Mafioso In Action

Mafioso In Action
Helikopter Militer, Kota Kacau #67


__ADS_3

"Hei, tu-tunggu ...!" ucap Carlos sedikit gemetaran kepada pria tersebut.


Berlin sangat terkejut setelah mengingat siapa pria yang sedang berhadapan dengannya kali ini. Seketika hatinya diselimuti oleh kabut amarah yang sangat tebal, setelah mengingat siapa pria tersebut.


"Oh, ternyata kau, Bagas Gates Lacartus. Suatu kehormatan bisa bertemu dengan anda, mantan jenderal kepolisian," gumam Berlin menatap kesal pria itu dengan satu tangan masih memegangi lengan kirinya yang berdarah.


"Hahaha," Bagas kembali tertawa melihat sikap Berlin, "kau pasti sangat marah kepadaku, ya? Apalagi ... waktu itu ... akulah orang yang mengeluarkan Nadia secara sepihak dari kepolisian," ucapnya.


Mendengar apa yang diutarakan oleh Bagas, membuat Berlin mengingat kembali kesedihan dan ketakutan Nadia saat bertemu dengan dirinya sepulangnya dari bandara.


Berlin benar-benar sangat marah. Ia meremas satu tangannya dan mencoba untuk menahan amarahnya. Namun sepertinya Bagas malah mencoba untuk memancing amarah tersebut dengan mengatakan, "Nadia yang malang, aku sangat puas ketika melihatnya menangis waktu itu."


"Kau ... benar-benar, keparat!" gumam Berlin tertunduk dan mencoba untuk tidak terpancing amarah. Namun rasa ingin membunuh dan menyiksa pria di hadapannya sungguh tinggi.


"Huh, kalau begitu, aku bisa membunuhmu dengan mudah!" cetus Bagas yang lalu mengarahkan pistolnya kepada Berlin. Menyadari bahaya tersebut, Berlin juga ikut mengarahkan pistolnya ke arah Bagas, dan membuatnya saling menodong satu sama lain.


Namun pelatuk milik Berlin terasa sangat berat untuk ditarik. Dirinya tidak mengetahui apa alasan jarinya sungguh berat untuk menarik pelatuk tersebut. "Sial, kenapa berat?!" batin Berlin bertanya-tanya.


Tetapi hal seperti itu sepertinya tidak terjadi kepada Bagas yang tidak segan menarik pelatuknya saat mengarahkan bidikannya kepada Berlin. "Terlepas dari aturan seorang aparat. Akhirnya aku bisa melukai bahkan membunuh sasaran ku!" teriak Bagas menyeringai dan menatap Berlin dengan tatapan tajam nan mengerikan.


"Tunggu! Jangan!" teriak Carlos lalu menarik tangan milik Berlin dan menggantikan tubuhnya sebagai perisai agar Berlin tidak menerima timah panas itu.


DOR!


Tembakan pun terjadi. Carlos memejamkan matanya seolah siap untuk mati sesuai dengan apa yang ia lakukan. Berlin sendiri terdiam terpaku karena baru kali ini dirinya tidak bisa melakukan tembakan dari senjata api miliknya.


"Apa?!" Carlos benar-benar terkejut, lantaran tubuhnya merasa tidak menerima timah panas dari tembakan itu. Begitu pula dengan Berlin yang tampak bingung dengan keadaan.


BRuukK ...!


Tiba-tiba saja Bagas terjatuh tergeletak di tanah dengan kondisi luka tembak di bagian dada. Darah mengalir keluar dan membanjiri tubuhnya yang sekarat. "A-apa ... yang ...?" gumam Bagas merintih kesakitan.


"Maaf, aku terlambat, Berlin," suara seseorang yang sangat Berlin kenal mendekat dari balik pepohonan. Pria tersebut mengenakan seragam yang sama dengan Bagas, yaitu seragam kepolisian dengan tiga bintang berwarna emas di pundaknya.


"Prawira?" cetus Berlin tertegun.


"Sial, aku ... melupakan ... dirimu," ucap Bagas melemah memandangi Prawira yang berjalan menghampirinya.


"Sudah seharusnya aku memberikan hukuman kepadamu saat itu. Aku mengakuinya, aku telah melakukan banyak kelalaian," ucap Prawira ketika berjalan mendekati Bagas yang hanya bisa tergeletak.


