Mafioso In Action

Mafioso In Action
Menyesal, Kesalahan Masa Lalu #73


__ADS_3

Pukul 22:00 malam.


Peperangan masih berkecamuk di perbukitan sebelah Barat Laut dari Gedung Balaikota. Di lokasi tersebut terdapat personel gabungan milik Garwig dan Prime yang kembali dihadang oleh para pelaku bersenjata.


Kelompok kejahatan Mafioso memang tampak tak ada habisnya, walaupun sudah cukup banyak dari pihak mereka yang gugur baik dilumpuhkan ataupun terbunuh akibat menyerang dan membahayakan nyawa aparat.


"Terus beri tekanan, dan tetap prioritaskan keselamatan!" teriak Garwig kepada seluruh personelnya. Ia tampak juga ikut menembaki beberapa pelaku bersenjata yang menghadang jalurnya dari balik pepohonan.


"Prime, bisakah kau bersihkan jalur?!" seru Garwig kepada rekannya. Ia harus berteriak karena suasana di sekitarnya sangat kacau dan dipenuhi dengan suara-suara tembakan yang cukup memekakkan telinga.


"Baik, serahkan saja padaku!" sahut Prime yang lalu melakukan tugasnya.


Karena sangat banyak orang-orang bersenjata dari pihak Mafioso yang menghadang, itu membuat Garwig semakin yakin kalau Nicolaus berada di puncak dari bukit itu.


"Br*ngs*k kau Nicolaus! Aku akan menyelesaikan mu!" gusar Garwig tampak sangat kesal dan marah dengan apa yang sudah diperbuat oleh Nicolaus.


.


~


.


"Mereka banyak sekali, bahkan jauh lebih banyak dibandingkan komplotan pria bertopeng tadi," ucap Bobi tertegun berbisik.


"Ya, mereka sudah seperti pasukan perang," sambung Salva berbisik.


Berlin dan kelima rekannya tiba di puncak bukit tersebut. Namun langkah mereka harus kembali terhenti, karena area itu dijaga sangat ketat oleh orang-orang bersenjata lengkap Mafioso. Jumlah mereka pun juga sangatlah banyak, bahkan jauh lebih banyak dari jumlah lawan yang Berlin lawan sebelumnya.


Mengetahui lawan yang begitu banyak. Berlin dan kelima temannya pun memanfaatkan pepohonan dan semak-semak untuk bersembunyi terlebih dahulu.


"Bagaimana?" tanya Aryo bersandar di sebuah batang pohon dan menoleh menatap Berlin yang juga bersandar di pohon sebelahnya.


Namun Berlin hanya diam dan sedikit tertunduk berpikir.


"Galang, bisakah kau mencari posisi untuk memantau? Kita perlu tahu di mana posisi Nicolaus berada," ucap Asep kepada Galang yang berdiri di hadapannya.


"Baik!" jawab Galang yang lalu pergi mencari posisi terbaiknya dengan sangat hati-hati agar tidak ketahuan.


"Bagaimana kabar dari personel gabungan yang dipimpin Garwig? Apa mereka berhasil?" tanya Salva.


"Terakhir yang ku ketahui, mereka terhenti dan harus menangani para pelaku bersenjata di perbukitan sebelah Barat," jawab Aryo.


"Semoga saja mereka berhasil. Karena jika mereka berhasil dan menuju ke puncak ini, kita bisa manfaatkan momen tersebut!" ujar Asep.


"Ya, kita juga bisa menculik satu-persatu dari mereka jika situasinya memungkinkan," sambung Bobi.


"Bagaimana, Bos?" tanya Asep kepada Berlin soal rencana kecil yang telah tersusun itu.


Berlin tampak mengangguk pelan yang berarti setuju dengan rencana tersebut. Namun, dirinya juga harus mempersiapkan rencana lain jika sesuatu yang tidak terduga terjadi.


"Aku tidak bisa melihat di mana dan yang mana si Nicolaus itu, karena mereka terlalu ramai, dan juga ... mereka menggunakan pakaian atau seragam yang sama yaitu berwarna serba hitam," sela Galang melalui radio. Galang mendapatkan posisinya di atas dari sebuah pohon beringin besar. Namun sepertinya itu percuma, karena dirinya tak dapat menemukan dan melihat targetnya dari atas situ.


"Lalu, apakah kita harus menunggu?" tanya Aryo kepada Berlin saat bersandar di sebuah pohon.


"Ya. Mungkin sekarang hanyalah masalah waktu," jawab Berlin.


.


~


.


"Mereka mundur?" tanya Prime ketika orang-orang Mafioso itu berlarian mundur ke arah puncak bukit.


DOR ...!

