Mafioso In Action

Mafioso In Action
Rumit #91


__ADS_3

...


Pukul 20:20 malam.


Setelah selesai berbicara dengan ketiga temannya. Mereka bertiga pun segera pergi dari ruangan milik Berlin. Namun ketika Kimmy ingin menyusul kedua temannya untuk keluar ruangan, langkahnya justru dihentikan oleh Berlin yang menyuruhnya untuk tetap berada di ruangannya sebentar.


"Kimmy, bisakah aku berbicara denganmu sebentar?" ucap Berlin menghentikan langkah Kimmy yang hendak berjalan keluar ruangan.


Kimmy pun menghentikan langkahnya, berbalik badan dan menjawab, "baik, Bos."


"Duduklah, aku ingin membicarakan sesuatu," kata Berlin.


Kimmy tidak tahu Berlin ingin membicarakan apa dengannya. Namun sepertinya dia ingin membicarakan hal yang sangat serius padanya jika dilihat dari eskpresi wajah serius nan dinginnya.


"Ya, aku ingin membicarakan masalah yang mungkin serius, dan ini adalah masalah personal." Berlin membuka kata perlahan, dan sangat serius ketika berbicara.


"Personal?" Kimmy memasang ekspresi bingung ketika mendengarnya.


"Aku bingung dan aku tidak tahu harus berbicara mulai dari mana, karena aku sangatlah lemah dalam hal ini. Tetapi sebelum itu, aku ingin meminta maaf padamu, Kim."


"Minta maaf? Sepertinya kau tidak perlu melakukan hal itu, karena tidak ada yang salah padamu!" Kimmy sedikit menyanggah permintaan maaf dari Berlin.


"Maaf karena aku ... mungkin ... berkali-kali menyakit perasaanmu ... tanpa aku sadari," sahut Berlin menatap Kimmy dengan tatapan serius.


Seketika Kimmy langsung terkejut terdiam dengan pandangan sedikit tertunduk sedih. Timbul rasa kecewa dan sedih yang cukup mendalam ketika Berlin berbicara soal itu. Ternyata Berlin sendiri sudah mengetahui tentang Kimmy yang menyimpan perasaan lebih dari sekedar teman kepada dirinya.


"Bukannya aku tidak menghargai perasaanmu, tetapi memang aku tidak bisa menerima perasaanmu. Jika dipaksakan, nantinya malah akan membawa dampak yang buruk. Maka dari itu aku meminta maaf soal hal itu."


"Aku ingin membicarakan ini, karena ... aku tidak ingin timbul permasalahan internal kelompok yang bisa saja menganggu kinerja Ashgard," lanjutnya


"Iya, aku tahu, Berlin. Tidak apa-apa, aku memaafkanmu. Lagipula itu salahku yang terlalu berharap tinggi kepada seseorang yang belum pasti," ujar Kimmy dengan nada cukup lirih dan terlihat sangat sedih dengan mata yang berkaca-kaca namun tak bisa meneteskan air matanya.


Berlin beranjak dari kursinya dan berpindah duduk di sofa tepat di samping Kimmy. "Sekali lagi aku benar-benar minta maaf, karena memang ... hati tak bisa dipaksakan," ucapnya seraya memegang salah satu pundak milik Kimmy di sampingnya.


"Aku paling lemah jika sudah bermasalah dalam hal seperti ini," lanjut Berlin bergumam.


Meskipun menyimpan kesedihan dan kekecewaan yang cukup mendalam. Namun Kimmy sudah cukup mengikhlaskan perasaannya sendiri.


"Iya, kau memang lemah dalam hal ini, Berlin," cetus Kimmy yang lalu tiba-tiba tertawa kecil.


Berlin bingung dengan sikap Kimmy yang tiba-tiba berubah dan tertawa. Meskipun menyimpan kesedihan dan kekecewaan, tetapi terlihat Kimmy berusaha untuk menutupi semua itu dengan tawanya.


"Kenapa malah tertawa?" sahut Berlin dengan ekspresi wajah bingung.

