Mafioso In Action

Mafioso In Action
Persiapan #58


__ADS_3

Pukul 10:00 pagi hari.


Rumah Sakit Kota.


Di keesokan harinya, Berlin kembali menjenguk temannya yaitu Adam yang masih menjalani rawat inap di rumah sakit. Ia menjenguk sekaligus ingin memberitahu sahabatnya itu soal penawaran tim pengintai.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Berlin duduk di sebuah kursi tepat di samping ranjang milik Adam.


"Sudah baikan," jawab Adam cukup berseri-seri daripada sebelumnya.


"Um, aku tunggu di luar, ya?" sela Sasha yang lalu berjalan keluar kamar.


"Tunggu!" sahut Berlin dan membuat Sasha menghentikan langkah kakinya.


.


"Tidak perlu keluar, karena ada yang ingin aku bicarakan," lanjutnya.


"Baiklah," jawab Sasha kembali dan duduk di sebuah sofa pinggir ruangan.


"Bicara soal apa ?" tanya Adam memposisikan dirinya untuk duduk di atas ranjangnya.


Berlin bersandar santai di kursi yang ditempatinya, dan tanpa basa-basi langsung membicarakan apa yang ingin ia bicarakan kepada kedua temannya itu.


"Kau sudah tahu soal hubungan perkumpulan kita dengan kepolisian setelah ku hadiri pertemuan terakhir di kantor pusat ?" tanya Berlin kepada Adam.


"Ya, aku sudah tahu," jawab Adam.


"Kemarin, Prawira memberiku tawaran kerjasama dengan pihaknya untuk melakukan rencana penyergapan Mafioso yang dipunyai olehnya," ucap Berlin.


"Dia memberiku tawaran untuk bergabung menjadi tim pengintai, terlebih lagi ... kita memiliki cukup informasi soal Bukit Sunyi, tempat di mana mereka berada."


"Lalu ?" cetus Adam terlihat sangat mendengarkan semua yang diucap Berlin.


"Aku menerima tawaran itu, dan teman-teman yang lain juga setuju," sahut Berlin.


.


"Bagaimana menurutmu ?" lanjutnya.


"Semua keputusan ada di dirimu, Berlin. Apapun keputusan yang kau ambil, teman-teman pasti selalu mengusahakan untuk mengikuti keputusanmu," ujar Adam terlihat seperti sedang menasihati Berlin.


Berlin memang hampir selalu meminta tanggapan Adam di setiap dirinya menyimpan rasa ragu dalam mengambil keputusan. Hal itu sudah sering ia lakukan selama dirinya berteman baik dengan Adam. Di sisi lain, Adam lima tahun lebih tua dari Berlin yang masih 22 tahun. Dan menurutnya, Adam yang paling dewasa di bandingkan teman-temannya yang lain.


"Aku sendiri tidak masalah jika keputusanmu seperti itu, dan ku harap ... aku bisa bergabung bersama kalian di sana," ucap Adam kembali dengan sedikit tertunduk dan melihat tangan kanan dan kaki kirinya yang masih terbalut perban.


"Aku akan ikut !" sela Sasha tiba-tiba bersemangat.


.


"Dan aku akan mencoba untuk menggantikan posisi Adam untuk sementara waktu," lanjutnya dengan sedikit tertunduk menyimpan keraguan untuk itu.


"Berlin, berhati-hatilah jika nanti kau harus menghadapi Carlos. Karena kau akan menghadapi dirimu yang lain pada diri saudaramu itu," ucap Adam dengan sangat serius.


.


"Dan berhati-hatilah, jangan sampai dirimu kenapa-napa, karena teman-teman akan kacau jika kau kenapa-napa nantinya," lanjutnya.


Berlin sangat paham dengan apa yang dikatakan Adam kepadanya. Perannya sebagai pemimpin memang sangat penting bagi teman-teman atau kelompoknya. Jika dirinya jatuh, maka teman-temannya bisa kacau karena kehilangan sosok pemimpin mereka.


