Mafioso In Action

Mafioso In Action
Pertemuan Singkat #42


__ADS_3

Di keesokan harinya setelah selesai sarapan bersama dengan Nadia. Berlin harus segera bersiap untuk berangkat, karena ia telah mendapatkan sebuah undangan pertemuan dari Prawira untuk membahas beberapa kasus yang berhubungan dengan dirinya.


"Kamu sudah harus berangkat ?" cetus Nadia saat melihat Berlin yang sedang bersiap-siap dengan barang-barangnya di sofa ruang tamu.


"Iya, aku dipanggil oleh Prawira," jawab Berlin yang duduk di sofa, saat memakai kembali hoodie Ashgard berwarna biru berlengan putih yang sangat sering ia pakai.


"Oh, begitu ya ...," gumam Nadia yang terlihat tertunduk sedikit kecewa karena Berlin harus berangkat lebih awal.


Berlin bangkit dari duduknya dan tersenyum kecil saat melihat kekasihnya yang terlihat sedikit kecewa itu. Dirinya pun melangkah lebih dekat kepada Nadia dan lalu berbicara, "aku sangat ingin ... semua masalah ini selesai cepat, apapun akan ku usahakan ...!"


Namun wajah Nadia terlihat cukup murung, karena Berlin harus berangkat lebih awal dan lebih cepat.


"Um ..., dua hari esok kan akhir pekan. Bagaimana kalau kita habiskan waktu itu untuk bersama ?" cetus Berlin dengan menggenggam kedua tangan yang begitu halus dan lembut milik Nadia.


Yang sebelumnya tertunduk, Nadia perlahan mengangkat kembali kepalanya dan menatap kepada Berlin. Dirinya agak sedikit mendongak ke atas untuk menatap Berlin, karena memang lelakinya itu sedikit lebih tinggi darinya.


"Besok mau ke manapun ... terserah kamu, aku akan menemanimu ke manapun itu !" lanjut Berlin yang lalu tersenyum lebar setelah mengatakannya.


Senyuman yang ditunjukkan Berlin terlihat berbeda dari yang sebelumnya, dan itu cukup membuat Nadia tertegun sesaat. Bagi Nadia, Berlin tampak sangat tampan dan sempurna saat menunjukkan senyuman yang jarang ia lihat.


"Baiklah," jawab Nadia sembari mengangguk perlahan.


"Ya sudah, aku berangkat dahulu, ya !" sela Berlin berpamitan.


"Iya, berhati-hatilah ...!" sahut Nadia.


Cup ...!


Sesaat setelah berpamitan kepada Nadia sebelum berangkat. Secara tiba-tiba Berlin langsung mencium kening milik wanitanya itu dengan perlahan.


DEG.


Nadia benar-benar terkejut saat mendapatkan ciuman tersebut di keningnya. Jantungnya tiba-tiba dibuat berdebar kencang dan tidak karuan.


"Dah ! Aku berangkat !" seru Berlin lalu berjalan menuju mobil miliknya yang tersimpan di garasi.


.


"Oh iya, kalau kamu bosan di rumah, kamu bisa memakai mobil yang satunya untuk jalan-jalan. Kunci mobilnya ada di atas meja komputer kamarku !" lanjut Berlin saat berjalan melewati halaman rumah menuju garasi.


"Ba-baik ...!" jawab Nadia dengan nada dan sikap yang cukup gemetaran karena ciuman yang tiba-tiba tadi.


...


Setelah memastikan Berlin telah berangkat dan pintu gerbang tertutup secara rapat. Nadia kembali masuk ke dalam rumah dan siap untuk mengerjakan beberapa pekerjaan rumah yang harus ia selesaikan.


Namun saat Nadia masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Dirinya tiba-tiba merasa kegirangan dan tersenyum sendiri, karena masih teringat kejadian barusan. Tubuhnya benar-benar terasa sangat ringan dan seakan-akan ingin terbang, saat Berlin secara tiba-tiba melakukan hal tersebut kepadanya.


"D-dia ... mencium ku ...?" Nadia bergumam saat duduk di sofa ruang tengah, dengan satu tangan memegangi keningnya, dan lalu tersenyum sendiri setelah bergumam.


"Ah sudahlah ...." Nadia pun kembali berdiri dan segera berjalan menuju dapur untuk membereskan beberapa barang di sana.


.


~


.


"Semua sudah siap, Pak. Tinggal menunggu Berlin saja," ujar Netty saat menghadap kepada Prawira di ruang jenderal.


"Bagaimana dengan Garwig ?" sahut Prawira.


"Beliau juga belum terlihat, Pak !" jawab Netty.


