Mafioso In Action

Mafioso In Action
Ancaman? #90


__ADS_3

Pukul 18:00 petang.


"Pak, ada pesan," ucap Netty menghampiri Prawira yang duduk diam di ruangannya, ia memberikan sebuah ponsel ke pada Prawira yang duduk di kursinya.


Pesan tersebut dikirimkan oleh Asep untuk melaporkan tugas yang sebelumnya sempat Prawira berikan. Dalam pesan itu dituliskan kalau tugasnya berjalan dengan lancar, dan tidak ada tanda-tanda yang janggal atau bahkan tanda-tanda yang membahayakan.


"Bagaimana soal nomor telepon yang tadi siang? Apakah sudah berhasil dilacak?" tanya Prawira.


"Belum, dan masih dikerjakan untuk proses pelacakannya," jawab Netty duduk di sebuah sofa ruangan.


Beberapa waktu sebelumnya, tepatnya di siang hari ini. Prawira mendapatkan panggilan suara dan pesan asing yang berisikan ancaman yang akan ditujukan kepada Berlin.


***


Flashback: On


4 jam yang lalu.


Pukul 14:00 siang.


"Halo, Prawira. Berbulan-bulan sudah berlalu sejak bom mobil itu, ya? Tetapi sayang sekali tidak ada yang bisa menemukan ku." Suara seorang pria yang terdengar sangat berat dan dingin didengarkan oleh Prawira yang menerima panggilan suara tersebut.


Prawira terkejut dengan apa yang dikatakan oleh pria itu padanya. Lantaran pria itu tahu soal kekacauan yang terjadi beberapa bulan yang lalu, dan soal bom mobil bunuh diri yang dilakukan oleh Nicolaus.


"Jangan-jangan ...?!" gumam Prawira terkejut dan sedikit terpaku.


"Sebenarnya aku ingin menghubungi Garwig, tetapi ternyata aku memilih untuk menghubungimu, orang yang lebih mengenal dekat Berlin sejak dia kecil."


"Aku hanya ingin Berlin lebih berhati-hati, karena mungkin saat kepalanya dihargai dengan harga yang sangat mahal oleh salah satu sindikat kriminal, dan mungkin saja harga itu terus naik mengikuti perkembangannya."


"Aku juga menerima kabar dari salah satu kelompok kriminal, kalau mereka akan mencari Berlin pada pukul 15:00 sampai 17:00 sore ini. Entah apa yang mereka rencanakan dengan memberikan batas waktu seperti itu, aku tidak tahu."


"Apa yang kau katakan ...?" batin Prawira tertegun setelah mendengar semua itu.


"Hanya itu saja yang ingin aku beritahu padamu, dan ini juga mungkin sekaligus sedikit ancaman untuknya."


"Berlin G Axel, anak emas dari sebuah keluarga besar Gates, dan anak tunggal dari pasangan walikota Axel dan Alison. Anak kesayangan, pantas saja Carlos merasa iri dengannya."


Tuutt ... Tuutt ....!!


Setelah mengatakan beberapa hal tentang Berlin di akhir, pria itu langsung mematikan panggilan suaranya.


Setelah mendengar semua hal tentang itu, Prawira langsung mencoba untuk menghubungi salah satu orang kepercayaan Berlin yaitu Asep, dan memberitahukan apa yang ia dengar padanya.


Dirinya tidak langsung memberitahukannya kepada Berlin, karena dirinya tidak ingin mengganggu pikiran Berlin yang terfokus pada suatu tujuan yang penting untuk masa depannya. Dan juga, jika Berlin langsung mengetahuinya, justru itu akan lebih bahaya karena bisa saja Berlin melakukan hal yang gegabah dan tidak diduga.


Di sisi lain, Prawira langsung menugaskan divisi khusus untuk melacak nomor telepon yang baru saja menghubungi dirinya.


...


"Ada apa, Pak?" tanya Asep ketika datang ke kantor polisi dan langsung memasuki ruangan milik Prawira.


Prawira pun menjelaskan detailnya kepada Asep, dan memberikan tugas untuk memantau serta menjaga Berlin selama waktu yang ditentukan. Setelah mendengar detailnya, Asep tampak tenang dan tidak terkejut sama sekali.


***


Flashback: Off


Garwig tiba-tiba memasuki ruangan dengan mengatakan, "tenang saja, Berlin akan baik-baik saja, karena ku yakin dia pasti pernah mengalami hal yang sama dan bahkan bisa saja lebih buruk dari ini."


"Meski begitu tetapi tetap saja, aku cukup kepikiran setelah mengetahuinya," sahut Prawira menyandarkan dirinya pada sandaran kursinya.


"Kau tenang saja, tentunya aku tidak akan membiarkan dia dalam keadaan berbahaya, apalagi dia keluarga kita ... dan kini dia bagian dari instansi kita," ucap Garwig berjalan mendekat dan berdiri tepat di depan meja milik Prawira.