"Berlin, Carlos, kalian baik-baik saja, 'kan?" tanya Prawira sedikit menoleh dan melirik kepada mereka berdua.


"I-iya," jawab Berlin.


.


"Mungkin," jawab Carlos kembali terduduk di tanah.


"Bagas, aku benar-benar tidak menyangka kau memiliki keinginan untuk membunuh salah satu anggota keluarga kita. Merepotkan!" ujar Prawira saat menghampiri Bagas yang tergeletak bersimbah darah. Bagas tampak sudah memejamkan matanya dan sangat tenang tidak bergerak.


Ketika mendengar apa yang diucapkan oleh Prawira, itu membuat Berlin sedikit berpikir. "Anggota keluarga? Setelah aku menyebut nama lengkapnya, aku merasa sangat berat untuk membunuhnya. Namun aku dapat dengan mudah melakukan tembakan kepada Carlos, walaupun memang sengaja tidak ku kenai."


"Atau mungkin, aku memang tidak memiliki keinginan untuk membunuh Carlos, setelah mengetahui dirinya tersudut seperti itu ...? Apa itu alasannya ... yang membuat jariku sangat berat tadi?"


Berlin tampak berpikir memikirkan alasan mengapa jarinya sangat sulit digunakan untuk menarik pelatuk ke arah Bagas, dan sepertinya dirinya mengetahui alasan tersebut.


"Berlin, biarkan aku yang mengurusnya!" ucap Prawira menoleh dan melirik Berlin.


Berlin hanya mengangguk. Prawira berjalan mendekati Bagas dan melihat luka tembak yang cukup parah pada dada milik mantan rekannya itu. "Sayang sekali, mengapa kau begini?" gumam Prawira tertunduk menyesal atas jalan yang dipilih oleh Bagas setelah tidak lagi mengabdi untuk kepolisian.


Carlos tampak menahan air matanya yang hampir menetes saat melihat Bagas tergeletak dan tidak bergerak sama sekali. Bagas adalah orang yang berharga baginya, dan sudah ia anggap selayaknya seorang paman. Perasaan sedih dan marah cukup berkecamuk di hatinya, namun Carlos menyadari kalau apa yang ia lakukan dan apa yang Bagas lakukan adalah hal yang salah. Jadi Carlos memilih untuk menerima semuanya.


Berlin melirik Carlos, dan cukup memahami apa yang sedang dirasakan oleh saudaranya itu. Dirinya juga sungguh tidak menyangka kalau Carlos sempat berusaha untuk menyelamatkannya. Ditambah lagi kesempatan bagi Carlos untuk menghabisi Berlin sangatlah besar saat ini. Namun Carlos tidak mengambil kesempatan itu dan memilih untuk diam.


"Sayang sekali jika kau harus berakhir seperti ini," ucap Prawira seraya memegang pergelangan tangan milik Bagas untuk memastikan denyut nadinya.


DEG.


"Apa?!" Prawira langsung terkejut karena denyut nadi itu masih bisa ia rasakan.


"Sayang ... sekali, kau ... terkena ... jebakan ku, Prawira ...," cetus Bagas melirik Prawira dan membuka kancing bajunya.


Beberapa rakitan bom waktu telah melekat pada tubuh milik Bagas, dan itu sangat mengejutkan Prawira. Lantaran waktu dari bom-bom itu menunjukkan dibawah 10 detik untuk meledak.


"Berlin, Carlos, lari!" teriak Prawira bergegas berlari ke arah mereka berdua dan mencari perlindungan


"Ada apa?!" tanya Berlin.


Berlin dan Carlos tampak bingung dengan kepanikan yang terjadi pada Prawira. Kedua tangan mereka ditarik begitu saja oleh Prawira untuk menjauh dari tempat itu.


"Apa yang ...?" tanya Carlos ketika berlari bersama Berlin dan Prawira. Namun pertanyaannya harus terpotong begitu saja dengan ledakan yang tiba-tiba saja terjadi.


BTOOM !!!


Sebuah ledakan yang cukup besar pun terjadi, dan itu membuat pepohonan di sekitarnya terbakar dan tersapu habis.


***

__ADS_1


Ledakan itu juga terdengar dan dapat disaksikan oleh regu milik Prime dan juga kelompok milik Berlin yang padahal lokasinya cukup jauh.