"Baik, kamu silakan siapkan data-data pentingnya untuk rapat nanti !" titah Prawira saat duduk di kursi miliknya.


"Siap, Pak ..!" sahut Netty dengan tegas sembari memberikan hormat.


.


"Izin meninggalkan ruangan, Pak !" lanjutnya saat memberikan hormat kepada Prawira.


"Silakan," jawab Prawira.


Netty pun menegapkan kembali tangannya, dan lalu berjalan pergi meninggalkan ruangan.


...


Di hari ini, Prawira menyelenggarakan pertemuan tertutup dengan beberapa orang pentingnya, dan juga dihadiri oleh walikota. Pertemuan tersebut diselenggarakan oleh Prawira dengan tujuan untuk membahas beberapa kasus yang terjadi akhir-akhir ini.


Prawira telah mengundang Berlin untuk menghadiri pertemuan tersebut, karena menurutnya peran atau kehadiran Berlin di dalam pertemuan itu sangatlah diperlukan.


Selain dirinya mengundang Berlin untuk hadir dalam rapat tersebut. Prawira juga mengundang seseorang yang menurutnya sangat penting juga, yaitu Garwig. Namun orang tersebut sampai sekarang belum terlihat kedatangannya.


Prawira mengundang Garwig untuk hadir dalam pertemuan yang ia buat. Karena Garwig adalah seseorang yang sangat penting dalam pemerintahan, dan juga dalam struktur kepolisian. Garwig juga menjadi orang yang sangat penting dalam keluarga besar kepolisian, yaitu Gates.


.


~


.


"Kami berdua sudah siap, Bos ..!" ucap Kimmy kepada Berlin melalui radio.


"Oke, aku akan ke sana !" sahut Berlin dengan menekan tombol radionya.


Berlin pun segera memacu kecepatan mobilnya melewati padatnya lalu lintas kota menuju ke bengkel miliknya.


10 menit kemudian ....


Sesampainya Berlin di bengkel pribadinya. Di sana dirinya langsung bertemu dengan teman-temannya, termasuk Kimmy yang terlihat siap bersama dengan Asep yang berdiri di samping mobil Ford beroda enam berwarna biru.


Kedua temannya tersebut juga menggunakan seragam yang sama dengan Berlin, yaitu Hoodie Ashgard sebagai identitas mereka.


"Bagaimana ? Semua sudah siap ?" tanya Berlin setelah memarkirkan mobilnya ke dalam bengkel, dan berjalan menghampiri kedua temannya tersebut.


"Sudah, Bos," sahut Kimmy. "Datanya juga sudah ku bawa," sambung Asep yang membawa tas berwarna hitam di tangannya.

__ADS_1


"Kalau begitu. Ayo !" ujar Berlin yang lalu naik masuk ke dalam mobil bersama dengan kedua temannya.


"Berhati-hatilah, Kalian Bertiga !" seru beberapa temannya yang lain.


...


Asep yang mengendarai mobil tersebut pun segera memacu kecepatannya menuju ke Kantor Polisi Pusat. Suasana di dalam mobil tersebut cukup tegang, lantaran mereka bertiga akan menghadiri pertemuan penting yang juga dihadiri oleh orang-orang penting.


Hal seperti ini tentu adalah pertama kalinya bagi Kimmy dan juga Asep. Mereka berdua terlihat cukup grogi.


Asep tiba-tiba menyela keheningan dengan mengatakan, "oh iya, kami bawa pistol standar ya, Bos."


"Tidak apa-apa. Nanti kalau mereka ingin menyitanya, biar aku yang akan menanganinya," jawab Berlin yang duduk di kursi belakang sembari melihat beberapa lampiran data-data penting.


"Kami harus ngapain di sana, Bos ?" cetus Kimmy yang terlihat cukup bingung.


"Kalian cukup mendampingiku saja," jawab Berlin.


"Nggak, jadi begini ya, Bos. Kita kan sering melakukan tindakan kriminal. Apakah akan baik-baik saja ... jika kita ke sana ?" Asep bertanya demikian kepada Berlin sembari fokus untuk menyetir.


"Tenang saja, kita ke sana bukan untuk ditangkap atau dipenjarakan. Tetapi kita kesana untuk memberikan beberapa laporan," jawab Berlin kembali dengan sangat tenang, tidak seperti kedua temannya yang terlihat sangat tidak tenang.


.


"Pokoknya, kalian cukup mendampingiku saja selayaknya asisten," lanjutnya dengan menepuk perlahan kedua pundak milik temannya dari belakang.