__ADS_1


"Lebih baik kalian fokus untuk mempersiapkan acara kalian. Bukankah acaranya minggu depan?" lanjut Garwig lalu tersenyum senang memandangi Prawira dan Netty.


Prawira sedikit melirik Netty dan tersenyum padanya, "kalau soal itu ... kami sudah mempersiapkannya," ucapnya.


"Lagipula kau tahu sendiri Prawira itu orangnya sangat suka bekerja, jadi cukup susah untuk membujuknya libur sebentar," timpal Netty kepada Garwig.


"Dan kau suka dengan orang yang seperti itu, 'kan?" celetuk Garwig dan lalu menahan tawanya melihat kedua rekannya itu sama-sama memasang wajah canggung.


"Garwig, kita masih memakai seragam, jadi tolong bahas personalnya nanti saja!" tegas Prawira.


Netty hanya terkekeh melihat Prawira yang begitu kikuk ketika Garwig berkata seperti itu. Namun apa yang dikatakan Garwig ada benarnya baginya.


.


~


.


Pukul 20:00 malam.


Bengkel Pribadi Ashgard.


Setelah menghabiskan waktunya, Berlin kembali tiba di bengkel pribadinya tanpa bersama Nadia. Ketika dirinya tiba, ia langsung disambut tenang oleh semua temannya di ruang utama.


"Malam, bagaimana tugas kalian?" Berlin langsung bertanya pada intinya ketika berjalan memasuki bengkel. Ia bertanya dengan sikap tegas dan dingin seperti biasanya.


"Ah, tenang, Bos! Aman terkendali!" jawab langsung beberapa temannya.


"Sep, mana laporan tugasnya?" tanya Berlin mendekati Asep dan beberapa temannya dengan tatapan tajam.


Seketika teman-temannya termasuk Asep dibuat terkejut dengan pertanyaan itu. Mereka semua langsung terdiam.


"Kalian mendapatkan tugas dari Prawira, 'kan? Seharusnya tugas yang diberikan memiliki catatan laporannya? Apa kau lupa untuk mencatat laporannya?" Berlin langsung menghujani Asep dengan pertanyaan-pertanyaan itu.


"Memangnya tugas rahasia apa itu? Dan apa hasil dari tugas itu?" lanjut Berlin kembali bertanya seraya berjalan ke sana ke mari di depan semua teman-temannya.


"Asep, Adam, Kimmy, bisa jelaskan padaku tentang tugas apa tadi? Karena aku sama sekali tidak dihubungi oleh Prawira kalau ada tugas, bahkan itu tugas rahasia yang sepetinya sangat penting." Berlin memanggil ketiga nama itu, dan bertanya pada mereka bertiga karena teman-teman yang lain hanya diam dan tidak berani berbicara.


"Mungkin aku akan memberitahumu, tetapi aku minta padamu untuk tidak bertindak seenaknya, dan tetap pikirkan keselamatanmu serta orang sekitarmu." Adam yang mulai angkat bicara serta sedikit memperingati Berlin.


"Baik, kalau begitu ke ruanganku saja!" sahut Berlin yang lalu mengajak ketiga orang kepercayaannya itu ke ruangannya.


"Kalian semua silakan bersantai saja! Aku tidak marah pada kalian, 'kok!" seru Berlin ketika berjalan menaiki tangga lalu tersenyum kepada teman-temannya yang hanya terdiam di ruang utama.


"Baik, Bos."


...


Berlin langsung duduk di kursi miliknya, dan diam menatap ketiga temannya itu yang berdiri di depan mejanya. Mereka bertiga tampak tertunduk dan tidak berani untuk menatap Berlin.


Berlin tersenyum tipis melihat ekspresi ketakutan mereka terhadapnya. "Kalian duduklah! Dan lalu jelaskan padaku secara perlahan!" pinta Berlin dengan pelan.


Mereka bertiga pun duduk di sebuah sofa panjang pada sudut ruangan. Berlin berusaha untuk tidak terlihat seperti sedang memarahi, namun sepertinya kesan seperti itu sudah ada sejak lama di kepala teman-temannya.


"Kami akan menjelaskannya, namun tolong jangan marah, ya?" ucap Kimmy menatap dan memohon agar Berlin tidak marah karena telah merahasiakan soal tugas tersebut.


"Baik, tenang saja, bahkan saat ini aku tidak marah sama sekali," sahut Berlin bersandar dengan santainya di kursinya.


Kimmy, Adam, Asep. Mereka bertiga saling menatap satu sama lain dengan tatapan bingung melihat Berlin begitu santai dan tenang.


"Sep, kau aja yang jelaskan!" pinta Kimmy dengan berbisik kepada Asep yang duduk di sampingnya.


"Lah, kenapa jadi aku?" sahut Asep berbisik kebingungan. "Kau aja, Dam! Kau 'kan yang lebih dewasa di sini," pinta Asep berbisik kepada Adam yang duduk di samping Kimmy.

__ADS_1


"Mengapa aku? 'Kan kau yang pertama mendapat tugas dan informasi itu dari Prawira," sela Adam menyanggah perkataan Asep.


