanya kacau. Maafkan kami, Bos," seseorang pria berpakaian serba putih terlihat tunduk pada seorang pria yang duduk di sebuah kursi dan sepertinya memiliki kedudukan lebih tinggi darinya. Ia terlihat tunduk dan meminta maaf kepada seorang pria tersebut.


.


"Kami kecolongan, karena ternyata ... Ashgard juga memasuki wilayah kita," sambung seseorang pria lain yang berdiri di samping pria tersebut, dan juga mengenakan seragam yang sama yaitu serba putih.


"Apakah kita akan mengejarnya ?" tanya seseorang wanita berparas cantik dan dengan tatapan sinis.


"Tidak perlu !" sahut pria yang duduk di kursi pribadinya tersebut. "Lebih baik, kita simak terlebih dahulu perseteruan antar dua kelompok itu," lanjutnya dan lalu tersenyum sinis setelah mengatakannya.


.


~


.


"Bos Carlos, orang-orang kita melaporkan kalau Ashgard terlihat malam ini pada acara yang diselenggarakan oleh Nostra," ucap Cario kepada Carlos di sampingnya.


Di tengah Carlos sedang bersantai di sebuah klub malam yang terdapat di tengah kota. Tiba-tiba temannya yaitu Cario mendapatkan informasi seperti itu dari orang-orangnya yang menghadiri acara malam tersebut.


"Apakah ada kabar baik dari informasi itu ?" sahut Carlos bertanya dan lalu meminum secangkir kecil minumannya.


Cario menggelengkan kepalanya dan menjawab, "tidak ada, mereka berhasil melarikan diri, karena orang-orang dari Nostra cukup menjadi penghalang."


"Jelas saja, itu wilayah kekuasaan mereka," sahut Carlos.


.


"Ngomong-ngomong, kau siap membantuku dalam sebuah rencana ku, 'kan ?" sambungnya menoleh dan melirik sinis kepada Cario.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2