~


Sesampainya Berlin bersama dengan kedua rekannya di Kantor Polisi Pusat. Mereka bertiga langsung disambut dengan baik oleh Prawira yang sudah menunggunya di halaman kantor polisi tersebut.


"Apa kabar, Berlin ?" sapa Prawira yang lalu berjabatan tangan dengan Berlin.


"Baik, Pak," jawab Berlin saat berjabat tangan.


"Mereka berdua siapa ?" cetus Prawira yang menanyakan kedua teman yang menemani Berlin.


"Mereka berdua rekanku, dan juga bisa dibilang ... tangan kananku," jawab Berlin.


"Selamat siang, Pak," sapa Asep yang lalu bersalaman dengan Prawira. Begitu pula dengan Kimmy, "selamat siang, Pak."


"Baiklah kalau begitu, mari masuk !" ujar Prawira.


Mereka bertiga pun mengikuti langkah Prawira memasuki kantor polisi tersebut. Kimmy dan Asep terlihat tambah grogi saat memasuki kantor polisi, lantaran pada saat itu kantor polisi terlihat sangat ramai dijaga ketat oleh banyaknya anggota polisi termasuk Brimob. Tak hanya itu, Tim Penjagaan Walikota juga terlihat sangat ramai berjaga di setiap sudut kantor polisi.


...


Berlin bersama dua rekannya mengikuti Prawira masuk ke dalam sebuah ruang rapat yang terletak di lantai bawah Kantor Polisi Pusat.


Saat memasuki ruangan tersebut, semua mata orang-orang di ruangan itu langsung tertuju kepada Berlin. Dirinya dan kedua rekannya dibuat cukup terkejut ketika mendapati beberapa orang penting yang sudah duduk di meja mereka masing-masing, salah satunya Pak Walikota.


Berlin pun duduk di kursi yang sudah disediakan, diikuti dengan kedua rekannya yang berdiri di samping kanan kirinya.


Setelah semuanya telah siap. Tanpa menunggu lama, Prawira langsung memulai pertemuan atau rapat tersebut.


"Selamat siang, semuanya," ucap Prawira yang lalu duduk di kursi miliknya yang berada di paling depan.


"Siang, Pak," sahut James. "Siang, Ndan," begitu pula dengan Prime dan Tambun.


"Baik, Pak," jawab Boni yang lalu berjabat tangan dengan Prawira.


"Baiklah ... langsung saja, kalian ... termasuk dengan anda, Pak Walikota. Mungkin bingung dengan kehadiran Berlin dan dua rekannya di sini." Prawira langsung membuka omongan di hadapan semua rekannya, termasuk Pak Walikota yang sempat terlihat bingung dengan kedatangan Berlin di ruangan itu.


"Silakan perkenalkan dirimu, Berlin !" titah Prawira dengan menunjuk Berlin yang duduk di meja depannya.


"Selamat siang rekan-rekan yang ada di sini, termasuk dengan anda, Bapak Walikota yang terhormat. Perkenalkan, saya Berlin G Axel, perwakilan dan temasuk ketua dari sebuah kelompok bernamakan Ashgard." Berlin langsung bangkit dari kursinya, dan lalu memperkenalkan dirinya dengan cara yang sangat sopan. Tidak lupa, dirinya sedikit membungkukkan badannya saat memperkenalkan diri.


Kedua rekannya terlihat sangat cemas ketika Berlin memperkenalkan dan membuka identitasnya sebagai ketua di hadapan para petinggi polisi, dan walikota. Namun mereka hanya bisa diam, sesuai dengan perintah Berlin sebelumnya.


"Terima kasih. Silakan duduk kembali, Berlin !" sela Prawira.


Berlin pun kembali duduk sesuai dengan apa yang diminta oleh Prawira.


"Ashgard ?!" gusar Boni terkejut. "Bukannya mereka salah satu kelompok kriminal ?!" lanjutnya dengan menoleh kepada Prawira.


"Oh, apa ... karena kalian berasal dari keluarga yang sama, gitu ?!" lanjut Boni kembali dengan terlihat cukup marah kepada Prawira.


Prime dan rekan-rekan yang lainnya hanya melihat Prawira yang terlihat sangat sabar menghadapinya.


"Jadi begini, Pak. Kebanyakan ... dan hampir semua kasus belakangan ini, disebabkan oleh kelompok Mafioso, benar begitu ?" jawab Prawira yang melempar pertanyaan kembali.


"Ya !" jawab Boni yang terlihat mulai mengurangi emosinya.


