
Setelah pertemuan atau rapat tertutup itu selesai dilaksanakan dengan sangat lancar tanpa adanya kendala sama sekali. Karena pertemuan tersebut telah selesai, sesuai dengan apa yang diminta oleh Prawira. Berlin langsung berjalan menaiki anak tangga menuju ke atap dari kantor polisi tersebut, dengan diikuti oleh kedua rekannya dibelakang yang sudah terlihat seperti bodyguard.
"Kalian berdua bersikap formal sekali," celetuk Berlin kepada dua rekannya yang mengikutinya di belakang saat menaiki anak tangga.
"Kan sesuai perintahmu, jadi kami bersikap sebaik mungkin sebagai asisten," jawab Asep.
"Hehehe ..., bagus, bagus !" sahut Berlin dengan sedikit tertawa.
"Bos, apa kau yakin ...?" sela Kimmy dengan raut dipenuhi keraguan.
"Ya, kalian tenang saja," jawab Berlin dengan nada yang sangat tenang.
...
Sesampainya Berlin di atap kantor polisi tersebut. Dirinya langsung melihat Prawira dan Garwig yang terlihat sudah menunggunya di samping helikopter yang terparkir di atas helipad.
Prawira yang bersandar di sebuah pagar sekeliling helipad, terlihat sedikit melambaikan tangannya ke arah Berlin yang baru saja datang.
Berlin pun langsung berjalan menghampiri keduanya yang sudah menunggu dirinya.
"Um ... bisakah kita berbicara enam mata ?" cetus Prawira saat Berlin berjalan menghampirinya.
"Oke," jawab Berlin.
.
"Kalian berdua tunggu aku di depan aja !" lanjut Berlin menyuruh kedua rekannya yang sebelumnya terus mengikutinya.
"Baik, Bos !" sahut mereka berdua yang lalu berjalan pergi meninggalkan Berlin, dan menunggunya di depan.
...
Setelah kedua rekannya berjalan pergi menuruni tangga. Berlin mulai berbicara dengan dua orang yang sudah sangat ia kenal itu.
"Jadi gimana, Berlin ?" tanya Prawira dengan bersandar dan sangat santai di pembatas helipad.
Berlin segera memberikan lampiran catatan yang ia bawa sedari tadi kepada Prawira. Prawira yang menerimanya pun cukup terkejut setelah membaca isinya.
"Bagaimana kau bisa mendapatkan informasi seperti ini ?" cetus Prawira saat membuka dan membaca isi dari catatan tersebut.
"Informasi itu ... aku dapatkan berkat salah satu rekanku tadi," jawab Berlin.
.
"Kalau untuk nama Carlos dalam catatan itu ... aku tidak kaget, hanya saja aku bingung ... tentang apa yang dimaksud dengan Matrix di dalam catatan itu," lanjutnya.
Garwig seketika sangat tertegun dan terlihat sedikit gelisah ketika mendengar apa yang dibingungkan oleh Berlin. Berlin menyadarinya, namun dirinya tidak begitu peduli akan hal itu.
"Aku sudah menduga, kalau mereka berdua juga memiliki keterikatan dengan Mafioso," gumam Prawira setelah membaca dua nama yang sangat tidak asing, bahkan cukup ia kenal karena sebelumnya pernah satu profesi dengannya sebagai anggota polisi.
Dalam lampiran catatan informasi yang Berlin bawa berisikan beberapa informasi penting dari kelompok yang sedang memanas dengan pihaknya, yaitu Mafioso.
Tidak hanya nama lengkap milik Carlos saja yang tercantum berserta beberapa informasi penting tentangnya. Tetapi nama dari kedua orang mantan polisi juga tercantum dalam catatan tersebut, beserta data diri mereka berdua.
"Jadi ... tempat kejadian insiden tim helikopter kami kemari, adalah wilayah mereka ...?" celetuk Prawira setelah membaca semua isi catatan yang ia bawa.
.
"Pantas saja ... mereka ramai sekali," lanjutnya.
"Ya, mereka memang sangat ramai," sahut Berlin bersandar di pagar yang sama samping Prawira.