__ADS_1


Tembakan terdengar dari pelatuk yang ditarik oleh Garwig ke arah pelaku-pelaku yang berusaha melarikan diri. "Lumpuhkan mereka sebanyak yang kau bisa ...!" ucap Garwig dengan nada yang terdengar cukup dingin. Ia menembaki pelaku-pelaku yang berusaha kabur itu tanpa ampun. Namun tembakan-tembakan tetap ditujukan hanya untuk melumpuhkan mereka saja.


Beberapa pelaku yang berhasil dilumpuhkan sempat melakukan perlawanan, bahkan hampir mengancam keselamatan aparat. Alhasil, beberapa pelaku harus tewas di tempat karena melakukan perlawanan yang membahayakan nyawa petugas.


"Periksa dan amankan semua pelaku yang selamat!" titah Garwig kepada seluruh personelnya.


.


"Untuk bagian medis, langsung evakuasi rekan kalian yang terluka!" lanjutnya.


"Baik!" jawab semua personelnya secara serempak.


Para pelaku yang tak terbunuh pun berhasil diamankan oleh para personel militer dan kepolisian milik Garwig.


"Prime, bagaimana perimeter?" tanya Garwig kepada rekannya itu.


"Clear! Para pelaku melarikan diri memasuki hutan dan menuju ke arah puncak bukit ini," jawab Prime.


"Hubungi Prawira untuk menangani daerah sini!" titah Garwig.


"Siap, Pak!" sahut Prime.


Situasi di perbukitan Barat Laut dari Gedung Balaikota telah berhasil dikendalikan oleh personel gabungan dari pihak kepolisian dan militer. Ketenangan kembali terwujud di bawah ribuan bintang dan terangnya bulan yang bersinar di malam ini. Namun, ketegangan dan kengerian masih terasa begitu pekat. Lantaran kelompok kejahatan Mafioso belum sepenuhnya dikalahkan.


Setelah selesai menghubungi Prawira. Prime kembali berjalan mendekati Garwig dan bertanya, "apa rencanamu selanjutnya?"


"Aku akan langsung berhadapan dengan pemimpin mereka ..!" jawab Garwig dengan tenangnya.


"Apa sudah pasti pemimpin mereka ada di sana?" tanya Prime menujuk ke arah puncak bukit atau arah di mana para pelaku melarikan diri.


"Ya, sudah pasti!" sahut Garwig sangat yakin dan serius.


"Apa yang membuat mu begitu yakin?" tanya Prime kembali.


Prime sedikit tertegun, lantaran nama tersebut memang tak asing baginya. "Y-ya," jawab Prime.


"Dia bukanlah orang yang dapat mengendalikan segala sesuatunya dari balik bayangan. Dan aku mengetahui itu sejak ia mengambil satu generasi terakhir milik keluarga besar Gates, yaitu Carlos," Garwig mengatakan demikian seraya sedikit melangkah ke depan membelakangi Prime.


.


"Beruntung Berlin terselamatkan dari hasil perundingan dengan Matrix itu," lanjutnya yang lalu sedikit mengehela napas lega.


"Baik, baik, aku mengetahui soal itu semua," sela Prime mengangguk.


"Lalu apa yang akan kau lakukan ketika berhadapan dengan Nicolaus? Kau tak ingin mengulangi kesalahan yang sama, 'kan?" lanjut Prime.


Pertanyaan terakhir Prime cukup menusuk hati Garwig, dan membuatnya tersadar akan kesalahannya di masa lalu. "Aku tidak ingin mengulanginya lagi, kesalahan yang sama. Maka dari itu, aku akan menyelesaikannya ...!" ujar Garwig berbalik ke arah Prime dengan tatapan tajam dan sikap yang dingin.


"Walaupun dahulu aku sempat membiarkannya begitu saja. Tetapi sekarang aku tidak akan membiarkan dia berbuat lebih jauh dari ini ...!" lanjutnya dengan sangat tegas.


***


Kilas balik: Garwig Gates, 12 tahun yang lalu.


Lokasi: Kediaman Gates.


"Apa yang harus kita lakukan?!"


"Kita serahkan saja Berlin dan Carlos ke Matrix biar semuanya cepat selesai!"


"Ya! Jika kita menuruti mereka, posisi kita dalam instansi pemerintahan akan aman!"


Semua anggota keluarga besar tampak sedang sangat ribut dan kacau. Mereka berdebat satu sama lain di depan Garwig persis yang sedang duduk di sofa, dan meminta Garwig untuk menuruti apa yang diminta oleh Keluarga Matrix.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Garwig mengernyitkan dahinya kepada Prawira yang berdiri di sampingnya.

__ADS_1


"Keputusanmu adalah mutlak. Tetapi aku sedikit tidak terima jika harus menyerahkan Berlin kepada pihak mereka," jawab Prawira cukup berbisik kepada Garwig yang duduk di sofa.