"Ledakan?" tanya Kimmy tersentak.


"Bukankah ... tadi ... Berlin ... mengarah ... ke sana ...?" tanya Nadia terpaku dan seketika tubuhnya melemas.


"Nadia!" teriak Kimmy dengan sigap menangkup Nadia yang melemah.


"Kim, apakah kau ingin beberapa dari kami memastikannya?" Asep tiba-tiba menghampiri Kimmy yang berada di mobil untuk mengistirahatkan Nadia.


Kimmy mengangguk kepada Asep yang menandakan mengizinkan saran tersebut. Asep pun begegas pergi menuju sumber ledakan bersama beberapa temannya untuk memastikan keadaan di sana.


"Berlin ... akan ... baik-baik saja, 'kan?" tanya Nadia bersandar di pundak milik Kimmy. Ia tampak terkejut setelah mengetahui ledakan tersebut. Seluruh tubuhnya tiba-tiba saja memelah setelah mengetahui kalau ledakan itu bersumber dari arah Berlin pergi.


"Pasti!" sahut Kimmy dengan sangat yakin dan percaya.


Tidak hanya Asep dan beberapa temannya saja, tetapi juga Prime merapat ke sumber ledakan dengan membawa beberapa anggotanya.


***


"Aduh, aduh!" rintih Berlin kesakitan karena tubuhnya harus terpental dan terpisah cukup jauh dari Prawira dan juga Carlos akibat ledakan yang terjadi.


.


"Sial, apa sih yang sebenarnya terjadi?!" gerutunya sendiri seraya berusaha untuk bangun walau agak kesakitan di bagian lengan kirinya.


Ketika melihat ke sekeliling, Berlin hanya bisa melihat asap hitam yang cukup tebal dan api yang membara membakar pepohonan di hutan itu.


"Berlin!" suara teriakan dapat Berlin dengar sangat dekat, dan suara tersebut adalah suara milik Carlos.


"Carlos?" tanya Berlin dengan sendirinya di dalam hati.


Tiba-tiba saja Carlos berlari ke arahnya dengan cukup kepanikan. "Syukurlah kau baik-baik saja," cetus Carlos setelah melihat Berlin selamat dari ledakan itu.


Berlin sendiri cukup bingung dengan Carlos yang tampak seperti mengkhawatirkan dirinya. Namun dirinya tidak begitu menghiraukan hal tersebut, dan segera mencari Prawira.


"Kalian ... baik-baik saja, 'kan?" cetus Prawira berjalan menghampiri mereka berdua. Berlin merasa cukup lega karena Prawira selamat dari ledakan yang telah terjadi.


"Ya," jawab Berlin.


"Aku benar-benar tidak menyangka dia akan melakukan bom bunuh diri untuk menghabisi kita," gumam Prawira terlihat kesal dengan sendirinya seraya duduk dan bersandar di sebuah pohon yang masih selamat dari sambaran api.


"Carlos, kau baik-baik saja, 'kan?" lanjut Prawira melihat ke arah Carlos yang tampak panik dan sedih.


Carlos hanya mengangguk tanpa mengucap sepatah kata. Ia tidak menyangka kalau orang yang ia kenal melakukan tindakan bom bunuh diri seperti itu di depan matanya. Akibat dari ledakan pun cukuplah besar, dan itu menandakan kalau Bagas benar-benar menyiapkannya untuk di saat-saat seperti ini.


"Sekarang, apa yang akan kau lakukan?" tanya Berlin melirik tajam kepada Carlos.


"Jika kau tidak memutuskan soal apa yang akan kau lakukan, maka aku akan menghabisi mu di sini!" cetus Berlin menatap tajam Carlos dan sebuah pistol siap di tangannya. Namun keraguan untuk menghabisi Carlos sangat tertampak di mata milik Berlin.


"Mata memanglah sulit untuk berbohong," batin Prawira tersenyum kecil.


Di saat yang bersamaan, regu milik Prime dan beberapa teman Berlin tiba di lokasi. Mereka tampak sangat khawatir, terutama Asep dan beberapa temannya. Setelah melihat Berlin baik-baik saja dan selamat, itu sangat membuat hati mereka lega.


Berlin, Prawira, dan Carlos. Mereka bertiga pun segera dievakuasi kembali menuju ke titik kumpul untuk mendapatkan tindak lanjut. Terutama dengan Carlos.