Di sisi lain, walau Berlin belum begitu mengerti soal apa yang dimaksud dengan "menghadapi diri sendiri" yang diucap oleh Adam. Namun dirinya akan berusaha untuk menghadapi hal itu nantinya.


.


~


.


Pukul 12:00 siang hari.


Halaman Belakang Kantor Polisi Pusat.


Berlin ditemani oleh Nadia menemui Prawira dan Garwig di halaman belakang dari kantor polisi. James juga hadir di sana dengan terlihat sangat senang dengan kedatangan Berlin.


"Bagaimana ?" cetus Prawira setelah selesai berjabat tangan dengan Berlin dan juga Nadia.


"Aku menerima tawaranmu," jawab Berlin.


"Kau sudah yakin dan memikirkannya ?" tanya Garwig meyakinkan Berlin.


"Sudah," jawab Berlin kembali. "Aku pribadi juga tidak terima begitu saja terhadap semua perbuatan yang sudah mereka lakukan," lanjutnya.


.


"Teman-teman juga menyetujuinya untuk bekerjasama dengan kalian, selama bayaran tidak berubah atau bahkan jika bisa ditambah," lanjutnya kembali.

__ADS_1


Garwig terkekeh ketika mendengar soal bayaran yang dikatakan oleh Berlin. "Tenang, semua data diri dan catatan kejahatan kalian semua akan kami hapus," ucapnya.


"Apakah dari anggota cuma hanya James ?" cetus Berlin mempertanyakan personil tim pengintai.


"Memang tidak ada anggota polisi lain gitu ?!" sambung Nadia dengan nada membentak dan terlihat cukup kesal kepada Prawira dan juga Garwig. Pertanyaan itu akhirnya terlontar dari mulut Nadia setelah terpendam semalaman di benaknya.


Prawira dan Garwig langsung dapat memahami apa yang membuat Nadia bisa menjadi cukup kesal seperti itu. "Soal itu ... biasanya diambil alih oleh divisi milik Prime, namun mereka aku fokuskan untuk barisan terdepan penyergapan," jawab Garwig.


Nadia tidak bisa membantah lagi setelah mendengar jawaban langsung dari Garwig. Walau dirinya bukan lagi sebagai anggota polisi yang dipimpin oleh Garwig dan Prawira. Namun dirinya tetap saja masih menyimpan rasa takut dan sungkan tersendiri untuk berhadapan langsung dengan kedua atasannya itu.


"Baiklah, berapa jumlah kalian ?" ucap Prawira menanyakan soal teman-teman Berlin.


"13 orang termasuk aku," jawab Berlin.


"Nanti malam silakan datang kembali ke sini untuk langsung berangkat ke lokasi sasaran, semua perlengkapan akan ku persiapkan untuk kalian," ucap Prawira.


Mendengar hal tersebut. Berlin sendiri sedikit terkejut saat mengetahui kalau dirinya akan memulai tugas dari tim pengintai malam ini. Namun dalam benaknya mengatakan, "lebih cepat lebih baik," dan tidak begitu masalah bagi dirinya dan juga teman-temannya.


Tetapi kelihatannya sedikit menjadi masalah bagi Nadia. "Malam ini ?" cetus Nadia.


"Ya, seharusnya tim pengintai mulai melakukan tugasnya dari malam kemarin," jawab Garwig.


Nadia rasanya ingin membantah perkataan Garwig dan perintahnya. Namun dirinya tidak bisa melakukan itu. Dirinya lebih memilih untuk diam. Walau begitu, Berlin sudah bisa menyadari apa yang sedang dirasakan oleh kekasihnya itu.


"Apakah aku boleh tahu rencana kalian kedepannya ?" tanya Berlin mengalihkan pembicaraan dari Nadia.


Prawira pun langsung memberitahukan Berlin tentang rencana penyergapan yang akan dilakukan esok harinya, oleh beberapa tim dari kepolisian yang sudah terbagi-bagi.