Di tengah mereka bertiga berbisik-bisik, Berlin menyela mereka dengan mengatakan, "sudah bisik-bisiknya?"


"Maaf, Bos." Mereka langsung berhenti berbisik dan kembali tertunduk meminta maaf kepada Berlin.


"Sep, kau dapat informasi apa yang Adam maksud? Informasi itu dari Prawira?" tanya Berlin kemudian.


"Iya, Bos. Itu informasi tentang pengancaman," jawab Asep.


"Pengancaman?" gumam Berlin mengerenyitkan dahinya.


"Prawira mendapatkan pesan dengan ancaman yang ditujukan padamu, Bos. Maka dari itu dia memberikan kami tugas rahasia tersebut, dan tugas rahasia itu adalah memantau bos dari kejauhan guna menjamin keamanan bos."


Asep langsung menjelaskan inti dari pembicaraan tanpa berbasa-basi. Kedua temannya cukup kaget dengan penjelasannya yang langsung kepada inti dari penjelasan.


"Memantau ku? Mengikuti ku maksudnya? Berarti ... dari tadi ... kalian mengikuti ke mana ku pergi?" sahut Berlin sedikit terkejut dengan apa yang ia dengar. Ia tidak terkejut dengan berita pengancaman itu, melainkan terkejut soal teman-temannya yang mengikutinya.


"I-iya, hehehe," jawab Asep dan lalu tertawa kecil seraya menundukkan kepalanya.


"Kami sangat dan benar-benar meminta maaf karena sudah menguntit!" lanjut Asep mewakili teman-temannya dengan kepala masih tertunduk kepada Berlin.


"Angkat kepalamu, dan jangan ulangi hal itu lagi!" pinta Berlin dengan tegas.


Asep pun kembali mengangkat kepalanya, namun tetap pandangannya masih belum berani untuk memandang ke arah Berlin.


"Tidak apa kalau kalian sudah mengetahui soal pemberian cincin ku itu, dan aku maafkan. Tetapi aku tidak ingin itu terulang lagi!" tegas Berlin kembali.


"Lalu soal pengancaman itu?" lanjut Berlin kembali bertanya.


Asep pun menjelaskan soal pengancaman yang ditujukan pada Berlin secara rinci. Dirinya juga memberitahu betapa cemasnya Prawira ketika mendapat berita soal pengancaman tersebut.


...


10 menit berlalu.


Berlin sudah mengetahui dengan jelas bahwa kini nyawanya dihargai dengan sejumlah uang. Namun ia tampak begitu tenang, dan tidak terlihat terkejut atau panik sama sekali ketika mendengar kabar kalau dirinya sedang terancam.


"Kira-Kira, berapa nyawaku dihargai oleh para pemburu itu?" celetuk Berlin bersandar pada kursinya.


Ketiga temannya kembali saling menatap dan bingung dengan pertanyaan itu. Mereka bertiga bingung mau menjawab apa.


"Bos, tolong jangan lakukan hal yang ...." Belum selesai Adam berbicara untuk menghimbau dan mengingatkan Berlin. Berlin sendiri langsung menyela dengan mengatakan, "tidak, aku tidak akan melakukan tindakan yang seperti kalian khawatirkan."


"Lalu, kau tidak takut atau terkejut soal pengancaman itu, Bos?" tanya Asep menatap bingung sekaligus kagum dengan reaksi tenang yang ditunjukkan Berlin.


"Buat apa aku takut dan terkejut? Lagipula hal seperti ini sudah pernah ku alami, dan kalian tahu sendiri," sahut Berlin seraya meregangkan kedua tangannya ke depan.


"Yang terpenting mereka hanya mengincar ku, itu bukanlah masalah yang serius," lanjutnya.


"Tetapi justru itu masalah yang serius bagi kami!" sela Kimmy dengan nada tinggi menyanggah ucapan Berlin.


"Ya betul apa yang dikatakan Kimmy, dan Nadia pasti khawatir dengan itu," timpal Adam dengan nada tinggi juga dan seraya beranjak berdiri dari sofa menatap serius Berlin.


Berlin tersenyum melihat ketiga temannya dan berkata, "aku menganggap masalah itu bukanlah masalah serius, karena aku percaya pada kalian," ucapnya dan lalu tersenyum memberikan kepercayaannya pada teman-temannya itu, dan membuat ketiga temannya tertegun mendengar apa yang dikatakan oleh Berlin.


"Dan ingat! Jangan sampai Nadia tahu soal ini!" titah Berlin dengan sangat tegas dan serius soal ini.


...


Setelah selesai berbicara dengan ketiga temannya. Mereka bertiga pun segera pergi dari ruangan milik Berlin. Namun ketika Kimmy ingin menyusul kedua temannya untuk keluar ruangan, langkahnya justru dihentikan oleh Berlin yang menyuruhnya untuk tetap berada di ruangannya sebentar.


"Kimmy, bisakah aku berbicara denganmu sebentar?" ucap Berlin menghentikan langkah Kimmy yang hendak berjalan keluar ruangan.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2