Pandangan Garwig tiba-tiba saja langsung tertuju kepada seorang anak laki-laki bernama Berlin yang sedang bermain bola dengan Carlos dan anak-anak lainnya di halaman samping rumah. Anak berusia 10 tahun itu tampak sangat tidak mengetahui apa-apa. Yang dia tahu hanyalah senang bermain-main bersama teman-temannya. Bahkan dia juga mengajak bermain Carlos anak yang lebih muda darinya dan sering menganggapnya sebagai rival atau saingan.


"Firasatku mengatakan akan terjadi hal yang sangat-sangat buruk jika kita menyerahkan mereka berdua kepada pihak Matrix," gumam Garwig dengan pandangan terus saja memandangi Berlin yang masih asik bermain bola dengan teman-teman sebayanya.


"Apakah kita menyerahkan anak yang tidak berdosa demi jabatan semata?" tanya Garwig menatap Prawira.


"Aku sendiri tidak menyangka bahwa pihak mereka menginginkan hal tersebut, yang tentunya aku sangat tidak setuju ...!" sahut Prawira seraya mengepalkan tangannya yang menunjukkan kalau dirinya kesal.


Prawira tertegun dan merasa sangat sedih dengan hal tersebut. Di sisi lain dirinya dibuat sangat geram dengan Nicolaus pemimpin dari Keluarga Matrix yang terus mendesak dan mengancam kedaulatan.


"Jika kita tidak menuruti pihak mereka, mungkin mereka akan menyerang kota ini," gumam Garwig yang dibuat pusing dengan permasalahan tersebut.


.


"Mungkin aku akan sedikit menurutinya," lanjutnya.


***


Garwig Gates, 12 tahun kemudian.


"Aku menyesal ...! Aku tidak akan menurutimu lagi, Nicolaus ..! Aku tidak akan terkena tipu muslihat mu lagi! Dan aku ... tidak akan mengulangi kesalahan masa lalu itu ...!" batin Garwig.


"Apa perintahmu selanjutnya? Aku siap menerimanya!" sela Prime tiba-tiba menyadarkan Garwig dari lamunannya.


Garwig tersenyum tipis dan sedikit mengangguk. "Apa anggotamu masih sanggup?" tanyanya kepada Prime.


"Sebelumnya aku 'kan sudah bilang, apapun akan kami lakukan demi menjaga agar kekacauan ini tidak tersebar luas ke pusat kota. Sekarang tinggal perintahnya saja," sahut Prime langsung menyanggah pertanyaan tersebut.


Garwig merasa senang mendengar jawaban tersebut. "Kirimkan beberapa orangmu ke sana untuk memantau keadaan dan situasi, setelah itu ... kita akan melakukan serangan balik terhadap mereka ...!" Garwig langsung memberikan perintah serta arahannya kepada Prime.


"Ten-Four, komandan!" sahut Prime yang lalu berlari ke arah anggotanya berkumpul dan segera mengkoordinasikan perintah tersebut.


"Berlin, aku tahu kau sudah ada di sana. Tunggulah sebentar, meskipun aku tahu mungkin kau tidak akan menunggu," batin Garwig berbalik dan memandang ke arah bulan yang terang benderang di langit.


.


~


.


"Apa sudah ada pertanda dari personel gabungan?" tanya Berlin kepada Galang yang memantau di atas pohon melalui radio.


"Belum," jawab Galang.


Semua rencana sudah Berlin susun secara rapi dan cukup matang bersama kelima temannya. Namun dirinya hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk masuk serta menjalankan rencana tersebut.


"Mengapa belum ada tanda-tanda?" batin Berlin bertanya-tanya. Timbul sedikit rasa kekhawatiran dalam hatinya.


"Bos, apakah itu seragam taktis?" cetus Salva menujuk ke sebuah lokasi di lereng bukit seberangnya.


"Galang, kau bisa melihat yang itu? Arah jam 11 di lereng perbukitan," ujar Salva kemudian kepada Galang melalui radio.


"Oh, ya! Aku melihatnya! Dapat dipastikan itu dari personel gabungan!" sahut Galang.


Terdapat hanya lima anggota atau aparat berseragam taktis hitam yang terpantau oleh Berlin dan teman-temannya.


"Baiklah, kita harus bersiap! Mungkin waktu kita untuk beraksi akan tiba sesaat lagi," ucap Berlin kepada semua teman-temannya. Ia dan kelima rekannya itu kembali memeriksa persenjataan dan amunisi mereka masing-masing, serta tampak sangat siap.


"Kita akan beri kejutan kepada orang-orang Mafioso itu dari belakang ...!" lanjut Berlin yang lalu tersenyum sinis. Senyuman itu tampak begitu kejam, seolah senyuman itu menunjukkan kalau dirinya sedang haus darah.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2