Mafioso In Action

Mafioso In Action
Tiba-tiba Risau #96


__ADS_3

Pukul 19:00 malam.


Penjara Federal.


"Gunakan saja fasilitas medis di sini untuk merawat dua orang itu!" pinta Garwig kepada beberapa sipir penjara di sana.


Dua pria yang sebelumnya mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit pelabuhan. Kini dirujuk serta dipindahkan langsung ke Federal sesuai dengan perintah Garwig sendiri.


"Aku sudah memeriksa barang bawaan mereka, dan mereka membawa dua senjata api," ucap Prawira menghampiri dan berdiri di sebelah Garwig.


"Apa kau sudah cek data diri tentang mereka berdua?" tanya Garwig.


"Sudah, dan mereka adalah warga kita," jawab Prawira.


"Bagaimana? Apa yang selanjutnya akan kau lakukan?" lanjut Prawira bertanya dengan terus saja berdiri di sebelah Garwig.


"Aku akan mengintrogasi mereka sampai mendapatkan informasi yang penting," sahut Garwig lalu berjalan melewati lorong Federal menuju ke ruang khusus perawatan yang ada di sana. Sedangkan Prawira sempat berdiri sejenak di sana, namun kemudian berjalan menyusul Garwig.


Ketika Prawira berjalan melewati area jeruji besi yang penuh dengan para narapidana di sana. Terdapat satu narapidana yang tampak sangat tidak asing bagi Prawira. Satu narapidana tersebut melihat Prawira yang berjalan melewati selnya, namun Prawira tak menggubrisnya.


.


~


.


Pukul 19:30 malam.


Bengkel Ashgard.


Berlin kembali menyambangi bengkel pribadinya dan lagi-lagi ia tak membawa Nadia untuk menemani bersamanya. Pada bengkel tersebut tampak hanya beberapa temannya saja yang hadir di sana.


"Malam, bos. Tidak bersama Nadia?" sapa Asep menyambut kedatangan Berlin di sana.


"Dia sedang sibuk," jawab singkat Berlin lalu berjalan melewati Asep menuju ke ruang tengah.


"Bos, ada sesuatu yang harus kau ketahui!" cetus Kimmy berjalan menghampiri dan menghentikan langkah Berlin untuk menaiki anak tangga yang ada di sana.


"Seberapa penting?" tanya Berlin menatap tajam Kimmy di hadapannya.


"Mungkin akan menjadi sangat penting, karena menurutku ini cukup menarik," sela Asep berjalan menghampiri mereka berdua.


Selain mereka berdua, di sana juga ada Adam yang berjalan menghampiri Berlin dengan ekspresi seriusnya. Melihat ekspresi serius dari ketiga rekannya itu, Berlin pun berkata, "baiklah, apa itu?" ucapnya.


Asep pun kemudian membawa Berlin bersama kedua rekannya menuju ke ruangannya.


...


Sesampainya di ruang kerjanya. Tanpa basa-basi Asep langsung menunjukkan soal pulau itu kepada Berlin, diikuti dengan Kimmy yang juga memberitahu tentang asal informasi tersebut.


Berlin tampak terpaku sejenak ketika melihat perbedaan antara kedua versi peta yang ditampilkan pada layar monitor itu. Dirinya juga cukup terkejut ketika melihat keberadaan pulau tersebut.


"Koordinat pulau itu kami dapat dari Prawira, dia yang mengirimkannya langsung kepadaku melalui pesan singkat," ucap Kimmy menunjukkan ponselnya.


Berlin membaca pesan singkat tersebut, dan dirinya tambah dibuat terkejut ketika membaca beberapa pesan di atasnya. "Kami juga baru saja menangkap dua orang berpakaian serba putih yang mungkin saja bagian dari mereka, karena mereka secara ilegal melalui perbatasan," isi pesan yang cukup membuat Berlin terkejut.

__ADS_1


"Serba putih?" gumam Berlin tampak berpikir dengan satu tangan menopang dagunya.


"Clone Nostra? Apa yang mereka lakukan di laut sana?" gumam Asep juga bertanya-tanya.


