
Di sebuah pasar swalayan dan sesuai dengan janji yang dibuatnya.Berlin terlihat sedang menemani Nadia untuk berbelanja membeli bahan makanan yang dibutuhkan. Nadia terlihat sangat pandai saat memilih beberapa bahan makanan yang dijual di etalase-etalase itu.
Troli belanjaan yang dibawa oleh Berlin pun juga sudah mulai terisi dengan beberapa jenis sayuran yang masih terlihat sangat segar, dan beberapa bumbu dapur yang dibutuhkan.
"Oke, lalu kita mau ke mana lagi ?" tanya Berlin yang berjalan mengikuti Nadia dengan mendorong troli belanjaannya.
Nadia menoleh dan lalu menjawab, "kita ke tempat daging, yuk !" jawabnya dengan ekspresi sangat bersemangat.
"Baiklah," sahut Berlin yang lalu mendorong troli belanjaannya mengikuti kekasihnya itu berjalan.
Berbelanja memang menjadi salah satu aktivitas yang sering Berlin lakukan, di saat ia memiliki niat untuk membikin atau memasak sendiri di rumah. Namun hal itu menjadi sangat mendebarkan ketika dirinya berbelanja bersama seorang wanita yang ia cintai. Apalagi dengan situasi dari pasar swalayan yang ia pilih itu saat ini tidak terlalu ramai.
Ini juga menjadi untuk yang pertama kalinya bagi Berlin dapat melihat Nadia begitu jeli dan pandai dalam memilih bahan makanan.
"Um ..., kamu mau aku masakin apa ?" tanya Nadia berpikir serius kepada Berlin saat melewati etalase kaca yang berisikan bermacam daging.
"Terserah kamu aja, dan yang kamu bisa aja," jawab Berlin dengan kedua tangan terus memegangi troli belanjaannya.
Nadia pun mulai memilih-milih berbagai daging pada etalase kaca tersebut. Ia juga berjalan menghampiri etalase yang berisikan hasil laut seperti daging ikan dan beberapa kerang serta banyak lagi.
Berlin hanya melihati kekasihnya dan menunggu wanitanya itu di troli belanjaan yang sedari tadi ia bawakan.
"Dia sudah terlihat seperti ahli saja ...," gumam Berlin di dalam hati saat berjalan mendekatkan trolinya kepada Nadia.
"Kamu memang tahu cara masaknya ?" tanya Berlin saat Nadia memasukkan beberapa daging ayam dan ikan segar yang masih terbungkus rapat dengan polistirena ke dalam trolinya.
"Nanti lihat aja, deh ...!" jawab Nadia yang lalu sedikit memberikan senyuman sinisnya kepada Berlin.
"Oke, aku tunggu nanti !" sahut Berlin dengan ekspresi cukup bersemangat.
...
Setelah dirasa cukup dan juga waktu berbelanja sudah berlangsung sangat lama. Berlin bersama dengan Nadia pun berjalan mengantri di meja kasir untuk membayar semua belanjaannya.
"Apakah semuanya sudah ?" tanya penjaga kasir wanita dengan sangat ramah.
"Sudah semua," jawab Nadia.
Tut ... Tut ... Tut ...!
Suara sensor dari mesin kasir itu berkali-kali berbunyi saat barang belanjaannya melewatinya, dan langsung menghitung total harga yang ditampilkan pada layar monitor.
"Silakan totalnya," ucap penjaga kasir wanita kepada Berlin.
Saat melihat harga totalnya, Berlin tidak terkejut karena juga barang belanjaan mereka cukup banyak. Ia pun langsung membayar semua belanjaan tersebut dengan uang yang sudah ia siapkan di dalam saku celananya.
"Terima kasih banyak, silakan datang lagi ...!" ujar penjaga kasir tersebut dengan menundukkan kepalanya dan memasang senyuman ramah setelah mendapatkan bayaran.
"Terima kasih kembali," sahut Berlin yang lalu berjalan membantu Nadia membawakan barang belanjaannya.
...