"Aku sendiri belum melihatnya, kebenaran tentang markas mereka yang berada di antara perbukitan sunyi itu. Namun, wilayah Bukit Sunyi memanglah salah satu wilayah teritori atau kekuasaan mereka." Berlin sedikit menjelaskan tentang semua isi dari lampiran catatan informasi yang ia bawa itu.
"Aku hanya menakutkan, kalau tujuan mereka adalah untuk menggulingkan pemerintahan, atau lebih buruk dari itu," ujar Garwig.
"Iya, sih. Mereka secara tidak langsung sudah membuat masyarakat sangat resah dan ketakutan, akibat teror-teror yang mereka buat," sambung Prawira sesaat setelah menutup lampiran catatan tersebut.
"Tetapi ... semua teror yang mereka buat ... juga datang kepada kami, dan salah satunya Nadia," sela Berlin tertunduk pusing.
"Nadia ?!" Prawira benar-benar terkejut setelah Berlin mengatakannya. Rasa cemas dan khawatir tiba-tiba saja mendatangi dirinya, setelah mendengar kabar tersebut tentang Nadia.
"Aku sebenarnya ingin membicarakan ini kepadamu beberapa waktu yang lalu, tetapi tidak ada waktu yang tepat untuk itu," kata Berlin menoleh kepada Prawira.
"Tetapi, dia baik-baik saja, 'kan ?" tanya Prawira kepada Berlin.
"Dia baik-baik saja, kok. Aku usahakan untuk selalu bersamanya," jawab Berlin.
"Memangnya kenapa ? Anda terlihat begitu mengkhawatirkannya," celetuk Berlin yang langsung bertanya tanpa aba-aba kepada Prawira.
Berlin sudah lama ingin bertanya seperti itu kepada Prawira, sejak kekasihnya itu keluar dari kepolisian dan tidak lagi menjadi anggota polisi.
"Oh, aku belum memberitahumu, ya ?" jawab Prawira.
"Sejak kapan anda memberitahuku tentang hal itu ?" sahut Berlin melirik tajam kepada Prawira.
"Kenapa tidak kau tanyakan saja kepada Nadia ?" jawab Prawira mengembalikannya dengan pertanyaan balik.
"Yah ... aku tidak enak aja kalau menanyainya langsung," jawab Berlin.
"Jadi singkatnya, dia itu ... sudah ku anggap seperti keponakan sendiri. Selebihnya, kau tanya saja sendiri kepadanya !" Prawira langsung menjelaskan secara singkat dan jelas kepada Berlin tentang keterikatannya dengan Nadia.
.
"Maka dari itu, aku meminta tolong kepadamu untuk menjaga dia, ya ?" lanjutnya dengan sedikit menepuk pundak milik Berlin.
"Baik, sudah pasti selalu ku usahakan," jawab Berlin dengan sedikit tersenyum.
__ADS_1
"Sudah perbincangan kalian berdua?" sela Garwig yang merasa kehadirannya telah sedikit dilupakan.
"Su-sudah, Pak !" sahut Prawira dengan tegas dan sedikit terkejut.
...
Garwig menghela napas beberapa detik sebelum dirinya berbicara. Ia juga terlihat begitu bersiap-siap untuk berbicara kepada Berlin
"Berlin, mungkin ... kau masih sulit untuk mengingatnya. Maka ... aku hanya ingin membantumu untuk mengingat, kalau Gates ... adalah keluargamu yang sebenarnya." Kata-kata yang terlontar dari mulut Garwig dan terdengar sangat serius. Itu membuat Berlin cukup tertegun ketika mendengarnya, seakan dirinya pernah berada di satu ruang lingkup keluarga yang amat besar.
"Mau bagaimanapun, Carlos adalah saudaramu, Berlin. Dan ramalan keluarga besar mengatakan, kalau hanya dirimulah yang dapat menghentikan Carlos," ucap Garwig dengan sangat serius kepada Berlin.
Berlin yang mendengarkan semua kalimat yang terucap pun sangat dibuat bingung, apalagi soal ramalan yang belum pernah ia ketahui sama sekali.