"Apakah pulau itu milik mereka?" cetus Adam yang lalu membuat ketiga rekannya menatap dengan tatapan penuh tanya atas asumsinya.


"Mereka menguasai perdagangan gelap di kota ini, dan wilayah laut tersebut adalah perlintasan kapal dagang internasional. Jadi menurutku ... wajar jika mereka mondar-mandir di sana, atau bahkan ... menguasai pulau tersebut," Adam langsung memberikan alasannya mengapa dirinya mengambil asumsi tersebut.


"Aku harap ... dua orang yang ditangkap Prawira bukanlah bagian dari Clone Nostra. Karena ... jika mereka bagian dari Clone Nostra, maka ... yang ku takutkan ... mereka tak terima dan tak tinggal diam begitu saja setelah mengetahui orang mereka ditangkap," ucap Berlin tampak mengkhawatirkan hal tersebut.


.


~


.


Pukul 20:20 malam.


Kediaman Berlin.


Kompleks perumahan di daerah kediaman Berlin tampak sangatlah sepi, tidak terdapat aktivitas orang-orang sama sekali. Malam hari ini sangatlah cerah, bahkan terdapat ruang bagi bulan untuk bersinar seterang-terangnya ditemani oleh bintang-bintang di sekelilingnya.


"Apa kau yakin kita akan melakukannya?" cetus seorang pria dengan jaket putih kepada rekannya yang juga mengenakan jaket yang sama. Setelah bertanya kepada rekannya, pandangannya tertuju ke gerbang dari sebuah rumah modern yang cukup mewah.


"Ya, sesuai dengan kemauan bos, dan pas sekali pemilik rumah sedang pergi, dan hanya dia pergi sendiri," jawab rekannya.


"Memangnya gadis yang katanya calon dari orang yang menjadi target bos itu ada di rumah ini? Apa kau yakin?" tanya pria itu kembali.


"Mungkin saja dia ada di dalam," jawab rekannya yang lalu berjalan mendekati gerbang hitam pada rumah tersebut.


"Sepertinya ... tidak mudah untuk kita masuk begitu saja," ucap pria itu ketika ingin memanjat pintu gerbang.


"Orang yang bernama Berlin itu menurutku sangat waspada dan berhati-hati, rumahnya saja menggunakan keamanan tingkat tinggi," celetuk rekan pria tersebut lalu memandangi sudut-sudut dari gerbang dan dinding yang ada di sana.


Kedua pria itu lalu mengenakan perlengkapan mereka seperti sarung tangan dan kacamata hitam. Tampaknya mereka tidak ingin identitas mereka diketahui.


"Jika kita salah melangkah, maka identitas kita bisa dengan mudah ditemukan dan dilacak. Jaga matamu, jaga tangan, dan jaga kakimu, jangan sampai meninggalkan jejak bahkan jejak sekecil sidik jari!"


Mereka berdua pun mencoba untuk menerobos masuk secara perlahan melalui gerbang itu. Mereka tampak begitu profesional dan berhati-hati agar tidak memicu alarm keamanan berbunyi.


"Kita datang bukan untuk membunuh gadis itu, 'kan?" bisik pria itu kembali bertanya kepada rekannya ketika mereka berhasil masuk melewati gerbang dan kini berada di halaman.


"Membunuh? Kau gila, ya? Jika kita melakukannya, kita yang dibunuh oleh bos!" sahut rekannya berbisik.


Dua pria itu terus berjalan perlahan dengan mata celingukan ke sana ke mari tanpa henti. Mereka tampak sangat waspada dan berhati-hati, ditambah lagi rintangan mereka untuk melewati halaman bertambah berat. Pada halaman tersebut terdapat beberapa kamera pengawas, kamera infrared, alat pendeteksi gerak, dan berbagai macam sensor keamanan.


"Aku akan cek halaman belakang terlebih dahulu, kau tunggu sini!" pinta pria itu kepada rekannya yang akan menunggu tepat di area teras rumah.


.


~


.