Saat sesampainya Berlin di mobil miliknya yang terparkir di halaman parkir, dan dengan membawa beberapa belanjaan tersebut. Tiba-tiba ponsel miliknya berdering menunjukkan adanya panggilan masuk dari seseorang.
"Um ... sebentar, aku tiba-tiba ditelepon," ucap Berlin kepada Nadia yang sibuk menata belanjaannya ke dalam bagasi mobil.
"Oke," jawab Nadia yang lalu kembali menata barang belanjaannya.
Saat melihat kontak yang meneleponnya, Berlin pun sedikit menjauh dari Nadia dan lalu menjawab panggilan masuk tersebut.
"Berlin !" pekik James secara tiba-tiba dalam telepon tersebut.
Seketika Berlin sedikit menjauhkan ponsel miliknya dari telinganya, saat James berteriak seperti itu.
"Iya, ini aku !" sahut Berlin.
.
"Sampai-sampai kau menghubungiku begini. Memangnya ada masalah apa ?" lanjut Berlin yang langsung bertanya pada poin utamanya.
"Berlin, Adam ...." Tanpa basa-basi, James langsung saja menuju ke topik yang ingin ia kabarkan kepada Berlin. Ia juga memberitahukan kalau bukan hanya Adam saja yang menjadi korban, namun Sasha juga. Namun untungnya Sasha terlihat baik-baik saja tidak terluka.
Berlin langsung syok terkejut setelah mendengar kabar tersebut dari rekan atau orang dalamnya. Lantaran dua teman dan salah satu sahabatnya mendapatkan perlakuan tidak mengenakan dari orang-orang yang memiliki masalah dengannya.
***
Nadia yang selesai menata semua barang belanjaannya dengan rapi di dalam bagasi mobil. Ia pun berbalik badan dan melihat ke arah Berlin yang terlihat tidak baik-baik saja.
"Pasti terjadi sesuatu," gumamnya saat melihat Berlin tidak tenang.
Nadia bisa saja langsung menghampiri lelakinya itu. Namun ia memilih untuk menunggu di dalam mobil terlebih dahulu, sampai Berlin selesai dengan sambungan teleponnya.
***
"Sekarang bagaimana kondisinya ?" cetus Berlin dengan nada yang memuncak dan langsung terlihat mencemaskan temannya, yaitu Adam.
"Dia saat ini kritis di rumah sakit," jawab James dengan nada sedikit gemetaran saat mendengar suara Berlin.
"Terima kasih sudah memberitahu," sahut Berlin.
.
"Aku akan ke sana sekarang !" lanjutnya yang lalu langsung mengakhiri panggilan suara tersebut.
"Tunggu! Aku belum memberit --" pekik James tepat saat panggilan suara tersebut diakhiri oleh Berlin.
...
"Kamu baik-baik saja ?" tanya Nadia saat Berlin selesai dengan teleponnya dan lalu masuk ke dalam bangku pengemudi.
"Kamu aku antar ke rumah aja, ya ?" sahut Berlin dengan raut wajah cemas.
"Nggak ! Pokoknya aku ikut kamu !" Nadia langsung menolak tawaran tersebut dan mengekang Berlin untuk mengizinkan dirinya ikut.
"Aku tahu. Kamu sedang ada masalah, 'kan?" celetuk Nadia dengan menggenggam salah satu telapak tangan milik Berlin, dan dengan pandangan menatap kedua mata milik lelakinya itu.
Setelah melihat ekspresi bimbang dan kecemasan yang bercampur di wajah milik Berlin. Nadia pun terus mengekang dirinya untuk ikut ke mana Berlin pergi. Karena ia mencemaskan suatu hal jika dirinya tidak ikut bersama lelakinya itu.
__ADS_1
"Aku takut terjadi sesuatu kepadamu, atau bahkan malah dirimu yang membuat sesuatu itu terjadi," ucap Nadia dengan menatap kedua mata milik Berlin, serta dengan nada yang sangat lembut dan lalu tersenyum setelah mengatakannya.