.


~


.


Pukul 18:00 petang.


Titik Kumpul Barat Daya.


Cahaya jingga mulai terbentang di ufuk barat, dan itu menandakan waktunya bagi matahari untuk beristirahat sampai fajar tiba. Pemandangan yang indah harus ternodai dengan kekacauan yang telah terjadi.


Suara sirine pun terdengar bersahutan tanpa henti-hentinya. Api yang membakar hutan di pinggi danau akibat ledakan pun mulai dikendalikan oleh para petugas pemadam yang ditugaskan.


Berlin pun akhirnya kembali bersama Asep dan beberapa temannya dengan selamat, walau mendapatkan sedikit luka gores di lengan kirinya yang sudah terbalut oleh perban.


"Temui dia!" cetus Asep kepada Berlin dengan melihat ke arah Nadia yang sepertinya belum mengetahui kedatangan Berlin.


Nadia tampak duduk di mobil dengan ekspresi berharap cemas seraya melihat ke sana ke mari. Begitu pula dengan Kimmy yang berdiri bersandar di samping mobil. Berlin pun segera menghampiri mereka berdua, terutama segera ingin menemui Nadia yang tampak sudah sangat menunggunya.


SET!


Nadia yang melihat Berlin berjalan ke arahnya pun merasa sangat senang. Dengan spontan ia berlari ke arah Berlin, namun mengingat kakinya yang masih belum membaik. Ia pun hanya bisa berjalan secara tertatih-tatih dengan ekspresi senang dan lega.


"Astaga, kamu ini!" cetus Kimmy segera membantu Nadia untuk berjalan.


Kimmy cukup kaget dengan Nadia yang tiba-tiba saja memaksakan diri untuk berjalan. Dirinya dengan sigap langsung membantu sahabatnya itu untuk berjalan dengan cara menuntunnya. Namun Nadia menolaknya.


Di tengah berjalan, tubuh milik Nadia tiba-tiba saja kehilangan keseimbangannya dan terjatuh. Namun beruntung Berlin dengan sigap menangkap tubuh milik kekasihnya yang ambruk ke arahnya.


BRuukK!

__ADS_1


"Dasar, padahal kamu tahu kakimu masih belum membaik. Tetapi kenapa dipaksakan?" tanya Berlin.


Namun Nadia tidak menghiraukan ucapan Berlin. "Syukurlah," ucapan yang tercetus oleh Nadia yang tiba-tiba saja langsung memeluk erat tubuh milik Berlin, dan menyandarkan kepalanya pada dada milik lelakinya itu. Air mata bahagia dan senang sempat menetes ketika melihat Berlin baik-baik saja.


.


"Tetapi, lenganmu terluka?" lanjut Nadia yang melihat perban yang terbalut pada lengan kiri milik Berlin, dan terdapat sedikit bercak darah pada perban tersebut.


"Sudah terobati, kok. Lagian, ini hanya luka gores," sahut Berlin tersenyum.


"Syukurlah, kau kembali," batin Kimmy melihati Berlin yang tampak senang bertemu dan kembali kepada Nadia.


Berlin pun segera menuntun Nadia yang sulit untuk berjalan kembali ke mobilnya. Di saat berjalan ke arah mobil, mata Nadia tiba-tiba saja tertuju kepada Carlos yang tampak diamankan oleh petugas. Sepertinya Nadia masih menyimpan ketakutannya ketika melihat orang itu, tetapi di sisi lain dirinya menyimpan rasa kasihan setelah melihat keadaan Carlos.


"Ada apa?" tanya Berlin setelah sampai di mobil dan membantu Nadia untuk duduk di dalam mobilnya.


"Apa yang akan terjadi kepada Carlos?" tanya Nadia.


"Oh, soal itu. Dia memilih untuk menyerahkan diri dan kooperatif," jawab Berlin.


"Bagus deh kalau begitu," sahut Nadia merasa lega.


"Oh iya. Kim, terima kasih, ya?" ucap Berlin kepada Kimmy yang dari tadi hanya diam berdiri di sampingnya.


"Ti-tidak masalah, Bos. De-dengan senang hati, dan su-sudah semestinya," sahut Kimmy yang tiba-tiba cukup gugup.


.