"Di beberapa laporan tentang peperangan antar kelompok terkahir ... yang melibatkan Mafioso, itu juga kebanyakan melibatkan Ashgard. Serta menurut laporan terakhir yang saya terima, Ashgard ... telah berhasil meredam Mafioso ... di perbukitan barat peternakan, dan di saat itu adalah saat-saat setelah Mafioso melakukan penyanderaan berskala besar." Prawira sedikit menjelaskan maksud dirinya mengundang Berlin untuk hadir dalam pertemuan ini.


.


"Dan dari peperangan antar kelompok tersebut, satu buronan yang seharusnya sudah divonis hukuman mati, tewas di lokasi kejadian," lanjut Prawira.


"Apa ?! Hanya karena itu ?!" gusar Boni.


Setelah sedikit mendengar penjelasan tersebut. Boni Jackson malah terlihat sangat marah kepada Prawira, dan pihak kepolisiannya yang ia anggap tidak becus.


Di tengah situasi yang terasa cukup memanas. Berlin tiba-tiba mengangkat satu tangannya yang menandakan kalau dirinya ingin berbicara.


"Bolehkah saya berbicara ?" sela Berlin saat mengangkat satu tangannya.


"Silakan," jawab Prawira.


Berlin pun mulai berbicara dan sedikit menjelaskannya kepada Boni yang terlihat tidak terima dengan kehadirannya di sini.


"Dengan penuh hormat, izinkan saya menjawab kegelisahan atau kekesalan anda," ucap Berlin dengan sangat sopan kepada Boni.


"Kami memang sering melakukan tindakan kriminal seperti, pembegalan, penembakan, sampai pembunuhan, dan semua tindakan itu saya yang memimpin." Kedua rekannya terlihat sangat terkejut ketika Berlin mengakuinya, karena secara tidak langsung ia membuka semuanya tentang kelompoknya sendiri.


Asep yang bingung pun sempat melirik ke arah Kimmy dengan ekspresi penuh tanya dengan apa yang dilakukan oleh Berlin.


"Namun, itu semua kami ... atau saya lakukan dengan tujuan tertentu, dan tidak kepada semua orang," lanjut Berlin.

__ADS_1


Mendengar sedikit penjelasan yang terucap dari mulut Berlin. Amarah Boni sedikit dan mulai mereda.


.


"Baiklah, saya minta maaf. Silakan dilanjut, Pak !" ucap Boni yang cukup merasa tidak enak setelah terbawa emosi.


...


"Baik. Netty !" ujar Prawira yang lalu menyuruh Netty untuk mengambilkan sebuah lampiran.


"Silakan, Pak," sahut Netty yang lalu memberikan sebuah lampiran berisikan data penting kepada Prawira.


"Terima kasih," ucap Prawira setelah menerima lampiran tersebut.


"Oke, di sini ada ---"


Tok ... Tok ... Tok ...!


Di tengah Prawira ingin menjelaskan lampiran data yang ia bawa dan siap untuk ditunjukkan kepada semua rekan yang menghadiri pertemuan itu. Tiba-tiba pembicaraannya harus terpotong, karena kedatangan seorang pria yang sudah ia tunggu.


"Si-silakan masuk, Komandan !" titah Prawira kepada pria tersebut.


"Maaf, saya terlambat," cetus pria tersebut saat berjalan masuk ke dalam ruangan.


DEG.


Berlin dibuat sangat terkejut ketika melihat orang yang sangat ia kenal masuk dan hadir di rapat tersebut.


"Garwig ...?" gumam Berlin terkejut ketika melihat pria tersebut masuk ruangan.


"Loh, ada Berlin juga. Apa kabar, Berlin ?" sapa Garwig yang langsung menyapa Berlin terlebih dahulu.


"Ba-baik, sangat baik !" jawab Berlin dengan sangat tegas.


Saat melihat sikap Berlin yang begitu berbeda. Kedua rekannya terlihat dibuat bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Namun mereka memilih untuk diam saja.


"Huh ...." Garwig menghela napas setelah duduk di kursi miliknya. "Silahkan dilanjut, Prawira !" ucap Garwig dengan sangat santai.


"Baik. Jadi di tangan saya saat ini ... ada catatan banyak kasus yang dibuat karena ulah Mafioso." Prawira kembali melanjutkan pembicaraannya di depan semua rekannya, dengan membawa sebuah lampiran data catatan kasus.


"Jujur ... saya sangat bingung, baik pola atau tujuan mereka di balik semua kasus yang terjadi," ucap Prawira.


.


"Mungkin ... beberapa rekan di sini ada yang paham maksud atau tujuan mereka ?" lanjut Prawira dengan bertanya.