.
"Ya ...?" bujuk Nadia kembali dan tersenyum kepada lelakinya itu.
"Baiklah," jawab Berlin dengan sedikit terpaksa.
Berlin pun menyalakan mesin kendaraannya, dan lalu menginjak pedal gas untuk langsung melaju menuju ke rumah sakit untuk melihat kondisi dari temannya itu.
.
~
.
"Tolong ... berhati-hatilah, Berlin," gumam James yang memandangi ponsel miliknya setelah panggilan suara tersebut diakhiri.
James terlihat berharap cemas dengan kondisi keselamatan dari Adam yang sangat parah dan kritis. Dokter, ahli bedah, dan juga beberapa perawatan lainnya di dalam ruang operasi, terlihat sangat serius serta hati-hati saat menangani dua luka tembak yang berada di tangan kanan dan kaki kiri milik Adam. Sedangkan Adam sendiri hanya terlihat pasrah dan tidak sadarkan diri di atas ranjang, dengan semua sinar dan peralatan medis yang tertuju padanya.
"James ! Adam bagaimana ?" James tiba-tiba mendengar suara dikenal yang memanggil namanya dari kejauhan di belakangnya.
Saat James menoleh, ia melihat Kimmy dan teman-teman lainnya yang berjalan menghampiri dirinya dengan ekspresi penuh tanya mereka.
"Dia kritis," jawab James dengan nada gemetaran takut dan tertunduk lesu.
Pandangan Kimmy bersama teman-temannya yang datang pun langsung tertuju ke arah jendela pada pintu ruang operasi.
"Kenapa ini bisa terjadi ?"
"James ! Kenapa Adam bisa sampai seperti itu ?!"
"Sial, siapa yang melakukan itu kepadanya ?!"
Benar saja dugaan James, semua pertanyaan dari teman-temannya yang menghujani dirinya. Dirinya seakan merasa sangat bersalah saat mendapatkan semua pertanyaan itu.
Namun James hanya diam diri saat semua pertanyaan itu menghujani dirinya terus-menerus tanpa henti.
"James, katakan sesuatu !" bentak Asep dengan mendorong tubuh James dengan kasar hingga terbentur dinding, dan juga terlihat emosinya tiba-tiba mulai memuncak.
"Aku bingung ! Semua terjadi begitu cepat !" sahut James yang juga dengan nada dan emosi yang mulai meluap.
"Lalu apa yang kau lakukan ?!"
"Apa kau membiarkan temanmu seperti itu ?!"
"Dasar, aparat lemah !"
Cekcok pun mulai terjadi antara James dengan beberapa temannya sendiri, namun James sendiri kebanyakan hanya memilih untuk diam. Karena juga dirinya merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Adam.
Hampir semua teman-temannya menyalahkan James serta menyudutkannya. Semua teman-temannya juga terlihat sangat cemas dengan kondisi dari Adam yang tidak kunjung memberi tanda baik-baik saja.
"Cukup !" bentak Kimmy yang menyela dan melerai percekcokan dari teman-temannya itu.
Situasi yang sebelumnya memanas akibat percekcokan itu pun tiba-tiba mereda setelah dilerai oleh Kimmy.
"Sa-saat ini ... dia sedang memberikan keterangan ... di kantor polisi," jawab James yang terlihat sangat gemetaran setelah percekcokan singkat itu.
"Bobi, Kina. Kalian berdua jemput Sasha ke kantor polisi !" titah Kimmy kepada dua temannya tersebut.
"Baik !" sahut mereka berdua dan lalu berjalan pergi.
"Dan kalian semua, tolong sadar diri ! Saat ini kita sedang di rumah sakit !" Kimmy pun memperingatkan semua teman-temannya tanpa terkecuali.
"James, apakah kau sudah memberitahu Berlin tentang ini ?" tanya Kimmy kembali kepada James dengan nada sikap sangat tenang.
"Su-sudah, baru saja ...," jawab James yang masih tertunduk dan terlihat gemetaran karena masih merasa bersalah.