"Tunggu ! Apa maksudnya ?!" sahut Berlin terlihat benar-benar kebingungan.
"Aku tahu, kau pasti keberatan dengan ramalan itu. Maka dari itu, aku juga berusaha !" jawab Garwig dengan tenangnya.
"Aku masih tidak paham !" sahut Berlin.
"Intinya, maukah kau bekerja sama dengan ... keluargamu sendiri untuk menangani mereka ?" jawab Garwig yang lalu memberikan tawaran mendadak tersebut kepada Berlin.
.
"Yang kutakutkan adalah ... tiga wilayah termasuk Metro, akan dilanda kekacauan yang disebabkan ulah mereka, Mafioso itu," sambung Garwig yang terlihat sangat serius dan tidak ingin main-main tentang hal ini.
"Ya ..., kalau soal itu sih ... aku setuju saja, karena pihakku juga terkena dampak buruk dari kehadiran mereka," jawab Berlin walau sedikit ragu namun yakin untuk menyetujui tawaran tersebut.
Garwig tiba-tiba mengulurkan tangannya kepada Berlin dan mengajaknya berjabatan tangan. Saat berjabatan tangan dengan Berlin, ia mengatakan, "selamat datang kembali di keluargamu sendiri," ucapnya sembari tersenyum lega.
"Aku minta maaf kepadamu. Karena ... diusiamu yang ke 22 tahun ini, kau harus menghadapi masalah yang sangat besar, dan masalah itu sebenarnya malah berasal dari keluargamu sendiri, atau juga bisa dibilang berasal dari masa lalumu," ucap Garwig saat berjabatan tangan dengan Berlin.
"Yah ... mau bagaimana lagi ...?" sahut Berlin setelah bersalaman dengan salah satu orang terdekatnya.
Tidak lupa, Berlin juga membicarakan tentang kehadirannya dan juga kelompoknya yang sangat terancam dengan adanya Mafioso. Ia membicarakan semua ancaman dan semua yang telah terjadi kepada teman-temannya beberapa waktu yang lalu kepada Prawira dan Garwig.
...
Beberapa menit pun berlalu cepat, dan Berlin harus segera kembali menuju teman-temannya yang pasti sudah menunggunya cukup lama.
"Cukup kalau begitu, aku harus segera kembali," ucap Berlin berpamitan kepada Prawira dan juga Garwig.
"Terima kasih sudah hadir, Berlin," sahut Garwig yang lalu kembali bersalaman dengan Berlin.
"Sama-sama," jawab Berlin.
Berlin juga bersalaman dengan Prawira sebelum dirinya kembali pergi.
"Sampaikan salamku kepada Nadia, ya," cetus Prawira saat bersalaman dengan Berlin.
.
"Baik, akan ku sampaikan kepadanya," jawab Berlin sedikit tersenyum, dan lalu berjalan pergi menuruni anak tangga.
~
Setelah Berlin pergi meninggalkan Kantor Polisi Pusat. Garwig terlihat merasa sangat lega ketika dapat melihat kembali kehadiran Berlin. Prawira yang berdiri di samping dengan membawa lampiran catatan yang diberikan Berlin, langsung memberikannya kepada Garwig.
"Aku akan menyelidiki biodata milik Bagas dan Kibo !" cetus Prawira yang lalu berjalan pergi menuruni anak tangga menuju ruang kerja miliknya.
Namun Garwig memilih untuk berdiam sejenak dengan menikmati angin sepoi-sepoi di siang hari itu. Dirinya benar-benar merasa sangat rindu dengan kota tersebut, setelah beberapa tahun ia tinggalkan.
"Aku berharap banyak kepadamu, Berlin. Tolong berhati-hatilah ...," gumam Garwig sembari menatap ke arah langit biru yang cerah.
.
"Maafkan aku, Berlin. Karena seharusnya kau tidak menghadapi ini semua," lanjutnya.
.
~
.
"Huh ...!" Nadia menghela napas karena terasa cukup lelah karena telah selesai membersihkan semua ruangan di lantai satu.