Di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda. Berlin tampak cukup risau mondar-mandir ke sana dan ke mari di atap bengkelnya. Beberapa kali dirinya berusaha tenang dengan memandang langit malam di atas sana dan menghirup udara malam. Namun cara itu sepertinya tidak bisa.

__ADS_1


"Kenapa perasaanku jadi tidak enak seperti ini?" gumamnya menghentikan langkahnya dan menatap langit.


Ia pun mengeluarkan ponselnya dan segera ingin memastikan sesuatu yang sangat ingin ia pastikan sedari tadi.


Tuutt ... Tuutt ... Tuutt ...!


Dengung ponsel berbunyi sedang menghubungi seseorang.


"Kamu ada di mana?" cetus Berlin langsung bertanya ketika teleponnya dijawab.


"Kan aku ada di rumah sesuai dengan keinginan mu, dan sama sekali tidak keluar," jawab seorang wanita yang tak lain dan tak bukan adalah Nadia.


"Oh yasudah, aku ... hanya ... ingin memastikan saja," ucap Berlin sedikit menunduk.


"Ada apa? Nada bicaramu seperti sedang mengkhawatirkan sesuatu. Kamu mengkhawatirkan ku, ya?" cetus Nadia langsung dapat memahami Berlin melalui cara ia berbicara.


"Ti-tidak, hanya saja ... entah mengapa ... tiba-tiba perasaanku tidak enak, dan yang ada di pikiranku hanya kamu," jawab Berlin cukup tersipu ketika mengatakannya, namun dirinya beruntung karena Nadia tidak dapat menyaksikan ekspresi wajahnya kala ini.


Nadia tertawa kecil dan berkata, "aku baik-baik saja, sayang. Lagian 'kan aku ada di rumah, jadi kamu tidak perlu khawatir."


"Yang justru seharusnya khawatir itu aku," lanjutnya Nadia yang lalu tersenyum di balik teleponnya.


"Dan untuk soal perasaanmu itu, mungkin saja kamu terlalu deg-degan atau sedang banyak pikiran. Apalagi ... kita ... semakin mendekati ... hari H," lanjut Nadia kembali dan cukup tersipu ketika mengatakan kalimat akhirnya, namun beruntung bagi dirinya karena Berlin tak bisa melihat wajahnya yang memerah saat ini.


"Iya, mungkin kamu benar ... aku sedang banyak pikiran," sahut Berlin.


"Ya sudah, kalau begitu kamu jangan terlalu malam pulangnya! Jangan memaksakan diri, dan pulang untuk istirahat!" seru Nadia dengan nada cukup meninggi untuk menasihati lelakinya itu.


"Iya, sayang. Setelah ini aku akan segera pulang," jawab Berlin dengan nada yang langsung merendah.


Setelah itu Berlin pun mengakhiri panggilan suaranya dengan perasaan lega. Namun di sisi lain dirinya merasa kalau masih ada yang mengganjal.


"Kurasa ... tidak baik lama-lama terkena udara malam," gumam Berlin yang lalu berjalan masuk menuruni tangga menuju ke ruangannya. Dirinya masih berusaha untuk berpikir tentang apa hal yang membuatnya cukup gelisah saat ini.


.


~


.


Pukul 20:55 malam.


Kediaman Berlin.


"Sepertinya tidak ada orang sama sekali, sudah ku cek sampai ke halaman belakang, dan lampu di dalam rumah ini juga gelap tidak dinyalakan." Pria yang sebelumnya pergi ke halaman belakang pun kembali menemui rekannya yang menunggu di area teras.


"Kenapa kosong ya? Bukankah seharusnya gadis itu ada di rumah ini? Lalu buat apa kita capek-capek menerobos masuk?" gerutu rekan pria itu yang tampak kesal.


"Sudahlah, tinggalkan pesan peringatan sesuai rencana pertama dari bos saja, setelah itu kita segera pergi!" lanjut rekan pria itu.


Sebuah pesan atau surat pun mereka tinggalkan tepat di atas karpet teras dari rumah tersebut. Setelah itu mereka segera pergi meninggalkan area rumah itu dengan tangan hampa.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2