.
"Katanya, dia akan segera ke sini," lanjutnya.
Mereka semua pun duduk di ruang tunggu depan ruang operasi, dan sangat berharap cemas dengan kondisi dari Adam. Kimmy dan James juga sedang menunggu Berlin untuk datang ke rumah sakit.
Entah mengapa, James sendiri tiba-tiba menyimpan rasa takut untuk bertemu dan bertatap muka langsung dengan Berlin. Dirinya terus memikirkan untuk berbicara seperti apa saat berhadapan dengan Berlin nantinya.
James benar-benar terlihat gemetaran dan tidak bisa tenang. Ini adalah pertama kali baginya untuk merasa sampai benar-benar tidak dapat tenang, setelah semua yang terjadi dan ia saksikan.
~
Waktu terus berlalu, dan tiga jam juga sudah terlewatkan oleh mereka dengan penuh berhadap cemas dengan keselamatan Adam yang masih sedang dalam operasi.
Tidak lama kemudian pun Berlin terlihat berlari kecil diikuti Nadia di belakangnya, menghampiri Kimmy dan James yang bersandar di samping pintu ruang operasi.
"Bagaimana kondisi Adam ?!" spontan pertanyaan pertama itu langsung tercetus oleh Berlin.
Kimmy meresponnya dengan menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya yang tertunduk saat Berlin muncul. Begitu pula dengan James yang hanya diam tertunduk menyimpan rasa takutnya ketika melihat Berlin di hadapannya.
DEG.
"Tidak mungkin ...," gumam Berlin yang syok saat melihat ke dalam ruang operasi.
Saat berada di depan pintu ruang operasi, pandangan Berlin langsung tertuju ke jendela pintu yang buram itu dan melihat temannya sedang mendapatkan perawatan dengan kondisi kritis.
Setelah melihat Adam yang masih kritis dengan berjalannya operasi yang belum selesai. Berlin pun menoleh ke arah semua teman-temannya yang terlihat cukup lesu tertunduk di bangku ruang tunggu.
Suasana hening dan sendu tiba-tiba tercipta dan sangat dapat dirasakan. Mereka semua sangat berharap cemas dengan kondisi dari Adam yang sedang kritis itu.
Ekspresi wajah Berlin yang sebelumnya terlihat senang saat berbelanja bersama dengan Nadia, tiba-tiba berubah sendu saat mengetahui situasi ini. Nadia sendiri hanya memilih untuk diam dalam situasi itu, dengan terus memandangi Berlin yang terlihat sangat sedih.
"James, bisa cepat kau jelaskan ?" tanya Berlin dengan melirik tajam kepada James, serta dengan nada dan sikap yang tiba-tiba berubah sangat dingin.
James langsung dibuat benar-benar tidak dapat berkutik saat Berlin meliriknya dengan ekspresi yang sudah seperti haus darah itu. Ia pun mencoba menjelaskan secara singkat dan rinci kepada Berlin, dan juga sekaligus memohon maaf kepadanya.
"A-aku melihat semuanya. Tetapi ... jumlah mereka cukup banyak, dan polisi yang saat itu berada di lokasi hanyalah aku."
"Awalnya saja mereka langsung terlihat beradu cekcok dengan Adam yang terlihat menyembunyikan sesuatu dari mereka. Aku tidak tahu mereka mempermasalahkan hal apa, tetapi itulah yang ku lihat."
__ADS_1
"Mereka juga mengancam akan membawa Sasha dan menjadikannya tawanan atau sandera, serta juga berkali-kali mengancam warga sekitar dengan menodongkan senjata api yang mereka bawa."
"Namun Adam melawannya, dan ... membuat orang-orang berpakaian hitam itu ... langsung menembak dua kali tanpa basa-basi ke arah Adam yang mencoba untuk melindungi Sasha."
James menjelaskan semua kronologi kejadian itu kepada Berlin yang berdiri di hadapannya, dan terus menatap dirinya dengan tatapan mengerikan. Walau cukup gemetaran saat menjelaskannya, tetapi James sudah menjelaskan semuanya.