Di malam hari ini nanti. Prawira berencana untuk mengirimkan tim pengintai terlebih dahulu untuk mengetahui situasi dan keadaan di area Bukit Sunyi. Setelah itu, esok harinya Garwig akan mengambil perannya dengan menggerakkan semua anggotanya untuk mengepung tempat itu dan melakukan aksi penyergapan.


Namun, itu semua masih rencana dan ekspektasi belaka, dan tentunya akan berbeda saat terealisasikan. Meski begitu, mereka tentu berharap semua rencananya berjalan dengan lancar.


"Oh iya, ini sebagai uang muka untuk kalian, sisanya akan diproses setelah misi kalian selesai," cetus Garwig memberikan sebuah koper yang penuh dengan uang tunai kepada Berlin.


Setelah Berlin menerima koper tersebut. Prawira mengatakan, "kami tunggu kalian di kantor polisi Shandy Shell pukul delapan malam."


.


15 menit kemudian.


.


Tak lama kemudian, perbicangan mereka pun harus segera berakhir. Karena Berlin harus segera kembali untuk mempersiapkan teman-temannya, dan berangkat di malam harinya.


"Ya ?" sahut Nadia.


"Jika kau mau, aku ingin kau bergabung bersama Netty di regu pemasok, sepertinya dia sangat membutuhkan bantuan mu di sana," ucap Prawira.


Nadia tertegun dan diam sejenak. Dirinya berpikir, memikirkan hal apa yang mungkin bisa membantu Berlin yang berada di tim pengintai.


Di tengah Nadia sedang berpikir. Prawira tiba-tiba tertawa kecil dan berkata, "kau boleh menolaknya, sih. Aku lupa kau bukan anggotaku lagi," ucapnya sedikit menaruh rasa kecewa.


"Walau aku bukan lagi anggotamu, tetapi kau tidak melupakan ku 'kan, Paman ?" sahut Nadia yang membuat hati Prawira cukup tersentuh.


Prawira benar-benar tak bisa berkata apa-apa ketika mendengar panggilan yang diberikan oleh Nadia kepadanya. Panggilan yang sudah lama sekali tak ia dengar terlontar dari mulut kecil Nadia kepadanya.


"Dengan senang hati aku akan menerimanya, dan aku akan berusaha yang terbaik," jawab Nadia menjawab permintaan bantuan Prawira kepadanya.


.


"Aku siap menerima komando kembali darimu, Pak !" lanjutnya dengan tegas memberikan hormat selayaknya anggota polisi di hadapan Prawira. Semangatnya benar-benar tertampak dengan sangat jelas, dan baru kali ini Berlin melihat sikap Nadia yang tampak begitu tegas.


Sepertinya tidak hanya Berlin yang mendapatkan tugas dari Prawira. Namun Nadia juga dimintai bantuan atau diberikan tugas oleh Prawira untuk membantu Netty di bagian tim pemasokan. Walaupun Nadia bukan lagi sebagai anggota polisi, namun Prawira masih saja memberikan kepercayaannya kepada Nadia.


Nadia sebenarnya bisa saja dengan mudah menolak, tetapi dirinya lebih memilih menerima tugas tersebut, dan mungkin bisa membantu Berlin nantinya.


.


~


.


Pukul 16:00 sore hari.


Bengkel Pribadi Ashgard.


Setelah bertemu dan cukup berbincang dengan Prawira dan juga Garwig. Berlin bersama Nadia pun segera berkumpul kembali bersama teman-temannya di bengkel pribadi miliknya. Tampak semua temannya sudah sangat siap menerima misi atau tugas mereka, termasuk Sasha yang juga datang untuk bergabung.


Berlin sendiri sudah berkoordinasi langsung dengan James soal siapa yang akan memegang kendali penuh tim pengintai. Dan kini James sedang bersiap di Kantor Polisi Pusat.


"Semua perlengkapan sudah siap, Bos!" cetus Kimmy menyambut kedatangan Berlin dan Nadia.


"Kita berangkat jam berapa, Bos?" cetus beberapa temannya yang tampak begitu bersemangat.