__ADS_1


Kimmy menoleh dan menatap Berlin seraya tersenyum padanya, lalu berkata, "Berlin, aku sudah mengikhlaskannya, jadi tolong jangan diungkit lagi, ya?" ucapnya.


Walaupun berkata seperti itu. Tetapi tetaplah sulit baginya untuk mengikhlaskan perasaan yang sudah terpendam sejak pertama bertemu dengan Berlin.


"Oh iya, selamat, ya? Ditunggu undangannya," lanjut Kimmy lalu tersenyum senang meskipun pahit kepada Berlin dengan mata terpejam.


Berlin tertegun dengan ekspresi yang diberikan Kimmy padanya. Ekspresi pahit tersebut cukup untuk membuat Berlin sangat bersalah.


"Aku mengakui kalau aku kalah dari Nadia. Cintanya padamu itu lebih besar dari pada cintaku padamu. Maka dari itu, jagalah dia dan jangan pernah sakiti dia!" ucap Kimmy dengan sangat serius dan sedikit tegas ketika memperingatkan Berlin.


"Dan satu hal lagi yang membuatku harus mengakui Nadia itu lebih dariku. Dia hampir selalu berhasil membawa dampak positif pada dirimu, dan itu yang sulit untuk ku lakukan," lanjut Kimmy.


Berlin menyadari apa yang dikatakan Kimmy terakhir, dan dirinya pun merasakannya. Kehadiran Nadia membawa perubahan sikap dan sifat dari Berlin yang menjadi lebih baik lagi. Bahkan perubahan sikap dan sifat itu disadari oleh teman-temannya.


...


Melihat Kimmy yang memasang ekspresi pahit seperti itu cukup untuk membuat Berlin tidak tega dan sangat merasa bersalah.


"Sekali lagi aku sangat meminta maaf ..!" cetus Berlin kembali seraya menghadap kepada Kimmy dan menundukkan kepalanya.


Apa yang dilakukan Berlin cukup membuat Kimmy terkejut, karena ini baru pertama kali dirinya melihat Berlin menundukkan kepalanya di hadapan temannya yang saat ini adalah dirinya.


"Berlin, angkat kepalamu! Tidak seharusnya kau menundukkan kepala seperti itu, bukan?" tegas Kimmy memegang satu pundak milik Berlin.


"Aku memang payah, seharusnya aku mengatakan hal seperti ini dari dahulu supaya kau ---" belum selesai Berlin berbicara dengan sedikit mencaci dirinya sendiri. Ucapannya langsung dipotong oleh Kimmy dengan mengatakan, "ya, kau memang payah!"


Apa yang dikatakan Kimmy sangat menyinggung Berlin, namun Berlin sendiri menyadarinya dan merasa pantas untuk menerima perkataan seperti itu.


"Tetapi tidak hanya kau saja yang payah, aku pun juga payah dalam hal seperti ini, dan juga aku yakin kebanyakan orang akan sangat payah dalam hal yang rumit ini," sambung Kimmy kembali meralat ucapannya.


"Meskipun tentunya aku tidak bisa membuang serta melupakan begitu saja perasaan yang pernah ada ini. Tetapi aku akan berusaha, sekaligus menjadikannya pelajaran bagiku," lanjut Kimmy seraya mengatupkan kedua tangannya di atas dada, dan kemudian kembali tersenyum untuk menunjukkan kepada Berlin kalau dirinya baik-baik saja, meskipun tentunya hatinya tidak sedang baik-baik saja.


Berlin hanya bisa terdiam dan terbisu. Dirinya tidak bisa berbicara banyak. Apalagi jika sudah dalam masalah yang baginya sangat rumit seperti ini, bahkan lebih rumit daripada masalah ancaman yang sedang ia alami.


...


"Berlin, aku sangat menantikannya ...! Menantikan kalian berdua naik ke atas pelaminan, dan melihatmu berdampingan dengan Nadia di sana," Kimmy berbicara seraya menatap Berlin dengan tatapan berkaca-kaca menahan air matanya untuk tidak jatuh.