"Jujur ... aku benar-benar tenggelam dalam ketakutan ku pada saat itu, Berlin. Aku benar-benar minta maaf !" James yang berseragam lengkap pun langsung menundukkan kepalanya tepat di hadapan Berlin yang terlihat sangat tidak senang dengan semua yang terjadi.
James benar-benar memohon maaf kepada Berlin dan disaksikan oleh teman-teman lainnya yang duduk di kursi tunggu.
"Angkat kepalamu ! Kau seharusnya sangat malu dengan wibawa dari seragam kebanggaan yang kau kenakan itu !" sahut langsung Berlin dengan ekspresi dan sikap yang sangat dingin.
James langsung mengangkat kembali kepalanya, dan lalu mulai berbicara kembali untuk memberitahukan suatu hal kepada Berlin.
"Saat ... aku menahan pendarahan yang terjadi pada Adam di dalam ambulans, Adam menyuruhku memberitahumu untuk lebih berhati-hati !" ucap James dengan menatap kembali tatapan Berlin yang menatap dirinya.
.
"Karena ... kata Adam sendiri. Orang-orang itu sedang sangat mencarimu, Berlin," lanjutnya saat menegakkan kembali tubuhnya.
BUK !
"Sialan ...!" gumam Berlin dengan mengepalkan tangannya dan lalu memukul dinding di sebelahnya dengan sangat keras sampai bergetar.
Bukannya merasa takut karena sedang sangat dicari oleh orang-orang yang mengancam dirinya, termasuk juga mengancam semua orang-orang terdekatnya. Berlin justru terlihat sangat kesal dan marah setelah mendengarkan ucapan tersebut dari James.
James yang menyadarinya pun cukup merasa takut, begitu pula dengan semua teman-temannya saat mengetahui Berlin sedang benar-benar kesal.
***
Melihat Berlin sangat emosi atau marah seperti itu bukanlah hal yang pertama bagi Nadia. Namun seperti dengan dugaannya, amarah Berlin saat ini sangat dapat dirasakan sedang meluap-luap dan tidak seperti biasanya.
"Berlin," gumamnya dengan menggenggam kalung hati yang ia pakai melingkar di lehernya saat memandang ke arah lelakinya itu.
Nadia juga bisa melihat ketakutan semua teman-temannya, termasuk Asep, James, dan juga Kimmy, saat melihat dan menyadari kalau Berlin benar-benar marah.
Mereka semua tidak ada yang berani untuk angkat bicara dan meredam amarah yang sedang meluap tersebut.
***
Dengan amarah yang tidak dapat tertahankan lagi. Berlin pun langsung melangkah pergi dengan memegang sesuatu di kantong celananya yang terlihat seperti sebuah pistol.
"Tunggu !" pekik Nadia dengan meraih tangan milik Berlin yang berjalan melewatinya.
Berlin langsung menghentikan langkahnya dan hanya diam dengan aura kemarahan yang sudah meluap-luap dan sangat terasa di sekitarnya.
"Kamu mau ke mana ?!" tanya Nadia saat melangkah mendekati Berlin secara perlahan.
"Biarkan aku ... mencari dan bertemu langsung dengan mereka ...!" jawab Berlin dengan nada yang terdengar datar dan dengan sikap yang sangat dingin.
"Lalu ... apa yang akan kamu lakukan setelah itu ...?" sahut Nadia dengan menatap langsung kedua mata milik Berlin.
Berlin yang mendapatkan tatapan tajam penuh dengan kekhawatiran itu pun langsung sedikit tertunduk dengan untuk mengalihkan pandangannya dari tatapan itu.
"Aku ingin segera menyelesaikannya ...," jawab Berlin dengan nada yang sedikit berubah menjadi sangat pelan dan terdengar sedikit lembut.
"Kamu tahu, 'kan ?! Itu terlalu berbahaya untuk dirimu sendiri, Berlin !"