Prime mengangkat satu tangannya dan mengatakan, "menurut saya, kalau memang ... mereka bermasalah dengan kelompok lain, maka seharusnya tidak perlu sampai membuat kasus pengeboman yang snagat mengheboskan kemarin."


"Ya, betul juga sih ...," sambung James.


"Atau ... tujuan mereka hanya untuk cari nama saja ?" cetus Tambun kembali bertanya.


"Bagaimana menurut anda, Pak ?" tanya Prawira kepada Garwig.


"Hmm ..., karena saya baru saja mendarat, jadi ... saya sedikit sulit untuk memahaminya," jawab Garwig.


.


"Namun, sepertinya ... Berlin paham sesuatu tentang mereka," lanjutnya dengan melirik tajam ke arah Berlin dan bersikap dengan sangat tenang nan dingin.


Semua hadirin dalam ruangan tersebut pun langsung menoleh dan tertuju ke arah Berlin.


"Hah ?" Sontak Berlin langsung kaget ketika Garwig berbicara demikian dan menunjuk dirinya. Namun ia mencoba untuk tenang dan menjawab, "jujur, saya belum begitu yakin kalau tujuan mereka hanyalah satu, dan saya berpikir mereka memiliki tujuan yang terbagi."


Tambun tiba-tiba menyela dengan mengatakan, "tindakan pengeboman yang mereka lakukan pun itu sudah termasuk ke dalam kategori te*ror*is, apalagi mereka melakukannya dengan berskala besar."


"Kalau untuk kasus penembakan misterius yang terjadi di perumahan kota kemarin, apakah dari mereka, Mafioso itu ?" tanya Boni kepada Prawira.


Prawira hanya diam dan menyuruh rekannya yaitu Netty untuk menjawab pertanyaan tersebut.


.


"Menurut saksi mata, pelaku berpakaian serba hitam, dan itu sangat persis dengan ciri-ciri seragam yang dipakai Mafioso," jawab Netty.


"Apakah kalian berhasil mengantongi nama ?" tanya Garwig kepada Prawira.


"Kami cukup kesulitan untuk mencari itu, karena seolah ... identitas mereka semua sangat tertutup atau memang sengaja ditutupi oleh seseorang di baliknya," jawab Prawira menggelengkan kepala dan sedikit tertunduk.a


.


5 menit kemudian ....


.


Dinginnya pendingin ruangan di ruang rapat tersebut dapat dirasakan cukup merasuk ke tulang.


Perbincangan itu masih terus berlanjut dengan tujuan mencari titik terang dari kelompok yang sudah sangat meresahkan itu, yaitu Mafioso. Berlin dan kedua rekannya hanya menyimak semua pembicaraan tersebut, dan berhasil mengantongi beberapa informasi penting terkait kelompok yang sedang memanas dengan kelompoknya.


Di tengah menyimak pembicaraan Prawira dengan rekan-rekannya. Berlin melirik kepada Asep dengan tatapan dan gerak-gerik seolah memberikan kode.


Asep yang menyadarinya pun langsung merespon dengan memberikan sebuah lampiran data kepada Berlin.


"Mohon maaf. Apakah saya boleh menyampaikan sesuatu ?" Berlin mengangkat satu tangannya yang menandakan kalau dirinya ingin berbicara.


Garwig orang pertama yang langsung melirik Berlin, dengan ekspresi yang menunjukkan kalau dugaan atau prediksinya akan menjadi kenyataan.


"Silakan, Berlin !" sahut Garwig dengan nada yang sangat tegas.


"Baik, sebenarnya ... saya di sini ... hanya ingin menyampaikan, kalau kami ... telah mengantongi beberapa nama yang mungkin penting dan memiliki otoritas tinggi dalam kelompok tersebut, Mafioso," ucap Berlin dengan sikap yang sangat dingin dan membuka lampiran yang ia bawa.


Seketika pembicaraan mereka terhenti dan kembali tertuju kepada Berlin yang terlihat membuka sebuah lampiran di tangannya.


"Namun, sayangnya ... saya tidak bisa membacakan isi dari catatan ini di ruangan ini," cetus Berlin yang lalu menutup kembali lampiran catatan yang ia bawa, dan dengan sedikit melirik sinis ke arah Walikota serta lalu juga kepada Garwig.


Boni yang mendapatkan lirikan tersebut, langsung dibuat curiga dengan sikap dan apa yang ditunjukan Berlin. Namun tidak dengan Garwig, karena ia terlihat seperti sudah menduga akan suatu hal.


"Baiklah. Setelah ini temui aku di atap !" titah Prawira yang memahami maksud dari Berlin.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2