Semua ruangan di lantai satu tersebut terlihat sangat bersih dan rapi dari yang sebelumnya, dan juga wangi harum semerbak ke seluruh ruangan.
Karena dirinya telah selesai mengerjakan pekerjaan rumahnya di bagian lantai satu. Nadia pun segera berpindah ke lantai dua, dan membersihkan ruang keluarga di sana.
Ruang keluarga yang cukup luas, dengan sofa dan karpet yang sangat halus nan lembut. Tentu akan memakan waktu yang cukup lama untuk membersihkannya.
"Nggak terlalu kok," gumam Nadia ketika memastikan debu-debu di ruangan tersebut.
Beruntung sofa dan karpet tersebut tidak terlalu kotor, jadi cukup meringankan pekerjaan milik Nadia. Ia langsung menghidupkan mesin penyedot debunya, dan segera membersihkan sekeliling ruangan.
"Untung ada alat praktis ini !"
"Apa aku harus membelinya untuk di rumah, ya ?"
Sembari membersihkan ruangan tersebut, dirinya beberapa kali bergumam soal alat pembersih debu yang menurutnya sangat praktis dibandingkan dengan sapu yang sering ia pakai ketika di rumah miliknya.
...
Ketika sedang membersihkan sudut-sudut ruangan. Nadia dibuat cukup kebingungan dengan dinding yang terlihat sangat aneh dari yang lainnya. Lantaran dinding tersebut terbuat dari besi, dan terlihat dengan sengaja diukir bentuk persegi panjang seperti bingkai foto. Namun tidak ada foto atau lukisan di tengah atau dalam bingkai tersebut.
Karena rasa penasaran yang sangat tinggi, ia pun langsung menyentuh dinding tersebut tanpa berpikir panjang.
__ADS_1
Szzzt ...!
"Aww ?!" Betapa terkejutnya Nadia tiba-tiba ujung jari telunjuknya terasa seperti tersengat listrik.
Jari telunjuknya terasa mati rasa untuk beberapa detik, dan untungnya kembali seperti semula. Namun jari telunjuknya tersebut terlihat memerah dan tidak hilang-hilang walau beberapa detik sudah berlalu.
"Sudah seharusnya aku tidak lancang ...!" gusar Nadia yang berusaha menasihati dirinya sendiri.
Nadia pun melewatkan hal itu, dan kembali melanjutkan pekerjaan rumah yang harus segera ia selesaikan itu. Namun rasa penasaran dengan apa maksud dari dinding besi itu masih ada di dalam kepalanya.
.
~
.
"Bagaimana ?" tanya Rony dan beberapa teman yang lainnya saat menyambut kedatangan Berlin dan kedua rekannya kembali.
"Yah ..., hasil pertemuan itu ... kita harus fokus kepada mereka, Mafioso itu terlebih dahulu," jawab Berlin saat berjalan menghampiri sebuah sofa dan duduk di sofa tersebut.
.
"Yup, karena dengan kehadiran serta keleluasaan mereka, mereka akan selalu membahayakan kehadiran kita semua," sambung Kimmy sedikit menjelaskan.
"Untuk sementara ... kita santai saja terlebih dahulu," ucap Asep setelah turun dari mobil yang selesai ia parkirkan ke dalam bengkel.
"Gimana bisa santai, kalau keadaan kita terus terancam dengan mereka ?!" sahut Aryo.
"Aku sudah membicarakan itu dengan pihak kepolisian, dan sangat mungkin ... polisi akan membantu kita, tentu selama ... kita kooperatif dengan situasi," jawab Berlin dengan santainya.
"Tetapi ... aku nggak bisa sepenuhnya percaya dengan polisi, sih ...," cetus Bobi yang lalu meminum sekaleng soda yang ia bawa.
"Iya, Bos. Aku setuju dengan Bobi !" sambung Faris.
Kebanyakan teman-teman yang lainnya juga ikut setuju dengan ucapan Bobi, dan Berlin mengangguk paham dengan hal itu. Karena selama ia mendirikan Ashgard bersama teman-temannya, tentu semua tindakan yang mereka lakukan selama beberapa tahun terakhir selalu bertentangan dengan hukum dan aparat.