"Kita tidak tahu jumlah mereka berapa banyak di luar sana, dan juga ... kamu sendiri yang mengatakannya sebelum kita berangkat tadi pagi."
"Namanya juga penjahat, mereka melakukan itu pasti karena ada rasa kepuasan tersendiri."
"Itu katamu, kan ?" lanjut Nadia setelah mengulang perkataan yang diucapkan oleh Berlin kepadanya, saat sebelum mereka berangkat meninggalkan rumah pagi tadi.
Semua ucapan itu langsung terucap oleh Nadia dan menghujani Berlin, dan membuat Berlin hanya bisa terdiam tidak berkutik
"Kalau sampai terjadi sesuatu kepadamu, maka ... mereka akan sangat senang dan merasa puas. Namun ... tidak denganku ! tidak juga dengan teman-temanmu !" ujar Nadia dengan kedua mata yang sedikit berkaca-kaca saat mengatakannya.
"Apa kamu ingin meninggalkan ku ?" tanyanya kembali kepada Berlin.
.
"Apa kamu ingin meninggalkan semua teman-temanmu ?" lanjutnya bertanya kembali kepada Berlin.
Saat Nadia mengatakan itu semua kepada Berlin. Ia terus menggenggam kedua tangan milik lelakinya itu yang terasa sangat kuat dan cukup kasar.
Berlin yang merasa terpojok pun langsung memberontak dengan melepas dua genggaman tangan tersebut secara kasar dan mengatakan, "cukup ! Tinggalkan aku sendiri !" ucapnya yang lalu berjalan pergi meninggalkan Nadia dengan semua teman-temannya.
Nadia sempat melihati kedua tangannya yang dengan sengaja dilepaskan oleh Berlin sendiri dengan sangat kasar. Namun itu tidak mematahkan keinginannya untuk mencegah kekasihnya itu dari hal-hal yang sudah ia pikirkan.
"Nadia, tolong ya ...?" mohon Kimmy dan semua teman-temannya dengan ekspresi sangat khawatir kepada Berlin.
"Pasti ...!" sahut Nadia yang lalu tersenyum kepada teman-temannya, dan mulai berlari mengejar Berlin yang berjalan keluar dari lobi rumah sakit.
...
Saat berlari keluar dari lobi rumah sakit, Nadia tidak dapat menemukan Berlin di luar sana. Ia pun segera berlari menuju ke mobil milik Berlin yang terparkir di halaman parkir utama. Jarak antara pintu masuk lobi dan halaman parkir utama cukuplah jauh karena tempatnya yang cukup luas. Namun yang ia temukan hanyalah mobil sedan dua pintu berwarna putih milik Berlin, dan tanpa tanda-tanda keberadaan dari lelakinya.
"Ya ampun, kamu ke mana, Berlin ...?" gumamnya dengan napas terengah-engah karena berlari-lari.
Walau tidak mengetahui keberadaan Berlin saat itu. Nadia pun segera kembali mencari Berlin ke sekeliling area rumah sakit yang cukup ramai. Namun tetap saja ia tidak dapat menemukannya.
Keringat mulai bercucuran di bawah teriknya sinar matahari pada siang hari yang sangat cerah itu. Tetapi, Nadia tetap saja mencari ke mana Berlin berjalan pergi. Ia pun mengambil ponsel miliknya dan mencoba untuk menghubungi lelakinya itu.
"Tolong, angkatlah ...!" gumam Nadia saat mulai menelepon Berlin.
Tut ... Tut ... Tut ...!
Namun tidak ada respon sama sekali dari panggilan suara yang sudah ia coba, bahkan berkali-kali.
"Berlin, kumohon ... jangan gegabah ...!" gumamnya dengan berharap saat menatap ke arah langit yang berwarna biru cerah berawan.
Saat ia memandangi langit yang cerah itu, Nadia tiba-tiba terpikirkan satu hal tentang sebuah tempat. Ia pun segera menuju ke tempat itu, yang juga ada di Rumah Sakit Pusat tersebut.
.
Bersambung.
__ADS_1