"A-aku sangat senang kau selamat," lanjutnya tersenyum dan sedikit menundukkan kepalanya.


Di tengah berbincang singkat dengan Nadia dan Kimmy. Tiba-tiba terdapat dua helikopter yang cukup besar melintas di langit tepat di atas mereka, diikuti dengan suaranya yang begitu bising. Berlin sendiri tampak memasang wajah kebingungan, lantaran dua helikopter yang melintas bukanlah helikopter milik kepolisian.


DEG.


"Itu ... bukan milik kepolisian, 'kan?" gumam Kimmy bertanya-tanya menatap dua helikopter yang melintas dan lalu menjauh.


.


"Ya, helikopter milik kepolisian berwarna biru dan lebih kecil dari itu," sambung Nadia.


"Helikopter militer ...?" batin Berlin bertanya-tanya ketika melihat kedua helikopter tersebut menjauh dan mengarah ke pusat kota Metro.


Di saat itu juga Prawira berjalan menghampiri Berlin dengan wajah sangat serius. "Sebenarnya ... ada apa? Kenapa helikopter milik militer terbang ke arah kota?" tanya Berlin langsung.


"Mungkin ... kekacauan di sini sudah cukup mereda, namun tidak di sana," sahut Prawira dengan wajah sedikit murung dan serius.


Berlin terkejut dengan jawaban Prawira. Secara spontan ia berjalan menuju sebuah mobil baja milik kepolisian yang di mana Carlos sedang diamankan. "Kau mau ke mana?" tanya Prawira kepada Berlin yang berjalan melewatinya. Namun pertanyaan tersebut tak diacuhkan oleh Berlin.


"Hei, sebenarnya apa rencana dari kelompok mu itu?!" tanya Berlin kepada Carlos ketika berhasil melewati beberapa aparat yang menjaganya.


Berlin terlihat benar-benar sangat marah kepada Carlos, lantaran dirinya tak menyangka kalau kelompok milik saudaranya itu masih saja terus-terusan membuat kekacauan di wilayah yang berbeda.


BRaakK!


"Jawab!" bentak Berlin menggebrak pintu dari mobil baja milik kepolisian. Emosinya membara karena Carlos hanya diam saja dan belum menjawabnya.


"Aku tidak begitu menahu soal rencana milik Nicolaus, yang jelas ... dia pernah mengatakan kepadaku kalau dia ingin menyerang Gedung Balaikota," jawab Carlos sedikit memasang wajah ketakutan ketika Berlin mendesaknya untuk menjawab.


.


"Yang kalian lawan, dan kalian habisi di sini adalah kelompok ku, bukan kelompok utama milik Nicolaus," lanjutnya.


"Berlin, cukup!" ucap Prawira memegang pundak milik Berlin dengan satu tangannya dari belakang. Ia berusaha untuk menenangkan Berlin yang sepertinya sudah terbawa emosi.


Dari jawaban dan sedikit penjelasan yang diberikan oleh Carlos. Prawira dan Berlin jadi mengerti, kalau Mafioso telah terbagi menjadi dua kelompok dengan tujuan yang berbeda.


"Nicolaus," gumam Berlin seraya mengepalkan tangan dan terlihat sangat kesal.


.


~


.


"Hampir dari setengah kota telah tertangani, beberapa warga berlindung di masing-masing rumah mereka. Banyak petugas yang menghalangi telah berhasil di atasi, dan tujuanmu semakin dekat, Nicolaus." Seorang pria bernama Kibo berlutut dan tertunduk memberikan laporannya kepada Nicolaus yang berdiri di hadapannya.


.


"Gedung Balaikota dijaga dengan sangat ketat, bahkan cukup sulit untuk ditembus. Bagaimana rencana mu?" lanjut Kibo mengangkat kepalanya dan menatap Nicolaus.


"Apakah kau mendapatkan informasi mengenai keberadaan Garwig?" tanya Nicolaus.


"Garwig berada di Gedung Balaikota itu," sahut Kibo.


"Baiklah. Jika ... tidak memungkinkan, kita akan menggunakan cara kotor untuk melawan aparat-aparat itu!" ucap Nicolaus dan lalu tersenyum sinis dengan sendirinya. Ia sepertinya telah memikirkan sesuatu untuk menembus pertahanan dari Gedung Balaikota yang dijaga sangat ketat.


"Cara kotor?"

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2