Berlin sendiri juga tidak bisa sepenuhnya percaya dengan pihak kepolisian, walaupun mereka adalah keluarganya sendiri. Dirinya hanya bisa mempercayai beberapa orang dalam kepolisian tersebut, dan tidak semuanya.
"Maka dari itu, aku meminta kalian untuk terus berhati-hati dan waspada !" tegas Berlin kepada semua teman-temannya.
.
"Karena mau bagaimanapun ... kita tidak bisa terus bergantung dengan pihak manapun dan dalam hal apapun," lanjutnya.
"Lalu ... hari ini ... apa yang akan kita lakukan ...?" tanya Kina dengan nada dan terlihat cukup lelah.
Berlin juga melihat kesekelilingnya dan semua teman-temannya yang ada di situ. Lelah, kewaspadaan, dan kecemasan bercampur dan sangat terlihat di masing-masing wajah mereka.
Karena dirinya juga memikirkan kondisi dari masing-masing rekannya. Berlin pun memerintahkan semua temannya untuk bersantai dan beristirahat menikmati waktu mereka masing-masing.
"Untuk hari ini dan akhir pekan besok, kita istirahatkan Ashgard sementara, dan kalian bebas mau ngapain," ucap Berlin saat bangkit dari duduknya.
.
"Tetap ingat ! Status kita masih memanas dengan Mafioso, jadi kalian semua tetap hati-hati !" lanjutnya.
"Siap, terima kasih, Bos," jawab Vhalen dan yang lainnya.
"Ya sudah kalau begitu, aku pergi dahulu !" ujar Berlin yang lalu berjalan menuju mobil pribadinya yang terparkir tak jauh di ruang utama.
"Hati-hati, Bos," cetus Kimmy dan yang lainnya.
...
Saat Berlin ingin membuka pintu mobil miliknya, tiba-tiba Vhalen berlari menghampirinya dan berkata sesuatu.
"Berlin, um ... adikku ... ingin bertemu denganmu. Bisakah ... kamu menemuinya ...?" cetusnya dengan sedikit tertunduk saat mengatakannya karena berhadapan dengan Berlin langsung.
"Oh, dia sudah siuman ?" sahut Berlin.
Vhalen menjawabnya dengan hanya mengangguk dan sedikit canggung karena sudah lancang meminta kepada Berlin secara tiba-tiba.
"Baiklah ! Kebetulan ... aku ingin menjenguk Adam ke rumah sakit, jadi sekalian saja ...," jawab Berlin yang lalu sedikit tersenyum setelah menjawabnya.
"Te-terima kasih ...," sahut Vhalen yang terlihat sangat merasa senang ketika mendengar permintaannya dikabulkan.
"Apa kamu mau ikut ...?" ajak Berlin kepada Vhalen.
Ajakkan tersebut sempat membuat Vhalen salah tingkah dan cukup tersipu, karena baru kali ini dirinya mendapatkan ajakkan seperti itu dari orang pertama yang ia kagumi.
.
"Ikut ..? Berarti ... aku ... berdua ... satu mobil dengan Berlin ...?!" gumamnya di dalam hati.
"Kenapa ? Kok diam ?" cetus Berlin karena melihat Vhalen yang tertunduk dan hanya terpaku diam.
"Eng-enggak apa-apa, cuma ... nanti saja aku menyusul ke sana bersama Salva ...," sahut Vhalen dengan wajah sedikit memerah dan sedikit salah tingkah.
"Oh iya, kamu sedang dekat dengannya, ya ? Hahaha ..., Baguslah ...!" celetuk Berlin.
"Hehehe ...," Vhalen tertawa kecil dan merasa cukup malu kepada Berlin.
"Ya sudah kalau begitu, aku pergi dahulu !" Karena waktu terus berjalan, Berlin pun ingin segera pergi untuk menjenguk keadaan Adam di rumah sakit.
Vhalen yang terlihat sangat senang menanggapinya dengan mengangguk pelan dan menjawab, "hati-hati !"
.
__ADS_1
Bersambung.