"Pukul delapan malam nanti kita merapat ke kantor polisi Shandy Shell untuk pengarahan, setelah itu kita berangkat menuju Bukit Sunyi melewati Utara," jawab Berlin ketika baru saja turun dari mobilnya dan berjalan menuju sofa-sofa di ruang tengah bersama Nadia.

__ADS_1


"Sudah lama sekali kita tidak mendapatkan misi penting seperti ini," celetuk Aryo seraya menyandarkan dirinya di atas sofa.


"Rencana apa yang akan kita gunakan, Bos?" tanya Asep kepada Berlin.


Berlin diam sejenak sembari memandang kepada Nadia yang duduk di sofa dengan ekspresi muram. Dirinya benar-benar mengerti apa yang memenuhi pikiran kekasihnya saat ini.


"Akan aku beritahu nanti," jawab Berlin menjawab pertanyaan Asep.


Setelah menjawab pertanyaan itu. Berlin langsung mengajak Nadia untuk pergi ke ruangan pribadinya. "Aku ingin berbicara denganmu," ucap Berlin mengulurkan tangannya di hadapan Nadia yang tampak sedikit tertunduk lesu.


Tanpa mengucap sepatah katapun, Nadia meraih tangan tersebut dan mulai berjalan mengikuti Berlin.


"Kalian bersantai sejenak saja dahulu, kita masih punya waktu," seru Berlin ketika berjalan menaiki tangga kepada teman-temannya yang berkumpul di ruang tengah.


"Oke, Bos!" sahut mereka semua.


.


"Silakan ambil waktumu, Bos!" cetus Kimmy memandang Berlin bersama Nadia menaiki anak tangga.


~


Nadia masuk ke ruangan milik Berlin, dan duduk di sofa yang ada. Dinginnya ruangan ber-AC dapat ia rasakan. Namun, itu tak mengubah suasana hatinya yang masih saja muram.


"Aku tahu apa yang membuatmu gelisah," ucap Berlin perlahan mendekati Nadia yang hanya diam duduk di sofa dan tertunduk. Ia pun ikut duduk di samping Nadia, dan kembali mencoba untuk meyakinkannya.


"Se-sebenarnya ... aku ... ingin kamu menolak tawaran itu," ucap Nadia dengan air mata yang tiba-tiba menetes tanpa disadari oleh dirinya.


Berlin sangat mengerti mengapa Nadia menginginkan begitu. Namun untuk kali ini ia tidak bisa mengabulkan keinginan tersebut, karena dirinya ingin bisa segera menyelesaikan semua masalahnya.


"Maaf, aku ... minta maaf ... kalau selama ini ... aku hanya menjadi penghambatmu," celetuk Nadia tertunduk dan tiba-tiba menangis dengan sendirinya seraya menggenggam erat sebuah kalung yang melingkar di lehernya.


Berlin sempat bingung dengan apa yang dikatakan oleh Nadia. Karena selama ini dirinya tidak pernah menganggap Nadia seperti itu.


"Aku sama sekali tidak pernah menganggap mu seperti itu," sahut Berlin membantah ucapan Nadia seraya menggenggam tangan milik kekasihnya yang tengah memegang kalungnya. "Jangan dirusak kalungnya, nanti aku sedih, loh," lanjutnya ketika menggenggam tangan Nadia yang tengah memegang kalung.


"Terima kasih sudah memikirkan dan mencemaskan diriku," cetus Berlin meraih kedua tangan milik Nadia dan menatap dengan cukup dekat kedua mata milik Nadia. Senyuman tulus juga diberikan ketika dirinya beradu pandang dengan Nadia.


Nadia cukup terkejut ketika Berlin tiba-tiba menatapnya dengan sangat dekat. Pandangan dan senyuman Berlin benar-benar memiliki aura yang hangat dan menyenangkan, itu cukup membuat cair suasana hatinya. Dirinya tak pernah bosan memandang lelakinya itu.