"Aku sangat mengharapkan hal itu pada hubungan kalian berdua, meski sakit rasanya, tetapi aku sungguh mengharapkannya ...!" lanjutnya yang lalu berusaha untuk tersenyum lebar meskipun pipinya sudah dibanjiri air mata. Dirinya juga berusaha untuk mencoba tertawa meskipun harus terisak.


DRAAPP ...!!!


Tiba-tiba Berlin memeluk Kimmy yang tentunya terkejut dengan apa yang ia lakukan. "A-apa yang kau lakukan?!" gusar Kimmy sangat terkejut meskipun dalam hatinya merasa senang ketika mendapatkan pelukan dari laki-laki dambaan hatinya.

__ADS_1


"Aku akan mewujudkan harapanmu, pasti ...!" cetus Berlin ketika memeluk rekannya itu.


"Dan juga tentunya aku berharap agar dirimu cepat menemukan yang lebih baik dariku," lanjutnya yang lalu melepas pelukan tersebut dan memberikan senyuman tipisnya.


Meskipun pelukan itu berlangsung sangat sebentar, tetapi Kimmy sudah merasa senang karena dapat merasakan pelukan hangat itu. "Jangan pernah meninggalkannya, ya?!" cetus Kimmy dengan nada cukup memperingatkan Berlin.


"Tentu saja, mana mungkin aku meninggalkan atau bahkan menyia-nyiakannya," sahut Berlin merasa lega kalau ekspresi pahit yang ditunjukkan Kimmy berangsur berkurang tidak seperti sebelumnya. Dirinya juga merasa lega karena bisa membicarakan hal ini secara langsung kepada Kimmy.


"Um ... Berlin, bolehkah aku meminta satu hal padamu?" celetuk Kimmy cukup dibuat tersipu ketika menatap Berlin yang ada tepat di sampingnya.


"Satu hal?" sahut Berlin membalas tatapan Kimmy dengan tatapan bingung, namun seketika Kimmy membuang pandangannya ke bawah.


"Ku mohon ... untuk ... tetap jadikan aku ... sebagai orang kepercayaan mu, ya?" Kimmy menyampaikan keinginannya dengan sedikit canggung.


Berlin tersenyum senang mendengar keinginan tersebut. "Tentu saja, aku sudah percaya pada kalian semua termasuk dirimu, dan akan sangat sulit jika harus mencari orang lain," jawab Berlin.


Meskipun menyimpan rasa kecewa dan sedih pada hatinya. Namun Kimmy berusaha untuk tetap tegar, karena bagaimanapun juga dirinya salah karena selama ini tidak memiliki keberanian untuk menyatakan perasaannya kepada Berlin langsung. Dirinya juga terlalu lama memendam perasaan tersebut, bahkan sudah hampir lima tahun.


Tetapi di sisi lain Kimmy menyimpan rasa senang karena Berlin dapat menemukan seseorang yang lebih baik darinya.


.


~


.


Pukul 22:00 malam.


Di sebuah pulau di tengah laut lepas.


Di sebuah pulau kecil tropis yang sangat indah. Seorang pria berbaju serba hitam dengan keadaan wajah sebelah kanan cacat karena luka bakar sedang berdiri di tepi pantai. Pria tersebut tampak menikmati indahnya malam di tepi pantai dengan memandangi sinar bulan yang terpantul pada air laut.


Di saat pria itu berdiri sendiri. Tiba-tiba terdapat pria lain dengan pakaian rapi serba putih menghampirinya.


"Menikmati indahnya malam?" celetuk pria berbaju putih yang menghampirinya.


"Menurutmu?" sahut pria berbaju hitam itu.


Pria berbaju putih hanya terkekeh kecil. "Tenang saja, semuanya aman terkendali. Pesan ancaman itu bukanlah sekedar ancaman, dan akan ku pastikan dia diburu oleh banyak kelompok!" kata pria berbaju putih itu dengan yakinnya.


"Tak salah aku bekerjasama denganmu," gumam pria berbaju hitam dengan sedikit melirik pria berbaju putih di sampingnya.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2