"Aku ingin kamu percaya kepadaku, dan ... aku benar-benar meminta dukungan mu," ujar Berlin benar-benar memohon.


"Aku menerima tawaran Prawira dan bergabung dengan pihaknya, karena ... aku sangat ingin segera menyelesaikan semua masalah ini. Aku tak bisa tinggal diam begitu saja dengan terus melihatmu ketakutan ketika mendapatkan banyak teror dari mereka, dan ... aku juga tak bisa tinggal diam begitu saja setelah melihat temanku terluka akibat ulah mereka."


"Semua kasus yang mereka buat tak hanya mengancam orang-orang terdekatku, tetapi juga semua orang di kota ini. Aku tidak ingin kesenangan dan keceriaan semua orang, termasuk anak-anak di kota ini ... berubah menjadi ketakutan dan trauma."


Berlin mengatakan itu semua secara spontan dan tanpa berpikir panjang. Karena yang terlintas di pikirannya hanya itu. Bahkan dirinya sendiri tak sadar berbicara seperti itu.


"Maaf, aku bukan bermaksud memarahimu," ucap Berlin setelah selesai berbicara banyak.


"Iya, aku mengerti," sahut Nadia kembali tertunduk. Tentu dirinya masih cemas terhadap apa yang akan dilakukan Berlin nantinya, dan itu selalu berputar di kepalanya.


Walaupun Nadia dapat melihat dengan jelas perubahan dari Berlin yang sesuai dengan harapannya, yaitu berubah untuk menjadi lebih baik lagi. Namun, hatinya bertanya-tanya, "apakah harus seperti ini prosesnya?"


"Tetapi tetap saja, aku khawatir jika terjadi sesuatu nanti, karena aku tahu ... pasti di sana sangat berbahaya. Tetapi, apakah tidak ada cara lain?" ucap Nadia tertunduk dan sedikit terisak, seraya mengusap air mata yang sempat membasahi pipinya.


DEG.


Nadia dibuat sangat terkejut ketika Berlin secara tiba-tiba memeluk dirinya. Jantungnya dibuat berdebar sangat kencang secara sekejap.


"Be-berlin ...," gumam Nadia spontan ketika mendapat pelukan hangat itu. Ruangan yang awalnya cukup dingin, tiba-tiba berubah menjadi cukup hangat dan nyaman baginya.


"Kamu percaya padaku, 'kan?" cetus Berlin seraya membelai lembut Nadia di pelukannya.


.


"Kurangi pikiranmu yang berlebihan itu, dan yakinlah ... semuanya akan baik-baik saja," lanjutnya.


"Tetap saja, rasanya itu sulit bagiku, apalagi ... aku sangat tahu sifatmu yang suka gegabah itu," celetuk Nadia sedikit mendongakkan kepalanya untuk memandang wajah Berlin.


"Hehehe," mendengar apa yang dikatakan oleh Nadia cukup membuat Berlin tertawa kecil. "Aku janji tidak akan gegabah seperti orang bodoh," ucap Berlin mengelus perlahan kepala milik Nadia seraya menatap matanya dan perlahan melepaskan pelukannya.


Nadia menghela napas cukup berat. Rasa cemasnya sudah cukup berkurang setelah dirinya mendengar semua perkataan Berlin. Namun tetap saja, kecemasan atau kekhawatiran itu masih ada.


"Kamu tidak lupa dengan tugas yang diberikan Prawira, 'kan?" cetus Berlin menyadarkan Nadia yang terlihat melamun tiba-tiba.


"Ng-nggak, kok. Aku akan bergabung bersama Netty untuk menangani bagian pasokan," sahut Nadia tersadar dari lamunannya dan masih tampak lesu.


"Semangat, dong! Berarti kita kan sama-sama berjuang!" seru Berlin dengan semangatnya dan tersenyum lebar di hadapan Nadia.


"He'em," gumam Nadia mengangguk lalu tersenyum manis kepada Berlin, dan mengepalkan satu tangannya untuk menujukkan kalau dirinya juga semangat seperti lelakinya itu.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2